7

988 Words
Sebagai calon pewaris tunggal Arcadion, Caius tidak perlu mencemaskan saingan maupun politik kotor memperebutkan kursi kepemimpinan. Tetapi, bukan berarti ia memang mengharapkan kedudukan tertinggi di Arcadion. Kehidupan serbakecukupan, bergelimang perhatian, serta kehormatan; hampir saja ia merasa apatis lantaran tiadanya persaingan dalam jalannya. Raja memberikan segala yang dibutuhkan Caius sebaik orangtua pada umumnya. Lagi pula, Caius bukan anak penuntut. Ia mengerti dan paham posisi ayahnya. Raja merupakan simbol sekaligus pelindung. Ia mengayomi serta membimbing rakyat menuju kemakmuran. Hampir setiap hari dihabiskan Raja demi menyelesaikan kewajiban utama. Azarenth, ayah Caius, raja Negeri Arcadion. Orang-orang memanggilnya sebagai "Yang Mulia". Lelaki ini memiliki satu rahasia, dan Caius mengetahuinya, bahwa wanita pertama dan sampai akhir yang akan dicintainya hanyalah Inocia. Theodora, istri Azarenth, sebelum berpulang sempat menceritakan kegamangannya kepada Caius. "Ayahmu tidak menginginkanku," katanya suatu hari di musim gugur. "Satu-satunya wanita yang dicintai olehnya hanya Inocia seorang, bukan aku."  Pernikahan politikal. Sebatas kepentingan. Simbiosis mutualisme. Azarenth membutuhkan dukungan keluarga Theodora demi menyingkirkan pewaris lain. Sebagai seorang wanita Theodora mendapatkan privelese dibanding yang lain. Urusan dalam istana, posisi kabinet menteri, dan kemudahan perniagaan bagi kerabatnya; benar-benar dimanfaatkan oleh keluarga Theodora.  Akan tetapi, pihak yang menjalani pernikahan tidak seindah gambaran dongeng. Tidak ada pangeran berkuda putih. Tidak ada janji sehidup semati. Seluruh impian gadis yang dahulu Theodora bayangkan pun perlahan mati.  Caius ialah putra yang lahir atas dasar kesepakatan. Azarenth berjanji akan menjadikan keturunan Theodora sebagai pewaris tunggal. Cinta takkan memberikan kebahagiaan bagi wanita yang diinginkan sebatas kontrak kepentingan. Theodora bertahan menyembunyikan perasaan hingga jiwanya turut layu seiring cinta yang tak pernah bersambut. Sekeras apa pun usaha Theodora menunjukkan kesungguhannya, jarak di antara dirinya dan sang suami kian merenggang hingga tiada mungkin disatukan.  Mencintai dalam diam. Menginginkan tanpa sanggup menerima realitas. Cinta, namun Theodora seorang yang berharap. Oleh karenanya, Theodora pun tak sanggup bertahan. Api cinta telanjur membakar seluruh sumbu kehidupan milik Theodora. Ia ingin dicintai sebagaimana dirinya mencintai Azarenth. Kesungguhan tidaklah cukup bagi Azarenth. Sampai maut menjemput, Theodora tidak pernah mendengar kata cinta terucap untuknya. Kenangan seorang ibu yang diingat Caius terlampau buruk. Ia bersumpah akan menikahi wanita atas dasar cinta agar nasib pasangannya tidak berakhir nelangsa seperti Theodora.  "Aku ingin menjenguk putri Inocia."  Saat itu Caius tidak sengaja mendengar percakapan antara Azarenth dan sekretaris istana. Bahkan, meski Inocia sudah dimiliki pria lain pun tak membuat Azarenth gentar. Lelaki itu diam-diam mencari tahu kabar Inocia. Cinta tak mudah padam di hati sang raja.  Cinta yang diinginkan ibuku, pikir Caius, murung. "Yang Mulia, Anda tidak boleh seperti itu. kerjaan Anda masih-" "Aku ingin melihat putrinya," Azarenth bersikukuh, tidak ingin kalah. "Katanya dia manis sekali." "Yang Mulia, Anda bahkan tidak seperti itu saat Pangeran lahir." "Itu karena Caius terlalu sopan. Seharusnya dia sedikit membangkang agar aku memiliki alasan membelanya saat ia berbuat salah." "Anda ingin Arcadion hancur?" "Aku ingin putraku memanggilku, 'Ayah!' Suaranya harus lucu dan manja." Caius sontak merinding, tidak sanggup. "Yang Mulia, besok acara pemujaan bulan." "Joseph pasti ke kuil! Aku akan mengajak Caius dan memperkenalkannya kepada Joseph." "Kenapa Anda ingin mengenalkan Pangeran kepada Tuan Foaly?" Sekretaris bertanya, curiga. "Anda bahkan menolak saat Bangsawan Yudu menawarkan putrinya agar berbesan." "Aku tidak mau," Azarenth mendecih. "Dia pasti tidak seimut putrinya Joseph." "Apa Anda berharap cinta lama bersemi kembali lewat Pangeran?" "Kenapa tidak? Caius setampan diriku." "Karena Joseph pasti menolak lamaran bahkan sebelum Anda mengucapkan ajakan tersebut." "Akan kubunuh pesaing putraku." "Tidak boleh. Yang Mulia, tolong kerjakan tugasmu." "Dia pasti menerima putraku." "Yang Mulia...." "Caius-ku yang terbaik." "Yang Mulia!" *** Pertama kali Caius berjumpa Alina, ia merasa bocah cilik itu terlahir seindah peri mawar. Rambut merah, mata berbinar cemerlang, dan senyum yang tak lekang di wajah berpipi seranum apel. Ia bahkan tidak menangis saat Azarenth memeluknya. Tidak seperti bocah pada umumnya yang menolak kehadiran Azarenth. Hanya Alina yang tampak tidak terusik dengan kedekatan yang ditunjukkan Azarenth.  Caius sangat terpesona. Ia bahkan mengira Alina benar-benar jelmaan peri mawar yang turun ke dunia, menjelma sebagai bocah cilik, dan memang diciptakan hanya untuknya seorang.  Momen singkat itu melekat di ingatan Caius. Dia mengharapkan kesempatan kedua berjumpa Alina, namun gadis cilik itu tidak pernah muncul. Setiap kali melihat mawar merah, maka ia akan terbayang senyum Alina.  Saat istana mengadakan gala perayaan kedewasaan bagi Caius, ia menyambut baik rencana tersebut dengan harapan akan bertemu lagi dengan Alina. Tetapi, protokol kerajaan mengharuskannya bersikap sopan kepada undangan. Ia menolak setiap ajakan dansa.  Kecuali satu. Yuna. Gadis yang dibawa bangsawan Rene Flaming, salah satu orang berpengaruh. Lelaki yang membantu menutupi pelenyapan musuh-musuh Azarenth. Tawaran politik. Tetapi, Caius berjanji tidak ingin mengulang nasib Theodora. Ia hanya akan menikahi wanita yang ia inginkan, bukan pilihan orang lain.  "Caius, tolong."  Bahkan Azarenth sebenarnya tidak mengharapkan hubungan apa pun bersama Rene. Tetapi, politik tetaplah politik. Caius menyanggupi sebatas basa-basi. Sepanjang dansa yang ia ingat hanyalah tawa bocah cilik berambut merah. Yuna cantik, Caius akui, namun kecantikan Alina tidak hanya di rupa. Caius menemukan keinginan untuk terus berjumpa dalam dirinya. Kerinduan yang kian mekar seiring berjalannya waktu. Terus mekar hingga menebar wangi. Ia ingin menemui Alina, namun gadis itu tidak kunjung muncul. Hingga dansa berakhir, Caius berharap menemukan peri mawarnya. Matanya menyisir undangan, mencoba mencari hingga akhirnya ia mendapati peri mawar itu telah bersama seorang pemuda. "Caius, Ayah sarankan penggal pemuda itu." "Yang Mulia, Anda ingin mengotori acara sakral ini?" Sekretaris istana melarang ide Azarenth. "Tolong hentikan tindakan barbar yang ingin Anda tularkan kepada Pangeran." Caius mengharap Alina.  Ia merindukan tawa sang peri mawar. Ia ingin bersama peri mawar. "Caius, segera ambil calon istrimu dari pemuda itu." "Yang Mulia, dia murid Penyihir Rugal," sekretaris istana menginterupsi.  "Memangnya kenapa? Dana Menara Sihir berasal dariku." "Penyihir Rugal bukanlah lelaki yang bersedia tunduk kepada Anda." "Tadi dia tidak terlihat seperti itu." "Karena kontrak sihir dari leluhurnya!" "Caius, dengarkan ayahmu sebelum menyesal." "Pangeran, jangan." "Caius, lamar Alina sebelum lelaki lain melamarnya." "Yang Mulia, Anda tidak boleh menyesatkan Pangeran." "Boleh. Demi kebaikan." "Ayah, kenapa kita tidak mengundang mereka?" "Siapa?" "Paman Joseph." "Putraku ternyata jenius." Saat itu sekretaris berharap mendapatkan pekerjaan baru yang menjamin kesehatannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD