Di kota S, terlihat dua orang wanita berbeda generasi tengah menunggu jemputan di kursi tunggu terminal.
"Nah! Itu dia baru tiba. Ayo nak," ucap Oma Saudah pada Pelangi yang terlihat gamang.
"Ah, ya oma. Maaf aku melamun," balas Pelangi merasa bersalah.
"Maaf nyonya, saya terjebak macet juga kehabisan bahan bakar. Mobil nyonya kemarin saya pinjam untuk mengantar mertua saya ke kampung. Beliau berkunjung ke rumah nyonya selama satu minggu. Maaf saya lupa memberitahukan perihal ini pada anda." Ujar Mudino tak enak hati.
Pria itu berputar untuk membukakan pintu mobil di sisi lain, untuk Pelangi setelah sang nyonya masuk ke dalam mobil.
"Tak apa Mud, apa kau dan istrimu melayani ibu mertuamu dengan baik? Aku ingat menitipkan sejumlah uang untuk keperluan dapur selama aku ke Jakarta. Aku tak ingin mendengar jika ibu mertuamu kekurangan makan selama berada di rumahku." Tukas oma Saudah menatap punggung sopir pribadinya itu.
"Kami makan apa saja yang tersedia di rumah, nyonya. Kebetulan ibu mertua saya tidak pemilih soal makanan. Beliau datang untuk berobat ke dokter spesialis saraf. Biasa, penyakit orang tua." Cerita Mudino apa adanya.
"Ck, kau ini bagaimana. Sudah tau jika beliau datang dalam keadaan kurang sehat. Kenapa tidak suruh istrimu membeli lauk pauk yang enak untuk membuatnya nyaman dan betah." Omel oma Saudah berdecak kesal pada Mudino.
Pria 40 tahunan itu hanya tersenyum simpul. Dia tau kebaikan hati sang nyonya, untuk itu dia semakin tak enak jika sampai merepotkan. Apalagi terkesan memanfaatkan Kemurahan hati sang majikan.
"Oya Mudino, kenalkan, ini Pelangi. Dia akan menjadi anggota baru di rumah kita. Perlakukan Pelangi seperti anak perempuan bagimu dan Sari. Pelangi sudah tak memiliki orang tua. Kedatangannya kemari untuk mencari peruntungan. Dan aku senang kami bertemu, artinya peruntungan Pelangi ada padaku. Aku jadi merasa memiliki cucu perempuan." Ucap oma Saudah mengenalkan Pelangi pada Mudino, dengan wajah berbinar.
Hati Pelangi menghangat mendengar kalimat yang di ucapkan oleh oma Saudah. Cara wanita tua itu memperkenalkannya sungguh luar biasa dan tulus. Sangat menyentuh relung hati gadis tersebut.
"Baik nyonya. Non Pelangi bisa manggil mang Mudin saja. Saya adalah sopir pribadi nyonya Saudah. Istri saya bekerja sebagai ART, rasa keluarga. Non bisa manggil bibik Sari." Ujar Mudino memperkenalkan diri dengan sedikit selorohan khasnya.
Pelangi mengangguk sembari tersenyum hangat. Sungguh dia tak menyangka, jika wanita tua yang terlihat sederhana tersebut adalah seorang nyonya besar. Di lihat dari mobil yang di pakai untuk menjemput mereka, Pelangi yakin, jika oma Saudah bukanlah wanita biasa.
Dia sering melihat mobil jenis itu di drama yang pernah dia tonton. Hanya orang kaya saja yang memilikinya.
??
??
Di Jakarta, Drex terlihat gelisah. Setelah tak mendapati sang oma di terminal. Drex memilih kembali ke perusahaannya. Pria itu terlihat resah memikirkan sesuatu yang pelik.
Klek
Terlihat seorang wanita berjalan lenggak-lenggok ke arah Drex berdiri. Pria itu tengah berdiri di depan kaca jendela ruangannya. Tatapan menerawang menembus lapisan kaca hingga ke dasar jalanan yang terlihat padat merayap di bawah sana.
Grep!
Pelukan manja membuat Drex muak. Dengan kasar Drex melepaskan pelukan wanita yang lancang memeluknya tanpa ijin.
"Drex! Apa-apaan kau ini! Kenapa kasar sekali padaku? Aku merindukanmu Drex, terutama sentuhanmu di tubuhku." Ujar wanita itu tanpa rasa malu.
Drex memalingkan wajahnya kembali menatap jalanan nun jauh di bawah sana.
"Aku sedang tak ingin di ganggu Lea! Pergilah sebelum aku meminta pihak keamanan untuk menyeretmu keluar." Ketus Drex lugas tanpa perasaan.
Si wanita mencebik kesal. Tetap maju untuk kembali bermanja-manja dengan pria tampan itu.
Kali ini tangan nakalnya langsung mengenai sasaran. Senyum penuh kemenangan terukir di bibirnya yang merah merekah.
"Lihatlah Drex, dia bereaksi pada sentuhanku. Artinya dia juga merindukan kehangatan yang biasa ku berikan." Ucapnya penuh percaya diri.
"Pergilah Lea. Bereaksi atau tidak, aku sedang tak ingin bercinta dengan siapapun saat ini. Ini hanya reaksi normal dari seorang pria tulen, jadi jangan berbangga diri telah berhasil menjadi seorang ja la ng." Drex menghempaskan tangan nakal Lea yang mulai memijat pelan keperkasaannya dari balik celana kain yang Drex gunakan.
Lea menampilkan ekspresi kecewa dan kesal. Drex tak pernah menolak sentuhannya. Pria itu dengan senang hati menerima segala servis terbaiknya selama mereka bertunangan.
Namun kini reaksi Drex membuatnya kecewa. Apa Drex sudah puas bermain dengan ja la ng di luar sana? Itulah yang Lea pikirkan. Dia tau Drex sering menggunakan jasa wanita malam untuk menghangatkan ranjangnya.
Namun sejauh ini, Lea tak pernah protes atau menunjukkan kecemburuannya. Karena tujuannya adalah harta pria itu, syukur-syukur jika Drex mencintainya. Itu akan membuatnya lebih mudah untuk mengendalikan semua kekayaan Drex dalam genggaman tangannya.
"Padahal aku datang karena sangat merindukan baby. Dua minggu di luar karena pekerjaanku yang tak bisa aku tinggalkan. Aku sangat merindukanmu. Aku khawatir kau kesepian tanpa belaian kekasihmu ini. Namun sepertinya kau sudah terpuaskan selama aku tidak ada." Sindir Lea terang-terangan.
Drex tak membalas kalimat nyelekit tersebut. Pria itu memilih menyibukkan diri dengan setumpuk berkas di atas meja kerjanya.
Lea yang merasa di abadikan memilih pergi setelah memberikan kecupan singkat di bibir Drex. Dia yakin Drex hanya sedang lelah karena terlalu banyak bermain dengan para ja la ng. Drex akan kembali padanya seperti dulu. Itulah keyakinan Lea.
Sedangkan Drex tak benar-benar fokus membaca berkas di tangannya. Pria itu memikirkan nasib gadis yang telah dia nodai. Rumah gadis itu telah kosong ketika dia ke sana, setelah tak berhasil menemukan sang oma di terminal.
Bahkan ada plang yang menyatakan jika rumah itu di jual. Drex semakin frustasi. Akibat kesalahan informasi, dia telah menodai gadis tak berdosa bahkan dengan kejam menyiksanya.
Pria itu meraup wajah kasar. Rasa bersalah kini mulai mengusik ketenangan jiwanya. Kemana dia harus mencari gadis malang itu. Bahkan dia sendiri yang meminta gadis itu pergi sejauh mungkin, hingga bayangannya pun sulit untuk di temukan.
Kini sesalnya kian bercokol. Dia harap gadis itu mencairkan cek yang dia berikan meski rasanya mustahil. Apa salahnya berharap, begitulah harapan Drex dalam hati.
?
?
"Kau suka kamarmu nak? Oma sudah meminta Sari untuk merapikan beberapa barang agar terlihat menarik di matamu. Semoga kau betah. Oma senang kau ada di sini." Ujar oma Saudah tak henti-hentinya menebar senyum lebar.
Seisi rumah pun menyambut Pelangi dengan baik. Ada dua orang ART, satu orang tukang kebun, dua orang satpam juga Mudino, si sopir pribadi. Ke enam pekerja di rumah itu senang ada penambahan anggota baru di rumah sang majikan.
Selama ini oma Saudah hanya bertemankan kesepian dan kenangan bersama mendiang tuan Harmoko. Keluarga wanita tua itu hanya datang sesekali jika ada acara penting saja. Itupun bisa setahun bahkan 2 tahun sekali.
Pelangi yang tak banyak tingkah membuat mereka menyukainya.
"Pelangi suka oma. Ini mewah sekali. Di rumah Pelangi mana ada barang-barang mahal seperti ini. Tentu saja Pelangi akan betah. Sekali lagi terimakasih banyak oma, sudah mau menampung Pelangi di sini." Ucap Pelangi dengan mata berkaca-kaca.
Oma Saudah menangkup pipi tirus Pelangi, dapat dia lihat riak kesedihan mendominasi netra berembun tersebut.
"Tak perlu mengucapkan terimakasih. Anggap oma adalah oma mu. Maka oma akan sangat bahagia. Jika ada yang membebani pikiranmu, berbagailah dengan oma. Kau paham?" Pelangi mengangguk.
Melihat ketulusan di netra oma Saudah, membuat semangat Pelangi kembali menyala. Dia tak ingin lagi terpuruk karena kejadian yang sudah berlalu. Apapun yang terjadi padanya kelak, dia hanya perlu berserah pada sang kuasa. Dia yakin jalan hidupnya sudah di atur oleh Tuhan, termasuk bertemu dengan wanita baik seperti oma Saudah dan semua pekerja di rumah wanita itu.
Tbc
Mohon dukungannya ya, tinggalkan komentar kalian tentang performa novel ini???