8

1443 Words
Aku berhasil melewati malam gala dengan selamat tanpa satu kekurangan pun. Kaki, oke. Mata, tidak ada yang copot. Telinga, utuh. Tangan, belum putus. Organ tubuh, masih berfungsi secara normal. Satu-satunya yang perlu dipertanyakan: Kewarasan Raja dan Caius.  Halo, aku bicara dengan pikiran bawah sadarku. Seratus persen dijamin valid dan anti-hoax. Oke, mungkin sedikit labil dan secara mental tidak bisa dipertanggungjawabkan. Lagi pula, siapa yang bisa kuajak berdiskusi mengenai rencana-mempertahankan-nyawa di dimensi ini? Tidak ada. Nihil.  Oleh karena itu, ada baiknya, dan sangat dianjurkan, berdiskusi dengan diri sendiri. Hei, kau tidak mungkin mengkhianati dirimu sendiri. Jangan bilang mengenai “hati mengkhianati ego”. Teman-teman, rumus khianat hanya berlaku soal cinta, harta, dan jabatan. Cinta? Aku berencana melajang dan menjadi wanita terkaya se-Arcadion. Harta? Sudah dijawab pernyataan pertama. Jabatan? Menjadi orang berpengaruh itu merepotkan. Biarkan aku hidup damai. Syalala. Tanpa utang. Syalala. Tanpa derita cinta bertepuk sebelah tangan. Syalala. Abaikan bualanku. Sekali lagi, Caius dan Raja perlu diobati. Benar-benar diobati secara klinis dan higienis. Logikanya seperti ini: Caius → Bertemu Yuna → Jatuh Cinta → Tamat. Raja → Bertemu Yuna → Tawaran Mantu → Tamat. Akan tetapi, yang terjadi di lapangan: Caius → Alina 0.4 → Masih Dipertanyakan.  Tidak. Tidak. Tidak. Tidak. Tidak. Tidak! Caius tidak seharusnya tertarik kepadaku. Dengarkan aku, Caius. Kau seharusnya menari dan bercinta dengan Yuna. Sana pergi dari lingkaran hidupku. Kau dilarang masuk. Ternyata rencana penyelamatan Alina 0.4 masih jauh dari kata berhasil.   “Nona, kenapa cemberut?” Lamunanku sukses bubar jalan setelah Emily memanggilku kembali ke alam nyata-yang-sebenarnya-ingin-kuhindari.  Sepertinya semua manusia dewasa pernah berada pada fase “aku ingin melarikan diri dari kenyataan”. Ya, aku ingin melarikan diri dari realitas. Hidup ini berat. Hidup tidak adil bagi sebagian orang. Kenapa ada ketidakadilan? Tegakkan revolusi kemanusian!  Pandanganku terfokus ke cermin yang memantulkan sosok Alina-yang-luar-biasa-cantik-tapi-aslinya-bengis (ehem, Alina versi novel, ya, bukan Alina versi revolusi kerakyatan + mode 0.4). Kami berdua tengah melakukan ritual malam (menyiapkan darah gagak dalam cawan emas, lilin merah, dan jampi-jampi. Coba bayangkan seindah itu.) Setelah mandi dan mengenakan gaun tidur, Emily akan menyisiri rambutku. Kemudian dia bergosip mengenai tukang kebun tampan atau bangsawan ganteng.  Emily, cowok ganteng pasti menyimpan siasat busuk. Dengarkan aku, Emily! Dengarkan alam bawah sadarku!  “Aku sedang berpikir,” jawabku, serius. “Apa yang sedang Nona pikirkan?” Invasi dunia. Manipulasi budaya. Revolusi industri. Olikarpus. Cogito ergo sum. Nihilisme. Kapitalis.  “Emily, bagaimana bila ada seseorang yang seharusnya mencintai wanita lain ternyata tertarik kepadamu?” Gerakan menyisir pun terhenti. Emily menatap pantulanku dalam cermin. “Nona, kau tidak berencana merebut tunangan gadis lain, ‘kan?” Imajinasi Emily jauh lebih inovatif daripada milikku.  Tambahan, di dunia ini sepertinya wajar anak gadis usia sepuluh tahun ditunangkan lebih awal. Kalian tahu politik, ‘kan? Politik kotor. Siasat memperluas wilayah dan pengaruh. Andai Joseph berani menikahkanku dengan lelaki berpengaruh, akan kupastikan lelaki itu menyesal telah mengenalku. “Emily.” “Seperti apa pun bentuk cinta,” katanya meniru penyair romansa. “Tetaplah cinta, bahkan bila rintangan membentang di sepanjang jalan. Nona, perjuangkanlah cintamu.” “Emily, maksudku—” “Cinta tidak pernah berdosa,” katanya mengabaikanku. “Hati tidak akan salah memilih pasangan. Sama seperti musim semi yang selalu bisa menemukan jalannya setelah musim dingin melanda.” Aku menepuk jidat. Kalah.  Emily dan obsesinya pada novel romansa sungguh absurd. Cinta yang sudah dikomersilkan dalam bentuk tulisan tidak bisa dikategorikan sebagai cinta murni. Maksudku, cinta seharusnya bisa membawa kebahagiaan. Kalau ada derita dan sakit hati, maka itu bukan cinta. Lain kali akan kubelikan bacaan yang mendidik untuk Emily. Misal, “cara membunuh kecoak”, “cara menanam tomat”, “cara berpikir waras”, “berpikir sehat dalam seratus langkah”, dan lain-lain. “Emily?” “Ya, Nona?” “Aku ngantuk.” *** Keahlian yang kumiliki ialah, membuat boneka imut. Bila ada kesempatan dalam kesempitan, eh maksudku, bila ada waktu lengang biasanya kuhabiskan dengan menjahit. Lucunya, semua orang terkejut dan menganggapku seniman jenius. Padahal yang kubuat hanya boneka berbentuk beruang lucu, kadang bunga matahari, kadang kucing, kadang kelinci, kadang Nox. Eh, aku mengirimi Nox boneka buatanku. Semoga dia tidak menganggap boneka itu sebagai salah satu alat santet.  Dari sanalah, aku menyarankan Joseph agar membantu menjual hasil karyaku. Sekadar info. Inocia salah satu seniman/desainer perhiasan terkenal di Arcadion. Dia bahkan memiliki studio dan toko pribadi di beberapa tempat di Distrik Perdagangan. Akhirnya boneka buatanku pun ikut di pajang bersama perhiasan Inocia.  Omong-omong boneka buatanku cukup laris lho. Hohohoho, sayangnya aku belum ingin memperluas pasar. Tapi, nanti pasti aku lakukan ketika aku dewasa. Aku akan jadi orang kaya! “Nona, kenapa kita harus pergi ke Distrik Dagang?” Di dalam kereta kuda, aku dan Emily bersiap menuju salah satu toko langgananku. Aku ingin memastikan tidak ada barang buruk misal, warnanya tidak sesuai keinginanku, bahannya jelek, dan benangnya busuk.  Kurapatkan mantel merah yang membungkus tubuhku. “Emily, coba bayangkan bila kauberjumpa pedagang tampan.” Begitu kata tampan terucap, rona kebahagian pun kembali muncul di wajah Emily. “Nona, apa aku boleh bertemu Minuel?” Siapa Minuel? Kenapa percintaan Emily lebih mulus daripada hidupku?  Sepanjang perjalanan Emily terus mengoceh mengenai Minuel. Aku berharap keretaku membentur pohon. Pohon yang besar. Sangat besar. Hingga kepala Emily terantuk sesuatu yang bisa menyadarkannya.  Tentu saja doa buruk tidak terkabulkan. Kami sampai di Distrik Dagang tanpa kendala. Kuminta sais agar berhenti di dekat kedai dan menyarankannya makan sesuatu sembari menunggu kami berbelanja.  Toko yang kumasuki bernama La Beauty. Saat melihat ada pegawai tampan, Emily langsung melupakan Minuel-entah-siapa dan sibuk bertanya barang yang sebenarnya tidak kubutuhkan. Aku memilih kain merah muda dan krem, beberapa manik-main, benang, dan tentu saja diskon yang ternyata tidak ada! Barang pesananku dimasukkan ke dalam kotak cantik. Emily dan pegawai tampan terlihat asyik dalam dunia mereka. Sekali lagi, aku hanya numpang lewat. Terima kasih.  “Emily, tolong langsung kaumasukan barang pesananku ke kereta. Aku harus mampir ke toko buku.” “Nona, tapi kau seorang diri. Izinkan aku—” “Tidak perlu,” kataku menolak. “Aku bisa melindungi diriku sendiri.” Emily terlihat sangat terpukul.  “Baiklah,” kataku, kalah.  Akhirnya kuminta pegawai itu agar mengantarkan barang daganganku kepada sais. Kami berdua melenggang lincah menuju toko buku. Lonceng berdenting begitu kubuka pintu. Hanya ada satu manusia: Mungkin dia pemilik toko? Mungkin dia penjaga toko? Mungkin dia orang sial yang membantu pemilik toko berjaga?  Setelah berkelana tanpa tujuan, kujatuhkan pilihan kepada lima buku yang kesemuanya bercerita mengenai penyihir jahat dan naga rakus. Ke luar dari toko, jalanan mulai sepi. Sebenarnya aku bersyukur mengajak Emily. Setidaknya ada teman ketakutan bersama-sama. “Nona, kenapa mereka mengikuti kita?” Beberapa pria tampak mencurigakan. Kalian pasti mengerti saat jalan-jalan kemudian ada orang asing yang membuntutimu? Nah, rasanya mereka mungkin sejenis dengan oknum tersebut. Kuputuskan menarik Emily dan berlari. Kukira mereka akan menyerah karena kami menyadari kehadirannya, tetapi pria-pria itu tampak bersemangat mengejar. “Nona! Bagaimana ini?” “Jangan menangis, Emily.” Aku mencoba menemukan keramaian dan sialnya hari ini orang-orang tampaknya mengungsi ke planet lain dan membiarkan mantan tokoh antagonis tertekan seorang diri. Siapa yang menciptakan tokoh jahat busuk di novel? Tidakkah dia mempertimbangkan penderitaanku? Emily terantuk dan jatuh berdebum. Dia menangis dan memohon jangan ditinggalkan. Aku bisa saja mengabaikan Emily, tetapi rasa penyesalan bisa menghantuiku sampai ke neraka.  “Emily, bangun!” “Kakiku sakit.” Emily terisak, mencengkeram lenganku.  Hidup dan mati. Pengejarku kini berhasil menyusul. Mereka mengelilingi kami bagai anjing gila mencium darah. Satu-satunya yang bisa kulakukan hanyalah memeluk Emily, melindunginya dari pandangan jahat. Setidaknya aku pernah mati sekali. Kali ini pun kalau aku mati, rasanya mungkin tidak ada bedanya. Salah satu dari mereka mencengkeram lenganku, menarik paksa diriku. Aroma busuk dan tengik membuatku mual. Wajah-wajah lelaki ini jelas tidak pantas dilihat anak-anak.  “Barang bagus,” katanya. Jijik. Kalau aku mati dan jadi hantu, akan kupastikan mereka terkencing-kencing saat melihatku dalam wujud wanita berdaster putih.  “Aku juga ingin menyentuhnya,” kata salah satu dari mereka.  Pria itu hendak menyentuh, tetapi belum sempat ia melakukannya, tangannya tiba-tiba putus. Darah menetes, membasahi tanah. Semua orang terkejut, tidak mampu berkata-kata. Lelaki itu menjerit ketika satu tangannya terlepas tanpa sebab. Bagian tubuh itu jatuh berdebum diiringi suara teriakan sekarat.  Melihat salah satu rekannya mati. Tiba-tiba semua orang kehilangan minat. Mereka berteriak histeris, saling meracau, menunjuk, kemudian kabur. Di kejauhan kulihat tubuh-tubuh pria tersebut seolah diserang makhluk buas tak kasatmata, satu per satu tumbang. Mati. “Emily, jangan buka matamu.”  Kuabaikan mayat yang teronggok di dekatku. Emily pun mematuhi perintahku.  Anyir darah terasa hingga di ujung lidah. Selama sesaat aku terkena serangan beku. Hanya sesaat ... sebab aku melihat pembunuh yang sebenarnya. “Gadis yang disayangi muridku. Nasibmu mujur.” Penyihir Rugal ada di hadapanku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD