"SELES APA MBAK? BELUM SELESAI IYA?! DUH ANAK PERAWAN BUNDA INI ... DARI KAPAN KAMU MBAK BERSIH-BERSIHNYA SAMPAI SEKARANG BELUM SELESAI, NGAPAIN AJA KAMU DARI TADI YA ALLAH ... UDAH GITU NGAPAIN KABUR JUGA MBAK LARAS ... UDAH TAHU KAN PASTI KALAU MISALKAN BAKAL DIMARAHIN SAMA BUNDA MAKANYA KAMU DULUAN. KAMU ITU LOH, JANGAN DIBIASAIN LAGI APA APA ITU DI SELESAIIN DULU BARU KELUAR NGAPAIN GITU. UDAH SEKARANG KAMU AMAN MBAK NANTI KALAU MISALKAN IBUNDA TAHU LAGI KAMU CEROBOH YANG ENGGAK COBA DEH EH LEBIH TEMPATNYA MENGULUR-ULUR WAKTU YA UDAH BUNDA MAKAN MARAHIN KAMU BENERAN MBAK HABIS-HABISAN! KAMU ITU LHO WAKTU KOK DIBUANG-BUANG KEBIASAAN BANGET BUANG-BUANG WAKTU. COBA KALAU MISALKAN KAMU DIAPAIN GITU SAMPAI KE BUANG-BUANG WAKTU NYA GIMANA YA UDAH BURUAN SELESAIIN. POKOKNYA BUNDA NGGAK MAU TAHU YA MBAK BURUAN SELESAIIN ATAU BUNDA SAMPERIN KAMU BAWA SEEMBER AIR SAMA GAYUNG BUAT MANDIIN KAMU JUGA. BURUAN SELESAIIN!'
Mendengar itu aku hanya bisa memejamkan mata sejenak, bersamaan dengan diri dan segala aksiku yang kini masih penuh kabur dari harapan bunda yang memang benar apa yang diucapkannya itu semuanya benar dan itu membuat makanya aku lebih memilih kabur buruan walaupun itu jelas salah dilakukan terlalu berisiko seperti sekarang ini yang membuat Bunda malah teriak-teriak sendiri di sini. Jujur ini membuat telinga dan aksiku ini semakin aku percepat segala responnya, kaki yang dengan segera aku melangkahkan semakin cepat ke arah kamar dan dengan telinga yang dalam sekejap seolah-olah tidak mendengar secara penuh atas apa yang diucapkan oleh bunda padahal aku tahu itu rasanya sangatlah malas aja sih sebenarnya mendengar segala omelannya dilakukan oleh bunda tapi semuanya sudah terlanjur lantas bagaimana lagi aku pun hanya bisa menghela napas panjang dengan 1 jitakan kecil yang diserahkan kepada diriku sendiri seperti sekarang ini.
"Bodoh si Ras, dasar diri-diri nggak jelas astagfirullah ... udah tau gitu harusnya mah jangan keceplosan ih ... hush! hush! hush! hush! Lagian ini didukung juga ya Allah. Keceplosannya nggak tau tempat, keadaan, sama situasi banget sih ...."
Langkahku terhenti dalam sekejap sadar penuh dengan sadar diri jika di hadapan aku kini sudah mendapat sebuah pintu kamar yang masih rapat tertutup di hadapanku saat ini. Nafas terengah-engah jelas masih tak normal aku rasakan, sampai dengan sebuah lahan nafas panjang pun aku lontarkan berusaha menenangkan diri sendiri sebagai apa yang aku lakukan saat ini.
Sejenak dan sekilas, aku arahkan pandanganku ini ke arah belakang sana dimana aku yang dalam sekejap tampak menatap ke arah sebuah ruangan tempat keberadaan bunda walaupun tak pernah ku dapati bunda yang memang ada di sana karena sudah tertutup kon sebuah ruangan juga yang membatasi hal itu dengan tempat diriku berada saat ini.
Mata ini terpejam kembali sejenak, "Ya Allah. Emang udah nasib ya nasib kayak gini tuh pasti bakal nya jadi nasib. Hishh, dasar Laras error segala pakai keceplosan nggak jelas bikin emosi diri aja lama-lama. Udahlah, moga aja bunda tadi nggak beneran marah dan marahnya cuma bercandaan aja. Hadeh ya Allah capek juga ya lari-larian dari sana ke sini, dasar jiwa-jiwa aneh. Umur masih muda tapi gimana juga tua astagfirullah ini aja udah ngos-ngosan. CK! meresahkan!"
Klek ....
Pintu kamar aku buka tanpa basa-basi lagi, "Tau ah. pokoknya ini semua harus selesai dalam 1 jam yang akan datang atau 2 jam yang akan datang eh salah maksudnya setengah jam yang akan datang kalau enggak ya 20 menitan lah kalau kelamaan nanti bunda tambah ngomel lagi sama aku. Fyuh ... oke Laras! selamat bekerja keras buat bersihin kamar mu yang kamu buat acak Adul ini Yoo ...."
Tanpa berbasa-basi lagi aku pun langsung menyambar satu-persatu bahkan beberapa pakaian dan semua barang yang memang acak Adul di sini dan memang terlihat penuh berantakan memenuhi satu ruangan yang sekali pingsan jika melihatnya tapi aku cukup sadar diri juga pingsan tidak akan mengatasi semuanya dan tidak akan bisa membereskan semuanya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya mungkin?
Sampai dengan helaan nafas panjang pun aku lontarkan di sini. "Oke, semangat semangat semangat ... tadi udah ada kabar gembira sekarang nggak boleh males malesan. Harus semangat Laras! Anggap aja ini kamu lagi training duluan di rumah itu dengan beres-beres biar nggak males-malesan. Lagian jiwa-jiwa kamu ini juga terlalu rumit untuk dipahami dan terlalu membagongkan untuk dinilai, CK! Udah ah kelamaan ngomong terus nggak ada ujungnya ini mah. Hmmm, semoga aja besok lusa tuh emang udah bisa kerja deh. Ya Allah, akhirnya kerja lagi setelah sekian lama nganggur. Hmm, capek btw ngomong terus kaya orang gila gini. Mana sendirian lagi hadeh ... meresahkan!"
****
Entah sudah berapa menit sendiri aku habiskan di kamar semenjak tadi diriku yang mengoceh sendiri tak jelas sampai di detik sekarang ini yang dalam sekejap tubuh ini aku lepaskan secara penuh ke atas ranjang empuk yang aku tempati saat ini. Rasanya sungguh nyaman di diri yang mudah mengeluh ini, sampai mata ini pun terkejut setelah sebelumnya setelahnya aku dibuat terlonjak kaget sendiri karena sebuah hal yang tiba-tiba mengingatkan udah sebuah ingatan yang belum sampai juga membuatku bangkit dari rebahan dengan mata yang langsung menatap penuh ke arah dinding sana dengan sebuah lahan nafas panjang setelah menyadari jam yang kini sudah cukup sore juga. Dengan penuh rasa malas aku pun bangkit dari tempat semula, "Capek ... pengen istirahat dengan rebahan tapi udah jam segini. Nanti kalau misalkan aku tidur juga bunda tiba-tiba datang ke kamar terus marah-marah lagi, kan malah repot. Heummm, lantas aku harus ngapain sih sekarang ya Allah ... mandi ajalah daripada di sini juga nanti kena resiko terus kalau misalkan nggak keluar dari kamar lagi juga pasti bakal dicariin tuh sama bunda dan pasti juga bakal ngomong terus. Ngomel-ngomel nggak jelas, Fyuh ... ya Allah! sumpah ini tuh capek banget badanku rasanya huee ... ternyata baju butuh banyak juga ya ternyata bajuku itu juga kayaknya tuh cuma sedikit eh banyak juga. Malah ya Allah capek pengen berdiri tapi males huee ya Allah."
Memang benar malas jelas aku rasakan di sini, tetapi untuk tetap berada di sini juga rasanya tak pantas aku lakukan juga sedangkan di satu sisi saat ini juga bahkan waktu di mana semuanya pasti akan ada resikonya juga dan pastinya semua itu juga malah akan membuat repot sendiri sampai dengan segala nafas panjang pun aku lontarkan saat ini. Aku yang tak mau berbasa-basi lagi pun kini benar-benar bangkit dan berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan badan rumah yang lengket ini.
Entah sudah berapa menit sendiri aku berada di dalam kamar mandi yang penuh dengan hal-hal yang membuatku malas juga dalam sekejap seperti apa yang aku rasakan sampai detik ini, rasanya semuanya itu seperti sesuatu yang dipaksakan itu tidak baik dan memang sampai di keadaan tiba-tiba aku yang yang tampak menjatuhkan sebuah gayung dari sana yang aku tadi letakkan secara penuh kini mengagetkanku sampai membuatku sedikit terlonjak kaget juga di sini. Yah bagaimana tidak kaget, jika aku yang telah berusaha untuk tenang dan memang merasa tidak ada apa-apa tiba-tiba dikejutkan dengan segala hal yang notabennya juga itu tak pernah aku pikirkan juga akan seperti ini tiba-tiba jatuh dan mengejutkan jiwa jiwaku bukankah dan juga seolah-olah membuat jantungku berdetak lebih parah daripada waktu normalnya bukan?!
Becauses, segala keterkejutan itu jelas aku rasakan sampai dengan adanya sebuah keadaan dimana aku yang saat ini tampak penuh gerakan kaki ke lantai kamar mandi sampai dengan kesalnya bahkan aku tampak menendang sebuah gayung tadi dengan penuh. "Ganggu amat sih, astaga ini tuh di dalam kamar mandi enggak kesenggol ataupun apa juga tiba-tiba catok. Mana ini juga udah lama ianteng di situ tapi malah ikut jatuh juga lagi. Hadeh
... jadi seolah-olah kayq mau ikut keluar buset atau mau mandi hitu. Padahal kan udah selesai mandi juga ya Al- eh?! Laras di kamar mandi nggak boleh nyebut! ...hishh tapi lama-lama pengen aku timpuk juga nih gayung. Menyebalkan banget sumpah."
CTAK!