Kedatangan Ibu

1618 Words
Setelah mengantar putrinya ke rumah, Adam kembali ke kantor lagi. Adam merasa seperti sedang dipermainkan oleh dua wanita beda usia yang begitu kompak itu. Dia merasakan ada yang lain di hatinya, rasa kesalnya pada April sebenarnya membuat warna tersendiri dalam kehidupannya. Dia merasakan lebih bersemangat menyambut hari-harinya. "Pak Adam, dari mana?" tanya Olivia yang membuyarkan lamunannya. "Oh, tadi daftarin sekolah anakku," jawab Adam singkat sembari terus berjalan menuju ruang kerjanya. "Ada berkas yang harus di tanda tangani, Pak," ujar Olivia yang berjalan mengikuti Adam. Fany menatap kedatangan Adam dari meja kerjanya, dia masih kesal dengan perlakuan Adam semalam. Bahkan dalam hatinya sesumbar, dia akan membuat Adam jatuh cinta padanya. Adam sudah ada di ruang kerjanya, dia mempelajari berkas yang akan di tanda tangani, sedangkan Olivia masih menunggunya sembari memberi penjelasan. Ponsel Adam berbunyi, dilihatnya panggilan telepon itu. Adam langsung menerima panggilan dari sang ibu. "Adam, Ibu mau ke sana, sekarang sudah di perjalanan, setengah jam lagi ibu sampai. Kamu jemput ibu, ya," ujar sang ibu lalu panggilan terputus sebelum Adam menjawabnya. Adam berdecak kesal dengan kelakuan ibunya, jika setengah jam ibunya sampai, berarti dia harus berangkat saat itu juga. "Mana lagi yang harus aku tanda tangani?" tanya Adam. Olivia menunjukkan beberapa dokumen yang harus ditandatangani, Adam memeriksa dan membacanya secara singkat kemudian menandatanganinya. Setelah selesai, Adam segera menjemput ibunya. Dia tidak mau mendengar omelan ibunya sepanjang jalan kalau telat menjemput. Di stasiun kereta api, Adam mencari keberadaan ibunya. Wanita itu duduk membawa koper bersama adiknya. "Bu." Adam menghampiri wanita paruh baya itu lalu memeluknya, hampir setahun mereka tidak bertemu. "Kamu kok kelihatan beda," ujar sang ibu sembari menatap putranya dari atas sampai bawah. "Jelas beda, lah, Bu. Kak Adam 'kan lagi seneng karena sudah dekat dengan jodohnya," ledek Alifa sambil menyenggol lengan kakaknya. "Apaan sih kamu," jawab Adam kesal, dia sedikit salah tingkah dengan ledekan adiknya. Dia ingat postingan April di aplikasi berlogo F itu, adiknya begitu antusias menjodohkannya dengan April. Lasmi tertawa melihat kedua putranya. Kakak beradik itu kalau sudah bertemu pasti bertengkar, tapi jika jauh saling merindukan. Begitulah saudara. Sepanjang perjalanan menuju perumahan, Alifa terus saja menggoda kakaknya. Adam tidak bisa berkutik karena memang yang dikatakan adiknya benar. Adam heran entah kenapa semua semua kejadian bersama April sudah sampai di telinga adiknya, termasuk panggilan ibu untuk April. Saat mobil sudah terparkir di depan rumah, Alifa langsung turun yang disambut oleh sahabatnya. "Kakak ipar," teriak Alifa sembari memeluk April yang sudah seperti beberapa tahun tidak bertemu, padahal baru beberapa hari April tinggal di rumah Adam. Adam menggelengkan kepala melihat tingkah absurd kedua gadis itu. "Bagaimana kabarmu, kamu betah tinggal di sini?" tanya Lasmi pada April kemudian membopong cucunya yang sedang di gendong April. "Iya, Ibu mertua," jawab April disertai tawa menderai Alifa. Adam sampai terbatuk mendengarnya, kemudian dia segera meninggalkan para wanita itu ke lantai atas. "Eyang, Tante April boleh jadi ibunya Dara?" tanya gadis yang ada di gendongan Lasmi. "Ya, tentu saja boleh. April mau 'kan jadi ibunya Dara?" Suara Lasmi sengaja dikeraskan agar Adam mendengarnya. "Iya, Bu, April mau." April menjawab antusias. Mereka bertiga memang sudah biasa membicarakan masalah ini. Lasmi sudah lama meminta April untuk menjadi istri Adam, orang tua April juga sudah setuju, mereka hanya menunggu Adam saja. "Nanti, ibu bicara sama Adam. Kamu berdoa saja mudah-mudahan semua lancar," ujar Lasmi sedikit berbisik. Mbok Darsih menemui Lasmi setelah selesai merapikan kamar. "Bu Lasmi, kamarnya sudah siap, silahkan kalau mau istirahat," ujar Mbok Darsih. "Terima kasih, Mbok, saya mau istirahat dulu, menyiapkan rencana kita nanti," ujar Lasmi lalu dia masukkan kamar. Dara ikut eyang putrinya ke kamar. Bocah kecil itu memang merindukan eyang putrinya karena sejak bayi eyangnya yang mengurusnya. Selama ini Lasmi memang takut jika Adam akan menikahi wanita yang salah. Menurutnya, April gadis yang tepat untuk Adam, apalagi Dara juga sudah dekat dengan April sejak kecil. "Pril, gimana, apa Kak Adam mulai lirik-lirik?" tanya Alifa sembari mengedipkan matanya. "Aku sendiri tidak yakin, Kak Adam itu susah ditebak, Lif," jawab April sembari menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa. "Kamu jangan putus asa, ayo, semangat." Alifa menepuk pundak sahabatnya. "Tapi aku tidak yakin, semalam saja dia marah pas aku ke kamar atas," kesal April. "Kamu yang sabar ya. Mas Adam itu memang sangat mencintai Mbak Arumi, jadi kamu harus lebih keras lagi berusaha, jangan menyerah," ujar Alifa memberi semangat. "O,iya, katanya kamu dilamar, ya?" tanya April. "Iya, tapi Ibu meminta waktu. Ibu mau menikahkan aku setelah Mas Adam menikah, jadi kamu harus lebih semangat lagi. Kalau Mas Adam tidak segera menikah, aku akan jadi perawan tua." "Jangan bicara seperti itu, Ibu pasti tidak akan tega sama kamu. Ibu hanya memotivasi Kak Adam saja agar mau segera menikah." "Tapi ini sayangnya bukan seperti itu, Ibu sudah janji sama almarhum Bapak, dulu," ujar Alifa sedih. "Sabar, ya. Bapakku juga bilang, kalau Kak Adam tidak segera menikahiku, aku akan dinikahkan dengan lelaki pilihan Bapak." Kedua gadis itu saling berpelukan menangisi takdir cinta mereka. Adam yang mendengarkan pembicaraan kedua gadis itu menjadi bingung, dia tidak mungkin bisa menikah lagi karena dia tidak mau mengkhianati istrinya. *** Makan malam kali ini, Adam lebih banyak diam. Sedangkan para wanita itu sudah seperti di pasar karena bergurau dengan Dara. Sesekali Adam melirik April, dia ragu dengan hatinya. Ada sedikit ketertarikan pada gadis itu, tapi dia merasa tidak pantas menikahi April yang menurutnya terlalu muda baginya. April pasti akan mendapatkan lelaki yang jauh lebih baik darinya, begitu yang dipikirkan Adam. Lasmi dan Adam masih berada di ruang makan, sedangkan ketiga gadis itu bermain di ruang tengah yang hanya dibatasi pembatas ruangan. "Dam, apa kamu masih belum siap menikah juga?" tanya Lasmi serius. "Bu, Adam tidak mau mengkhianati Arumi." Ucapan yang selalu Adam katakan jika ibunya meminta Adam untuk menikah. "Arumi itu sudah meninggal, dia pasti ikhlas melihatmu menikah lagi, dia akan ikut bahagia di sana," ujar sang ibu sembari mengusap punggung tangan putranya. "Kamu masih muda, masa depanmu masih panjang. Cobalah buka hatimu lagi, tidak ada pengkhianatan di sini karena Arumi sudah meninggalkan dunia ini," tambah Lasmi. Adam menghela napasnya berat, dia sendiri tidak tahu dengan kehidupan yang dijalani saat ini, jiwanya seakan ikut dibawa istrinya pergi. "Adam, coba kamu pikirkan sekali lagi, pikirkan masa depanmu dan masa depan Dara. Dia butuh sosok ibu. Dan ibu yakin April bisa menjadi ibu yang baik untuk Dara," ujar Lasmi lagi. "Bu, April itu terlalu muda untuk Adam. Seharusnya dia dapat lelaki yang lebih baik dan pasti yang belum pernah menikah," jelas Adam. "Tapi April mau menikah denganmu, orang tuanya juga setuju," tukas sang ibu. Adam masih bingung dengan hatinya, dia benar-benar belum bisa untuk menggantikan Arumi di hatinya. "Tolong kamu pikirkan permintaan ibu. Kamu shalat istikharah dulu, minta petunjuk pada Gusti Allah," pinta Lasmi kemudian meninggalkan Adam dan menuju ruang tengah ikut bermain bersama cucunya. Adam memperhatikan kebersamaan mereka. Melihat Dara yang begitu bahagia, memang membuat hatinya tersentuh, tapi membayangkan menikahi April sedikitpun tidak terbesit dalam hatinya. *** Malam semakin larut, suasana sepi membuat Adam begitu khusyuk memanjatkan doa. Dia benar-benar tidak bisa mengambil keputusan saat ini, dia ingin meminta petunjuk pada Sang Pemilik Hati. Adam ke lantai bawah untuk mengambil air minum setelah melaksanakan shalat untuk hajadnya. Dilihatnya April berada di dapur juga untuk mengambil air minum. Adam menghampiri April, gadis itu terperanjat saat Adam tiba-tiba sudah berada di sampingnya. "Kak Adam?" "Aku ingin bicara sebentar," pinta Adam sembari menarik kursi lalu mendudukinya. April juga duduk sedikit menjauh, dia tidak mau kegugupannya terlihat oleh Adam. "Pril, apa ibu memintamu untuk mau menikah denganku?" tanya Adam sembari menatap mata coklat April. April menunduk, jantungnya sudah seperti lompat dari tempatnya. Dia tidak menyangka ternyata segugup itu berbicara serius dengan Adam. "Iya,Kak," jawab April sembari masih menunduk. "Bagaimana denganmu?" tanya Adam. Dia ingin memastikan perasaan April seperti apa. "Maksud Kak Adam?" tanya April kembali, dia tidak tahu maksud pertanyaan Adam yang menurutnya ambigu. "Apa kamu mau?" tanya Adam lagi. April menatap Adam dengan mata yang berkaca, dia begitu bahagia mendengar pertanyaan itu. "Maksudku, apa jawabanmu pada Ibu?" tanya Adam lagi menjelaskan maksudnya. "Ooo." April kecewa dengan pertanyaan Adam, padahal dia sudah berpikir bahwa Adam memintanya untuk menikah. "Pril?" tanya Adam lagi. April menghela napasnya, dia sudah terlanjur kecewa dengan pertanyaan Adam, dia semakin tidak yakin dengan perasaan Adam. "Kalau Kak Adam mau, aku juga mau menikah denganmu, Kak," ujar April lalu meninggalkan Adam, dia sudah tidak tahan dengan kegugupannya. Adam menatap kepergian April dengan tidak mendapatkan jawaban pasti. Perasaannya jadi semakin tidak tenang, disisi lain dia tidak mau menikah lagi, tapi ibunya terus saja mendesaknya sedangkan dia tidak mendapatkan jawaban pasti dari April. Dia takut jika April terpaksa mau menikah dengannya. Adam kembali lagi ke lantai atas dengan perasaan semakin kacau. Dia duduk di sofa menghadap jendela sembari menikmati udara dingin yang menghembus dari celah jendela yang sedikit dia buka. Adam tergelitik untuk mencari informasi tentang April. Dibukanya layar ponsel lalu melakukan pencarian di akun sosial media milik April. Dilihatnya unggahan status di media sosial April. Terlihat status terharu yang dikirim satu menit yang lalu. 'Jika dia memang jodohku, maka dekatkanlah. Namun, jika dia bukan jodohku, maka buat hatiku melupakannya.' Begitu tulisan April satu menit yang lalu. "Pril, kamu pantas mendapatkan lelaki yang baik," gumam Adam. Adam merasa dia tidak pantas menjadi suami April, gadis itu masih terlalu muda untuk menjadi istrinya yang sudah punya anak. Apalagi dia tidak bisa memberikan cintanya pada April karena cintanya sudah untuk istrinya. Dia tidak mau menghapus cintanya untuk sang istri tercinta. Adam sudah mantap bahwa dia akan membuat keputusan untuk tidak menikahi April, gadis itu terlalu istimewa menjadi seorang istri, April pantas mendapatkan lelaki yang jauh lebih baik darinya. Akhirnya Adam melepaskan semua beban dalam hatinya. Dia juga akan mengatur pernikahan adiknya tanpa menunggu dirinya menikah. Adam yakin, dia akan baik-baik saja meski tidak menikah lagi. Begitulah keputusannya saat ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD