Noah menutup pintu kamar mandi dan melangkah perlahan ke sisi Jihan.
"Ah, dia mandi rupanya. Aku kira buang air besar sungguhan. Tunggu, apa ini penting? Aku tak menyangka saja jika Noah yang dingin ini bisa membalas cara bercandaku yang garing." Batin Jihan.
Noah dengan santainya merebahkan diri di samping Jihan dan menarik selimut untuk menghangatkan dirinya. Miring ke kiri, membelakangi Jihan.
Jihan menaikan kedua alisnya. Noah tidak terlihat b*******h sama sekali. Ini artinya Noah gay sungguhan ya?
Nah, jadi penasaran.
"Noah," Jihan berbisik, "apakah kau itu gay?"
"..." Noah terdiam karena kaget, kemudian ia segera membalikkan badannya dan menatap Jihan dengan tajam. "Aku normal!"
"Jujur saja padaku, Noah! Kau itu memiliki perasaan khusus pada Edo, kan? Sejak sekolah menengah kalian memang sudah cukup dekat, sering bersama juga... Tunggu, jangan-jangan alasan sesungguhnya kau menikahiku karena ingin melihat Edo bahagia dengan cintanya? Noah, jika kau seperti ini, Edo tidak akan tahu seberapa besar cintamu kepada —"
Halusinasi macam apa yang ada di otaknya Jihan saat ini? Dirinya disangka gay? Sungguh, istrinya memang perlu diberi pelajaran!
Sebelum Jihan dapat mengatakan apa-apa lagi, Noah telah berada di atasnya sambil menahan kedua pergelangan Jihan. Ia mencoba melepaskan kancing piyama tidur Jihan yang paling atas dengan giginya. Hal ini membuat Jihan berteriak.
Bagaimana bisa Noah sebrutal ini?
"Lepaskan aku, Noah! Dasar m***m!"
Noah masa bodoh, ia malah melanjutkan aksinya. Senang melihat Jihan ketakutan.
"Noah, jangan gila! Tidak lucu! ... Ahh, geli bodoh!"
Noah kemudian tersenyum sambil menyindir Jihan. "Baru saja kau begitu yakin bahwa suamimu yang tampan ini adalah gay, kenapa tidak dibuktikan saja sekarang? Aku ini gay atau bukan?"
"Dasar Noah menyebalkan! Aku kan hanya bercanda. Noah yang perkasa itu pasti bukanlah gay." Kilah Jihan. Ia harus menjilat kembali ludahnya agar bisa selamat dari Noah.
"Ho, sekarang kau berusaha menjilat ya? Padahal aku ini sudah bilang jika aku menginginkan keturunan darimu, kenapa kau mengira aku ini gay? Hei, aku ini bisa bernafsu pada wanita. Seperti saat ini saat melihatmu."
Jihan merinding seketika.
"Noah, menyingkir dari atas tubuhku! Kau berat! Kau tadi banyak minum wine, kau pasti mabuk, kan? Iya, kau pasti mabuk!"
"Aku sangat yakin jika pikiranku masih sangat normal."
"Tapi kau berusaha menelanjangiku, kau pasti sedang mabuk. Noah yang aku kenal akan bersikap dingin dan menyebalkan kepadaku."
"Bukankah saat ini aku sedang bersikap menyebalkan kepadamu, hm?"
"Tapi saat ini kau juga sedang bersikap m***m sedangkan Noah itu tidak m***m!"
"Noah tidak m***m? Oh, mari kita berkenalan lagi, Jihan. Kau perlu tahu sisi lain dari diriku... Perkenalkan, aku adalah Noah Priatmoko yang m***m, suamimu."
"Noah! Jangan membalas omonganku! Bersikaplah seperti seorang Noah yang biasanya cuek dan dingin!"
"Perkenalkan, aku adalah Noah Priatmoko yang cerewet dan hangat." Noah menyeringai.
"Noah, kau mengerikan!" Jihan ketakutan. " Aku tahu kau merasa kesal karena pertanyaan dariku tadi soal apakah kau gay atau bukan... Aku akui aku tak seharusnya bertanya seperti itu. Maafkan aku, tolong jangan seperti ini membalas dendamnya. Sumpah, ini sama sekali tidak ada lucu-lucunya."
"Maaf?"
"Iya, aku minta maaf."
"Wajahmu sama sekali tidak menunjukkan sedikitpun rasa bersalah dan rasa penyesalan." Noah melanjutkan aksinya 'membuka' kancing piyama Jihan.
Jihan yang tak mau didominasi oleh Noah, kemudian mencoba menendang lelaki itu, tetapi lutut-lutut lelaki itu mengunci kakinya seperti baja. Ia benar-benar tidak ingin memberikan dirinya kepada laki-laki yang paling dibenci oleh dirinya.
Jika seperti ini, apa bedanya Noah dengan pria m***m seperti laki-laki yang waktu itu minta nomor ponselnya saat bekerja di Onemart? Tentu saja ia menolak memberikannya, tapi ketika ia berjalan pulang, pria m***m itu mengikutinya. Beruntung ada orang baik yang membantunya.
"Noah, jangan..." Tetes air mata keluar dari mata Jihan.
Jihan menangis!
Noah membelalakkan matanya. Ia segera melepaskan kuncian tangannya dari tangan Jihan dan kembali berbaring di posisinya yang semula. Tangannya dengan lembut menghapus air mata itu dan ia pun bertanya dengan nada dingin.
"Apakah kau begitu membenciku?" Tanya Noah tanpa melihat ke arah Jihan. Ia menatap langit-langit kamar hotel.
Jihan memiringkan badannya. Sepertinya Noah salah sangka. Tidak, itu ada benarnya juga. Tapi yang membuatnya takut saat ini adalah 'perlakuan m***m yang sama' dengan pria m***m yang mengganggunya dulu.
Jihan menempelkan kepalanya di bahu Noah sambil berbaring. Ada fakta yang ingin ia sampaikan kepada sosok laki-laki yang kini resmi menjadi suaminya itu.
"Kau adalah cinta pertamaku dan kau tahu itu."
Jihan yang sangat ayu itu mulai tersenyum getir. Ini bukanlah pengakuan yang mudah ia ucapkan apalagi di hadapan Noah.
"..." Noah terdiam.
"Namun itu hanyalah masa lalu. Kau adalah masa laluku. Aku saat ini sudah tidak memiliki perasaan yang sama terhadap dirimu seperti dulu."
"Hm, begitukah?"
"Ya."
"Jika kau tak mencintaiku lagi, aku rasa benar jika kau membenciku saat ini."
"Membencimu ya? Aku tidak hanya membencimu. Aku sangat membencimu!"
Noah tersenyum tipis, tapi tidak ada yang tahu arti dari senyumannya Noah itu. Ia lalu menolehkan kepalanya dan menatap Jihan yang masih menempelkan kepalanya di bahunya.
Ada rasa yang tidak ia sukai di dalam dadanya. Melihat Jihan yang nampak buruk seperti saat ini membuatnya tidak nyaman.
"Maaf." Kata Noah.
Maaf?
Apa yang baru saja ia dengar? Seorang Noah minta maaf? Jihan tak habis pikir Noah bisa seperti itu. Ini permintaan maaf karena tadi dirinya bercanda kelewatan atau soal kisah tak menyenangkan di masa lalu? Benar-benar pemikiran yang membingungkan.
Lagi, Noah Priatmoko minta maaf kepada dirinya? Dimana harga diri yang setinggi langit di angkasa itu?
"..." Jihan menengadahkan wajahnya dan menatap Noah. Mereka bertemu pandang. Ia pun terdiam membisu. Ia hanya tidak menyangka lelaki yang sombong dan sok belagu itu dapat meminta maaf kepadanya.
Noah menjadi sosok yang sulit Jihan pahami.
Mungkin saja Noah hanya tak tahan melihat seorang wanita menangis, mungkin ini yang disebut punya rasa empati, dan mungkin saja suaminya ini juga punya hati?
Kasarnya, Noah saat ini sudah lebih manusiawi?
Lagi, Jihan tidak mengerti.
Apakah ini karena Noah serius dengan kehidupan pernikahannya? Jadi Noah memilih untuk memulai semuanya dengan lebih baik lagi? Atau apa?
Pusing.
Jihan tidak bisa menebak isi hati Noah. Lelaki ini seperti alien yang tugasnya membuat Jihan pusing saja. Begitu banyak kejutan yang ia dapati dari sosok seorang Noah Priatmoko. Apa mungkin Noah sudah berubah? Apa Noah ingin meminta maaf atas perilakunya saat masih pacaran dulu? Apa pria ini punya sisi penyayang?
Penyayang?
Bukankah ini sangat menggelikan?
Tch, Jihan tahu, itu hanyalah ilusi saja.