“Belum, Bu.” Aira mencoba tersenyum padahal hatinya dipenuhi kekesalan yang amat dalam. Tidak ibu, tidak anak, kenapa selalu membuatnya kesal.
Andai Aira tak memikirkan uang, dia mungkin sudah pergi dari keluarga ini.
“Ini gimana sih, punya mantu gak guna banget. Kamu tahu cuma kamu harapan ibu sekarang. Entah kapan ibu punya cucu kalau begini caranya. Yang satu selingkuh, yang satu ayam daging.”
Aira melipat bibirnya. “Mungkin belum waktunya, Bu.” Sungguh hati Aira kesal bukan main. Dia dibilang ayam daging yang artinya tak bisa bertelur, atau bahasa kasarnya, mandul.
“Sudah delapan bulan, Aira! Kamu coba deh periksa, kamu bermasalah kali.”
Aira masih diam. Seberapa kesalnya dia, dia tak boleh sampai mengumpat di depan Tantri. Dia harus menjaga kesopanan. Menjaga image menantu baik hati. Padahal di belakang dia bisa mengumpat habis- habisan mertuanya ini apalagi jika sedang curhat dengan Cici.
Kenapa harus selalu dia yang ditanya kapan kamu hamil?
Kenapa tidak tanya Heru yang sampai sekarang justru tak pernah menyentuhnya.
Tantri masuk dengan marah meninggalkan Aira yang hanya mampu menahan kekesalannya dengan menghela nafas panjang berkali-kali.
Aira memasuki kamarnya dan melihat Heru merapikan pakaian mereka ke dalam lemari.
“Mas kita jangan lama- lama ya disini,” pintanya dengan melepas sepatunya.
“Gak tahu, tergantung ibu, mungkin tiga atau empat hari.”
Dan itu artinya Aira harus menyimpan kesabarannya.
“Ibu bilang mau ada acara makanya suruh kamu kesini buat bantu- bantu.”
Memang siapa lagi selain dia yang biasa membantu mertuanya itu.
“Sabar aja, ya.” Heru mengusap pundaknya.
“Mas tahu ibu bilang aku ayam pedaging, cuma karena kita belum punya anak.” Heru diam.
“Padahal masalahnya bukan di aku, kenapa aku yang di salahin?”
“Iya, ini salah, Mas. Maaf, nanti biar Mas jelasin ke Ibu.” kata Heru penuh rasa bersalah.
“Mau jelasin apa? Mas gak akan bilang kalau Mas bermasalah kan?” Aira menatap Heru dengan mata mengernyit.
“Mas, berobat yuk! Aku punya temen ahli pengobatan tradisional.” Aira menggengam tangan Heru. “Kerahasiaan terjamin, jadi Mas gak perlu malu,” bujuknya lagi.
“Aku bukan gak mampu, Ra. Aku cuma belum siap.” Tangan Aira di hempaskan, membuat Aira tersentak dan terkejut.
Dia tahu reaksi Heru akan seperti itu. Namun tetap saja dia terkejut.
“Tapi harusnya kamu paham posisi aku, Mas. Aku juga gak mau terus di salahin Ibu.”
Heru memejamkan matanya. “Maaf, biar aku jelasin sama Ibu.” Heru mengusap rambut Aira, lalu keluar dari kamar.
Aira menatap punggung Heru hingga pria itu sudah tak terlihat barulah dia menghela nafasnya.
Aira keluar dari kamar pergi ke arah balkon, mencari udara demi meredakan perasaannya yang kesal. Hidupnya terlalu sial karena punya masalah yang cukup rumit. Matanya berpendar melihat sekitarnya, hingga matanya tertuju pada riak air di kolam renang. Dahi Aira mengernyit saat riak itu semakin dekat dengan tepian dan memunculkan seorang pria.
Mata Aira berkedip melihat pemandangan di depannya. Tubuh pria itu nampak kekar, kulit sawo matang dengan otot-otot yang bermunculan di beberapa titik termasuk bagian perut yang nampak keras. Mata Aira semakin nakal dan melihat ke arah selang kangan dibalik celana renang yang dia kenakan.
Ludah Aira tertelan kasar, jantungnya berdebar kencang, hingga tanpa sengaja tatapan mereka bertemu. Mata pria itu tajam dengan netra yang terlihat coklat pekat menatap Aira dengan senyum seringai yang muncul di bibirnya.
“Kamu Aira?” Suaranya terdengar berat dan khas membuat Aira menjadi gugup.
“I— ya, Mas…”
“Aku, Wira,” Pria itu kembali menyeringai, lalu pergi dengan handuk kecil untuk mengusap rambut basahnya.
Aira menghela nafasnya panjang. Jadi itu kakak Heru yang tadi pria itu ceritakan? Kenapa dia baru melihatnya sekarang? Katanya pria itu datang di pernikahannya dan Heru. Tapi Aira tetap merasa belum pernah melihatnya. “Kalau Cici tahu apa yang gue lihat barusan dia pasti iri.” Aira terkekeh. Dapat pemandangan geratis tentu saja menyenangkan.
Hal yang biasanya dia lihat dari vidio nakal terpampang nyata di depannya. “Bisa- bisanya dia kelihatan lebih menggoda dari Mas Heru.” Wajah Aira terasa panas mengingat bagaimana tubuh tinggi besar itu keluar dari air, nampak seksii dan mengagumkan.
Aira memukul kepalanya keras seolah menyadarkan dirinya jika dia tak boleh memikirkan hal yang tak seharusnya.
….
Tepat pukul 7 malam semua berkumpul di meja makan, ada Bapak mertuanya, Aby, Tantri, Aira, Heru dan tentu saja Wira. Pria itu duduk di depannya mengenakan kaos ketat yang menunjukkan otot- otot tubuh dibaliknya. Kaos berwarna abu-abu gelap itu nampak cocok untuk tubuh kekarnya. Sudah seperti binaragawan yang selalu angkat beban.
“Kamu sudah kenalan sama Wira, Aira?” tanya Aby ayah mertua yang juga nampak tampan. Tentu saja ketampanannya menurun pada Heru dan Wira.
“Sudah, Yah. Tadi di kolam renang.”
Semua orang diam menatap Aira, hingga Aira menatap dengan senyum meringis.
“Maksudnya tadi Mas Wira lagi berenang, aku di atas balkon.” Aira menunduk menatap piringnya, namun entah kenapa saat ini Aira merasa ada seseorang memperhatikannya.
Aira kembali mendongak dan menemukan Wira menatapnya dengan tersenyum.
“Maaf, gak ketemu lebih awal, Aira,” katanya dengan suara berat dan terdengar seksi.
Aira menelan ludahnya kasar.
“Gak apa, Mas.”
“Itu karena Wira terlalu sibuk dengan dunianya,” kata Aby.
“Iya, abaikan keluarga, ujung- ujungnya istri malah selingkuh.” Tantri mencibir.
Seperti dua kubu yang berbeda antara Tantri dan Aby. Ayah mertuanya lebih membela Wira sementara Tantri lebih membela Heru.
“Nak, ayo makan.” Tantri menyimpan lauk ke piring Heru.
“Terimakasih, Bu.”
Aira menatap satu persatu wajah keluarga ini, hingga tatapannya kembali pada Wira. Namun saat ini tatapan mereka kembali bertemu membuat Aira kembali menunduk.
Entah kenapa dia merasa pria itu terus menatapnya.
Sialan, kenapa juga jantungnya tiba-tiba berdetak sangat kencang.
“Oh ya, Aira, Wira ini instruktur kebugaran, kalau kamu mau punya tubuh yang bagus coba datang ke tempat fitnesnya.”
Aira kembali menatap Aby dengan dahi mengernyit. Pantas saja tubuhnya sangat bagus rupanya memang itu pekerjaannya.
“Kalau adik ipar mau datang aku kasih pelatihan geratis,” kata Wira.
Aira tersenyum. “Terimakasih, Mas. Nanti aku izin dulu Mas Heru.” Aira menatap Heru hingga pria itu berucap dengan tenang.
“Kalau kamu mau, boleh.” Heru bahkan tak perlu repot menatapnya ataupun Wira.
Pria itu selalu memperbolehkannya apapun yang dia katakan, kecuali meminta bercinta.
Atau jangan- jangan kalau dia meminta bercinta dengan pria lain dia juga akan mengizinkannya?
Sialan!
“Boleh saja, asal jangan lupa kewajiban kamu sebagai istri dan menantu.” Tatapan Aira beralih pada Tantri. “Ingat kamu juga harus pikirkan gimana caranya bisa cepet kasih cucu buat kami.”
Aira menatap Heru yang menghiraukan ucapan Tantri. Dia yakin janjinya untuk menjelaskan pada Tantri tentang hal ini belum dia lakukan.
“Ibu kalau mau Aira cepet hamil jangan buat stres. Masa tiap ketemu didesak cepat hamil.” Suara Wira kembali terdengar. Tak seperti Heru yang hanya diam, Wira lebih seperti tengah membelanya. Dan Aira rasa pria itu cukup berbeda.
“Ayam juga kalau stres gak bisa bertelur, Bu.”
Sialan, lagi- lagi dia disamakan dengan ayam?
Aira tarik kembali kata-kata sebelumnya. Ibu dan anak tetap sama.