Bab 8

1234 Words
Hari, minggu kini bulan telah berganti tanpa menunggu. Di sebuah klinik nampak seorang wanita tua dengan gurat kekhawatiran, yang terlihat jelas di wajahnya yang menampilkan kerutan tak tersembunyikan. Seorang wanita paruh baya mencoba untuk menenangkan sang majikan dengan kalimat-kalimat menghibur hati. Namum sepertinya tak banyak membantu. Kegelisahan masih tercetak jelas di wajah keriputnya. "Aku mencemaskan keadaan Pelangi, Sari. Kau tau anak itu masih begitu muda untuk melakukan proses persalinan ini. Jika ku temukan pria b******k itu, akan aku kuliti benda j*****m yang telah berani menitipkan benihnya di rahim cucu beliaku." Geram oma Saudah mengeratkan genggaman tangan keriputnya. "Ya nyonya, bibik juga mau sekalian kebiri kalo ketemu. Tapi sekarang kita fokus dulu sama non Pelangi." Hibur bi Sari mendukung niat terencana sang majikan. Meski belum pasti dia akan sanggup melakukannya nanti. Dari kejauhan, terlihat Narti berjalan tergopoh-gopoh dengan sebuah tas jinjing berwarna ungu tua di tangan kanannya. Juga tas selempang berukuran sedang berwarna pink tua di sampirkan di bahu kirinya. "Maaf nyonya, saya sedikit terkendala di perjalanan." Lapor Narti dengan nafas tersengal-sengal. "Tidak apa-apa Narti, duduk dulu. Tarik nafas dalam-dalam lalu hembuskan perlahan." Titah oma Saudah menatap iba pada gadis muda yang sudah seperti cucu baginya. "Anu nyonya...." Narti terlihat takut-takut untuk menyampaikan perihal temuannya di dalam kamar Pelangi. Oma Saudah menatap penuh selidik, dia tau jika Narti sudah terlihat ragu. Gadis itu pasti tengah menyembunyikan sesuatu hal yang penting darinya. "Katakan saja Narti, aku sudah cukup mencemaskan keadaan Pelangi di dalam sana. Jangan kau tambah lagi dengan keragu-raguanmu." Narti menatap bi Sari namun wanita itu pun tak memahami maksud tatapan Narti. Wanita itu hanya mengangguk, agar Narti segera menyampaikan berita yang ingin dia katakan pada sang majikan. "Ini nyonya," Narti menyerahkan selembar kertas yang terlipat rapi ke arah Oma Saudah. "Aku tak sengaja menemukannya saat aku berkemas tadi. Buku diary non Pelangi terjatuh dan keluar selipan lipatan kertas ini. Sepertinya ada tulisan tangan di belakangnya, aku tak bisa membacanya karena di lipat." Tukas Narti tak enak hati, karena merasa jika dirinya telah lancang, terhadap barang pribadi milik Pelangi sang nona muda kesayangan majikannya. Tangan oma Saudah bergetar kala selesai membuka lipatan kertas persegi panjang tersebut. Setetes bening, air matanya mengalir tanpa bisa dia cegah. Sontak itu membuat bi Sari dan Narti kelimpungan. "Nyonya?" bi Sari berpindah duduk di sisi sang majikan lalu merangkul bahu renta yang terlihat bergetar menahan tangis. "Dia cucuku, Sari. Cucuku!" oma Saudah menepuk d**a tuanya dengan tangis yang semakin nyaring terdengar. Bi Sari meraih tangan keriput dang majikan untuk mencegah wanita tua itu menyakiti dirinya sendiri. "Drex, Sari! Cucu kebanggaanku...dia... dialah yang telah menodai Pelangiku yang malang. Lalu ini...anak b******k itu bahkan memberikan cek ini untuk membayar harga kehormatan yang telah dia renggut paksa." Bi Sari mencelos, tak menyangka pria muda yang dia kenal tak banyak bicara itu, mampu Melakukan hal yang begitu buruk terhadap seorang gadis tak berdosa seperti Pelangi. Narti terpekur di tempat duduknya. Dia tak terlalu mengenal baik sang tuan muda, namun beberapa kali tanpa sengaja berpapasan dengan Drex di kala pria itu berkunjung ke rumah sang majikan. Drex tak pernah memperlihatkan sisi lain selain sikap kaku, dingin dan tak suka bicara panjang. Narti bergidik ngeri, membayangkan jika sang tuan muda juga akan melakukan hal b***t itu kepadanya kelak. "Kita masih belum tau pasti nyonya, mungkin saja ini sebuah kebetulan. Non Pelangi tak sengaja menemukan kertas ini terjatuh lalu menyimpannya untuk di kembalikan." Ujar bi Sari mencoba berpikir positif. Namun sang majikan sepertinya sulit, untuk menganggap jika itu adalah sebuah kebetulan. Hingga akhirnya terbersit ide di otak rentanya. "Hubungi suamimu, Sari. Aku ingin meminta tolong kepadanya." Tukas oma Saudah mengusap sudut matanya. Bi Sari langsung menelpon sang suami agar kembali ke klinik, rupanya pria itu tak pulang ke rumah. Melainkan ngopi syantikk sembari menikmati pisang goreng di depan klinik. Tak berselang lama, pria itu muncul dengan sekantung plastik sedang berisi aneka gorengan untuk sang istri juga majikannya. "Apa yang bisa saya bantu nyonya?" tanya Mudino langsung. "Ini Mud, tolong kau cairkan cek ini di Bank yang ada di dekat klinik ini." Oma Saudah memberikan selembar cek yang sudah dia rapikan dari bekas lipatan kepada Mudino. Sang sopir menatap heran, kanapa harus dirinya yang mencairkan cek dengan nominal fantastis tersebut. Dengan tangan sedikit bergetar, Mudino menerima cek itu. Susah payah pria itu menelan ludahnya. 1 milyar? hampir saja kedua bola matanya melompat keluar. "Ini uang semua? 50 tahun bekerja, belum tentu bisa mengumpulkan uang sebanyak ini. Dasar orang kaya. Tinggalkan mencairkan kertas begini saja, uang langsung mengalir bagai air. Ckckckck!" gumam Mudino dalam hatinya. "Setelah selesai, uangnya kau bawa kemari. Masukan saja ke dalam plastik sampah. Ini uang untuk membeli kantung sampahnya." Gluk! Lagi-lagi Mudino kembali meneguk ludah kasar. Uang sebanyak itu di masukan ke dalam plastik sampah? apa sang nyonya sehat? berbagai macam pertanyaan bergelayut dalam benak Mudino. "Mudino? kau mendengar perkataanku?" "Eh? ya nyonya, saya mendengarnya. Kalau begitu saya permisi dulu, sekalian mau beli plastik sampah di warung depan." Ujar pria itu kikuk. Masih terbayang dalam benak Mudino, uang itu nanti akan dia masukkan ke dalam kantung sampah. Sungguh sangat di sayangkan batinnya meringis ngilu. Di Jakarta, kota penuh hiruk pikuk. Seorang pria berjalan setengah berlari ke sebuah ruangan di lantai paling atas gedung pencakar langit tersebut. "Semoga saja informasiku ini bisa memberikan harapan cerah untuk masa depan rekeningku." Gumamnya dengan nafas memburu, segala doa dia panjatkan agar informasi tersebut berdampak baik terhadapnya juga. Notifikasi di ponselnya, membuat Arman yang sedang dalam proses pendekatan dengan seorang resepsionis baru di lantai bawah, harus bergegas pergi dari sana untuk menemui sang atasan. Klek Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Arman membuka pintu ruangan sang atasan. Membuat Drex yang sedang meringis menahan perut mules menatap horor pada sang asisten. "Apa kau tak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu, hah?!" seru Drex dengan wajah memerah. Di dalam sana ada Sonia yang di penglihatan Arman, nampak tengah melakukan servis making out dengan sang atasan. Posisi Sonia yang tengah berjongkok di hadapan Drex yang tengah duduk di atas sofa, menambah keyakinan Arman semakin besar. Belum lagi ekspresi Drex dengan wajah memerah, kian bertambah lah kecurigaan pria itu. "Ck, kau enak-enak menerima servis di sini, aku tunggang langgang kemari karena ingin menyampaikan berita penting padamu. Jika tau begini, aku tidak perlu repot-repot berlari kemari meninggalkan wanita yang baru aku tebar racun gombal di lantai bawah." Ujar Arman mendengus kesal. "Kau ini bicara apa, ARMAN!?" Sonia sampai terjengkang akibat kaget dengan volume suara Drex yang mendadak naik beberapa oktaf. "Ck, lihat aku sampai terjengkang begini karena kalian." Gerutu Sonia jengkel. Wanita itu berdiri kemudian menepuk rok span nya seolah lantai ruangan Drex amatlah kotor. "Lah, ini kalian sedang ngapain kalau bukan hmm hmmm..." ujar Arman dengan praduganya. "Apa itu hmm hmmm...?" tanya Sonia galak. Wanita itu melotot ke arah Arman dengan tatapan horor. "Sudah, berisik! Sonia, tolong hangatkan lagi air kompresnya. Ini masih sakit dan semakin sakit rasanya." Sonia mendelik sejenak ke arah Arman yang terlihat cengengesan. "Tuan sakit? padahal aku ingin menyampaikan informasi, jika cek yang pernah tuan berikan pada nona muda, baru saja di cairkan beberapa menit yang lalu." Ucap Arman menatap iba sang atasan yang terlihat semakin meringkuk di atas sofa menahan rasa sakit. Drex berkedip beberapa kali dengan interval yang cepat. Lalu pria itu berdiri seolah lupa jika dirinya baru saja mengeluhkan sakit di perutnya. "Di mana Arman? di Bank mana? di kota mana" cecar Drex tak sabar, pria itu mengeratkan genggaman tangannya di kerah jas Arman. Dengan gagap Arman menjawabnya. TBc
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD