Bab 4 Pekanya Seorang Ayah

1479 Words
Tak terasa, waktu bergulir begitu cepat. Sudah tiga bulan Pelangi tinggal di rumah oma Saudah. Hari ini Pelangi akan ikut bersama oma Saudah ke rumah salah satu kerabat wanita itu, yang akan menggelar hajatan. Dengan baju kebaya berwarna senada dengan oma Saudah, Pelangi Terlihat begitu cantik dan anggun. Satu lagi yang nampak berbeda dari penampilannya, gadis itu terlihat semakin berisi. Oma Saudah selalu menjejalinya dengan berupa macam makanan yang sehat menurut wanita itu. Pelangi yang susah makan menjadi sering mangap seperti anak burung meminta di suapi oleh ibunya. "Cantiknya cucu oma, pasti bakal jadi pusat perhatian dari pada calon mantennya nanti. Yakin mah Oma," ucap wanita itu menggoda sang cucu tersayang. Pipi Pelangi merona mendengar candaan Oma Saudah. "Mana ada yang mau sama Pelangi oma," lirih gadis itu menunduk sedih. "Eh kok malah sedih-sedih sih. Ayo bersiap, mang Mudino sudah menunggu kita di mobil." Alih oma Saudah menggandeng lengan Pelangi menuju pintu keluar. Kamar Pelangi berada di bawah tangga, persis di samping kamar oma Saudah namun berbatas sebuah kamar mandi untuk tamu. Sepanjang perjalanan, pikiran Pelangi berkecamuk. Sentuhan lembut tangan keriput Oma Saudah menyadarkan Pelangi dari lamunannya. "Jangan memikirkan semua hal, otakmu tetap harus berpikir jernih saat ada sesuatu yang mengganjal pikiranmu. Berpikir berat tak baik untuk kesehatan tubuh." Nasihat oma Saudah, Pelangi mengangguk paham. Gadis itu membalas genggaman tangan lembut Oma Saudah untuk merasakan sebuah kekuatan. Di ibukota, seorang pria tengah terkapar tak berdaya di sebuah ranjang pesakitan. Mual muntah yang dia alami selama hampir 3 bulan ini telah membuat jiwa kokoh dan tubuh tegapnya lemah tak berdaya. Drex, pria itu harus bolak-balik menjalani perawatan di rumah sakit akibat penyakit lanka yang dia alami. Bagaimana tidak lanka, tak ada satupun dokter yang mampu mendiagnosis penyakit apa yang tengah Drex derita. Sementara pria itu terlihat jelas mengalami penurunan berat badan yang sangat drastis. Selera makannya terganggu, pria itu hanya mau makan lontong sayur dan sate. Selebihnya akan terlihat menjijikkan di mata Drex. Kabar sakitnya Drex telah menyebar luas di kalangan para pengusaha lain. Mereka bersimpati, ada juga yang bersyukur. Karena Drex di anggap sebagai lawan bisnis yang tak tertandingi. Dengan penyakitnya itu, performa Drex dalam pekerjaannya otomatis menurun drastis. "Papa gimana sih! Nyari dokter hebat saja tidak becus. Mama tidak mau tau, Drex harus pulih seperti sedia kala. Lihatlah anak kita pa, Drex seperti anak kurang gizi. Malang sekali nasib putraku yang tadinya tampan, sekarang sangat memperihatinkan." Ratap Nadya menatap miris ke arah ranjang sang anak. "Ck! Drex tidak butuh dokter mam. Anak kita itu butuh wanita yang telah dia tanami benih kecambahnya. Sesimpel itu, maka Drex akan sembuh dengan sendirinya. Dasar ibu tidak peka." Balas Hendrik mengomeli sang istri, namun pria itu hanya berani bergumam kalam mengatakan kalimat akhirnya. Sejak awal sang anak tiba-tiba mengalami gelaja sakit lanka itu. Dirinya sudah mencurigai sesuatu telah terjadi. Namun tak ada satupun yang memikirkan hingga sejauh pemikirannya. Nadya mendelik mendengar omelan sang suami. "Papa kira anak kita itu petani sayuran? Sembarangan saja kalau bicara. Papa lupa perusahaan kita di mana-mana sampai tak terhitung. Kalau papa keberatan dengan biaya pengobatan Drex, mama akan jual salah satu perusahaan kita untuk mencari dokter terbaik di seluruh dunia ini kalau perlu." Balas Nadya dengan intonasi ngegas. Hendrik menarik nafas dalam-dalam, entah salah makan apa istrinya hingga melupakan hal paling penting dari fase pertumbuhan manusia baru di dalam tubuh manusia. "Jual semua juga tidak masalah. Wong papa udah kaya ini. Mama punya tabungan tidak? buat jaga-jaga aja. Kalau kita jatuh miskin, mama orang pertama yang akan menjadi gelandangan dalam keluarga kita. Secara mama 'kan borosnya poll." Ledek Hendrik tersenyum lebar. Nadya mencubit perut sang suami dengan kekuatan penuh. Membuat Hendrik meringis ngilu sampai membuat Drex terbangun. "Lihat tuh, gara-gara ulah papa Drex jadi keganggu." Dumel Nadya menghampiri ranjang sang anak. Drex lekas memakai masker hingga dua lapis. "Mam, tolong jangan dekat-dekat. Aku bisa muntah lagi jika mama terus maju. Pa, please..." Mohon Drex memelas. Hendrik memperingati sang istri agar tak melanjutkan langkahnya. Membuat Nadya semakin sedih. "Lihatkan pa? Penyakit Drex semakin parah. Indera penciumannya pun semakin ke sini semakin rusak. Ya Tuhan, anakku yang malang. Ampunilah segala dosanya, terimalah dia...eh, salah. Terimalah segala doa keluarga rapuh ini. Amin" Hendrik geleng-geleng kepala mendengar kalimat doa paling nyeleneh dari bibir sang istri tercinta. Untung sayang, kalau tidak sudah Hendrik parkirkan wanita itu di museum kota. Sedangkan Drex mendengus kala mendengar kalimat doa tak berakhlak sang ibu. "Mending papa dan mama pulang deh, kalian di sini sebenarnya mau ngapain sih. Aku malah semakin parah perasaan." Dumel Drex mengoceh kesal. Nadya mengambil kotak tisu lalu melemparkannya pada sang anak. Untung lemparan tak niat tersebut tak sampai mengenai tubuh Drex. Nadya hanya sedang melampiaskan rasa kesalnya, bukan benar-benar ingin menyakiti putra kesayangannya itu. "Pulang yuk ma, papa pengen makan ayam setan di warung Punijem di perempatan lampu merah." Binar di wajah Nadya langsung bersinar seterang matahari di luar gedung rumah sakit. "Yuk pa! Duh, es kelapanya kaya udah berasa di tenggorokan." Sambung Nadya tanpa memikirkan perasaan sang anak. "Bisa tidak kalian jangan membahas soal makanan di hadapanku? Ada, gitu orang tua yang tidak prihatin terhadap kondisi anaknya. Berasa anak adopsi saja." Dengus Drex semakin jengkel. "Eh? Aduh, maaf sayang. Mama lupa kalau kau anti terhadap segala jenis makanan selain lontong sama sate kebo." Ucap Nadya tak enak hati. Namun kata terakhirnya semakin membuat ubun-ubun Drex berasap tebal. "Pa, bawa istri kesayangan papa ini keluar. Jangan lupa tutup pintunya kembali. Ah ya, jangan lupa minta Arman mengantar makan siangku. Aku sudah sangat lapar sekarang." Perintah Drex sembari menelan ludahnya yang terasa penuh di dalam mulut. Hendrik dan Nadya bertukar pandang. Satu satu jam yang lalu sang anak baru saja makan dengan porsi kuli. Sekarang putranya itu sudah mengeluh kelaparan. Kemanakah perginya semua makanan tersebut. Nadya menelan ludah merasa mual sendiri, perutnya tiba-tiba bergejolak ingin muntah. "Ya sudah, papa sama mama pulang dulu. Nanti papa minta perawat untuk sering-sering kemari mengecekmu. Yuk mam!" Drex hanya mengangguk, Hendrik lekas menggandeng lengan sang istri agar lekas keluar dari sana. Dia khawatir Drex akan meminta tambahan sate. Bukannya pria itu perhitungan. Namun mengingat jika putranya makan dalam jumlah tak wajar sekali duduk menghadap piring. Dia khawatir Drex malah terkena penyakit lambung serius akibat terus di jejali makan dalam jumlah besar. Setelah keluar dari elevator, Nadya terlihat merenung sepanjang koridor rumah sakit. "Papa sadar sesuatu tidak sih? Kok mama kaya Dejavu ya sama penyakitnya Drex." Tanya Nadya berusaha untuk mengingat-ingat sesuatu yang di lewatkan. Hendrik melirik ke samping tanpa menjawab. Dia ingin istrinya peka dengan sendirinya. Tiba-tiba Nadya menghentikan langkahnya. Wanita ini juga menarik lengan sang suami cukup keras. "Kenapa sih mam, coba kalau ada brankar mayat lewat kita auto di tabrak." Omel Hendrik kaget sekaligus kesal. Puk Bukannya meminta maaf, Nadya malah menggeplak lengan sang suami. "Dasar suami tidak peka." Dumel wanita itu tanpa dosa. Kerutan di kening Hendrik berlipat-lipat mendengar kalimat sang istri. "Papa sadar tidak? Waktu mama mengandung Drex dan Teresa, papa selalu mengalami ngidam parah. Ya persis seperti yang di alami Drex saat ini." Ucap wanita itu menerawang. Hendrik tersenyum simpul, melihat betapa lemotnya sang istri. "Papa udah tau mam, makanya papa tidak pernah terlalu mencemaskan keadaan Drex. Kecuali jika penyakit lambungnya yang kumat akibat terlalu sering muntah. Selebihnya papa lebih khawatir pada wanita malang yang sedang mengandung benih anak b******k itu." Tandas Hendrik dengan ekspresi iba. Nadya mengangguk-angguk, kemudian wanita itu berbalik tanpa berkata apa-apa. Hendrik sampai di buat kebingungan dengan sikap labil sang istri. "Mau kemana mam?" Seru Hendrik yang melihat langkah lebar Nadya menuju elevator. "Aku ingin memberikan pelajaran pada anak nakal itu pap!" Seru Nadya ketika berhasil mencapai pintu elevator yang terbuka. "Eh? Apa katanya?" Gumam Hendrik panik. Pria itu lekas menyusul sang istri namun wanita itu sudah OTW ke lantai di mana sang putra berada. "Bisa gawat kalau sampai Nadya tiba duluan. Alamat putra semata wayangku OTW ICU kalau begini alurnya." Oceh pria itu berlari menaiki tangga darurat. Usia tak dapat di kelabui. Nafas Hendrik terengah-engah dengan keringat bercucuran deras. "Awas saja jika anak bodoh itu tak memberikan aku cucu yang berkualitas. Ku masukkan kepalanya ke dalam kandang macan." Omel Hendrik dengan terbata-bata karena kehabisan oksigen. Dan saat tiba di lantai tujuan. Terlihat angka di elevator menurun ke lantai dasar. Hendrik berdecak kesal. Dia kalah cepat. Di kamar Drex, pria malang itu menjadi bulan-bulanan sang ibu. Nadya begitu kesal mendengar pengakuan singkat dari mulut sang anak. Drex mengaku salah memperkosa seorang gadis belia. Karena informasi dari sang kakak yang kurang akurat. "Apa kau tak bisa menyelidikinya terlebih dahulu hah?! Berapa banyak uangmu sampai kau tak mampu menyewa seorang informan berkualitas? Bisa-bisanya kau menodai gadis tak berdosa hanya berdasarkan informasi yang salah. Katakan apa lagi yang kau lakukan padanya? Berapa kali kau menyemburkan benih sialanmu itu hah?!" Drex hanya bisa diam mendapati pukulan bantal yang bertubi-tubi mengenai tubuh lemahnya. Hendrik menghela nafas panjang di muka pintu. Sang istri bahkan menganiaya sang anak tanpa melihat sikon. Tbc Mohon dukungannya ya???
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD