Bab 7

1084 Words
Drex terus melirik layar ponselnya. Seorang pria bayarannya berkata pernah melihat gadis yang tengah dia cari ada di kota yang sama dengannya saat ini. Itulah kenapa Drex begitu bersemangat untuk mengunjungi kota tersebut. Dengan segala harapan tinggi, Drex menggantung asa pada informasi yang telah dia peroleh itu. Drrttt drrttt drrttt "Kenapa lama sekali?!" sahut Drex tanpa basa-basi. Pria itu benar-benar kesal karena seumur hidupnya, ini kali pertama seorang Drex harus menunggu. "Maaf tuan, ada kroscek soal informasi yang sudah kami kumpulkan. Anak buah saya salah mengenali seorang wanita. Wanita yang anda cari tidak berada di kota ini. Sekali lagi maafkan kekeliruan kami tuan. Kami akan...," Drex mematikan panggilan secara sepihak. Pria itu terlihat berusaha untuk menekan amarahnya saat ini. Hatinya merasa kecewa karena tak berhasil mendapatkan informasi tentang Pelangi. Gadis polos yang sangat dia rindukan entah apa alasannya. Entah perasaan apa yang tengah Drex alami. Yang jelas pria itu memiliki hasrat besar untuk bertemu dengan gadis yang telah di sakiti hati juga fisiknya itu. "Dasar bodoh! kalian aku bayar mahal-mahal bukan untuk memberikan informasi yang tak jelas seperti ini. Ck, detektif sialan!" Drex berdumel dengan segala umpatannya. Sedangkan di tempat pertemuan, Arman harus menghadapi situasi yang serba tak nyaman. Perwakilan perusahaan yang bekerja sama dengan mereka, mengirim seekor ulat bulu yang sejak tadi terus menggeliat dengan gaya sensual di hadapannya. Sebagai seorang pria normal, jelas Arman terganggu dengan pergerakan tak biasa tersebut. Belum lagi gestur tubuh dan gigitan kecil di bibir si wanita membuat makhluk lain di tubuhnya ikut menggeliat tanpa dia minta. "Nona Calista, aku harap kau mendengar presentasiku barusan. Dan aku harap kerja sama kita bisa memberikan dampak positif, selain keuntungan besar tentunya. Jika ada kendala dalam penanganan proyek dan penyaluran bahan baku bangunan. Anda bisa langsung menghubungi staf kami yang menangani segala jenis biaya operasional perusahaan, yang berkaitan dengan proyek ini. Jika tidak ada lagi yang ingin anda tanyakan, saya mohon undur diri terlebih dahulu." Tukas Arman dengan lugas. Pria itu berusaha bersikap gentle, walau sejak tadi dirinya sudah gerah body, melihat dua benda bulat yang terlihat hampir meledak dari balik cup sempit di hadapannya. Terus bergoyang tanpa irama yang jelas. "Kenapa buru-buru tuan Arman. Anda pasti kesepian di kota ini. Maksudku, tuan Drex sedang sibuk, jadi anda pasti tak memiliki seorang teman di kota ini. Aku memiliki banyak waktu luang. Jadi, ku pikir aku bisa menemani tuan Arman menghabiskan sisa malam agar tak terlalu kedinginan." Kerlingan di akhir kalimat Calista membuat jiwa Arman porak poranda. Sisi liarnya sebagai seorang laki-laki sejati mulai tergiur. Namun ada sisi lain hatinya berontak. Arman lekas menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Maaf nona Calista. Malam ini aku akan di temani oleh seseorang. Kebetulan beliau sedang menungguku di kamar. Jadi, mungkin lain kali saja. Tapi sungguh, terimakasih atas tawaran anda yang nyaris membuat saya melupakan rekan kencan saya malam ini. Saya sudah menyimpan nomor ponsel nona Calista, lain waktu saya pasti akan langsung menghubungi anda nona. Jadi bersiaplah saat itu tiba. Mungkin kita bisa melanjutkan pembahasan bisnis dengan sedikit sensasi keringat bercucuran." Balas Arman dengan senyum smirk. Dan itu berhasil membuat ekspresi Calista berubah sumringah setelah sempat layu akibat penolakan Arman. "Janji?" tuntut Calista. "Aku akan menunggu dan siap kapanpun." Lanjut wanita itu tersenyum manis sembari mengigit sudut bibirnya. Dia merasa menang telah berhasil menjerat asisten perusahaan ternama itu. Tanpa tau jika dirinya tengah berusaha memasang perangkap tikus, untuk menjebak buaya rawa. Arman tersenyum nakal, memberikan kecupan singkat di punggung tangannya Calista. Itu sukses mencetak rona merah di wajah penuh dempulan tersebut. "Tentu saja nona, siapa yang mampu menolak pesona seorang Calista Hendrawan. Aku mengetahui sedikit tentang mu. Jam terbang yang tak di ragukan lagi. Aku pasti tak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa menghabiskan malam penuh syahdu bersama wanita secantik nona Calista." Tutur Arman dengan segala kalimat penuh rayuan mautnya. Ada senyum kepuasan di wajah Arman saat berhasil membuat wanita itu mempercayai gombalan recehnya. Sedangkan Calista mengulum senyum penuh kemenangan, karena mengira telah berhasil dengan rencananya. Pertemuan usai, Arman berjalan cepat menuju elevator. Untung saja mereka melakukan pertemuan di restoran hotel tempatnya menginap. Jika tidak, Arman akan kesulitan kabur dari wanita binal itu. "Untung saja otakku sedang encer meski hampir saja tergoda. Wanita yang cukup meresahkan." Gumam Arman geleng-geleng kepala. Dia bukan pria suci, beberapa kali dirinya pernah mencicipi wanita malam jika memang sangat terdesak oleh kebutuhan, dan keadaan yang mendukung. Belum lagi memiliki atasan yang sebelas dua belas dengannya. Maka kloplah sudah kehidupannya yang serba bebas tanpa memikirkan beban apapun. Toh dia hanya memikirkan hidupnya sendiri. Kedua orangtuanya telah berpulang 10 tahun yang lalu dalam sebuah kecelakaan maut. Di kamar, Drex mengotak atik laptopnya dengan ekspresi wajah tak secerah harapannya ketika datang ke sana. Kini Drex kembali pada sikapnya semula. Kaku dan dingin. Beberapa panggilan dari sang kakak pun dia abaikan begitu saja. Semua permasalahan yang mampir dalam hidupnya, tak lepas dari peran sang kakak. Karena semua keluh kesah Teresa, diiringi isak penuh drama. Drex nekat merusak masa depan seorang gadis tak berdosa. "Kemana lagi aku ga mencarimu, Pe..." lirih Drex putus asa. Belum pernah Drex merasa serapuh ini dalam hidupnya. Wanita baginya hanya tempat persinggahan belaka. Pemuas birahi dan tak sama sekali berarti. Terkecuali sang oma, ibu tercinta serta kakak perempuannya. Namun kini, semua terpatahkan. Nyatanya seorang gadis polos dan lugu seperti Pelangi. Telah berhasil memporak-porandakan kehidupan Drex yang sempurna. ? ? Di sebuah rumah mewah di kota lain, seorang wanita tengah merajut sepasang kaos kaki bayi. Senyumnya terus mengembang kala melihat setengah hasil rajutannya. "Mbak?" sapa Narti menghampiri Pelangi yang terlihat begitu fokus pada aktivitasnya. Hobi baru yang entah sejak kapan mulai Pelangi sukai. Yang jelas oma Saudah dan seluruh penghuni rumah besar itu sangat mendukung, apa yang Pelangi gemari. "Kenapa Nar? bawain makanan lagi? astaga Narti! mbak bisa semakin mengembang jika terus di jejali makanan tanpa henti. Ck, kau tau 'kan, kalau mbak tak bisa menolaknya." Gerutu Pelangi mulai mencomot kue bolu jadul buatan bi Sari. Pipinya yang sudah terlihat montok, kini semakin mengembung akibat tambahan makanan yang sedang Pelangi kunyah. "Supaya mbak Pelangi makin sehat, semok dan strong!" tukas gadis belia itu memperagakan satu tangannya mengisyaratkan semangat, sembari memperlihatkan otot di lengan berisinya. "Tapi ini sudah over dosis, Narti. Mbak mu ini udah kaya babon lama-lama di jejel makanan mulu." Dengus Pelangi. Namun mulutnya tak berhenti untuk tak mengunyah lebih banyak bolu lagi. Itu membuat Narti tertawa renyah. "Tidak apa mbak, seng penting sehat toh. Urusan badan nomer sekian, seng penting perut kenyang." Ucap gadis itu dengan cengiran khasnya. Pelangi mendelik, namun tak menampik jika dirinya memang sedikit rakus belakangan ini. Tbc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD