Ini Anakmu
Adam masih menekuri pekerjaannya hingga malam, siang malam dia gunakan untuk bekerja hanya untuk melupakan kisah pilunya.
Kematian orang yang sangat dicintainya masih membuatnya tidak ikhlas menerima kenyataan. Kini hari-harinya hanya digunakan untuk bekerja dan bekerja.
Pesan dari ibunya masih membuatnya enggan untuk membalas, apalagi permintaan ibunya yang memintanya untuk mengurus putrinya. Melihat gadis kecil itu akan menambah kesedihannya.
[Dam, sudah saatnya kamu hidup bersama putrimu, kasihan dia, sudah kehilangan ibunya tapi ayahnya tidak peduli dengannya.] pesan dari sang ibu.
Lima tahun Adam ditemani sepi, jiwanya seolah ikut bersama sang terkasih yang meninggalkannya saat berjuang melahirkan Dara, putri yang selama tiga tahun mereka nanti.
Arumi meninggal pasca melahirkan Dara di tahun keempat pernikahan mereka, sampai lima tahun Adam tidak bisa menerima kenyataan itu, dia masih tidak percaya istrinya secepat itu meninggalkannya.
"Mas, dua garis merah!" teriak Arumi pagi itu.
Adam yang baru pulang dari masjid langsung berlari menuju kamar mandi dimana istrinya menunjukkan tespek yang di pegangnya.
Melihat dua garis itu sempat membuatnya tidak percaya, di kucek matanya untuk memastikan kalau penglihatannya tidak salah setelah ratusan tespek membuatnya kecewa.
Rasanya baru kemarin dia merasakan bahagia saat istrinya memperlihatkan benda kecil itu, senyum Arumi masih terlukis jelas di matanya.
Namun takdir berkata lain, saat melahirkan putrinya, Arumi mengalami pendarahan yang hebat dan akhirnya dia menghembuskan napas terakhirnya.
Arumi telah menjadi syahid seperti cita-citanya yang selalu dia ucapkan, dia ingin mati syahid.
"Adam, kamu harus ikhlas, Arumi telah bahagia disana." ucap ibunya kala itu.
Namun, bagaimanapun juga hatinya terlalu rapuh untuk menerima kenyataan. Jiwanya seakan ikut bersama Arumi, dia hidup tanpa jiwa.
"Dara biar Ibu yang asuh dulu, nanti kalau sudah waktunya, kamu harus merawat anakmu," pinta ibunya waktu itu.
Kedua orang tua Arumi sudah meninggal, jadi otomatis Dara diasuh oleh keluarga Adam.
Mendengar permintaan ibunya, Adam langsung menyetujui karena dia tidak mungkin bisa mengasuh bayi itu, apalagi saat melihat Dara hati Adam semakin sakit.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Adam merebahkan tubuhnya setelah jarum jam menunjukkan angka tiga pagi. Hanya bekerja yang bisa membuat hatinya bisa melupakan wanita yang sangat dicintainya itu.
Arumi, wanita cantik dan pintar. Butuh perjuangan untuk mendekatinya hingga akhirnya Adam memutuskan untuk langsung melamarnya karena Arumi tidak mau menjalin hubungan sebelum menikah, padahal saat itu Adam belum mempunyai pekerjaan tetap.
Kehidupan sederhana di awal pernikahan mereka tidak menyurutkan cinta dua insan itu. Dengan dukungan dan cinta sang istri akhirnya Adam bisa di terima di sebuah perusahaan industri dan akhirnya setelah dua tahun dia menjadi direktur karena kecakapannya.
Beberapa kali ponselnya berdering, Adam yang baru saja memejamkan matanya terbangun, dia terlonjak karena bangun kesiangan.
Segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya lalu mengambil air wudhu untuk segera menunaikan kewajiban, diabaikan dulu panggilan telepon dari ibunya.
Setelah selesai menunaikan dua rakaat, Adam mengambil ponselnya yang sudah tidak berbunyi lagi.
Di usapnya layar ponsel untuk melakukan panggilan kepada wanita yang sangat berjasa dalam hidupnya. Jika tidak segera di hubungi pasti dia akan mendapat ceramah pagi yang panjangnya seperti rel kereta.
"Adam!" teriak wanita paruh baya itu hingga Adam menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Kamu ini kebiasaan kalau di telepon susah, pasti habis lembur, pasti bangunnya kesiangan. Sudah ibu bilang, jaga kesehatan jangan ngoyo kerjanya, cepat cari istri lagi biar kamu ada yang ngurus." Rentetan kata-kata yang selalu di ucapkan setiap kali ibunya menelepon namun, tidak pernah ditanggapi oleh Adam.
"Kamu harus segera jemput anakmu hari ini," ucap sang ibu lagi.
Adam yang memang tidak pernah memperdulikan ucapan ibunya saat menyuruhnya membawa Dara bersamanya, kaget karena ibunya telah mengirim Dara padanya.
"Tapi, aku belum dapat pengasuhnya, Bu. Kasihan Mbok Darsih kalau harus mengasuh Dara juga," ucap Adam mencari alasan.
"Ndak usah cari pengasuh, biar April ikut tinggal di sana. Sekarang kamu jemput April dan anakmu di stasiun, pukul 7 mereka akan sampai." Lasmi menutup panggilan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Adam.
Karena Lasmi mengatakan mereka sudah dalam perjalanan, akhirnya Adam hanya bisa menuruti perintah ibunya.
Sebenarnya berat jika harus bertemu Dara tapi, ibunya selalu mengatakan kalau Dara adalah anaknya dan dia harus mengasuhnya sendiri.
Adam mengambil kunci mobilnya untuk segera menjemput putrinya, dia takut kalau April bingung kalau tidak segera di jemput.
April adalah tetangganya di kampung, masih ada kerabat dengan bapaknya. Memang sejak kecil Dara di asuh oleh April, itu sebabnya Lasmi meminta April untuk mengurus Dara di rumah Adam, apalagi April begitu telaten mengurus Dara.
"Mau kemana, Den!" panggil Mbok Darsih saat mengetahui Adam sudah berada di ambang pintu.
"Mau nyusul Dara, Mbok," jawab Adam.
"Dara mau tinggal di sini?" tanya Mbok Darsih lagi sambil mendekat mengambilkan sandal untuk Adam.
"Iya, Mbok. Ibu yang memintaku untuk mengurus Dara," jawab Adam sambil membuka knop pintu.
"Saya ikut senang, Den." Mbok Darsih meletakkan sandal tepat di depan Adam, dia memang begitu menyayangi majikannya karena selama enam tahun ini Mbok Darsih yang mengurus Adam.
Adam segera mengendarai mobilnya agar dia tidak telat untuk menjemput Dara, kalau sampai ibunya tahu dia telat menjemput pasti dia akan mendapat ceramah lagi.
Setelah sampai di stasiun, matanya menyusuri seluruh tempat mencari keberadaan April dan putrinya namun, Adam belum menemukan mereka.
Dia merasa jadi orang bodoh di situ, berjalan menyusuri tiap pintu kereta mencari April. Apalagi ponselnya ketinggalan, jadi dia tidak bisa menghubungi April.
Setelah hampir satu jam berkeliling akhirnya dia putus asa dan memutuskan untuk kembali pulang. Dia akan menanyakan pada ibunya apakah mereka jadi berangkat atau tidak.
Adam berjalan keluar dengan tergesa sampai tubuhnya menabrak seorang wanita yang menggendong anak kecil.
Saat Adam melihat wanita itu, dia terperangah karena yang dicarinya ada di depan matanya.
Seketika hatinya merasa lega karena dia sudah menemukan yang dia cari.
Seorang wanita bertubuh mungil menggendong anak kecil, anak itu sampai menangis karena terjatuh.
Tangisan anak kecil itu tidak membuat Adam trenyuh, dia berdiri tanpa membantu gadis yang kerepotan menenangkan putri kecil yang membuatnya enggan melihat.
Dengan sabar April berusaha menenangkan Dara yang masih menangis namun, Adam masih tidak peduli melihat anaknya menangis.
"Ayo buruan sudah siang, aku mau berangkat kerja," ucap Adam dingin lalu membawakan koper April.
April segera mengikuti Adam sambil kerepotan menggendong Dara, badan Dara yang padat membuat tubuh mungilnya agak gontai menggendong Dara.