"Hish! iya iya Masya Allah Allahu akbar astagfirullah ... wis ya wis ya aku percaya kok aku tuh tahu dan aku tuh ngerti Rara ... aku percaya kok sama semuanya itu aku juga tahu dan sama aja kayak aku yang percaya kalau misalkan Arga tuh pasti suka sama aku hiyahiyahiya hahahaha ...."
Dalam sekejap kalau aku pun meledak di sini, mendapati segala respon yang dilontarkan oleh Rara. Ditambah lagi aku yang tahu jika pada kenyataannya sosok memutarkan matanya jengah mendengar apa yang aku lontarkan itu karena memang aku ini terlalu bodoh perihal percintaan.
"Wkwkw santai bos ... kamu itu santai aja sih Ra ... tenang Mbak tenang lagian aku juga tahu kok aku juga sadar diri. Aku bilang gitu tuh cuma ayah buat nyenengin diri sendiri aja, hahahah udah ah capek ketawanya. Mukanya biasa aja dong, capek lihatnya Ehehehe ... biasa aja ya sayangku cintaku muah. By the way udahlah nggak usah dibahas lagi soal ini, lagian kan kalau misalkan apa ya namanya ya emang rezekinya kan juga pasti enggak akan kemana-mana. Dan itu tadi, kalau misalkan emang banyak tuh kayaknya udah jadi rezekinya tadi kan pasti nggak ke mana-mana juga kak sama aku ya apa yang aku ngomongnya barusan juga nah terus juga kalau misalkan aku berharap juga rasanya itu enggak salah juga karena emang kan kalau misalkan ada di keadaan seperti sekarang ini emang yang lagi diharapkan itu ya harapan itu. Ya kan? CK, udah ah ini kok lama-lama lumayan panas juga ya di sini. Kita masuk aja yuk Ra," ajakku dalam sekejap.
Sedangkan sosok Rara di hadapanku itu kini tampak menatap kearah sekitarnya sejenak sebelum setelah ia kembali menatap ke arah langit di atas sana ya memang semakin panas mengeluarkan teriknya itu.
"Ya udah yok masuk, lagian udah capek juga disini cerita-cerita nggak! Eh, dari jam berapa kita di sini ya?!" tanya Rara sembari bangkit dari duduknya sana.
"Apa ya nggak tahu, eumm mungkin udah lama juga sih eh tapi kayaknya emang iya. kan aku sampai ke sini tadi kan kamu langsung masuk tapi aku nggak mau gitu kan akhirnya aku di sini ya malam jadi kamu ngeluarin semua ini nih makanan antek-anteknya nih yang banyak buanget ini. Nah terus kamu tinggal dan tuh berak, eee nggak sadar sekarang jam berapa dah?!"
Kini memang kenyataan yang membicarakan semuanya, baik aku maupun Rara ini sudah bangkit dari tempat duduk yang seperti sebelumnya tampak santai-santai di sana. Kini baik aku maupun dirinya tampak berdiri penuh saling berjajaran di sini dengan segala pernyataan-pernyataan yang keluar seperti sebelumnya itu.
Ditatapnya penuh sebuah jam tangan yang melekat di tangan Rara itu setelah pertanyaannya aku balikan kepadanya tinggal membuat sosok itu kini tampak kembali hadir dengan gelengannya menatapku yang hanya menyengir di sini karena paham dengan maksud tatapan itu. "Kenapa aku baru saja sih kalau pertanyaanku mau dibalikin sama kamu!"
Lagi dan lagi aku terkekeh, "Ya maaf wkwkw. Lagian udah sih jam berapa aku kan nanya lagian mumpung kamu bawa jam tangan juga. Ini tuh aku kan nggak bawa sayang ... aku cuma bawa ponsel aja nih aku lagi males juga kalau misalkan mau lihat jam di ponsel males aja gitu rasanya. Udah wkwk jadinya udah jam berapa ini? Eh tapi nggak usah dijawab juga nggak papa ding, keburu meleleh ini dodol. Udah ayok masuk aja gas nggak usah mikirin jam berapa yang pasti udah panas buanget ...."
*****
Langit terik yang begitu panas dan sangat menyengat kulit di siang hari tadi, ini semakin turun dari semakin turun sampai di jam yang kini sudah menunjukkan pukul 4 lebih 30 menit ini. Aku berada di ruang tengah dari rumah ya memang notabenenya adalah rumah orang tuaku ini karena aku memang sudah pulang dari main ku di rumah Rara tadi. Kedua kakiku pun aku sodorkan penuh ke arah depan sana dimana keberadaan ku yang nampak merebahkan diri penuh di atas sofa panjang ini, sedangkan pandangan ku menatap penuh ke arah depan sana dimana keberadaan sebuah televisi yang menyala menampilkan sebuah adegan film yang memang biasa aku tampan di sore hari seperti sekarang ini.
Rasanya sangat lelah untuk melakukan hal apapun setelah seharian pergi dari rumah dan setelah seharian tampak sok sibuk dengan keadaan dan aktivitasku yang pada kenyataannya memang belum terlalu riweh seperti sekarang ini.
Sebuah toples aku tarik dari arah meja sofa yang ada di sampingku ini yang pada kenyataannya tak cukup jauh dari sini yang membuatku dengan mudahnya mengambilnya. Suasana saat ini memang paling enak untuk untuk berleha-leha, dengan keadaan yang mana yang membuatku juga berusaha untuk menghilangkan segala pikiran yang ada di otak dengan merefreshkan kembali pikiranku sendiri seperti dengan my time pada diri sendiri seolah seperti apa yang aku lakukan saat ini di sini.
Segala sesuatunya benar-benar sudah kuserahkan kepada yang kuasa, perihal segala ketakutan dan perihal ketidak percayaan diriku atas suatu kehendak yang pada kenyataannya bisa saja terjadi tetapi juga bisa saja tidak terjadi untuk sekarang ini yang entahlah rasanya aku terlalu lelah untuk memikirkannya kembali seperti sebelum-sebelumnya. Tetapi tidak dengan saat ini yang dalam sekejap pula, rasanya sungguh sangat lega aku rasakan. Sebuah penghujung hari yang sangat menenangkan aku rasakan saat diriku yang bersantai seperti sekarang ini tak ada yang mengganggu sama sekali dan di situ pula pikiran-pikiran tak jelasku pun untungnya tidak berlarian kembali ke otakku dan menyabotase semuanya seperti sebelum-sebelumnya.
Krauk ... krauk ... krauk ....
Tak ada suara apapun itu terkecuali hanya karena sebuah bunyi yang timbul karena aktivitas ku yang tengah memakan sebuah keripik singkong yang memenuhi toples yang aku pegang, dengan diri yang sedikit merebahkan pada sofa yang empuk ini dengan diri yang juga menikmati segala rasa nyaman yang tercipta dengan aksiku sekarang ini, dan juga dengan diri yang kini hadir dengan hati yang begitu tenang daripada sebelum-sebelumnya. Aku bersyukur atas hal itu, atas segala rasa tenang yang aku rasakan dan aku ciptakan saat ini. Jujur pada diri diri seperti sekarang ini lah yang selalu aku rindukan daripada pada diri diri yang selalu menyalahkan takdir dan pada diri diri yang selalu rasanya ingin menyerah padahal kenyataannya menyerah itu bukan sebuah solusi untuk menghadapi kenyataan.
Nyaman sekali rasanya, saat jiwa yang tak ada pengusik sama sekali seperti saat ini salah dibiarkan dan diberi waktu oleh alam untuk merasa tenang walau hanya dalam sekejap. Rasanya itu sungguh sangatlah berguna bagiku, sampai sebuah helaan nafas tipis aku lakukan seperti sekarang ini. Mungkin jika benda dikatakan jika dalam suasana yang sepi seperti sekarang ini aku seperti terlalu bisa untuk meng kata-katakan sebuah hal sampai dengan segala majas yang digunakan mungkin atau terlalu berlebihan ataupun apa aku bahkan tak terlalu paham tapi yang jelas Suasana nyaman jelas ngasi aku rasakan di sini secara penuh. Bahkan setiap pertambahan detiknya aku lalui dengan begitu nyamannya di sini di atas sofa yang sedari tadi aku gunakan untuk merebahkan diri secara penuh dan dengan keadaan di mana yang sangat mendukung sekali di sini.
Pandangan ini masih setia menatap ke arah depan sana dengan tangan yang masih setia juga dengan segala keaktifannya mengambil dan memakan cemilan yang ada di tanganku ini yang berada di toples penuh sampai tinggal sedemikian itu jelas aku rasakan sangat enak karena semakin kesini semakin tidak ada yang mengganggu sama sekali walaupun kenyataannya juga sedikit membuatku bingung karena memang biasanya jika ada yang melihat aku sedemikian rupa di sini pasti siapapun itu tidak akan suka karena memang aku yang terlalu santai menikmati semuanya sampai terkadang lupa waktu saking santainya itu.