“Maaf, Aira aku gak bisa.”
Punggung aira membeku, perasaannya sakit saat lagi- lagi Heru meninggalkannya di ranjang.
“Mas—” Suaranya tercekat saat Heru meraih pakaiannya di lantai lalu pergi dan menutup pintu keras.
Aira bangkit dari ranjang lalu berdiri di depan cermin. Muncul berbagai macam pertanyaan di benaknya.
Apa dia tak menarik? Apa dia tak cukup menggoda untuk Heru? Hingga di delapan bulan pernikahan mereka Heru tak pernah menyentuhnya. Namun saat melihat tubuhnya yang sempurna Aira hanya mampu menghela nafasnya.
Aira Hartianti bekerja sebagai biduan dari panggung ke panggung. Kemampuannya bergoyang jangan di ragukan. Saweran yang di dapat bukan uang recehan. Tubuh menggodanya membuat setiap pria kelonjotan ingin menerkam.
Hingga delapan bulan lalu dia di jodohkan dengan seorang pria yang tak dia kenal sebelumnya, Heru Triana 26 tahun, bekerja sebagai direktur di bank swasta di ibu kota.
Penampilannya tak perlu diragukan. Penampilan rapi, dengan wajah tampan dan kulit bersih karena bekerja di bawah AC tanpa perlu kepanasan.
Gajinya juga tak perlu dipertanyakan, sebab Aira tak perlu lagi bergoyang diatas panggung, sebab uang yang dia dapat sudah cukup untuk jajan dan kebutuhan lainnya.
Itulah kenapa Aira menerima perjodohan yang katanya sudah direncanakan sejak dia masih dalam kandungan.
Pernikahan digelar meriah, bahkan keluarga Aira yang amat sederhana tak perlu mengeluarkan uang sepeserpun karena hajatan ditanggung keluarga Heru sepenuhnya. Keluarga Heru juga termasuk kaya meski bukan miliarder atau pemilik perusahaan besar.
Awalnya Aira pikir itu karena Heru masih belum siap sebab mereka yang memang tak saling mengenal sebelumnya.
Namun saat mereka telah menjalani pernikahan beberapa bulan Aira menyadari jika alasan Heru bukan karena mereka belum saling mengenal, tapi karena pria itu tidak mampu melakukannya. Bahkan saat dia mulai menggoda, dan Heru mulai terpancing pria itu selalu berhenti di tengah jalan, dan berkata “Aku gak bisa.”
Setelah itu Heru akan beranjak dan meninggalkannya di atas ranjang dengan kondisi siap untuk dimasuki seperti malam ini.
Aira frustasi sebab setiap mereka akan bercinta Heru tetap menolaknya. Sudah banyak cara dia lakukan termasuk berpenampilan seksii di depan Heru, tapi pria itu tak pernah meliriknya.
Teman- temannya sesama biduan menyarankan Aira untuk bercerai dan mencari pria yang sehat secara biologis, karena mengira Heru memang impoten, agar dia tak jadi perawan tua. Namun Aira merasa ini akan tak adil bagi Heru. Pria itu sangat baik, selalu sopan dan tak pernah menuntut apapun darinya. Untuk uang pun Aira tak pernah kekurangan. Bahkan Heru tak pernah melarangnya membeli apapun yang dia mau.
Bisa dibilang hidupnya lebih mewah dari sebelumnya, bahkan dia juga berhenti menjadi biduan sejak menikah karena uang yang Heru berikan sudah sangat cukup untuknya.
Hanya saja untuk kebutuhan biologisnya belum pernah terpenuhi hingga sekarang.
Aira adalah gadis dewasa yang tahu cara bereproduksi, meski belum pernah melakukannya. Juga sudah merasakan perasaan terbakar saat melihat sesuatu yang menggoda.
Hingga saat itu tiba, hari dimana kakak iparnya, Wira kembali ke rumah mertuanya sebab telah bercerai dari istrinya yang katanya selingkuh dan tak mau menerima Wira yang hanya bekerja sebagai instruktur kebugaran.
Pria itu kerap berpenampilan menggoda dengan hanya mengenakan celana tanpa atasan menampilkan d**a bidang berotot yang bahkan lebih bagus dari suaminya.
Aira yang belum pernah merasakan berhubungan badan namun sering curi- curi waktu menonton sebuah video untuk menjadikannya pengalaman dalam menggoda Heru tentu saja berpikiran liar saat melihat kulit sawo matang penuh keringat dengan tonjolan-tonjolan khas binaragawan di depannya.
Hatinya ingin setia pada suami baik hatinya, namun otaknya terus berpikir liar dengan memikirkan hal yang tak seharusnya.
Bisakah dia menahan dirinya dari godaan iparnya, sementara semesta terus membuat kesempatan untuk terus bersama pria itu?
Dika Wirawan, 30 tahun, instruktur kebugaran yang selalu tampak lebih menggoda dari suaminya.
Aira tahu memikirkan kakak iparnya adalah sebuah dosa.
Namun setiap kali melihat tubuh berotot pria itu Aira mulai goyah dengan satu pertanyaan yang terus muncul di kepalanya.
Haruskan aku bercinta dengannya?