"Hadeh ... Tadi dibilangin ayah nggak percaya eh sekarang malah ngajak buru-buru aduh mah ribet banget deh punya temen kayak kamu tuh Ra. Ckck, tapi sayang tapi nyebelin tapi ada juga nggak selain kamu t-t."
"Udah ah berisik, ini kita jadi mau jalan sekarang apa nanti? Kalau sekarang ya ayo habis ini langsung aku gas ke rumah Fani dengan cepat tapi kalau misalkan kamu mau nanti nanti mah ya udah silakan Monggo aja kalau misalkan itu tapi nanti aku tinggal aja kamu ras di sini biar jalan ke rumah Fani sendir-"
CTUK!
"Enak aja jalan sendiri jalan sendiri, kalau ujung-ujungnya cuma nyuruh aku jalan sendiri mah mending tadi duluan aja ke rumah Fani nya nggak nungguin kamu dululah. Udah udah udah udah daripada kita malah ribut sendiri yang di sono nungguin kita yang di sini ma ribut nggak jelas kayak gini kalau misalnya nggak di suruh juga pasti nyambung terus udah ayo buruan tancap gas!'
Mendengar itu dan seolah memang Rara juga paham atas apa yang aku ucapkan, dari harapan denganku sini di belakang raker saat ini yang sudah siap sama-sama mengenakan helm juga duduk di atas motor Beat berwarna merah putih ini dengan melihat dari pandanganku penuh Rara tampak mengangguk-anggukan kepalanya ada di depanku sana.
Hingga sedetik kemudian tanpa berbasa-basi lagi dan tanpa bercekcok ria kembali kini baik aku maupun Rara ini sudah benar-benar melajukan motornya ke arah depan sana melewati jalan kompleks ku yang bisa dibilang di pagi menjelang siang ini cukup sepi dari pada hari-hari biasanya.
Tanpa ada sepatah dua patah yang dikeluarkan aku maupun Rara seperti sekarang ini ataupun yang bisa dibilang juga berbeda jauh dengan sebelumnya yang sempat bahkan kita tampak bercekcok sedikit karena ketidakjelasan yang hadir diantara kami. Ini baik aku maupun Rara masih terdiam di segala hal yang kita nikmati di perjalanan menuju rumah Fani seperti sekarang, bisa dibilang untuk sampai ke rumah Fani menurutku sekitar memakan waktu 10 sampai 15 menitan karena tak terlalu jauh juga atau bahkan mungkin tidak sampai sebanyak itu kita harus membuang waktu yang pasti semua ini cancel dan berundur secara penuh karena aksi para yang telat datang sesuai perjanjian yang sudah ditentukan tadi hingga membuat matahari yang sudah mulai naik dan naik di jam yang mungkin sudah menunjukkan pukul 10 lebih sekian tampak menyengat ke kulit kulit wajah yang bahkan juga membuat mata sedikit pedas karena jalur jalan yang kita lewati ini berlawanan dengan sinar matahari yang otomatis juga itu menerpa kami secara langsung tanpa ada sebuah benda lain lagi yang bisa menutupinya meskipun kita sama-sama memakai helm tapi kenyataannya sama saja.
Sebuah helaan nafas aku lontarkan saat ini, ku pandang ke arah samping kanan dan kiri di mana jajaran toko-toko yang kini sudah mulai bukaan itu satu persatu membuatku sedikit tersenyum kecut karena kenyataan yang menghampiriku nyatanya tak selamanya mulus seperti apa yang ada di ekspektasi bahkan apa yang ada dipikiranku sebelum-sebelumnya. Tapi tak mengapa jika kenyataannya memang harus seperti ini dulu maka akan aku jalani, terkecuali jika memang benar-benar aku sudah tidak sanggup lagi entahlah apa yang akan terjadi padaku dan apa yang mungkin bisa aku lakukan hanya bisa berpasrah dan menjalani semuanya seperti sekarang ini biarin dah sampai kapal sampai Allah benar-benar menurunkan kepadaku sebuah kenyataan kecil yang membuatku senang dan merasa bahwa hidupku tidak gagal.
Tapi aku tak mau terlalu berlarut-larut dalam hal itu, padahal yang hanya bisa aku rasakan sendiri dan hanya bisa aku sesali juga aku aku kesalli sendiri karena memang apa yang aku rasakan ini tak pernah aku tuangkan secara langsung ataupun aku ceritakan secara langsung baik ke bunda maupun lainnya. Bahkan pada Rara dan Fani pun mereka tak tahu walaupun kita memang posisinya 11-12 yang bisa dibilang hampir sama tapi segala hal yang berlebihan pada diriku hanya bisa aku rasakan sendiri dan aku pendam sendiri tanpa ada yang tahu sedikit pun tentang hal itu.
Maka jika aku sakit maka hatiku juga yang sakit sendiri, entahlah terkadang aku sulit sekali berdamai dengan keadaan tapi kenyataannya aku harus demikian sampai membuatku sendiri bahkan hanya bisa menghela nafas panjang seperti sekarang ini yang sampai sebuah panggilan kudengar dari pendengaranku ini penuh membuat ku ber 'Hah, Hih, huh!' ke arah Rara yang sibuk menyetir sana dengan segala ke tidak koneksi ku karena memang aku yang tak mendengar apa-apa dan hanya mendengar buah suara yang nyata nya seperti suaranya Rara tapi aku sendiri tak terlalu jelas mendengarnya entah apa yang diucapkan oleh di hadapanku ini. Yang pasti lamunanku buyar dan aku kembali fokus menatap kearah depan sana dengan sesekali menepuk bahu Rara karena tak kunjung memberi tahu atas apa yang diucapkannya tadi yang justru malah diberi sebuah yang tak lain tak bukan itu kenyataannya memang demikian tapi ya entahlah namanya manusia bukan maka semuanya kalau sedang berada di atas motor seperti ini tapi dengar adalah hal yang wajar?!
"Kampret, ini bukannya aku budek ya Allah jahat banget sama teman sendiri masak dikatain budek. Tapi seriusan emang nggak dengar Rara ... Tadi kamu ngomong apa?!" ujarku sedikit kencang, melawan angin yang semribit menerpa wajah dan melawan segala kenyataan yang memang sedikit mengaburkan pendengaranku karena angin yang seperti mengajak tawuran karena berdatangan secara berat itu jelas terasa di telinga seperti ini menghantam hebat. Aku benar kan posisi helm yang kupakai yang sedikit miring juga karena terpaan angin itu, "Heh! Ya Allah sekarang malah kamu yang diem diem bae astagfirullah ada apa tadi kamu ngomong apa ya Allah?!"
Greget bukan main kini justru aku yang merasakannya, iya bagaimana tidak jika tadi Rara memang memanggilku bisa dikatakan aku pun salah karena tidak mendengarnya tapi jika sekarang justru malah dirinya yang tampak diam seperti tak masalah apapun bukankah itu sangat menyebalkan?! Yah ... Sampai sebuah jitakan pun aku lontarkan di kepalanya sedikit keras sampai-sampai punya menoleh dan berteriak.
"HEH, SIALAN! NGGAK ADA APA-APA YA ALLAH NGGAK USAH REPOT-REPOT JUGA KALI AKU JUGA ENGGAK BUDEK. INI CUMA KARENA ANGIN AJA NIH LAGIAN KAN SIAPA SURUH TADI APA NGGAK BURU-BURU IN KALAU MISALKAN SEKARANG UDAH JAM SEGINI JAM SEGINI KAN AKU JADI TAKUT Fani Marah!"
DAMN IT.
'Si nih anak ....' ujarku dalam hati yang aku gantungan secara penuh kalimat itu dengan pandangan tak percaya juga yang aku lontarkan menatap kearah meskipun hanya kudapatkan bagian belakang dari kepalanya itu karena memang Rara yang fokus menyetir juga dengan diriku yang hanya bisa geleng-geleng sendiri merespon apa yang diteriakkan oleh Rara itu.
Bahkan tanpa belum ada niatan untuk meresponnya melalui ucapan, aku kembali hanya bisa hadir dalam hati sana berkata. 'Lagian siapa yang buru-buru in gitu loh ya Allah kalau misalkan kenyataannya emang kayak gitu masa iya sih bilang udah nggak telat gitu kan jelas-jelas telat orang rumah sendiri kalau misalkan si Fani orangnya juga kadang kan kasihan juga kalau bisa karena gue udah kita kelamaan tapi jangan kelamaan di tengah jalan masih aja kita kelamaan. Haduh ... Kayaknya emang itu definisi dari marah yang di mana ya bisa dibilang itu kayak dia salah tapi dia malah nyalahin orang lain. CK! Untung temen, kalau misalkan ini mah apa namanya kalau misalkan bukan temen mah pasti udah aku buang ke laut sana bodo amat dimakan hiu atau paus juga tapi masalahnya tuh aku tuh sayang banget sama ini orang nyebelin apa juga nggak bisa marah marahan git-'
"HEH! SEKARANG MALAH NGELAMAR LAGI INI ANAK ALLAHUAKBAR ASTAGFIRULLAHALADZIM. LARAS ... HUEE YA ALLAH ... ALLAHU AKBAR MASYA ALLAH ... PUNYA TEMAN GINI AMAT ASTAGHFIRULLAHALADZIM UDAH CAPEK MARAH-MARAH TERUS. SEKARANG JAM BERAPA LARAS?! AU AH GELAP NGEBUT YA HABIS INI!"
*****
Sekian menit berlalu dengan begitu cepatnya, tetapi tidak secepat perkiraanku juga Rara yang sebelumnya berpikiran bahwa akan secepat kilat juga sampai ke rumah Fani seperti tujuan awalnya tadi. Tapi tiba-tiba bensin Rara pun habis, hal itu jelas membuatku juga Rara terpaksa mendorong motor dengan melawan hari yang semakin panas karena terik matahari ini sampai ke beberapa langkah atau bisa dikatakan sekitar 100 meteran ke depan sana karena pom bensin berada di sana ya itu bahkan sudah lebih mending daripada terlalu jauh atau bahkan memang letaknya sangat jauh dari tempatku dan Lara tiba-tiba berhenti tadi.
Uring-uringan jelas aku lakukan sedikit di sini, dengan segala hal yang terlewatkan batas yang dilakukan oleh Rara sampai untuk mengisi bensin motornya saja dirinya sangat malas sekali seperti di kebiasaan-kebiasaannya dari dulu hingga sekarang yang tak kunjung usai juga seperti ini. Tapi, yang aku dapatkan justru hanya kita kan kita kan kecil juga sesekali gerutuan darinya membuat ku hanya bisa menyalahkan nafas kasar dan juga tampak pasrah dengan keadaan yang entah mungkin nantinya juga pasti akan tetap kena omel Fani yang sukses dibuat oleh kita menunggu dengan waktu yang tidak bisa dikatakan sebentar ini.
"Ras, sabarrr ... Tenang aja pasti nanti pagi bakal marah yang kita kok hehehehe. Sabar ya sabar ... Pasti nanti bakal aman damai pokoknya tenang aja itu pasti bakal kena semprot juga sama si Fani karena kelamaan. Ckckck tapi gapapa kan yang penting berdua ini nggak sendirian kena semprotnya. Jadi taaa it's okey lah, daripada ke nama sendiri kan besok juga udah layu gas ke depan sana tuh nggak biar kelihatan pom bensinnya."
Mendengar itu aku hanya melirik penuh kesinisan ke arah Rara yang justru seperti tidak ada tampang-tampang berdosanya karena malah cengengesan tak jelas diharapkan ku saat ini sampai sebuah cubitan di lenganku sukses membuatku berteriak tapi ditahan oleh Rara dengan kedua tangannya yang membungkam ku penuh soalnya menyuruhku diam tapi kenyataannya kembali aku respon itu dengan cubitan pedas juga di lengannya.
"Makanya kalau mau ngapa-ngapain itu on time sayang ... HUEE ya Allah, ini bukannya gimana-gimana tapi ya kalau misalkan itu jangan molor-molor juga waktunya ihhh ya Allah. Gemes aku tuh sama kamu Ra!"
Memang benar, rasanya ingin sekali membuang Rara kau mengusirku dari harapan sekarang tapi rasanya itu juga tak mungkin aku lakukan karena tanya-tanya ntar mainnya juga aku tak mungkin bisa sampai tujuan bukan tapi juga memang telah pusing juga aku memikirkannya.
Sampai dengan segala nafas panjang aku lontarkan saat ini, pandanganku pun kembali menatap kearah Rara dengan pandangan yang sedikit menghangat daripada sebelumnya.
"Sabar kenapa sih sabar sabar gitu loh Laras astaghfirullahaladzim Allahu akbar Masya Allah ... Sabar sabar tenang kita masih sampai kau ke rumah Ani dengan selamat sentosa dan sejahtera salam bagi kita semua. CK! Udah agak yuk lagi maju dikit lagi mau depan sana udah ada POM bensin, ya mohon maaf aja kalau misalkan aku tadi lupa ngisi bensin soalnya aku juga buru-buru tadi disuruh ini ini itu itu udah dulu lagi suruh momong Al-"
"Hasyehh, udah udah udah udah berisik kamu tuh diem aja. Udah yuk gas sekarang lanjut lagi buruan!"
Tanpa berbasa-basi lagi setelah aku yang menolak secara penuh atas ketidak jelasan Rara yang masih saja seperti itu saat ini, ini baik aku maupun dirinya kembali mendorong motor sampai ke pom bensin yang bisa dibilang sudah mulai dekat itu dengan segera.
Sekian menit berlalu kini benar saja baik aku maupun Rara sudah sampai di rumah Fani dengan segala rasa di hati yang sedikit tak tik tuk tak karuan juga karena menyadari tatapan horor dari sang empunya rumah. Wajah-wajah tak bersahabat jelas terlihat dari pandanganku saat ini membuatku menatap kearah Rara dengan seketika yang mempunyai juga menatap ke arahku dengan cengiran yang terlihat penuh meskipun tertutup oleh masker yang juga melekat di wajahnya sana sama sepertiku tapi aku sangat paham atas apa yang dilakukan oleh Rara saat ini. Sampai dengan begitu, daerah pulau setelah kami benar-benar sampai di halaman rumah Fani yang di mana sekarang punya juga sudah menunggu penuh di kursi teras sana menatap kami dengan lekat-lekat juga dengan segala gelengan yang ia lakukan saat ini. Jujur hal itu membuat aku juga Rara sedikit panas dingin secara penuh sampai kami benar-benar turun dari motor. Hawa hawa tak enak tuh masih dirasakan olehku dan juga Rara.
Kubisikan sebuah kalimat kepada Rara bersamaan dengan kaki kami yang sama-sama melangkah mendekat ke arah Fani dengan perlahan. Jujur kami sedikit gugup mendapatinya, bahkan tak hanya gugup tapi sedikit takut dan tak enak pun menyerang di antara aku dan Rara seperti saat ini.
"Apa aku tebak udah bener kan pasti Fani bakal marah sama kita kamu sih kelamaan tadi!"
Dan yah, sedikit percekcokan kembali hadir di antara aku dan Rara masih dikontak sebenar-benarnya pertengkaran tapi sama saja ini sedikit membuatku dengannya berdebat penuh dalam segala hal yang sedikit ditahan-tahan juga karena tak mau terlalu terlihat oleh seseorang yang kini tampak menempatkan kedua tangannya itu bersedekap penuh di depan dadanya dengan badannya juga sudah berdiri tegap daripada sebelumnya yang duduk di kursi ini badan itu sudah pernah menatap ke arahku dan Rara bahkan seolah seperti ingin mendekat tapi bertahan entah karena apa kami pun tak tahu dan hanya bisa menerka-nerka.
"Idih kok aku, ya nggak l-l ...."
"Udah berisik, ayok masuk. Kalian sama-sama telat!"
MAMPUS!