“Ah, Mas…” Aira mendesah di bawah Heru yang kini tengah mengecupi lehernya. Tubuhnya menegang sebab membayangkan mereka akan segera terbang ke nirwana.
Heru bergerak cepat membuka seluruh pakaiannya hingga kini mereka polos tanpa penghalang, membuat tubuh mereka bersentuhan tanpa batas.
Sentuhan kulit dengan kulit itu membuat Aira semakin merasa terbakar.
Orang bilang untuk pertama kalinya akan sakit, jadi Aira menyiapkan diri dan mentalnya agar tetap rileks.
Tidak mungkin dia mundur setelah penantiannya beberapa bulan menikah dengan Heru.
Jiwa nakalnya bergerak. Kakinya melingkar di pinggang Heru menariknya agar mereka merapat.
Bisa Aira rasakan tubuh Heru menegang dan siap bertempur membuat darah Aira semakin berdesir hebat.
Aira tersenyum membayangkan dia akan segera melepas gelar keperawanannya. Namun saat ini Heru justru menghentikan gerakannya yang beberapa saat lalu masih betah menyerukan wajah di lehernya memberikan kecupan- kecupan kecil disana.
“Ke—napa, Mas?” Lidah Aira terasa tercekat.
‘Tidak! Jangan lagi!’ Jeritnya dalam hati.
Kakinya yang masih melingkar di pinggang Heru mengerat, takut pria itu benar-benar bangkit dari atasnya.
“Mas?” Tatapan Aira penuh permohonan. Delapan bulan menikah Heru belum pernah menyempurnakan pernikahan mereka.
Bahkan setelah susah payah Aira menggodanya. Heru selalu berhenti di tengah jalan.
Kepala Heru menunduk, matanya memejam beberapa saat lalu menatap Aira dengan mata sayu seolah di juga begitu tersiksa.
“Maaf, Aira… maafkan aku.”
Aira menggeleng saat tangan Heru, melepas lingkaran kaki Aira di pinggangnya, lalu bangkit meninggalkannya begitu saja.
Aira terdiam dengan tubuh membeku. Tubuhnya yang masih polos kini meringkuk merapatkan kakinya dimana bagian intinya sudah basah dan sangat siap untuk dimasuki.
…
“Gak jadi, lagi?!” Suara teriakan menggelegar di telinga Aira saat dia menempelkan ponsel ke telinganya.
“Gak usah teriak, pegang telinga gue!”
“Dia bisa ‘berdiri' gak sih?”
“Berdiri, tapi gak tahu kenapa dia selalu ninggalin gue saat belum selesai, bahkan belum dimulai.”
“Aira, lo masih bisa tahan. Udah delapan bulan dan dia gak pernah nyentuh lo?”
“Denger saran gue, Aira. Cerai!”
“Gak semudah itulah, Ci. Masa gue cerai gara- gara gak pernah disentuh.”
“Itu kebutuhan biologis yang wajib, Aira! Kalau laki lo gak mampu, ngapain lo bertahan. Lo gak mau apa ngerasain indehoy sama laki!”
Aira menghela nafasnya. “Atau gue bawa dia ke Bang Ilyas ya Ci?”
“Ngapain?”
“Katanya dia bisa mengobati berbagai macam penyakit kelamin. Kayak ejakulasi dini, lemah syahwat dan impotensi?”
“Bukannya lo pernah ajak dia berobat?”
“Ya, dan Mas Heru menolak mentah-mentah.”
“Terus gue harus gimana?”
“Ya cerai!”
“Kasih gue saran selain cerai. Mas Heru baik, dia gak pernah protes ke gue. Gue juga gak bisa cerai.”
“Lo cinta sama dia?”
“Delapan bulan sama- sama masa gak cinta sih Ci, ya meskipun perasaan gue belum terlalu dalam. Dia terlalu baik menerima gue yang cuma biduan kampung ini. Masa cuma karena dia lemah, gue ninggalin dia?”
Cici diam.
“Lagian kalau gue cerai gue juga harus mikirin gimana biar gue bisa biayain adik gue di kampung tanpa duit Mas Heru.”
“Ya… kalau gitu lo harus terima selamanya gak di sentuh.” Suara Cici lebih pelan. Sebab dia mengerti bagaimana perasaan Aira saat ini.
Dulu Aira bekerja sebagai biduan dari panggung ke panggung juga demi biaya sekolah adiknya. Bisa dibilang Aira adalah tulang punggung keluarga. Dan setelah menikah Heru menanggung semua biaya sekolah adik- adik Aira juga.
“Susah ya, jadi gue.”
Cici masih diam.
Bisa saja Aira kembali menjadi biduan untuk membiayai adik- adiknya. Tapi dia harus kembali lelah mengambil banyak job yang kadang ada kadang tidak. Belum lagi dia harus menghadapi banyak mata dan tangan- tangan lelaki hidung belang yang nakal saat diatas panggung.
Suara ketukan sepatu terdengar membuat Aira bangkit dari baringannya. “Mas Heru udah pulang. Udah dulu ya, Ci.”
Aira merapikan pakaian tipis yang sengaja dia pakai demi membuat mata suaminya tak berkedip. Gaun tidur itu bahkan hanya sampai pertengahan paha, dan di jamin akan membuat lelaki mana saja langsung menerkam.
“Mas udah pulang.” Aira menyapa dengan meraih tas kerja Heru.
“Hmmm…”
“Gimana kerjanya? Capek ya? Mau aku pijat?”
Heru melepas dasinya. “Nanti aja, aku mau mandi dulu.”
Aira mengangguk. “Mas gimana penampilanku?” Aira berputar di depan Heru, tangannya bergerak menyentuh pinggangnya yang rampingnya membuat gaunnya tertarik semakin ke atas tepat di bawah bookong semoknya.
“Bagus.” Heru bahkan hanya menatap beberapa detik lalu pergi ke arah kamar mandi.
Aira menghembuskan nafas kasar lalu menatap dirinya. “Apa ini kurang menggoda?” gumamnya pelan.
Baru memegang handle pintu Heru kembali berbalik dan menatapnya.
Aira menegakkan tubuhnya kembali lalu menyelipkan rambutnya ke belakang telinga dan memberikan senyum manis, mengira Heru akan memberi respon sebab penampilannya sangat seksii.
“Ibu bilang kita harus menginap disana beberapa hari.”
“Oh…” Dia kira Heru akan mengomentari penampilannya yang nampak menggoda.
“Dan tolong kalau disana kamu jangan pake pakaian kayak gitu.” tunjuknya pada Aira.
Aira mengerucutkan bibirnya. “Ya, Mas.”
Wajah Heru bahkan tak bereaksi sama sekali saat mengatakan itu seolah penampilannya biasa saja. Pria itu hanya melanjutkan langkahnya memasuki kamar mandi tanpa menoleh lagi.
Begitulah pernikahan mereka, begitu dingin dan membosankan. Selain uang yang cukup tak ada hal lain yang Heru hiraukan. Bahkan saat Aira sudah menggoda habis- habisan pria itu tak pernah menanggapinya. Paling hingga b******u lalu berhenti di tengah jalan.
…
“Disana ada Mas Wira. Makanya aku larang kamu pakai pakaian begitu disana.”
Aira yang sejak tadi diam menolehkan kepalanya le arah Heru yang masih sibuk menyetir.
“Mas Wira? Kakak kamu?”
“Ya.”
“Tumben, biasanya jarang datang ke rumah ibu?” Aira bahkan hanya satu kali bertemu dengan kakak Heru itu, yaitu saat pernikahan mereka.
“Ya, mulai sekarang dia tinggal di rumah ibu. Dia baru cerai dari istrinya.”
Aira mengerutkan keningnya. “Aku gak tahu yang mana istrinya.” Saking jarangnya bertemu Aira bahkan tak ingat pernah bertemu istri kakak Heru itu.
“Mbak Tina. Katanya dia selingkuh sama pria lain. Dia memang gak pernah hadir di pertemuan keluarga.”
Aira mengangguk. “Sejak awal aku gak suka sama Mbak Tina. Dia kelihatan cuma cewek nakal yang mau uang Mas Wira aja. Tapi Mas Wira kukuh mau menikah sama dia.”
Mata Heru menyipit kesal.
Aira diam, entah kenapa setiap membicarakan Wira, Heru selalu terlihat kesal. Dan kalau sudah begitu Aira hanya bisa mendengarkan keluh kesahnya tentang Wira. Meski sebenarnya Aira lupa yang mana Wira.
“Berapa lama kita disana, Mas?” Aira memilih mengalihkan pembicaraan dibanding membicarakan orang lain. Masalahnya saja belum teratasi, dia harus memikirkan perceraian kakak iparnya. Sementara jika pernikahan mereka terus begini, bisa- bisa dia yang minta cerai dari Heru.
“Gak tahu, terserah ibu.”
Aira kembali menghela nafasnya. Bukan apa- apa tapi Ibu Heru selalu membuatnya tak nyaman saat Aira dan Heru datang berkunjung.
Mobil berhenti di pelataran rumah dua lantai dengan desain modern dan memiliki luas yang lumayan besar jika untuk di tinggali oleh sepasang suami istri paruh baya saja. Itulah kenapa Ibu Heru kerap meminta Aira dan Heru berkunjung dan menginap beberapa hari untuk menemani mereka.
Tantri, ibu Heru muncul saat Aira baru saja turun dari mobilnya. Wanita itu langsung menghampiri Heru dan memeluknya.
“Anak ibu apa kabar?”
“Baik, Bu.” Heru melepas pelukan mereka lalu melangkah masuk dengan dua koper di tangannya.
Aira tersenyum menyapa Tantri saat wanita paruh baya itu menghampiri. “Ibu, sehat?”
“Sehat.” Wajah Tantri berubah, dengan senyum yang surut tak seperti saat dia berhadapan dengan Heru.
“Gimana perut kamu, sudah isi?”
Inilah yang membuat Aira tak terlalu nyaman tinggal disana. Setiap kali datang Tantri selalu bertanya dia sudah hamil atau belum.
Tantri tak tahu saja kalau dia tak pernah di sentuh, bagaimana bisa hamil. Sementara untuk pembuahan embrio dia membutuhkan spermatozoa suaminya juga.