Gadis Yang Selalu Menunduk

1004 Words
April mengikuti Adam setengah berlari sambil menggendong Dara yang masih terisak. Hati yang dingin membuatnya tidak merasa terenyuh melihat putrinya masih terisak. Adam membukakan pintu mobil di bagian penumpang, lalu menaruh koper di bagasi. Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, dia mulai mengendarai mobilnya dengan kesal karena saat itu dia tengah berada di jam sibuk yang artinya dia akan menempuh perjalanan lebih lama. Mobil-mobil berjalan merayap, bunyi klakson tak henti menyanyikan irama yang tidak sedap di pendengaran. Berkali-kali Adam mengumpat kesal karena terjebak dalam arus yang panjang tak bertepi. Seandainya dari pagi dia menemukan April, mungkin tidak akan terjebak seperti ini. Mendengar Adam mengumpat kesal Dara langsung menghentikan tangisnya, Gadis kecil itu takut melihat kemarahan ayahnya. April juga merasa tidak enak pada Adam, karena dirinya akhirnya mereka terjebak di tengah derentan mobil yang berjajar panjang. Seandainya saja dia tidak ke toilet pasti Adam seger menemukannya, begitu pikir April. Di mata April Adam itu laki-laki yang dingin, dia tidak pernah memperlihatkan senyum di bibirnya, saat mereka berpapasan Adam hanya menatapnya datar tanpa menyapa. Setelah satu jam melewati perjalanan yang membosankan, akhirnya mereka sampai di rumah. Mobil berhenti di sebuah perumahan, rumah type 54 dengan dua lantai. Ada carport di halaman depan, dan di halaman samping terdapat rumput hijau yang membentang sepanjang halaman membuat kesan asri. Di sana juga terdapat kursi ayunan yang bisa di isi dua orang, dulu Adam dan Arumi biasa menghabiskan waktu saat sore di sana. Adam membuka bagasi mengambil koper, lalu membawakannya masuk ke dalam dan meletakkan begitu saja di ruang tamu. April mengikuti di belakangnya sambil menggendong Dara. "Masuklah, kamu pilih sendiri kamar yang ingin kamu tempati," ucap Adam lalu dia berlalu meninggalkan April menuju lantai atas. Saat dia berada di tangga nomor dua, dia menoleh dan berkata, "Jangan pernah naik ke lantai atas." April hanya menundukkan wajahnya sambil mengangguk. Di lantai atas terdapat satu kamar utama dan ruang kerja, di sinilah banyak kenangan Arumi yang tidak bisa dihapusnya. "Lihat deh, Mas anak-anak itu bahagia sekali bermain bersama temannya. Kapan kita bisa melihat anak kita bermain seperti mereka ya?" ucap Arumi kala itu, Adam tidak begitu memperdulikannya karena dia masih menatap layar laptopnya. Arumi memang suka sekali berada di sana menghadap keluar jendela untuk memperhatikan anak-anak yang sedang bermain. Kini, Adam hanya melihat bangku kosong itu tanpa senyum manis sang istri, tempat itulah sebagai saksi betapa dia tidak bisa menghapus bayangan istrinya. Adam segera bersiap ke kantor, dengan setelan jas warna hitam dan kemeja putih, Adam mematut dirinya di cermin sambil memasang dasinya sendiri. Dia baru bisa memasang dasi sendiri sebulan sebelum Arumi meninggalkannya. "Kamu harus bisa memasang dasi sendiri," ucap Arumi waktu itu sambil mengajari Adam membuat simpul. "Kamu 'kan nggak pernah kemana-mana kenapa aku harus susah-susah belajar memasang dasi," jawab Adam, dia tidak menyangka ucapan istrinya itu sebagai isyarat. "Pokoknya kamu harus bisa memasang sendiri dasimu!" Dengan sedikit paksaan akhirnya Adam belajar memasang dasi sendiri. Adegan belajar memasang dasi itu selalu diingatnya berulang-ulang setiap kali dia membuat simpul pada kain panjang itu. Mbok Darsih membantu April membawakan kopernya untuk dibawa masuk ke kamar, Dara meminta tidur bersama April jadi Mbok Darsih memilihkan kamar tepat dekat dengan tangga, dia berpikir kalau ada apa-apa dengan Dara akan mudah bagi April memanggil Adam. Dara masih minta di pangku April di ruang tamu, dia masih kurang nyaman berada di rumah ayahnya meski berkali-kali dibujuk untuk turun tapi dia tidak mau. Adam ke bawah sudah dalam keadaan rapi, sekilas April melihat wajah tampan itu lalu segera menundukkan wajahnya. Adam meletakkan amplop warna putih yang telah di isinya beberapa lembar uang di atas meja. "Nanti kalau Dara ingin jajan, kamu belikan, buat dia senang tinggal di sini." Setelah mengucapkan itu Adam berlalu meninggalkan mereka berdua tanpa menyapa putrinya. April hanya menunduk tidak berani mendongakkan wajahnya. April memang selalu begitu jika berhadapan dengan Adam hingga dia tidak tahu wajah April seperti apa saat ini. Yang dia ingat April adalah gadis berwajah mungil saat sepuluh tahun yang lalu dia kerap ke rumahnya bermain bersama adiknya. April memang seumuran dengan Alifa adik bungsunya. Tanpa menunggu jawaban dari April atau sekedar anggukan kepala, Adam langsung keluar karena hari sudah siang dan dia sudah terlambat ke kantor. Dikendarainya MPV yang selama tujuh tahun ini menemaninya. Dulu Arumi yang memilih mobil itu, alasannya kalau mereka punya anak mobil itu bisa menampung seluruh keluarganya. Semua tentang Arumi tidak pernah dia ganti, baginya itu adalah bentuk kesetiaan. Dia tidak punya rencana membuka hatinya setelah kepergian Arumi. Di kantor, Adam dijuluki Lelaki gagal move on, karena beberapa kali ditawari untuk menikah dia tidak pernah mau. Bahkan ada beberapa karyawati yang terang-terangan menyatakan cintanya dan akhirnya kecewa karena sedikitpun dia tidak tertarik untuk menanggapi. *** Dara sudah mulai mau bermain di rumah, Mbok Darsih membelikan mainan agar anak itu betah di rumah, dia juga membelikan banyak sekali makanan untuk Dara. Dara dan April bermain di halaman rumah, beberapa tetangga bahkan mengira April adalah istri Adam, mereka juga menyapa April dengan panggilan Bu Adam. Ayunan yang selama lima tahun ini tidak pernah dipakai, menimbulkan bunyi yang sedikit mengganggu. Namun, mereka tidak terganggu suara yang seolah mewakili pemilik rumah. Kering. Seperti biasa, Adam pulang pukul empat sore. Matanya tertuju pada Dara dan April yang sedang berada di ayunan, seketika matanya memanas diusapnya cairan bening tiba-tiba mau menerobos keluar. Ingatannya menerawang lima tahun yang lalu saat dia pulang dari kantor, Arumi berada di ayunan dengan perut besarnya. Arumi memanggilnya untuk ikut duduk di sana, dia berbicara kalau nanti anaknya sudah lahir dia ingin Adam menemaninya di ayunan itu meskipun tidak bersamanya. Ternyata benar yang dipikirkannya selama ini, keberadaan Dara di dekatnya akan membuatnya semakin mengingat Arumi. Dia memperhatikan tawa dan celoteh putrinya bersama April di ayunan itu, mereka nampak begitu bahagia tanpa beban. Gadis yang selalu menunduk itu terlihat tertawa lepas begitu manis. Adam sempat melihatnya beberapa detik lalu segera mengalihkan pandangannya. Tidak ingin terhanyut dalam perasaannya, Adam segera turun dari mobil dan masuk ke kamarnya. Di sanalah dia menikmati kesendiriannya berpelukan dengan bayangan yang menjeratnya hingga dia tidak bisa menatap masa depan, dia hidup dalam bayangan masalalu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD