Alhamdulillah Ya Allah

2049 Words
Telepon tadi pun akhirnya mati begitu saja saat ini, kutatap ke arah bunda dengan segala belahan nafas panjang ditangguhkan penuh meskipun kenyataannya aku sedikit banyak dibuat kesal karena bunda yang sedari tadi sibuk menggangguku yang tengah bertelepon. Tapi disatu sisi aku aku mau ajarkannya karena memang segala hal yang aku lontarkan dan segala hal yang memang saat ini terlihat membahagiakanku itu dalam sekejap membuat benda semakin kepo bahkan memang terlihat sangat kepo saat ini. Belum ada respon dan niatan dariku untuk merespon segala hal yang dipertanyakan oleh bunda yang sampai saat ini bapak suka itu ngasih dengan begitu serius dan dengan begitu keponya kembali mendesakku jawab pertanyaan simpel dari nya yang memang aku sadari sangat sulit untuk aku ucapkan dalam cerita seperti sekarang ini tapi entahlah rasanya aku pun biasa saja di sini walaupun sedikit tak enak dirasa kurasakan karena memang ini pertanyaan simpel tapi sangat sulit untuk aku jawab dan itulah sebuah keadaan dimana diri yang selalu mengembangkan keadaan ini tiba-tiba dibuat malas dan susah mengungkapkan semuanya walaupun hatinya sangat gampang dilakukan. Bunda masih beraksi dengan segala hal yang ingin ia keluarkan dan ingin dia dapatkan dariku saat ini, sedangkan diriku sendiri justru kini malah meletakkan ponsel pintar itu ke atas nakas yang tak jauh dari keberadaanku saat ini ini sebelum di beberapa detik setelahnya aku menatap ke arah Bunda dengan senyuman penuh dan pelukan erat juga segala kehebohan yang aku lontarkan saat ini kepadanya justru malah membuatnya kewalahan sendiri seperti sekarang ini berbeda dengan beberapa detik yang lalu itu. Dalam hatiku sibuk berkata-kata tentang sebuah hal yang dilemparkan oleh bunda itu, namun tak sempat aku lakukan secara langsung kepadanya mengingat hal itu yang notabennya juga dalam sekejap membuat ku hanya bisa berjingkrak-jingkrak sendiri kepadanya dan terhadapnya sampai membuat dirinya juga terlihat bingung bukan main dan marah sedikit kesal mungkin juga denganku tapi aku masih tak menghiraukannya itu sampai dengan segala raut wajah senang dan bahagia aku lontarkan dari wajah-wajah ini justru dihadiahi sebuah cubitan yang begitu kerasnya sampai membuatku teriak. Dan reflek melepaskan semuanya pada bunda. "Hishh bunda kok dicubit sih Laras!" ujarku dengan begitu tidak terimanya namun hanya aku lakukan juga dengan segala hal yang aku rasakan belibet saat ini di sini. "Salah siapa orang ditanya bukannya ngejawab malah heboh sendiri, aturan tuh dijawab dulu sayang ... kalau udah nah baru kamu mulai tuh heboh. Biar bunda juga nggak kelihatan error sendiri di sini nggak tahu apa-apa, lagian kan tinggal jawab aja mbak. Kenapa gitu susah banget hmm ... heran bunda mbak, udahlah jawab atau bunda cubit lagi n-" "Ehh iya iya, iya bunda iya ... ya Allah jahat banget sama anaknya." Dengan begitu sengaja tangan ini pun keduanya maju ke depan seolah menahan segala hal yang dilakukan oleh bunda dan seolah berusaha untuk menolak segala aksi yang akan dilakukan kembali oleh bunda dan atas apa yang diucapkannya dengan perihal sebuah kenyataan yang nyatanya seperti membuatku malah tersiksa sendiri itu. "Hishh udah ih, itu kalau nunggu itu pedesnya bukan main tahu nggak tahu sadar sih bunda mah pasti suka gitu ... iya iyalah pasti mau jawab lagian kan bunda udah tahu sendiri. Lagian bunda kan dengar sendiri tadi Laras bilang apa aja sekarang sosok yang nelpon Laras, dan lagian juga bunda kan juga apa yang Laras respon barusan sampai sebegitu hebohnya itu hishh. Lantas kenapa bunda masih aja bingung sih hmmm?!" CTAK! Damn it, tadi sebuah cubitan sedangkan sekarang justru sebuah jitakan malah aku dapatkan dari sosok itu. Pada sosok bunda yang tampak secara penuh menghasilkan segala respon yang terlalu to the point dari apa yang aku lontarkan itu, jangan terlalu heboh sendiri dengan segala siksaannya awkarin sekali aku rasakan darinya. Dalam sekejap tangan kiriku pun justru kembali mengelus-elus lengan yang dicubit oleh bunda dengan begitu keras itu sampai dengan segala hal yang kembali membuat dirinya geleng-geleng sendiri atasku? Tetapi sukses membuat diriku justru tak percaya juga atas apa yang dilakukan oleh benda seperti beberapa detik yang lalu itu. "Kan ... sekarang malah dijitak, Fyuh ... susah banget ya bund ngartiinnya? Hishh yaudahh nih Laras balas. Kalau kenyataanya emang benar Bund ... segala hal yang harus dilakukan sampai membuat Laras heboh itu emang benar. Dan pikiran bunda nggak salah 100% sama sekali nggak salah, serius juga ngomong kayak gini Bun kalau misalkan Laras ...." Sejenak aku terdiam, pandangan ini menatap penuh ke arah bunda yang saat ini tampak menatapku juga secara fokus dengan sebuah anggukan penuh yang ia lakukan seolah menyuruhku agar segera berkata juga itu sukses membuatku mengalihkan pandangan sejenak ke arah samping sebelum setelahnya kembali menatap ke arahnya dengan senyuman penuh dan sebuah pelukan erat kembali aku layangkan di sana. "CK! Iya iya bunda iya .... emang agak susah ya kalau misalkan pengen bunda tuh peka sedih tapi malah ini udah tahu sendiri ya udah aku kasih tahu lagi kalau misalkan aku emang keterima kerja pun di tempat itu ...." "Huaaa bunda ih ...." dalam sekejap pelukan itu pun aku longgarkan saat ini. Pandanganku saat ini hanya menatap ke arah bunda dengan segala hal yang emang kenyataannya membuatnya speechless mungkin karena memang sampai benar-benar terdiam dan sampai tidak bergerak sama sekali karena mungkin terkejut dan hampir entahlah bahagia juga menyadarinya yang terlihat dari segala raut wajahnya itu tapi saat ini jelas aku ajukan secara penuh karena kenyataannya aku gini gitu tabrak hidup sendiri dengan rasa bangga yang jelas aku rasakan di sini dan segala rasa senang jelas aku lontarkan pada wajah-wajahku saat ini. "Asli bund hiss ya Allah Masya Allah Alhamdulillah ... pokoknya kali ini janji Laras enggak bakal nyia-nyiain lagi kesempatan ini karena enak parah sudah capek juga buat diem diem terus di rumah dan pastinya kalau misalkan Laras gak berusaha buat tegar menghadapi kenyataan yang waras kau sendiri pasti semua itu pahit pasti Laras gak akan bisa berusaha untuk bertahan. Pokoknya di kesempatan kali ini, kalau bisa Laras bakal bertahan terus dan Laras insyaallah bakal nggak akan mundur deh insya Allah. Doain Laras terus ya Bund, semoga aja emang ini jadi rezekinya Laras dari semoga aja ini emang bener-bener bisa waras pertahanin gitu maksudnya mah gampang nyerah juga dengan ya pokoknya Laras berapa berusaha terus ya amin ya Allah bunda ya aku nggak nyangka tahu bund. Hiks ... akhirnya keterima kerja lagi ihhh. Eh tapi bentar deh!" Dalam sekejap segala kehebohanku pun terhenti saat ini, dengan kesal aku menatap ke arah bunda. "Hishh bunda kok biasa aja sih, nggak asik bunda mah ih. Bunda nggak seneng toh anaknya keterima kerja lagi heh?!" CTUK! "Eh?!" Sakit ditambah kaget bukan main jelas aku rasakan saat ini di sini, "Apaan sih kok Laras malah dijitak lagi sih ya Allah astagfirullahaladzim bunda ...." "Hus, lagian kamu itu sih bukannya apa-apa malah ngira gitu. Bunda bukanya nggak senang sayang ... justru bunda makanya bunda kayak gitu ya Allah, lagian kamu itu kenapa sih hmmm?! Bunda ini dari tadi responnya kayak gitu tuh karena bunda ya bersyukur juga gitu dalam hati, bukannya nggak nyangka atau meragukan kemampuan kamu itu engga. Bunda itu dari tadi itu dalam hati itu nggak bisa diem gak itu seneng banget akhirnya kamu tuh keterima kerja akhirnya dia bunda juga dikabulkan sama Allah dan akhirnya doa kamu itu juga diijabah juga sama Allah. Huss makanya kalau ada apa-apa itu jangan dilihat dari yang kelihatan aja gitu jangan kayak dari covernya aja itu loh mbak ih, udah sih jadinya mulai kerja kapan kamu mbak? La wong bunda nggak emosi atau enggak apa juga kamu diemin dari tadi juga bunda mah diem aja walaupun tadi itu sebenarnya bunda juga tahu juga ngartiin. Tapi bunda tuh cuma mau memastikan aja sayang ... makanya Bunda nanya kamu, CK! Jadj gimana masih mau kesel sama bunda tiba-tiba lagi?!" Damn it jika sudah begini sebenarnya ini malah seolah-olah semua yang terjadi itu karena salahku sendiri pada kenyataannya juga tidak semuanya. Sampai dengan helaan nafas panjang aku lontarkan saat ini mengingat semua hal yang membuatku terkekeh didetik setelahnya seperti saat ini. Kembali ku peluk bunda dengan satu pelukan penuh yang aku layangkan padanya seperti saat ini, "Hehehe iya iya engga. Ya lagian bunda langsung diem aja sih kayak orang kaget gitu kan Laras juga jadi mikirnya aneh-aneh ya walaupun sebenarnya enggak terlalu juga sih. Eheheh, ya udah kalau gitu Laras minta maaf deh ya bund?!" Masih dalam zona nyaman aku yang mau meluk bunda dengan penuh, pandangan ini aku dongakkan ke arahnya yang sukses membuatnya tersenyum dan menertawakanku di detik setelahnya ntah karena apa atau karena aku yang dalam sekejap seperti anak kecil mungkin? Hingga pertanyaan kenapa pun muncul dari mulutku meresponnya, "Nggak ada apa-apa mbak. Lagian kamu itu udah dewasa juga tinggalnya masih kayak bocah kadang, heran juga sih Bunda. Heheheh, bisa-bisanya gitu loh anak bunda yang cewek ini yang gadis di sini udah dewasa tapi kelakuannya masih kayak bocah kadang ini. Hmmm, jadi bunda cuma mau nanya lagi kapan nih jadinya kamu mulai kerjanya itu kapan dari kapan hmm? Boleh dong yah nanti kalau udah kerja bunda ditraktir hahaha ...." "Weh bunda gaul mah minta traktir hahah, iya iya bunda kalau itu mah gampang. Besok Laras traktir deh langsung begitu juga gaji pertama buat bunda walaupun kami juga sih karena kemarin kemarin juga udah pernah kerja dan pernah ngasih bunda juga hehehe. Tapi tenang deh Bun, pasti itu mah. Makanya doain aja biar Laras tuh semakin betah dan nggak pengen keluar terus pikirannya, selain Laras biar kerjanya juga semangat terus juga nggak neko-neko juga. Hmmm, kalau untuk kerjanya sih katanya besok lusa ya semoga aja emang ini nanti katanya mau dikabarin lagi sih sama pihak kantornya Bun. Ya semoga aja secepatnya ya kan ...." "Aamiin ... iya dong sayang, pastinya kalau itu mah. Pasti doa bunda selalu yang terbaik juga buat kamu mbak. Intinya kalau ada apa-apa itu cerita jangan suka dipendam sendiri, kalau misalkan lagi butuh tempat curhat tempat cerita ya bilang aja Mbak bunda tuh dengerin kok pasti juga. Nggak bakalan dijauhi juga malahan tenang aja oke? Terbuka lagi sama bunda, kamu selama ini loh terlalu ketutup sama bunda. Sampai ada apa-apa juga bunda suka nggak tau, ya kan!" Mendengarnya aku sedikit tersenyum kecut secara tipis, aku akui memang aku dengan bunda dekat tapi tidak tetap untuk segala hal yang menyangkut pribadi ku atau bahkan segala hal yang terkadang sering menjatuhkan mental dan pikiranku. Persoalan tentang seperti itu jujur aku memang tak terlalu terbuka dengan, sampai segala hal yang terjadi sejak ada Bude memang tak tahu karena aku memang sangat sering menyembunyikannya diam-diam. Perihal semua hal yang kenyataannya memang sangat sulit untuk dimiliki dan sangat sulit untuk ya terlalu dipahami juga di sini. Terkadang aku hanya tak ingin membebani bunda dengan pikiran tentang ku yang sontak itu jelas tambah menambah pikirannya saja, dan itu yang tidak aku sukai jujur. Jadilah seperti ini, saat diri yang mulai terbiasa untuk tidak menceritakan semuanya pada orang tua dan pada saat diri yang mudah untuk memendam semuanya sendiri dalam sekejap hanya bisa tersenyum dan tersenyum tipis secara diam-diam menyadari ucapan yang keluar dari sosok benda seperti tadi yang hanya bisa aku aku respon dengan sebuah anggukan tipis yang aku lontarkan saat ini. "Fyuh ... iya deh iya ... Laras janji deh Bun bakalan lebih terbuka lagi soal pribadi, sebenarnya waras tuh bukannya nggak mau cerita Bu cuma ya takut aja gitu nanti malah nambah beban pikiran bunda aja itulah Laras nggak suka. Makanya Laras milih engga aja daripada malah buat pusing, cukup Laras aja yang pusing dan bingung kadang tuh Laras cuma mikir gitu Bun. Nggak yang lainnya, so tenang aja kalau misalkan Laras beneran aku pasti bakalan serius cerita sama bunda. Bunda sabar aja ya wkwk, eh tapi. Kok bunda tau kalau Laras selama ini sering nyembunyiin segala hal? Bunda tahu dari mana ih bunda mah sok tahu deh, pasti bunda nebak aja ya kan? CK, iyalah pasti. Hayo Bun ngaku, iya kan?!" CTUK! "Ngasal aja kamu kalau ngomong, ya enggak dong. Heyy kamu lupa mbak, bunda kan juga perempuan ... bunda kan juga pernah muda, dan pastinya bunda tuh pernah ngerasain apa yang kamu rasain juga saat ini. Lah kalau udah kayak gitu ceritanya kan jelas bunda tahu dong, gitu aja kaget kamu mbak. Hadeuh ... udah ih bunda mau mandi, udah apek nih keringatnya!" "Hmmm, ya udah sana bund kalau mau mandi. Gitu aja hadeh pake segala izin, CK! Kalau gitu lah orang juga mau ngelanjutin lah tadi bersih-bersih kamarnya juga belum seles- eh?!" Tap! Tap! Tap! Tap!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD