Derapan kaki yang memang aku kenakan penuh hak tinggi ini pun tampak nyata terdengar bahkan tampak nyata terasakan oleh diriku yang berjalan penuh mendekat dan semakin mendekat ke arah gerbang utama atau bisa dikatakan pintu masuk utama ke sebuah perkantoran yang nyatanya itu sudah nyata di depan mata dengan akan menjadi sebuah tempat dimana aku memulai kembali segala hal baru di sana dengan segala harapan yang baik-baik juga daripada sebelumnya dan dengan segala hal yang sedang aku usahakan juga untuk selalu bisa berpositif thinking dan tidak terlalu menggambarkan keadaan dan terlalu menyerah pada keadaan. Aku di sini hanya berusaha tenang dan terus tenang dan berusaha untuk tetap yah memang berjalan dengan semestinya tak semua hal yang aku lakukan saat ini. Lagi dan lagi untuk kesekian kalinya aksiku tertahan di sini, pandanganku tertuju oleh si empunya suara yang menyahut ke arahku bahkan penuh memanggilku itu dan si sosok yang nyatanya sukses membuatku tersenyum juga di sini karena menyadari siapa si pemilik sumber suara yang datang tiba-tiba itu.
"Masih ingat dengan saya mbak? Ini dengan mbak Laras kan yah?!" tanyanya begitu sopan yang membuatku tersenyum bahkan sampai aku sadar aku pun membandingkan dengan segala pertanyaan dan segala nada yang dikeluarkan oleh sosok wanita di hadapanku sekarang ini dengan laki-laki yang lain taklukan tengah sukses pada sebelumnya itu menahan segala aktif untuk masuk ke dalam kantor di depan perkantoran tadi.
"Siap, iya Bu. Saya Laras yang waktu it-"
"Eh stop!"
Damn it, sangat sinkron sekali. Bersamaan dengan itu aku kembali dibuat bingung ditambah dengan diri yang kenyataannya justru kembali dibuat diam juga di tempat.
"Kenapa?!" ujarku dengan segala hal yang refleks aku lontarkan tanpa suara di sini. Membuatku bingung bukan main, ditambah lagi dengan diri-diri yang dalam sekejap hanya bisa berdiam di sini tanpa kata, tanpa suara, dan hanya bingung mengartikan semuanya sebelum sebuah kekehan dari depanku sana dimana keberadaan sosok wanita yang memanggilku dan yang sukses membuat diriku kebingungan juga di sini malah terkekeh dengan elegannya di tempat.
"Gitu aja kaget kamu itu, nggak ada apa-apa saya cuma mau bilang selamat datang ya di kantor ini. Aku udah dengar-dengar banyak kabar tentang kamu juga dari atasan heheh, kamu pintar juga yah ternyata!"
Damn it, aku pintar dibagian mananya?
Jelas, pertanyaan itu muncul di otakku saat ini tanpa sadar setelah mendapati respon itu dan setelah menyadari atas apa yang diucapkan oleh sosok wanita yang aku sendiri makan belum tahu namanya siapa tapi itu seperti Siti sudah kenal denganku dan seperti sudah tahu semuanya tentang padahal nyatanya aku sendiri juga ntahlah tak terlalu paham.
"Nggak nggak nggak, hehehe. Maksudnya itu selamat datang di kantor ini ya kalau ada apa-apa kasih tahu ke aku aja, jangan sungkan-sungkan. Bilang aja oke? Ah iya, namaku ...."
****
Tak terasa waktu demi waktu berlalu dengan begitu cepatnya, kini jam sudah menunjukkan pukul 11 lebih 4.05 waktu Indonesia bagian barat. Di sini aku berada ditempat ini di sebuah kursi yang mana tak pernah aku bayangkan karena bisa ada di sini jangan pernah sebegitu terhormatnya aku aku diterima sebagai seorang pekerja kantoran di sebuah kantor yang bisa aku bilang sama yang terkenal juga di kotaku.
Sebuah helaan nafas panjang aku lontarkan di sini, tidak banyak berpikir sama sekali bahkan aku kini hanya bisa menatap ke arah depanku dimana beberapa apa barang tertata dengan rapi yang memang sedang aku kerjakan walaupun bisa di bilang di hari pertama ini tidak terlalu berat semuanya karena memang aku yang bisa dikatakan juga masih terlalu newbie dan yah terlalu bahaya juga jika tiba-tiba diberi sebuah pekerjaan yang seabrek itu sangat aku nikmati saat ini dengan segala hal yang dalam sekejap juga aku beri sebuah senyuman penuh di sini. 'Nggak nyangka asli bisa duduk anteng kaya gini di kerjaan yang aku impikan dari dulu.'
Fyuh ....
Aku sandarkan badan ini ke kursi yang aku duduki sedari tadi dengan begitu nyamannya, hawa hawa dingin dan hawa sejuk yang memang dominan di ruangan ini jujur itu sangat aku nikmati dengan pandanganku yang aku bolos kan menatap ke arah sekitaran sejenak hal itu juga sukses membuatku tersenyum tipis menatap semuanya.
'Tadi mbak itu juga bilang, bahkan dia kelihatan suka sama aku ya walaupun gimana ya bukannya gimana-gimana juga sih apa gimana tuh kayak nggak mungkin maksudnya bukan suka yang dalam artian jatuh cinta ataupun apa itu enggak cuma itu maksudnya suka yang dalam artian srek gitu sama aku aja udah seneng banget. Tapi satu sih yang aku takutin, justru kalau misalnya kayak gini itu mah jadi aku kan tahu kalau misalkan posisinya dulu lebih tinggi dari aku juga jabatannya terus kalau misalkan dia kelihatan deket banget sama aku tuh takutnya malah aku nanti adek musuhin dia sama orang-orang sini soalnya gimana lagi kan kalau misalkan dipakai logika aja itu kan rada gimana juga kalau misalkan secara terang-terangan gitu mbak dia dekat sama aku kan bisa aja orang lain iri apapun apa gitu diem-diem. Nah itu yang aku takutin, walaupun kesan menjadi kaya ngarep duluan dan kaya sok duluan sih. Tapi, kayaknya enggak deh! Kayaknya emang kayak gitu. Kaya apa ya, kayak orangnya tuh juga pasti pinter pinter lah bisa menilai ini itu ya semoga aja emang sikapnya yang aku lihat dari awal sampai tadi emang sama ya semoga aja nggak karena manis diawal atau pun apa. Semoga aja emang gitu, CK! tapi kalau dipikir-pikir keren juga ya aku. Belum ada sehari aja udah ada yang srek di hati. Semoga aja bakal langgeng lah, orangnya juga asik kok. Dan semoga aja kerja di sini juga menyenangkan. Nggak ada musuh-musuh an kaya kemarin-kemarin juga dan emang bener-bener real yang mau temenan ya ayo yang nggak ya udah bodo amat. Intinya aku di sini kan ya cuma mau kerja kalau misalkan dapat temen banyak itu bonus, kalau engga ya gimana lagi masa iya mau maksa kan ya lucu jadinya!'
Sejenak, mata ini aku pejamkan secara penuh. Dengan diri yang aku kembali sandarkan penuh ke arah punggung kursi yang aku duduknya sedari tadi ini dengan segala kenyamanan yang ada. Sukses aku kembali dibuat tersenyum dalam hati sini, 'Alhamdulillah ya bisa keturutan lagi semoga aja emang kayak gini terus dan semoga aja emang selalu diberi kemudahan kelancaran dan pokoknya semua yang lancar jaya aamiin ya Allah ...."
Sedetik kemudian mau terlalu berbasa-basi dengan aksi yang saat ini terlihat tidak jelas karena memang aku sendiri tak mau jika dengan hal ini seseorang melihatku berleha-leha walaupun memang kenyataannya aku ini masih baru dan belum terlalu bisa segesit mereka setidaknya mereka tidak berpikiran bahwa aku ini orangnya pemalas dan si atasan juga salah memilihku paling tidak mereka tidak berpikir seperti itu atas diriku dan itu sukses membuatku kembali melakukan kewajibanku seperti sekarang ini pernah menatap kearah sebuah laptop yang manis berada dihadapanku dan dengan segala hal yang dalam sekejap juga membuatku berpikir bahwa aku sudah seberuntung ini bisa berada di tempat ini dan bukan waktunya lagi aku untuk bermain-main walaupun disengaja ataupun tidak tapi yang jelas ini tidak seharusnya ada sepantasnya aku samakan dengan pekerjaanku sebelumnya sempat membuatku mundur dan bahkan sangat terkendala banyak segala halnya.
Jari-jari pada tangan ini dalam sekejap kembali menari-nari di atas keyboard sana, menatap ke segala arah letak abjad demi abjad uang mana itu juga sukses membuat diriku memang harus terfokus kan padahal itu dan memang harus benar-benar ditargetkan penuh atas sebuah hal yang pernah aku jalani sekarang ini berusaha aku total kan walaupun masih perlahan. Tetapi tidak membuat fokusku buyar karena memang kebiasaanku dulu adalah mengetik di atas keyboard walaupun berbeda judul dan berbeda konsep di sini.
Entahlah, sejujurnya berada di masa seperti sekarang ini dia berada di situasi seperti sekarang ini membuatku berpikir tentang kenapa apa mereka bisa langsung mempercayai diriku untuk sebuah laporan yang pada kenyataannya belum pernah aku suntuk sama sekali dan ini jujur dingin walaupun aku tetap berusaha untuk tenang dan berusaha untuk tetap profesional dalam sekejap yang semuanya aku adu dengan penuh. Kini, diri ini hanya bisa berdoa dan berdoa semoga masa training yang pertama ini dan semoga memang di kesempatan yang sangat hal ini mendapatkan hasil yang bagus dari penilaian atasan atas apa yang aku kerjakan. Semoga saja, semoga terus, dan semoga lagi.
Pikiran dan mataku serta otakku ini memang terfokus pada harapanku saat ini. Tetapi jujur, jika aku ini masih sedikit menakutkan sebuah kenyataan yang gagal bukankah itu juga wajar?
Saat seseorang memiliki sebuah penilaian atas sebuah keberhasilan tentang diri dan pada intinya segala sesuatu hal yang memang berusaha dilakukan sebaik-baiknya tapi ada satu masa dimana dirinya juga merasa takut gagal bukankah itu juga wajar? Yah, mungkin inilah yang aku takutkan sekarang. Sampai tak sadar, bahkan diri ini pun seringkali menatap kearah jam dengan jarumnya yang kesekian detik atau kesekian menit tertunjuk. Aku sering kali menatap ke arah itu sampai dengan kesadaran penuh jika waktu ternyata kadang berjalan seolah-olah sangat cepat, tetapi juga sekali jarum itu seketika seperti berjalan dengan sangat lambatnya. Entah aku yang tanpa sadar tengah menunggu sesuatu hal ataupun aku yang tanpa sadar juga menikmati keadaan ini aku sendiri bahkan antara ya dan tidak memikirkannya.
Mata masih berkabar dengan layar laptop sana yang sesekali menatap ke arah keyboard dengan jari-jari juga yang ditangkap kenapa oleh penglihatan ini sesekali saling beradu penuh seolah berkolaborasi menampilkan segala hasil yang tercipta di layar monitor membuatku sukses tersenyum walaupun tidak terlalu penuh aku lakukan seperti sekarang ini. Pikiran otak semuanya justru sekarang ini pernah bekerja keras kembali setelah sebelumnya tampak berleha-leha penuh setiap harinya.
Jujur, sedikit terkejut jelas aku rasakan tapi tak mengapa karena memang harus seperti ini harus dibiasakan agar terbiasa dan melupakan segala hal yang biasa aku lakukan dengan segala rasa malas agar terbiasa juga dengan keadaan dan dengan kenyataan yang semakin membuatku berusaha untuk menjadi lebih baik lagi dan berusaha untuk bisa lebih berhasil kembali.
Pikirku sampai sekarang ini, aku adalah aku sesosok wanita yang dulu sangat pemalas yang selalu ingin berusaha menjadi yang terbaik dan lagi dan semakin berusaha untuk menjadi lebih baik lagi di setiap pertama waktu dan detiknya. Si sosok wanita yang terlalu banyak keinginan tapi terlalu sedikit untuk berusaha di kemarin-kemarin, kini aku hanya berusaha untuk semakin giat lagi dan semakin berusaha untuk lebih lagi untuk kesekian kalinya dan untuk ke kesuksesanku mungkin. Karena aku juga sadar penuh, untuk mendapatkan semuanya itu tidak segampang yang diucapkan saja. Untuk bisa hadir dan untuk bisa mendapatkan semuanya itu juga tidak semudah membalikkan tangan yang dengan hal sekecil itu langsung terkabul dengan mudahnya.
Aku adalah aku sendiri yang sebenarnya mudah rapuh oleh keadaan, dan aku adalah aku yang sebenarnya juga sangat sulit untuk bisa menyatu dengan alam dan menikmatinya dengan mudah tapi saat ini aku hanya terus berusaha untuk bisa semaksimal mungkin melakukan segala hal dengan segala cerita dan dengan segala kenyataan indah yang berusaha aku rangkai agar terwujud. Rasanya bukankah akan terlalu munafik dan agak terlalu pasrah jika dengan begitu mudahnya juga aku mundur dari semuanya bukan? Sedangkan diri ini juga semakin tau dan sadar juga ingat jika aku bisa sampai di s seperti sekarang ini itu juga tidak mudah dan tidak segampang apa yang dibayangkan karena aku juga tahu mungkin juga orang lain menjadi diriku mereka akan lebih parah untuk bisa mengeluh dan mungkin aku adalah satu dari sekian banyak percobaan yang berusaha diberikan sebuah masalah yang sama kepada mereka tapi mungkin hanya aku yang bisa menerimanya karena aku percaya dengan sebuah statement tentang sesuatu yang tidak boleh dikembangkan karena jika memang kita berada disituasi orang lain atau bahkan orang lain berada di situasi seperti kita kita tidak akan tahu apa-apa dan akan bisa apa mereka bertahan dan berusaha untuk menyelesaikan semuanya dan untuk bertahan secara penuh agar bisa mencapai pada sebuah target dan pada sebuah hal yang mana itu memang dicita-citakan oleh setiap orang mungkin dalam setiap pertambahan waktu dan jamnya?
Fyuh ...
Helaan nafas panjang aku lontarkan saat ini di sini, bukan karena apa-apa. Hanya saja jika memang boleh aku berkata saat ini ini boleh aku berpikir jika setiap training di tempat yang berbeda itu pasti juga berbeda cara memperlakukan dan cara mengajarkannya? Bukan apa-apa, jujur di tempat ini dimana ini adalah pengalaman baru untukku dan di mana ini juga sebuah hal yang memang sangat tak pernah aku lakukan sebelumnya. Jelas aku merasakan perbedaan yang jauh aku lakukan yang jauh aku rasakan dan yang jauh bisa aku samakan dengan pekerjaanku sebelumnya yang sangat berbeda 180° bahkan sampai jungkir balik sekalipun pasti akan berbeda jelas dan terlihat sangat terlihat jelas segala perbedaannya.
'Asli deh, di sini sama di sana beda banget. Ya emang jelas basicnya juga jelas udah kelihatan kalau beda banget bahkan banget banget juga sih. Cuma kan ya tetap aja tuh intinya beda ya beda banget. Susah dikata-katakan emang, bahkan emang sangat-sangat susah. Kek terlalu enak juga nggak sih aslinya kalau kaya gini? Kerja duduk-duduk aja ya walaupun tetep mikir juga dan salah sedikit juga tetap fatal. Tapi cara semuanya tuh beda aja tuh, kek malah enjoy yang ini dan emang bener-bener berasa kaya kerja yang nggak tertekan aja dari sebelum-sebelumnya. Fyuh ... aku sukses dikit kaya gini mungkin ada satu dari sekian doa bunda yang terkabul sama Allah kali ya saat ini? Alhamdulillah deh, soalnya gimana-gimana pun juga ridho ibu kan segalanya!',
"CK! Apa sih aku ini kok lama-lama enggak jelas ya perasaan. Kek gimana gitu hmmm, udah ah lanjut aj-"
"Ada kendala nggak?!"
Damn it, jujur menyadari suara yang tiba-tiba datang itu aku terkejut di tempat sampai tak sadar sedikit tergelonjak juga di sini sukses membuatku menoleh dengan begitu refleksnya juga yang sangat-sangat parah.
Tetapi sialnya cocok itu pada sosok yang melahirkanku itu justru kita pakai tipis menatapku yang jelas itu sangat sadar aku dapatkan darinya saat ini. "Kaget ya?!" tanyanya kembali dengan kekehan.
Entahlah, rasanya ingin sekali berkata bahwa bukan kak mbak tau jika aku kaget? Lantas untuk apa bertanya kembali? Yah ... kalimat itu ingin sekali aku katakan tapi tidak mungkin juga sampai hanya bisa membuatku menyengir tipis di sini menyadari hal yang sedikit aneh juga aku rasakan seperti sekarang ini.
"Hehehe tidak, eh iya. Sebelumnya boleh diulangi nggak b-b."
"Mbak aja nggak akan ada yang denger, ini suaraku kecil loh!"
Heh?!