DEMI?

1224 Words
Tanpa berbasa-basi lagi, aku pun langsung mengangkat telepon itu dan dalam sekejap sebuah suara yang tidak asing kudengar dari arah sedang sana yang reflek aku jauhkan sejenak ponsel itu dari telingaku dan jujur pandanganku ini malah menatap ke arah di mana keberadaan bunda yang saat ini seolah bertanya kepadaku tentang kepada siapa aku saat ini sedang bicara tapi aku hanya bisa menghendikkan bahu seolah tak tahu padahal kenyataannya di otakku sini tengah menerka-nerka penuh sosok pemeran suara itu yang memang tak asing kudengar tapi juga sesekali memang aku ingat-ingat penuh tentang pemilik suara itu yang sebenar-benarnya. Sebuah kode yang aku luncurkan kepada bunda yang menyuruhnya seolah-olah diam terlebih dahulu justru aku lontarkan saat ini, sebuah keadaan di mana aku yang dalam sekejap juga tampak menatap layar ponsel itu yang aku tahu betul dari panggilan itu tidak ada nama sama sekali alias nomor tidak dikenali yang semakin membuatku kepo dan entahlah tanpa berpikir panjang lagi karena memang kau pikir dan feelingku berkata jika kesempatan ini adalah sebuah kesempatan yang telah rasanya terlalu okarin untuk dijelaskan tetapi juga sangat membingungkan untuk tidak dibahas tapi entahlah dalam sekejap aku hanya bisa kembali mendekatkan pasir itu ke arah telinga sampai semua pertanyaan aku dengar dari telingaku ini secara penuh berbunyi. "Selamat siang, bener ini dengan saudari Laras?!", Terkejut bukan main jika sosok di seberang sana mengetahui namaku bukan tentang sebuah mengganggu aktivitas kau bahkan sampai menghentikannya secara penuh itu sampai di detik setelahnya kesengajaan dengan sebuah kode yang berbunyi. "Bund, ini kayaknya orang penting deh!" ujarku dengan bahasa isyarat yang maha kuasa dari penuh hanya aku lakukan dengan sebuah kecapan-kecapan di bibir ini penuh. Bibirku berkata demikian, otakku otakku berpikir penuh, sedangkan di satu sisi telepon itu nyusul kembali aku ajukan dalam beberapa detik kemudian sampai di sebuah cubitan dilayangkan oleh bunda kan kepadaku itu kembali membuatku tergelonjak kaget hingga respon darinya berbunyi, "Angkat dong kalau gitu. Ngomong! Jangan sampai nanti kamu malah nyesel di waktu kemudian. Udah buruan lanjut mbak!" Damn it, bunda yang berkata demikian dengan segala hal yang dilontarkannya tanpa suara seperti apa yang aku lakukan beberapa detik yang lalu itu juga. Dalam sekejap pula aku mengangguk penuh, dari arah dua sudut bibir aku juga makan that are kerongkongan senyum penuh kepadanya yang dalam sekejap juga aku dekatkan kembali ponsel itu ke telinga. 'Benar apa kata bunda, ck! Lagian kamu juga aneh-aneh aja sih Ras. Udah tau penting kayaknya lah malah diacuhkan, eumm fokus Ras. Bismillah, semoga emang orang penting ya kan? Soalnya mau penting atau enggak kan sayang pulsa juga eh?!' Awshh! Ringisku tipis, dengan segala correction ku pandangan ini pun menangkap para bunda untuk kesekian kalinya karena aku yang menyadari juga secara penuh segala ucapan atau suara lirih yang meringis penuh atas diriku itu terjadi karena aksi bunda yang entahlah yang pasti saat ini sebuah ucapan kembali aku dapatkan dan kembali menyadarkanku perihal bunda yang mengingatkanku agar segera melanjutkan kembali telepon itu dan tidak menghiraukan segala pikiranku yang bertanya-tanya seperti pikirannya kepada kejadian ini. Sebuah permintaan maaf pun justru aku layangkan saat ini merespon telepon di seberang sana itu. "Selamat siang ... iya dengan saya sendiri, sebelumnya mohon maaf sudah tidak merespon ucapan anda beberapa detik yang lalu itu. Jika boleh saya meminta waktunya untuk bertanya, maaf ini dengan siapa ya?!" Yah, to the point sudah aku lakukan. Sampai sebuah jawaban dengan segala respon yang demikian Gercep aku sadari dari sosok di seberang sana yang menelponku tadi kini justru membuatku kaget bukan main meresponnya sendiri. Damn it, pandanganku menatap ke arah bunda dengan telefon yang masih setia aku dengarkan di telinga ini secara penuh. Bunda justru dibuat kebingungan sendiri. "Gimana-gimana, siapa? Ada apa mbak?!" tanyanya tak bersuara, aku hanya bisa bungkam saat ini karena sulit untuk berkata-kata lagi dengan keadaan. Yang terpasti, senang rasanya mendengar hal ini, sebuah hal yang belum bisa sempat aku ceritakan kepada benda secara langsung dan belum sempat aku deskripsikan segala rasa senang yang hadir pada diriku tiba-tiba ini dan tidak aku pikirkan sama sekali kehadirannya. Jujur, aku hanya bisa tersenyum penuh dan menatap kearah bunda secara penuh yang dengan segala kamu aku selalu ku juga telinga ini masih mendengarkan segala hal dan kalimat yang terlontar dari si pemilik suara di seberang sana yang sudah aku sadari betul jika sosok pemiliknya itu adalah sosok wanita yang beberapa hari yang lalu sempat aku temui di sebuah perkantoran itu jujur membuatku tidak bisa berkata-kata apapun lagi saat ini selain hanya bisa mengekspresikan yang langsung ada di dalam tubuh yang terdiam dan jelaskan semuanya tanpa kata dan tanpa suara sampai membuat benda yang justru greget sendiri seperti saat ini, kembali hadir mencubitku dengan gemasnya? "Apa sih heh, apa?" Lagi dan lagi sebuah ucapan tanpa suara kembali dilayangkan oleh bunda saat ini yang jelas aku sadari pernah tapi aku masih speechless di tempat ini dan belum ada sebuah obrolan sama sekali perihal hal tersebut pastinya, sampai sebuah cubitan kecil kembali dilayangkan oleh bunda kepadaku kembali saat ini yang aku sadari penuh sedikit membuatku sedikit terbelalak menatapnya yang justru kembali dihadiri sebuah cubitan yang seolah-olah menyuruhku agar tidak sedemikian rupa kepadanya tapi memang itu sangat reflek aku lakukan dengan segala hal yang aku rasakan juga dengan segala hal yang dirasakan oleh bunda itu justru membuatku malah bersusah payah ingin berucap tapi sangat sulit untuk diucapkan saat ini mengingat segala hal dan penjelasan juga yang telah disampaikan oleh seseorang dari seberang sana sedikit banyaknya masih membuatku terkejut untuk merespon dan membuat diriku normal kembali? "Lama, ada apaan to mbak ya Allah astagfirullahaladzim ... bukannya jawab malah diem diem aja senyum-senyum gak jelas, anteng di tempat kayak gitu. Ada apaa ini?!" Kembali, ucapan itu dilayangkan bunda menyadariku yang masih diam di tempat. Aku sebenarnya menyadari hal itu tapi aku masih diam di tempat sampai sebuah akhiran dari sebuah obrolan di seberang sana aku dapatkan hingga dengan bibir ini yang dalam sekejap masih mengajukan bunda tapi ingin sekali menjawab pernyataan-pernyataan yang keluar dari sosok di seberang sana yang yang aku tangkap dong udah di telingaku juga dan yang ingin aku ucapkan dalam segala hal yang saat ini membuatku ingin sekali berucap dan sampai membuatku sedari tadi menahan segala yang ingin aku keluarkan dalam sekejap juga diri ini menghilangkan nafas begitu panjangnya dengan lengkungan senyum yang indah hanya disadari oleh bunda saja saat ini yang aku sadari juga pasti itu juga membuat sesak itu kembali dibuat kebingungan bukan main sampai dengan sebuah anggukan aku layangkan kembali di sini. "Baik Bu, sebelumnya terima kasih banyak untuk informasinya. Kalau begitu besok saya sudah mulai kerja ya?! Ah iya terimakasih kembali, iya ... selamat siang kembali ...." CTUK! "Kamu keterima mbak, serius ini mbak?!" Hampir dengan segala rasa parah parah parah yang sangat parah, aku disini juga terkejut bukan main sampai sedikit tergelonjak juga aku rasakan. Sedetik kemudian kepala ini lantas aku geleng-gelengkan dengan segala ketidaksadaran? Pandangan ini menatap ke arah bunda bersamaan dengan diriku yang masih berusaha menggenggam erat ponsel pintar yang ada di tangan kananku ini agar tidak jatuh ke bawah lantai sana dengan helaan nafas panjang yang juga aku lontarkan dengan begitu beratnya di sini. Aku yang berusaha setenang mungkin dan berusaha untuk bisa tidak terlalu heboh seperti bunda tadi hanya pisah berusaha terbiasa terbiasa dan terbiasa tapi kenyataannya semua sama saja karena aku justru tidak semudah itu melakukannya sampai dengan sebuah suara aku lontarkan disini menyadari aksi bunda yang semakin tidak jelas di hadapanku seperti saat ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD