Enam

757 Words
Kening Prakasa mengerenyit melihat kertas yang disodorkan Anara, belum selesai kebingungannya, sekarang mesti ditambah lagi dengan kebingungan lainnya. "Ini apa?" tanyanya menatap lekat Anara yang duduk bersedekap tenang. Waktu datang tadi, Anara tiba-tiba saja memeluknya, lalu mendadak lupa siapa yang duluan memeluk. Dan tanpa dosanya Anara mengajaknya untuk duduk di kursi pantai yang tersedia di sana. "Itu isinya syarat yang harus kamu penuhi kalau kita benar-benar akan mewujudkan permintaan Abah," jawabnya tenang. Kening Prakasa semakin mengerenyit tak mengerti. "Syarat apa maksud kamu?" Dagu Anara mengedik menunjuk ke arah kertas yang sedang dipegang olehnya. "Kamu kukuh mau kita menikah, kan? Demi Abah? Aku nggak mau terjebak, makanya aku buatkan persiapan." "An," "Di sana tercantum jelas apa yang tidak boleh ada di rumah tangga kita nanti. Kamu baca dulu." Bak seperti dihipnotis, Prakasa langsung menunduk membaca perlahan kata demi kata yang tertera di sana. Wajah tampannya terlihat begitu serius, tidak lama kemudian ia mendesah pelan menatap Anara gusar. "Ini serius?" tanyanya yang langsung diangguki oleh Anara. "Kamu nggak perlu buat perjanjian konyol seperti ini, An." Prakasa membenarkan letak duduknya. "Saat aku mau memulai sesuatu yang baru, aku juga sudah tahu harus menyampingkan masa lalu. Ini konyol, An. Pernikahan kita dilandasi dengan perjanjian?" "Itu bukan konyol," bantahnya, "nggak ada yang bisa menjamin kamu akan benar-benar melupakan Kiara beserta kisah kalian. Itu suatu alat yang bisa aku gunakan saat semuanya terjadi. Aku bisa pergi," "Anara!" "Sa! Kamu nggak tahu betapa pusingnya kepalaku karena Naik Ranjang ini. Kamu pikir semuanya gampang buat aku?! Kamu tahu aku perempuan, banyak resiko yang harus aku tanggung saat kamu masih digentayangi masa lalu." Prakasa terdiam, ia menghela napas lelah. "Kamu terlalu was-was, An. Kamu ketakutan untuk hal yang nggak pasti," desahnya pasrah. Prakasa bisa melihat senyum getir terbit dari bibir Anara. "Untuk orang yang banyak trauma sepertiku patut was-was, Sa." seketika Prakasa menatap Anara tak terbaca. Apa maksudnya trauma? Selama ini, hidup Anara terlihat lempeng-lempeng saja. "Trauma apa?" Anara seketika membuang pandangannya ke lain arah, menghindari tatapannya. "Apa yang terjadi sama kamu?" desaknya meraih pergelangan tangan Anara, membuat Anara membalas tatapannya. "Aku tanya, An," geramnya rendah. Prakasa terkesiap melihat bendungan air dari mata bulat bersih Anara. "Kalau kamu setuju, kamu bisa tandatangani di atas materai 6000 itu." Prakasa mengalihkan pandangannya pada kertas yang masih ia pegang dengan tangan lainnya. Hati dan akalnya bergemelut, saling bertentangan. Saat akalnya memintanya untuk setuju, tetapi hatinya menolak untuk setuju. Dari 10 perjanjian, ada satu hal yang membuatnya ragu. Berhenti mencintai, mengingat, dan memasukkan Kiara dalam rumah-tangga mereka kelak. Satu lagi, seolah bisa membaca pikirannya, Anara tidak mau dirinya dibading-bandingkan atau disamakan dengan Kiara. "Kamu jawab dulu pertanyaan aku," dan Prakasa memilih mengalihkan pembicaraan, seperti apa yang Anara lakukan. Anara berdiri, refleks Prakasa ikut berdiri. "Tiga hari. Tandatangani atau kita sama-sama menemui Abah buat menolak pernikahan ini." "An," sergahnya, "apa setelah aku tandatangani semuanya, kamu akan menceritakan trauma apa yang kamu alami?" Heran. Seorang Anara, wanita tak acuh yang raut wajahnya lebih mirip dengan tembok saking datarnya. Dia tidak banyak bergaul seperti Kiara, temannya pun sangat sedikit. Anara juga begitu dihargai setahunya, lalu apa yang membuat Anara trauma? Anara tersenyum tipis, mengangguk pelan. "Karena kalau aku menceritakan semuanya sebelum kamu menandatangani surat itu, aku nggak mau sampai ada belas kasihan. Yang harus kamu tahu, Anara tetap Anara yang kamu kenal. Aku pulang duluan." Prakasa tergesa menahan Anara. "Aku antar pulang," cegahnya mencengkeram pergelangan tangan Anara. Anara melepaskan cengkeraman tangannya. "Nggak perlu, aku bawa mobil sendiri." Prakasa kembali menahan Anara. "Bahaya malam-malam perempuan pulang sendiri," kukuhnya berusaha memberi tatapan intimidasi dan sialnya Anara tidak terintimidasi sama sekali. "Kalau pun harus terkena bahaya, nggak akan ada yang peduli," sahutnya datar. "An," kepala Prakasa rasanya ingin meledak frustrasi menghadapi wanita seperti Anara. "Aku peduli tentu saja," Senyum mengejek terlihat. "Peduli pada Kakak iparmu?" Sial! Tatapannya penuh ejekan dan tantangan. Baru kali ini Prakaaa menemui spesies wanita macam Anara. "Terserah katamu. Pokoknya kamu ikut aku pulang." Prakasa menarik paksa Anara yang bergeming. "Anara ..." "Aku bawa mobil sendiri." "Persetan dengan mobil kamu, tinggalin apa susahnya sih?!" Prakasa tipe orang yang sabar, tapi entah kenapa dekat-dekat Anara bawaannya emosi selalu. "Mobil itu hasil jerih payahku." Prakasa memutar bola matanya jengah, tangannya gatal ingin menggeplak kepala Anara untuk sekedar menyadarkan. "Lebih berharga mana mobil sama nyawa kamu?" "Mobil." Astaga... Jemari Prakasa mengepal kuat, ia mengembuskan napas teratur. "Oke kalau begitu," pungkasnya menyerah. "Biar aku yang ikut mobil kamu." "Nggak, mobilku nggak muat kamu masuki." Are you kidding me?! Sebesar apa tubuhnya sampai-sampai tidak muat? Ya Tuhan... Bagaimana Abah memproses pembuatan Anara waktu itu? Mengapa kepalanya batu sekali?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD