Hari demi hari berlalu dengan begitu cepatnya, kini tak terasa sudah mendekati hari h minus sekian jam atau bahkan H- minus sekian menit untukku bisa mengklime diri kembali sebagai seorang pekerja yang yah memang kenyataannya itu cukup sulit untuk dipahami dan dimengerti juga tapi sangat aku tunggu-tunggu kedatangannya seperti sekarang ini.
Badan ini sudah terbalut baju kemeja putih, dengan celana hitam dan jilbab yang sama tas berwarna hitam juga aku pakai karena memang bisa dikatakan aku ini masih dalam masa training jadi mungkin memang seperti inilah yang pantas dan memang cukup pas untuk kupakai agar tidak terlalu aneh juga mungkin?
Aku langkahkan kaki ini perlahan-lahan keluar dari kamar setelah selesai menyelesaikan aktivas pagiku dengan diri-diri juga yang dalam sekejap sukses membuat segar badan dan siap untuk bekerja seperti sekarang ini.
"Pagi bunda ... ayah ...." sapaku pada mereka penuh, kenapa hanya mereka yang aku sabar karena kenyataannya sosok kakakku sendiri bahkan tak muncul batang hidungnya sama sekali di sini. Hanya ada mereka berdua yang sukses membuatku berpikir jika keberadaannya itu mungkin masih asik dengan dunia kasurnya itu mungkin ataupun apa aku juga tidak terlalu paham. Tetapi yang jelas, semuanya tampak membuatku sedikit bingung namun juga setelahnya membuat ku hanya bisa mengangguk kau tipu saja karena seolah paham dengan hal itu lagi dan lagi.
"Pagi mbak ... semangat banget jam segini udah rapi ya yah ya?!"
Damn it, mendengar itu reflek aku menatap ke arah ayah yang seolah-olah diajak bicara oleh bunda dan seolah-olah memang dimintai persetujuan penuh atas apa yang diucapkannya itu seperti sekarang ini yang justru dari hal itu aku dapati sebuah anggukan dan kekehan dari ayah yang tengah meminum air putih di gelas yang berada di tangannya itu berbeda dengan bunda yang kini tampak menyiapkan beberapa piring untuk sarapan pagi saat ini.
Menyadari semua itu aku hanya bisa sedikit kesal meresponnya, "Tau itu Bund, lagi semangat anaknya jangan diganggu nanti nggak semangat lagi. Ya kan mbak? Mana itu kan kerjanya yang pertama lagi setelah lama nggak ngapa-ngapain di rumah kan. Hmmm udah duduk buruan keburu bundamu itu narik kursi loh di samping ayah. Biasanya kan kamu selalu ngedahului bunda kan karena mau duduk di samping ayah!"
Jika tadi tambah merespon segala hal dengan demikian sangat aku tampak terkejut bukan main yang diucapkan oleh ayah itu. Atas responnya pada ucapan bunda, dan atas responnya yang justru malah mengada-ada di akhir ucapannya sana jujur membuatku mengelak penuh saat ini.
"Wohh ngada-ngada ... mana ada Laras sering ngerebut kursinya bunda buat samping ayah situ. Laras mah nggak jahat kali yah, lagian Laras kan sukanya duduk di sini nih ...."
Seolah menunjukkan kebenaran, 1 kursi yang berada di hadapanku persis tepat setelah aku sampai di ruangan ini dimana ruang makan berada dalam sekejap pula aku tarik dengan begitu sengajanya. "Nih Laras mah sukanya duduk di sini nih, lagian ayah sihh ih orang ditanya apa malah ditambah-tambahin ditambah-tambahinnya sampai ngada-ada lagi. Heummm meresahkan ayah mah, udahlah Laras mau duduk cantik aja!"
"Hadeh mbak ... mbak ...."
Aksiku tertahan, jujur aku yang sebelumnya adalah aku yang tampak benar-benar ingin mendudukkan diri di kursi yang aku tarik tadi seolah-olah menjelaskan tentang ketidak setujuanku atas apa yang diucapkan ayah tadi ini justru dibuat berubah 180 derajat karena sadar dengan apa yang diucapkannya itu juga yang membuatku 180° menatap ke arah mereka setelah sebelumnya tampak sedikit aja atas apa yang diucapkan, kini aku justru malah semakin terpancing untuk menatap ke arah keduanya dengan segala hal yang aku antarkan secara bergantian di sini.
Bunda dan ayah tampak senyum-senyum tak jelas yang membuatku mengerjitkan kening penuh jelas, "Apa sih bunda ayah kenapa sih saya punya nggak jelas kayak gini, ngeri tau nggak sih ya Allah kalian kepada kenapa ih. Dari tadi mulai nggak jelas terus sekarang pada senyum-senyum ada apa? Gara-gara Laras nggak ngerespon ucapan kalian yang seolah-olah Laras tuh nggak pernah bangun pagi terus nggak pernah siap-siap siap pagi ini gitu ya? Hadeh bunda ... ayah ... kalian itu kenapa sih ya Allah. ya kalau misalkan Laras bangun pagi-pagi gini Alhamdulillah dong tadi kan sudah berubah juga gitu loh. Biasanya kayak gitu juga kan ... a taulah sebel Laras sama kalian Bun, yah!" ujarku sok marah padahal kenyataannya hanya ingin mereka berdua hanya diam di tempat dan tidak menertawakanku seperti sekarang ini lagi karena memang itu jujur membuatku sedikit bergidik ngeri juga walaupun mungkin mereka tertawa kepadaku dan terkekeh seperti itu karena hal sepele yang aku ciptakan juga mungkin.
"Duh anak kita marah yah, hahaha ... iya iya nggak kita tadi itu kan juga cuma bercanda. Lagian kamu tuh serius banget sih Mbak ya Allah ... bercanda doang sekali-kali mah nggak apa-apa biar nggak tegang gitu loh. Hishh, ya jangan sampai aja gitu kalau misalkan kamu udah terganggu ditambah tegangan lagi karena ini eh maksudnya udah tegang karena mau kerja pertama kali eh ditambah lagi tegang karena ya enggak bisa diajak bercanda kayak gini. Ya nggak yah?!"
Mendengar hal itu dengan segala keseriusan aku hanya bisa mengangguk dan mengangguk penuh seolah mengiyakan saja ucapan mereka itu daripada malah membuat ribut serumah. Masih dengan diri-diri yang baru saja hadir kembali menatap ke arah mereka dengan penuh helaan nafas panjang dan tanpa merespon ucapan sama sekali, aku hanya bisa berdiam di tempat karena memang untuk sarapan semuanya belum siap karena beberapa piring dan sendok bahkan masih dibersihkan penuh oleh bunda seperti sekarang ini.
"Yaa tau tuh Bun, tegang banget anak kamu itu. Padahal ya mbak, kalau mau ayah kasih tau tipsnya biar nggak tegang yah santai aja lah!"
Damn it, diam-diam aku memutarkan nata malas mendengar ucapan ayah. 'Itu mah aku juga tau yah!' ketusku dalam hati yang tak mungkin sampai ke mulut dan masuk ke telinga ayah.
"Pokoknya ya mbak, pertama harus itu. Santai aja, bismillah aja dulu, lagi, dan terus. Oke? Jangan dibuat pusing, pasti berjalan kok semuanya itu. Hidup jangan dibuat beban mbak. Selowin aja ya kan bund hahaha, tapi emang bener mbak. Orang, kalau udah takut dikit atau tegang dikit pasti setelahnya jadi grogi, kalau udah gitu pikiran buyar jadi nggak konsentrasi. Nah, ujung-ujungnya cuma bisa repot sendiri karena nggak tau mau ngapain juga ya kan hmmm?! Kalau udah gitu nanti pasti ujung-ujungnya kamu tuh malah pengen nyerah. Santaii aja ya, selow pasti ada jalan juga kok. Pokoknya bertahan bertahan dan bertahan aja insya Allah pasti bisa, kalau misalkan kamu ada niatan untuk menyerah ya kamu ingat-ingat aja gitu tujuan awal kamu itu aja mbak. Tapi bunda juga nggak bakalan maksa sama ayah juga, jangan sampai nyesel lagi kayak kemarin kemarin gitu ya. Paham kan?!"
"Iya dong ... paham banget itu mah yah, lagian tuh apa ya kalau misalkan ini kan gampang ya buat ngomong kek yang alah paling juga habis ini tuh kalau misalkan keluar juga pasti bakalan cepet lagi dapet kerjaan gitu kan. Lah nyatanya juga nggak segampang itu yah, mbak mah udaj ngerasain juga jadi nggak bakalan nyia-nyiain kesempatan lagi deh insya Allah. Doain aja ya Bun, yah! Semoga aja Laras emang bisa nyaman kerja di sini gitu eh maksudnya kerja di sana ya Bund, Yah!"
"Selalu mbak!"
****
Waktu berjalan dengan begitu cepatnya, kini baik aku maupun kenyataanku kini mulai berjalan seiring berjalannya waktu dengan begitu mengalirnya.
Aku parkirkan motor yang baru saja aku gunakan sebagai media sampai di tempat yang membuatku berpikir penuh bahkan merasa sedikit gugup saat ini dengan begitu perlahannya. Sekilas, aku tatap gedung bertingkat yang ada di tempat hadapanku sana dengan helaan nafas panjang juga yang keluar dari sini dalam sekejap.
"Fyuh ... Bismillah Laras, semoga nggak ada grogi grogi and nggak ada takut gak ada nyerah nggak ada pokoknya nggak ada segala hal yang buat kamu mundur aamiin. pokoknya tanamin pada diri kamu kalau misalkan masih ada sedikit permasalahan kayak yang dulu-dulu udah lewatin aja oke?! Inget apa kata ayah sama bunda pokoknya nggak boleh nyerah, nggak boleh mundur. Dan pastinya nggak boleh pasrah, oke?! Fyuh bismillah ...."
Dengan begitu segera, aku pun bangkit dari motor. Berjalan perlahan mendekat ke arah sana setelah sebelumnya juga aku berhasil mencabut kunci motor dengan sengajanya dan benar-benar berjalan ke depan sana sampai sebuah panggilan sangat peka aku dengar dari telinga ini dalam sekejap pun juga sukses membuatku tertoleh ke belakang.
"Mbak, mbak Laras kan yah? Yang beberapa hari lalu diundang interview itu bukan sih?!"
Entah kenapa menyadari sosok yang memanggilku dan menyadari sosok yang tengah ucapkan segala hal yang membuatku sedikit bergidik ngeri dan juga ketakutan sendiri disini secara diam-diam aku lakukan itu hanya bisa membuatku berdiri anteng di tempat setelah menghentikan aksi itu yang memang mata dan pandangan ku menatap kearah sosok itu tapi segala hal yang ada pada diriku tampak menolak penuh untuk menghadap ke arahnya bahkan malah ingin sekali membuatku kabur dari sini jika memang memungkinkan.
Tetapi bagaimana lagi jika kenyataan yang aku terima justru seperti sekarang ini, hanya bisa tersenyum tipis diam diam dan sangat tak terlihat pasti ditambah lagi dengan sebuah anggukan terpaksa yang aku aksikan juga di sini. Aku menatap ke arah sosok itu dengan senyum paksaan yang sedikit banyaknya aku jujurkan dari ekpresiku saat ini.
"Nah, iya kan? Mbak Laras kan ya? Iya ini mah. Ini yang kemarin itu kan, yang ... yang kerjanya cuma sendirian itu? "
Belum sempat aku menjawab walaupun kenyataannya aku memang malas untuk menjawab tapi aku tidaklah seseorang yang sangat jahat untuk tidak merespon sesuatu yang yang bisa dibilang berusaha mencairkan suasana dan berusaha membuatku tidak gugup di keadaan seperti ini mungkin tapi ya aku yang ingin berucap justru malah bertahan penuh karena sebuah kekehan yang disertai tawa ringan dari sosok di hadapanku ini terjadi secara penuh yang membuatku kembali terdiam.
"Ah iya ini mah nggak salah lagi saya, Alhamdulillah ya mbak ya ...."
'Alhamdulillah apa?' tanyaku dalam hati namun dengan sebuah mimik wajah yang nyata membingungkan pasti tercipta di raut wajahku saat ini.
"Ah aku bingung kayak gitu toh Mbak maksud saya itu Alhamdulillah ya Mbak sekarang kelihatan lagi gitu berarti kan tandanya itu ada berita baik juga gitu loh apalagi kan yang saya lihat lihat itu kalau mbak Laras ...."
Jujur, berada di suasana seperti sekarang ini membuatku ingin sekali menjitakkan atau bahkan menendang jauh-jauh keberadaan sosok satpam yang genit dan sangat menyebalkan ini. Benar-benar tidak habis pikir, tadinya seseorang itu sangat tak jelas tapi sekarang ini sosok itu semakin tak jelas dengan pandangannya yang penuh menatap aku dari atas sampai bawah yang jujur itu membuatku sangat risih jelas aku rasakan. Sampai dengan helaan nafas panjang yang begitu beratnya aku lakukan, bersamaan dengan hal itu aku mengacuhkan segala hal yang akan dikeluarkan oleh sosok itu.
Pandanganku pun dalam sekejap justru aku alihkan ke arah keberadaan jam berada di tangan kiriku ini. 'Ck, gila gila ... aku kayaknya kepagian deh ini. Atau yang aku aja yang terlalu disiplin ya, brrr masa dari tadi baru nambah 5 menit sih kan ya nggak lucu gitu loh kayaknya udah lama banget. Berarti aku di jalan tadi keitungnya ngebut dong yah? Lah kalau dipikir-pikir sekarang aja baru jam segini Allahu akb-'
Damn it, aku tergelonjak kaget dalam sekejap. Pandanganku kembali terarah kepada sosok yang mengejutkanku itu, ditambah lagi pada sesosok yang sukses membuatku terlonjak kaget juga sampai dengan kakiku bahkan ingin sekali menginjak kakinya secara penuh tapi untung saja semuanya tertahan setelah aku sadar siapa pemilik dan siapa pelaku utama dari hal itu.
"Kenapa sih Pak ... ya Allah, ngaget-ngagetin aja ya Allah ... kenapa gimana bagaimana?! Ada yang baru diomongin lagi? Eh maaf, sebelumnya kalau emang aku sudah tidak ada yang diucapkan lagi maksudnya udah nggak ada yang ingin diucapkan saya izin undur diri aja gitu loh pak mas atau siapa ya bingung juga saya manggilnya. Pokoknya mah itu yah, gimana ada enggak kalau iya ya silahkan kalau enggak ya udah gitu pak. Eumm saya kebelet soalnya mohon maaf!"
Yah, untuk saat ini mungkin berbohong adalah solusi paling ampuh untuk bisa pergi dari hadapan sosok satpam yang tak jelas ini. Yang tadi sempat-sempatnya mengamati sebelah penampilanku dari atas sampai bawah yang sangat membuatku risih sampai tak sadar membuatku sedikit melamun hingga sampai ada juga sebuah tepukan dan bahkan aku dibuat terkejut olehnya kembali. Pandangan ini pun semakin memalas menatapnya, berbeda jauh dengan sang empunya yang justru membuatku bukan main saat ini jika boleh aku jujur memang seperti itu yang aku rasakan sekarang tetapi aku hanya memilih diam karena malas untuk bersuara kembali saat ini pada kenyataannya aku sudah sepintar-pintarnya mencari alasan tapi nyatanya sama saja bahkan seperti tidak berpengaruh apa-apa dan itu membuatku sedikit ya kesel bukan main sebenarnya.
"PMS ya mbak? Marah-marah saja dari tadi, yah sebelumnya saya minta maaf deh kalau begitu ya mbak ya ya Mbak Laras. Kalau begitu silakan kalau mau ke belakang tapi saya cuma mau mengucapkan 1 kalimat yang tak lain tak bukan adalah selamat datang di kantor kami semoga betah dan semoga nyaman bekerja di sini. Mari mbak, saya undur diri lebih dahulu ...."
HAH?!
Karena memang benar saja setelah berucap kan kalimat itu sosok itu benar-benar membalikkan badan dan berjalan meninggalkanku sendirian di sini dengan cengo dan dengan tidak percayanya karena memang aku yang tak sadar jika semuanya itu sukses membuatku seperti orang error sendiri di sini.
Kepalaku ter geleng-geleng penuh merespon hal itu, dengan pandangan mata juga yang menatap kepergian sosok itu dengan segala hal yang masih terlantar di jiwa tak percaya ini. Dalam sekejap seperti membuatku lupa akan keadaan dan kondisi yang mengharuskan ku masuk ke dalam kantor segera mungkin, "CK! Emang ya itu orang nggak jelas banget gitu dari kemarin-kemarin. Nggak sekarang gan kali aja bapak berapa kali gila Astagfirullah ... gimana yah. Ya intinya itu kok bisa-bisanya gitu loh, dibilang mau kenal juga kayaknya rada aneh tapi kalau dibilang sok kenal juga kayaknya lebih nyambung sih tau ah pusing."
"Hlah?! Nah kan ....."
Bagai dibuat sadar dalam sekejap aku pun menatap kearah sekitaran tempat keberadaanku saat ini dengan segala hal yang membuatku reflek menghentakkan kaki kesal penuh sebelum selamanya sebuah akibat justru aku dapatkan kembali di sini siapa dan kenapa lagi jika bukan karena aksiku yang terlalu bar-bar memakai sepatu hak tinggi tapi malah menghentak-hentakkan kaki di atas pavingan alamat kantor yang lebar ini.
"Shhh sakit ya Allah ...." ujarku meringis sendiri, bahkan tangan tanganku ini pun kini tampak aktif memijat-mijat kaki yang terasa pegal dalam sekejap ini. Ditambah lagi dengan segala aksi yang membuatku kesal kembali menyadari hal konyol yang aku lakukan saat ini.
"Dodol banget sih jadi orang udah tahu kalau misalkan kayak gini tuh gereja sakit lah orang pakai hak tinggi juga malah nggak jelas nggak jelas astaghfirullahaladzim dasar Laras, shhh ...."
Beberapa detik aku masih terdiam disini dengan segala situ yang mengalir jelas penuh segala hal yang aku rasakan dan atas sebuah hal yang membuatku sukses meringis kesakitan sendiri di sini karena memang rasanya itu sangat tidak enak untuk dirasakan memang tapi bagaimana lagi jika kenyataannya semua ini sudah terlanjur. Mau dirutuki pun sama saja tak pantas juga untuk dilakukan karena bisa dibilang terlalu bar-bar juga, entahlah yang pasti aku sendiri saat ini hanya bisa berusaha bangkit dari segala aksi yang aku lakukan beberapa detik yang lalu itu yang dalam sekejap membuatku berdiri tegak walaupun bisa dibilang aku yang demikian ini hanya bisa berdiri berusaha tegak maksudnya dengan pandanganku yang yang menatap ke arah sekitaran tempat dirimu berada dengan helaan nafas panjang dan juga dengan segala usaha yang berusaha untuk baik-baik saja dan berusaha untuk tetap tenang di sini. "Geblek banget emang, orang mah mau ngapain jadi malah ngapain astagfirullah astagfirullah ... tau ah udah waktunya juga mau sampai juga nggak bisa ya kali belum apa-apa udah ngeluh aja. Kan ya nggak lucu gitu loh, shhh bodo amat. Pokoknya pada intinya dan pada dasarnya ini tuh karena salahnya pak satpam tadi yang nyebelin banget mana panas-panas kayak gini lagi!"
Aku alihkan pandanganku ke arah sekitaran keberadaanku kembali dengan mata yang sedikit menyipit, 1 detik 2 detik aku masih belum tersadar penuh akan hal ini. Sampai di detik setelahnya aku merutuki segala kesalahan tersendiri karena justru malah anteng di sini untuk kesekian kalinya dan bukannya malah dari sinar matahari dengan teriknya yang lumayan menyengat mulai menusuk pori-pori ini.
"Tambah geblek aja aku lama-lama, udah tahu panas bukannya langsung pergi ataupun apa ma anteng di sini astaghfirullahaladzim ... Kalau bukan Laras mah enggak ini mah!"
"Fyuh ... bismillah ya Allah ayo ayo Laras sekarang masuk jalan ke dalam pokoknya apapun yang terjadi nanti bismillah aja semoga yang mengerjakannya dan emang di jalan ini eh maksudnya di tempat ini juga kamu bisa apa ya istilahnya tuh kayak ya emang jadi jalan rezeki kamu gitu loh. Fyuh, oke bismillah!"
Dalam sekejap kaki ini pun kembali melangkah penuh ke depan sana, jiwa-jiwa yang sebelumnya seolah acuh dengan keadaan dan seolah tak menyadari segalanya itu kini justru dibuat penuh sadar berjalan dengan penuh ke depan sana dengan penuh semangatnya meskipun di dalam hati sejujurnya juga banyak atau ketakutan yang sedang aku usahakan untuk hilang dari benakku seperti sekarang ini.
Tapi semakin kesini aku pun juga semakin paham dan semakin sadar jika menghawatirkan secara berlebihan sebab ketakutan itu tidak baik, dan jika terlalu bagaimana bagaimana kunjungan sebuah ketakutan itu juga rasanya terlalu aneh. Terkadang aku sendiri juga tak tahu kenapa aku miliki jiwa-jiwa yang seperti ini, walaupun tak jarang semuanya seringkali yang membuatku bertahan di tempat atau bahkan diam ditempat atau bahkan terlalu ganteng di tempat aku sendiri tak tahu kenapa aku bisa sekuat ini walaupun seringkali aku mendapatkan sesuatu yang belum pernah terjadi bahkan akan seperti apa pun sebenarnya aku tidak tahu apa-apa tapi entahlah ini diri terlalu bagaimana dan ini terlalu berlebihan bagiku untuk terus-menerus berlaku sedemikian rupa.
Disatu sisi aku sadar tetap di satu sisi terkadang aku terbungkam. Di satu sisi mungkin aku juga diriku yang mudah berusaha untuk menghilangkan semua yang ada di otak pikiran agar tidak berlebihan juga tampak hadir di sini tapi aku tetaplah aku yang seperti ini yang terkadang juga sulit untuk dipahami dan dimengerti atau bahkan emang terlalu tak jelas juga untuk bisa di jelaskan sedetail-detailnya tentang apa yang aku rasakan. tetapi bagiku aku tetaplah aku yang selalu kuat dalam segala keadaan, mau bagaimanapun ceritanya juga jika aku menyadari jika diriku kuat meskipun terkadang hanya dibuat-buat sok kuat dan sok bisa. Tetapi sampai detik ini aku tetap bangga menjadi diriku yang walaupun sering menyalahkan keadaan, sesosok wanita yang selalu menyalahkan takdir walaupun kenyataannya juga dilakukan. Tapi entahlah, rasanya terkadang aku terlalu lelah untuk berpasrah tapi juga terlalu bodoh jika harus menyerah.