6

1293 Words
Nox mengucapkan rayuan gombal itu sungguh mustahil.  Maksudku, begini. Halo, aku Alina. Iya, Alina yang seharusnya jahat itu.   “Nox, apa kau makan jamur beracun? Mungkin kita perlu menemui tabib istana agar kau mendapat pengobatan.” Cahaya bulan terlihat berpendar di sekitar Nox. Sisa-sisa kenanganku mengenai Nox versi bocah telah sirna. Cara bicara, menatap, bahkan suaranya pun terdengar begitu melenakan.  “Sebenarnya, aku justru mencemaskanmu,” katanya. “Bukankah kau makan banyak sekali?” Ternyata Nox melihat sisi eleganku: Makan sebanyak mungkin sembari mengabaikan ajakan dansa.  “Hei, jangan begitu. Tidak ada yang mengajakku mengobrol.” Yang tentunya tidak benar. “Lagi pula, kenapa kau merayuku? Nox, apa kau tidak salah makan?” “Nona,” katanya sembari menawarkan tangan kanan kepadaku. “Berdansalah denganku.” “Nox.” “Malam ini terlalu indah dilewatkan seorang diri.” Rencanaku memang begitu: Menikmati malam gala seorang diri, berkawan sepi, memuji bintang, kemudian pura-pura bahagia setelah acara selesai. Aku menghela napas, pasrah. “Semoga kau tidak menyesal.” Nox tidak menjawab. Ia tersenyum, mengajakku kembali ke dalam. Kabar baiknya: Kami tidak jadi berdansa.  Kabar buruknya: Caius mendominasi lantai dansa. Kalau ini kupastikan datanya valid dan teruji secara klinis. Semua orang menyingkir, menyisakan Caius dan seorang gadis di aula dansa. Gadis cantik bergaun biru. Siapa pun pasti sependapat denganku mengenai ini. Dia benar-benar tidak tergambarkan. Kecantikannya terkesan lembut. Satu-satunya gadis yang ditakdirkan dalam novel: Yuna. Sepertinya sudah saatnya aku mengajukan surat pengunduran diri. Era kejayaan Yuna akan bersinar seterang matahari, sementara Alina versi 0.4 memilih menyepi di kota terpencil, menikmati secangkir teh dan berharap tidak perlu bertemu algojo 1 dan 2, yakni Nox dan Caius.  Aku terpana melihat rambut Yuna yang berwarna cokelat karamel. Kesempurnaan Yuna dalam berdansa, bila guruku melihat, pasti akan membuatnya menangis haru. Secara diriku ini tidak bisa diharapkan. Sangat tidak kompeten. Padahal instruksinya mudah. Kanan, serong. Kiri, serong. Putar, serong. Maju, serong. Mundur, serong. Namun, kakiku sepertinya memiliki keinginan sendiri. Maju, injak. Mundur, injak. Putar, injak. Kiri dan kanan, injak, injak, injak. Masa bodoh dengan rezim feodalisme. Aku hidup di era demokrasi yang menjunjung kesetaraan tanpa memandang ras, keyakinan, dan jumlah koin yang dimiliki. Sialnya jiwaku memilih terlahir kembali dalam starta sosial di masa sebelum pencerahan.  Bagaimana kalau aku melamar sebagai pengajar ilmu sosial yang berorientasi ke kerakyatan? Setidaknya bangsawan dungu tukang korup bisa dibasmi dan dengan begitu kehidupan rakyat, khususnya kaum buruh dan pekerja kasar, bisa sedikit lebih baik. Oh, aku ingin mengutarakan revolusi kerakyatan! Huwohohoho! Maaf, aku melantur.  Dansa antara Caius dan Yuna. Inilah peristiwa yang membuat Alina memutuskan ingin menyingkirkan Yuna. Takhta, uang, kuasa. Alina mencintai ketenaran sebaik aku menyukai makanan manis. Bedanya, Alina berusaha menghalalkan berbagai cara sementara aku sadar diri—mengerti posisiku sebagai tokoh pinggiran.  Nasihat dari tukang ngibul. Sebenarnya tidak ada buruknya menjadi tokoh sampingan. Anggap saja kita sedang menonton drama. Sebagai penonton yang baik dan budiman, jangan lupa siapkan berondong jagung dan sebotol jus. Kujamin, hidupmu masih sama membosankannya. Hadirin berbisik-bisik mengenai betapa serasi sejoli tersebut. Mereka bahkan menduga Yuna akan menjadi calon putri mahkota. Sebagai pembaca aku sangat setuju dan menyarankan mereka segera melangsungkan pernikahan. Jangan lupa lahirkan anak-anak lucu di kemudian hari. Sempurna. “Nona.” Aku mendongak, menatap Nox. “Tolong jangan perhatikan mereka.” Ia menggenggam telapak tanganku, mengarahkannya ke ... oh! Dia mencium tanganku!  Sontak aku berteriak, walau aku yakin suaraku teredam alunan musik, dan mencoba menjauhkan diri, walau gagal karena Nox ngotot mempertahankan genggamannya, hingga beberapa orang melirikku (mungkin juga mulai bergosip). “Nox!” Wajahku merona sempurna. “Siapa yang akan bertanggung jawab kalau ada gadis yang cemburu kepadaku?” Lagi-lagi, Nox menampilkan senyum yang kuduga penuh siasat. “Bagaimana kalau ada lelaki yang menginginkanmu?” Tok, tok, tok. Nox, aku bahkan belum mencapai usia dewasa. Tindakanmu ini termasuk pelecehan terhadap anak di bawah umur. Pokoknya lima belas tahun terhitung usia di bawah umur! “Aku ingin mengubur diriku.” “Kenapa?” “Malu!” Kemudian dansa antara Yuna dan Caius pun berakhir. Semua orang bertepuk tangan. Sensasinya benar-benar berbeda bila tokoh utama yang muncul.  “Nona, jangan lupa janjimu.” “Memangnya aku punya pilihan?” “Peri Mawarku, mari.” Lunturlah seluruh kekesalanku. Tak mungkin aku sanggup menolak ajakan semanis itu, eh maksudku, mana mungkin sanggup menolak senyum seindah, tunggu aku sepertinya salah mendeskripsikan. Ah! Ya sudahlah! Kami berdua berdansa di keramaian. Semua orang tampak menikmati setiap momen yang mereka miliki. Aku? Aku sibuk berusaha tidak menginjak kaki pasanganku (syalalala, pasanganku). Oke, maksudku pasangan dansaku. Omong-omong, usahaku gagal total. Berkali-kali aku tanpa sengaja menginjak.  “Nox, sepertinya bakatku tidak cukup baik.” Nox menunduk, cukup rendah, kemudian ia berbisik di telingaku, “Letakkan kedua kakimu di atas sepatuku.” Kedua alisku bertaut, bingung. “Lakukan saja.”  Kulakukan apa yang diminta Nox. Huwa! Aku menginjak kaki penyihir ganteng! Aku menginjak kaki penyihir ganteng! Akhirnya dansa pun didominasi pergerakan Nox. (Hai, aku, kan, cuma numpang.) Aku tidak memperhatikan apa pun selain wajah Nox yang tampak gembira. Kami terus menari mengikuti nada-nada yang terasa syahdu. Aku merasa ada yang salah dengan hubungan antara Alina dan Nox. Bukankah seharusnya Nox tertarik kepada Yuna? Semoga aku tidak mengacaukan rute cerita. Musik pun terhenti. Semua orang mulai meninggalkan lantai dansa dan pasangan lain datang mengisi kekosongan. “Peri Mawar, sampai kapan kau menatapku?” Aku berkedip. “Siapa yang mengajarimu?” Jawaban tak kudapatkan lantaran petugas istana menghampiriku. “Nona Foaly, Yang Mulia mengharapkan kehadiranmu.” Kali ini aku berharap ada lubang persembunyian. *** Aku meninggalkan Nox seorang diri. Barangkali sekarang dia sibuk melayani antrean gadis yang ingin berdansa dengannya. Petugas-istana-yang-namanya-entah-siapa membimbingku melewati kerumunan undangan. Awalnya kukira si petugas akan membawaku menuju mimbar, namun ia ternyata mengarahkanku menuju koridor. Musik masih terdengar, walau sayup-sayup, di telingaku. Tidak ada lukisan di sepanjang koridor yang kulewati. Penanda apa pun yang mengenai keluarga kerajaan tersembunyi jauh dari pengelihatanku. “Silakan, Nona.” Petugas membuka pintu, memperlihatkan bagian dalam ruangan yang ditempati.... Ayah dan ibuku. Oh tunggu. Ada Caius dan Raja. Mereka duduk di sofa, semua mata menatapku, dan aku (respons alamiah akibat pelajaran etika) memberi hormat sekaligus menyapa Raja.  Tak bisakah kalian membiarkanku menikmati prasmanan? “Alina, Sayangku!” Raja bangkit, menghampiriku. “Ayo, sini. Duduklah bersama kami.” Kuikuti perintah, ralat, ajakan Raja. Sengaja kupilih kursi di dekat Joseph. Omong-omong, tampaknya cinta lama mungkin bersemi kembali. Raja terlihat bahagia. Sangat bahagia.  “Inocia, putrimu mewarisi kecantikanmu.” “Terima kasih, Yang Mulia,” Inocia menjawab.  Basa-basi melelahkan dan membosankan pun dimulai. Aku pura-pura menikmati padahal jiwaku melayang—rindu makanan manis, rindu makanan manis, dan rindu makanan manis. “Alina, kenapa kau tidak menghampiri Caius?” Hampir saja aku tersedak kue. Iiya, cara menghabiskan waktu membosankan bersama orang dewasa. “Aku tidak berani, Yang Mulia.” Sebenarnya aku ingin menjawab: “Aku tidak ingin berdansa dengan Caius! Apa Anda bersedia menjamin keselamatanku nantinya? Oh terima kasih.” Raja menggeleng, kecewa. “Tadinya aku menyarankan Caius agar langsung merebutmu dari murid didik Rugal.” “Yang Mulia,” Joseph mengoreksi, “namanya Nox dan dia itu sahabat putriku.” “Bagiku mereka tidak terlihat seperti itu.” “Itu tidak benar.” “Joseph, memangnya aku tidak tahu cara lelaki memandang wanitanya?” Perdebatan pun dimulai. Mereka silih berganti melontarkan opini sementara aku berharap bisa pergi.  “Caius, jangan sampai kau melewatkan debut Alina.” Raja narsis! Aku tidak ingin mengundang putramu!  “Yang Mulia, sepertinya itu terlalu berlebihan,” Inocia menyuarakan pendapatnya. “Kami tidak pantas mendapatkan keberuntungan itu.” “Aku tidak keberatan.” Caius menatapku, pandangannya tak tergoyahkan. “Aku tidak keberatan hadir di acara debut Alina.” Hancurlah seluruh rencana pengamanan hidupku. Bukan ini yang kuinginkan. Seharusnya Caius memuji Yuna dan mengucapkan keinginan perihal lamaran. Lalu, realitas yang kudapat ternyata berbeda dari bayanganku.  Siapa pun, tolong selamatkan aku!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD