"LAH KITA?!"
"EH KOK MALAH?!"
Refleks baik Aku maupun arah kini tampak sama-sama saling beradu pandangan bingung juga tanda tanya di sini. Bingung karena memikirkan hal apa yang akan aku lakukan dengan Rara setelah ini menyadari raut wajah dan juga segala aksi respon Fani yang sudah memperlihatkan jika dirinya marah kepada kami itu tapi disatu sisi antara aku dan Rara juga bingung karena menyadari kekonyolan kita yang bisa bisanya di masa seperti sekarang ini dan di waktu yang seperti sekarang ini malah couple-an suara seperti beberapa detik lalu itu.
Langkah kakiku dan Rara pun dia semakin mendekat ke arah Fani yang masih setia dengan kedua tangannya yang kini sudah beralih ditempel ke arah samping kanan dan kiri pinggangnya itu. "Mampuslah kita bakalan benar-benar abis di sini sama Fani Ra!" ujarku berbisik penuh dengan susah payah juga tampak aku menelan saliva dalam-dalam.
Sejenak aku tolehkan pandanganku ke arah Rara yang malah mencubitku, "Nggak usah ngadi ngadi kalau misalkan pun kita kena marah ya udahlah bagi rata aja. Orang di sini kita juga sama-sama telat udah lah santai aja lagian juga nggak bakal marah. Tenang oke?!"
Rara yang berucap demikian aku yang panas dingin sendiri memikirkan, bagaimana bisa tenang jika kenyataannya segala raut wajah Fani kini semakin menakutkan dalam sekejap. Sampai sebuah gelengan ku lontarkan di sini, bersamaan dengan itu pula aku berusaha menenangkan pikiranku. 'Oke tenang, anggap aja uji nyali grat-'
"HEH! Kurang asem ya kalian, janjiannya jam berapa datangnya jam berapa ngeselin banget sumpah. Kalian tuh brrrrrr tau ah bodo amat aku marah!"
Tap tap tap!
Dengan segera ku tahan usaha dari Fani untuk meninggalkan aku juga Rara ini dengan segera, "Heh asli juga nggak sengaja Fan. Ya Allah, nggak usah marah ...."
"Tau ihh, jangan marah oke?! Kita minta maaf deh ya, dimaafin nggak nih? Iya dong harus ya ... Ya? Ya ? Ya?!" sahut Rara ikut menahan.
"Nah iya itu penting jangan marah-marah ya wis lah lagian kita kau tadi tuh macet tahu kan motornya mogok ya kan Ra?!" ujarku menambahi. Sejujurnya itu hanya ingin membuat alasan dan yang pasti hanya ingin agar Fani juga tak marah denganku juga Rara sampai harus mengharuskan alasan-alasan yang sebenarnya tak masuk akal seperti tadi tapi memang kenyataannya harus memanfaatkan sedikit alasannya memang kenyataannya juga tadi kita alami seperti ini sekarang kejadiannya.
Sebuah kode-kode yang penuh aku bayangkan kepada Rara saat ini yang itu langsung ditangkap oleh sosoknya dengan anggukan penuh yang membuat Fani dalam sekejap pula yang kulihat dari pandanganku juga pandangan Rara saat ini pastinya. Itu juga tampak menghilangkan nafas dalam sekejap sebelum setelahnya sebuah tinjuan di kepala justru dilayangkan oleh Fani padaku dan pada Rara.
CTUK! CTUK!
'Sabar ... Sabar ... Sabar ... Udah nggak papa nggak papa nggak papa, kena jitakan mah asli nggak papa nggak papa. Harus sabar sabar ya diri apa kan Vani nggak marah aja ya sudah Alhamdulillah banget, padahal kenyataannya tadi juga karena emang waktunya ngaret tapi untungnya aja karena alasan motor yang kehabisan bensin bisalah di' masuk akal yang dikit dikit ya kan?!'
Yah ... Kurang lebih seperti itulah batinku dan batin Rara saat ini yang aku akui jelas terlihat juga dari segala mimik wajah yang dikeluarkan Rara saat ini. Pandanganku masih menatap ke arah Rara dengan helaan nafas yang diam-diam aku keluarkan. Sampai dengan dirinya sadar, Rara juga menatapku dengan tatapan mata yang seolah mengisyaratkan sebuah kalimat yang tak lain tak bukan berbunyi. 'Nggak apa-apa asli nggak apa-apa. Untung aja tadi motor juga beneran macet kehabisan bensin, jadinya kita nggak bohong-bohongann juga bilangnya. Ya walaupun emang rada boong sih, tapi gapapa asli. Demi kenyamanan bersama mah it's okey lah, slow in aja. Wajib bersyukur kita sama kejadian tadi wkwkwkwk ....'
Dalam sekejap, pandangan Rara padaku terputus. Membuatku juga dalam sekejap memutuskan pandanganku yang justru langsung aku kan sedikit sebelum setelahnya menatap ke arah Fani namun masih dalam fokusku yang mengingat penuh atas segala arti tatapan yang dikeluarkan oleh Rara tadi berakhir dengan senyuman penuh kemenangan walaupun sedikit nyesek tapi sangat terlihat bersyukur juga karena kejadian tadi.
'Heran deh aku orang kok pinter banget gitu loh bohong bohongnya, ajarannya siapa sih. CK, tapi emang bener sih lebih baik ya bohong-bohongan kitab Allah demi keselamatan jiwa dan raga juga ciellah. Hadehh udah ah!' batinku penuh, sedetik kemudian padahal kembali menatap ke arah Fani yang masih tampak aku tahan penuh dengan kedua tanganku yang masih melekat di badannya dan lengannya itu bersamaan dengan Rara juga yang masih sedemikian rupa dengan panik seketika sebuah cengiran pun aku bayangkan dengan pandangan yang masih menatap ke arah Fani seperti sekarang ini walaupun sedikit diacuhkan tapi tak mengapa jika kenyatannya memang harus demikian. Karena pikiranku tentang Fani, sedikit banyaknya ya tak mungkin bisa bernama marah denganku ataupun Rara pasti nantinya juga akan membaik seperti semula.
"Serius Fan, jadi itu ceritanya tadi tuh kita udah mau berangkat terus apa namanya kan baru beberapa meter dari rumahku gitu soalnya kan tadi kan Rara jemput aku dulu kan ke rumah gitu. Nah setelah nya itu apa namanya ya itu tadi di tengah jalan tiba-tiba mati tuh motor kehabisan bensin jadinya ya kita tuh kan dari tempat rokok sampai ke pom bensin sama lumayan jauh juga itu lumayan terus sama pom bensin mini yang kayak warung warung biasa gitu juga kebetulan nggak ada kan di jajaran tempatnya buat mu kok tadi sampai ke sini ya Allah solusinya cuma dorong sampai ke pom bensin gitu. Jadi ya mohon maaf ya kalau misalkan kita telat, yh ya kan Ra?! Nggak apa-apalah pasti ehehehe. Maafkan ...."
Seselesainya aku berkata demikian, aku alihkan sejenak pandanganku ke arah Rara yang tampak mengangguk penuh juga di sini. Tapi berbeda denganku yang dalam sekejap pula ingin pergi menghilang karena ucapanku yang jauh itu. Tapi hanya bisa aku pejamkan mata saja sejenak seolah menahan semuanya yang entah bagaimana respon Fani sekarang aku tak terlalu memperhatikan. 'Sumpah, ini aku bohongnya totalitas banget astagfirullahaladzim. Ya Allah maafkan hamba ya Allah, semua ini demi kebaikan sesama jug-'
"HAH! Ya udahlah gimana lagi udah kejadian juga, udah yuk masuk!"
"Heh, serius?!" kagetku dan Rara bersamaan. Wajah-wajah tak percaya jelas aku lontarkan saat ini mendengar dan menyadari atas apa yang diresponkan oleh Fani barusan itu.
"Nggak serius apa bohongan, biasa aja kenapa sih kalian tuh ya Allah lebih banget tau nggak ada yang respon nya. Udahlah sekarang nggak usah banyak cincong. Mana pake segala kaget-kagetan lagi udah itu terserah kalian mau kalian bohong kek nggak kek udah kebiasaan kalian aku juga kaget. Udah intinya kalau misalkan ini udah lah aku udah maafin juga kalian mau bercanda apapun juga udah bahagia kalian aja ini aku juga udah nggak marah capek tau nggak marah sama kalian. Udah nggak kaget aku tuh kalau misalkan kalian kelamaan datangnya kayak gitu, cuma yang minta aku satu lain kali kalau emang terpaksa nya tuh nggak bisa langsung sampai terus enggak bisa langsung datang seenggaknya itu bilang. Kan aku juga bisa santai santai gitu loh nggak terlalu ini banget, mana pakai segala satu jam lagi telatnya gila aja sih!"
Mendengar itu ku raih kembali tangan Fani dengan segera, "Ya atuh maafin tadi itu beneran, kita beneran kok ya tadi kejebak macet ya kan? Udah di jalan yang pertama tuh keluar dari mana namanya dari komplek foto juga soalnya macet dulu maksudnya jalanannya yang macet terus malah pas sampai di perempatan sama mah yang biasa kita buat beli bubur itu biasanya nah itu tuh malah kehabisan bensin. Jadinya ya gitu deh ya udah malah jadi ribet juga, kita beneran kok nggak bohong kita beneran nganu apa namanya tadi motornya udah ya maafin kita ya, janji deh nggak ngulangin lagi ya kan Ra?!"
Pandanganku kini kembali ke arahkan ke arah Rara yang seketika pula tampak mengangguk penuh merespon ucapanku. "Enggak bohong kok serius deh janji juga nanti maksudnya besok-besok enggak di ulangin lagi kita janji. Tapi nih ya mohon maaf aja ini kok lama banget sih kita nggak disuruh masuk?!"
Damn it, dalam sekejap aku pun menjitak pening Rara dengan begitu kerasnya membuat sang empunya sedikit terhuyung ke belakang yang justru diketahui oleh Fani dengan begitu luasnya sampai membuat ku menatap ke arah Rara yang aku jaili itu namun dalam sekejap sebuah kode ucapan. 'Udah mampus aja Ra, ya udah sekarang nggak apa-apa sabar-sabar aja daripada Fani marah terus tambah berabe nanti urusannya mending udah nggak apa-apa sekali-kali kamu menderita di atas kebahagiaan orang lain. Ckckck mampuss maafkan juga tapi ya kan, kena jitak. Salah siapa kamu terlalu jujur sayang ...."
*****
Segala perdebatan sengit yang terjadi diantara aku, Rara, dan Fanii dalam sekejap sudah terputus semenjak beberapa menit yang lalu. Kini sudah tidak ada lagi satu saja percekcokan di sini, karena yang ada semakin bertambahnya detik demi detik yang mungkin sudah hampir ada 1 jam aku dan Rara bermain di rumah Fani sekarang ini karena memang terlihat jelas jam dinding di atas sana bahkan kini sudah menunjukkan pukul 11 lebih 1 menit sendiri yang artinya mungkin juga sudah kurang lebih 1 jam-an kita berada di sini bercerita tak jelas sampai 1 bab bersambung ke nab lain begitu terus setelahnya sampai di masa kita benar-benar kalau untuk berucap dengan segala bercandaan yang ada, sampai sebuah ide keluar dari kotak arara menyuruh dan mungkin bisa dikatakan juga untuk mengatasi segala kegabutan yang ada di antara kami sekarang hasil 1 buah film berhasil ia tonton seperti sekarang ini dengan segala kenyamanan yang kita rasakan karena memang kami bertiga sama sama rebahan penuh di atas karpet empuk yang memang lumayan tebal yang kita duduki tugas dari tadi dan kini sudah kita gunakan untuk tempat bersantai-santai di sini dengan film horor yang ada di hadapan kami secara penuh ditonton.
"Si kampret, tadi siapa yang nyuruh ngasih film ini?! Kayak nggak ada film lain aja sumpah deh ya Allah udah tahu sini tuh kita tuh pada takut sama hantu tapi kok ya malah tontonannya kayak gini. Tahu enggak tahu enggak itu tuh kalau kayak gini tuh kita sama aja kayak nyari penyakit buat diri sendiri, paham?!" ujarku sembari menutupi mata ini dengan jilbab yang aku angkat sedikit untuk menutupinya penuh.