6 Malam Pertama 3

1634 Words
Jadi Noah tidak ingin memiliki keturunan dengan alasan ia tidak mau anaknya merasakan dinginnya keluarganya? Maksudnya keluarga besar Priatmoko? Memangnya ada apa? Kenapa harus seperti itu? Bukankah keluarga Priatmoko sangat terkenal dengan segala kebaikannya? Media selalu membahas mereka dengan segala hal positif yang mereka lakukan. Dunia juga tahu jika keluarga Priatmoko sangat aktif dalam bidang amal. Yayasan amal yang didirikan oleh keluarga Priatmoko di bawah naungan Priatmoko Group adalah yang terbesar di Asia. Fokus pada anak yatim dan kelaparan di berbagai negara. Lalu apa ini? Kenapa Noah yang jelas merupakan bungsu dari keluarga Priatmoko sampai berbicara buruk akan keluarganya sendiri? Media dan semua orang tahu betapa mulianya keluarga Priatmoko itu dengan yayasan amalnya. Namun sepertinya ada yang disembunyikan. Jihan menjadi sangat penasaran. "Aku ingin tahu detailnya." Jihan meminta penjelasan di malam pertama mereka berdua setelah resmi menjadi sepasang suami istri. "Aku terlalu lelah untuk menjelaskannya. Kau akan tahu dan mengenal mereka sebentar lagi. Jika kau pintar, kau bisa menilainya sendiri. Itu pun kalau kau pintar, kalau kau bodoh, aku bisa apa?" Kata-kata Noah ini memang sangat menyebalkan. Jihan ingin sekali memukul kepalanya sang mantan kekasih yang kini sudah resmi menjadi suaminya. "Tanganku sangat gatal. Butuh orang untuk aku pukul. Kepalamu terlihat menggoda, Noah..." Geram Jihan. "Berani kau memukulku, aku akan menelanjangimu dan memperkosamu saat itu juga!" Seringai Noah. Jihan mendelik. "Kau mau cari mati, hah?" "Kau pikir, dengan tenaga lemahmu, kau bisa membunuhku? Sekali tindih, paling kau tidak bisa melawan. Mau coba?" Noah ini sangat suka menggoda Jihan. Ia senang melihat ekspresi Jihan saat kesal. "Berengsek! Awas saja kalau kau macam-macam!" "Kalau aku mau macam-macam, memangnya kenapa? Kau istri sahku." Jihan kembali mendelik. "Kan ini hanya pernikahan hitam di atas putih, Noah! Kau tidak serius, kan? Kita saling membenci!" Noah menatap Jihan intens. "Kau yang menganggap seperti itu." Jihan bingung. Maksudnya hanya dirinya saja yang memaknai pernikahan mereka berdua sebagai pernikahan hitam di atas putih? "Kita tidak saling mencintai, kau paham itu, kan? Jadi hubungan ranjang jelas tidak mungkin! Kau sendiri juga bilang tidak ingin memiliki keturunan, jadi semakin tidak mungkin, kan?" Noah tahu jika Jihan saat ini sedang gelisah. Kisah masa lalu memang cukup membuat Jihan terpukul dan memiliki alasan kuat untuk membenci dirinya. Jika ingat waktu itu, dirinya memang sangat kejam kepada Jihan. Namun demikian, ia memilih alasan kenapa harus menyakiti Jihan sampai sebegitunya. Tidak ingin membuat Jihan tidak nyaman, akhirnya Noah memilih untuk menyentuh pipinya Jihan dengan lembut. Posisi yang sedang tiduran bersama membuat sekat begitu sempit. Nafas keduanya beradu, menciptakan hembusan hangat di sekitar pipi. "Kenapa kau sok manis kepada diriku?" Tanya Jihan yang lagi-lagi harus bingung dengan kelakuan Noah. "Tidak bisakah kau berprasangka baik kepada diriku?" "Setelah semua yang terjadi, apa menurutmu itu bisa diterima?" Sejenak Noah terdiam. Dulu ia memang keterlaluan. Mereka berdua saling tatap kembali. "Kau hanya diam saja, kan? Sepertinya tidak nyaman membahas masa lalu. Aku sudah melupakan rasa yang dulu pernah ada. Semua sudah tak tersisa... Baiklah, seperti katamu, aku istri sahmu. Namun, aku menolak untuk berhubungan badan karena sudah tak ada rasa di antara kita. Aku membencimu, dan sepertinya kau pun juga seperti diriku... Aku akan menjadi istrimu yang sangat baik di mata semua orang. Aku tidak akan mengecewakanmu!" Jihan seperti menawari Noah sebuah kesempatan. Intinya, ia mau ucapannya ini didengar dan disetujui oleh Noah." "Jika suatu hari kita kembali memiliki rasa, kau tidak masalah berhubungan badan denganku?" "..." Kini, giliran Jihan yang terdiam. Pertanyaan dari Noah ini sama sekali tidak pernah ia pikirkan. Semenjak putus dulu pun, ia tidak pernah berniat untuk menjalin hubungan apapun dengan Noah. Ya, walau takdir Tuhan itu berkata lain seperti keinginannya. Faktanya, kini tidak hanya menjalin hubungan dengan Noah, ia malah menjadi istri sahnya Noah. "Hah..." Noah menghela nafas. Ia lalu mengacak-acak rambutnya Jihan. "Sudah malam, tidurlah!" Ujarnya. Noah kemudian balik badan, tidur membelakangi Jihan. Jihan hanya bisa melihat punggungnya Noah. Punggung yang menurutnya sangat dingin itu. Kok sakit ya? Kenapa? Ada apa ini? Namun, segala pikiran negatif itu segera Jihan singkirkan. Ia tidak ingin semuanya sulit. Ia tidak ingin kisah masa lalu antara dirinya dengan Noah mengganggu hubungan pernikahan mereka di masa depan. Manusia hidup untuk hari ini dan masa depan. Hari ini Noah adalah suaminya, besok juga suaminya, dan nanti juga suaminya dengan catatan, Noah tidak menceraikannya. "Aku tidak bisa seenaknya saja minta cerai pada Noah karena dia akan membantu menyelamatkan Maura. Dia juga akan membantu merebut perusahaan ayah dari pamanku. Aku akan bertahan sampai Noah bosan kepada diriku. Dia tidak mencintaiku dan aku tidak mencintainya. Aku pun juga sangat membencinya. Aku dan dia adalah pasangan paling tidak serasi di dunia ini... Mari kita lihat, akan sampai sejauh mana hubungan pernikahan kita, Noah Priatmoko..." Batin Jihan. Jihan sudah menyakinkan hatinya. Ia kemudian menyentuh punggung Noah yang membelakangi dirinya itu. Menyentuhnya dengan sangat lembut. Meski ia membenci Noah, tapi setidaknya ia bisa berteman dengan Noah, kan? "Noah, ada hal yang ingin aku sampaikan kepada dirimu." Kata Jihan pelan. "Apa itu sangat penting?" Tanya Noah tanpa membalikan badannya. "Hm. Ini sangat penting." Noah kemudian balik badan. "Apa yang ingin kau sampaikan kepadaku?" Tanyanya. "Itu..." "Itu?" "..." "Jika kau diam saja, mana bisa aku mengerti dirimu." Noah kesal sendiri karena Jihan tak kunjung juga mengucapkan apa yang ingin Jihan sampaikan. Percayalah, dirinya ini sudah sangat lelah, sudah sangat mengantuk. Ingin tidur! "Sebenarnya..." Jihan mulai mengutarakan keinginannya. "Sebenarnya?" "Sesebenarnya kalau tidur aku sedikit berbeda." Kata Jihan. Hanya itu? Tapi ini ambigu pikir Noah. "Berbeda bagaimana?" Tanya Noah. Ia menaikan sebelah alisnya. Apaan coba maksud dari perkataan Jihan? Bukankah tidur itu hanya memejamkan mata? Noah kurang paham dengan apa yang dikatakan oleh Jihan. "Emm, sedikit agresif jika aku terlalu lelah." Kata Jihan malu. Sedikit agresif saat tidur? Oh seperti itu? Paling hanya bergerak atau lebih parah lagi, bisa mengorok. Itu yang Noah pikirkan. Bukankah itu normal? Ia juga pernah seperti itu jika melebihi batas lelahnya. Hei, tidak manusia yang sempurna, bukan? Noah hanya bijak dalam berpikir logis. "Tidak apa-apa, setiap orang memiliki gaya tidur masing-masing." Kata Noah. Menerima gaya tidur Jihan akan mengakhiri perasaan tidak nyaman di antara dirinya dengan Jihan, kan? Bukankah itu pilihan terbaik? Jihan tersenyum senang mendengar kata-kata Noah. "Benarkah?" "Hn." "Janji tidak akan marah?" "Hn, janji." Jihan tersenyum manis pada Noah. Noah hanya ikut tersenyum tipis tanpa ada beban apapun. Mereka berdua mulai tidur bersama. Noah di ujung sisi sebelah kanan, sedangkan Jihan di ujung sisi sebelah kiri. Terlalu dekat dengan sisi ranjang sehinggan menyisakan ruang cukup lebar di tengah mereka berdua. Ditambah lagi, mereka tidur saling membelakangi. Mereka berdua tidak benar-benar bisa tertidur. Noah masih berkutik dengan fikirannya. Jihan justru meringkuk sambil memegangi jantungnya yang berdetak sangat kencang. "Detik jam dinding sampai terdengar karena saking sunyinya. Bisa bahaya kalau Noah sampai mendengar detak jantungku. Meski aku membenci dirinya, namun ini tetaplah malam pertamaku tidur berdua dengan Noah. Ini juga untuk yang pertama kalinya aku tidur berdua dengan seorang laki-laki! Sial, jantungku tidak mau diajak kompromi... Hei, ayolah..." Jihan perang batin. Suasana malam itu cukup sunyi. Jihan bisa dengan jelas mendengar degub jantungnya dan suara-suara malam di sekitarnya. Ia menjadi tidak bisa tidur. "Hei, Noah?" Panggil lirih Jihan akhirnya. "Hm?" Mereka masih saling membelakangi. Tidak saling tatap-menatap. "Ka-kau belum tidur?" "Aku hampir tidur jika kau tidak memanggilku." "Ah, ma-maaf." Rupanya Noah biasa saja ya? Padahal jantungnya diskoan, tapi Noah nampak santai. Tidak adil! "Ada apa? Jangan bilang kau ingin ke kamar kecil tapi tidak berani?" Tanya Noah akhirnya. "Aku malas mengantar dirimu!" Imbuhnya. "Ti-tidak, tidak ada apa-apa kok. Lagian aku tidak butuh diantar ke toilet olehmu!" Jihan menarik selimutnya sampai menutupi seluruh badannya. Noah memang rajanya membuat kesal. "Hn." Kan, sudah berbicara panjang pun, Noah hanya menanggapinya dengan 'hn' saja. Semakin membuat kesal. "Sudahlah... aku memejamkan mataku saja. Nanti juga tertidur sendiri..." Mereka berdua melanjutkan acara tidur mereka. Badan terasa sangan lelah setelah menghabiskan waktu yang cukup panjang seharian. Pesta pernikahan itu memang menguras waktu dan tenaga. . . . Jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah tiga malam. Ah, jam seperti itu apa bisa juga disebut sebagai jam setengah tiga pagi? Sepertinya Jihan sangat menikmati tidurnya. Ia tertidur sangat pulas. Jauh berbeda dengan Noah. Setiap kali Noah memejamkan mata selalu saja mendapat gangguan. Gangguan itu datang dari Jihan sehingga membuat Noah kesulitan tidur. "s**t!" Gerutu Noah. Ia sudah berkali-kali mengumpat kasar seperti ini. Jihan tertidur seperti orang yang sedang bermain sepak bola. Malah lebih mirip dengan orang yang sedang bermain gulat. Tangan Jihan bergerak mengenai muka Noah, tak jauh berbeda dengan kakinya. Tangan dan kakinya Jihan, semuanya mengganggu tidurnya Noah. Noah mencoba menyingkirkan tangan Jihan, tapi tangan Jihan kembali lagi memukul mukanya dengan keras. Setiap kali Noah mencoba menyingkirkan kaki Jihan dari badannya, selalu saja akan kembali seperti itu. Menindih kaki dan tubuhnya. Beberapa kali juga berputar-putar. Jihan bergerak seperti jam dinding, kaki memakai bantal sementara kepala tidak menggunakan bantal sama sekali. Sering kali Noah membantu mengembalikan posisi tidur Jihan. Benar-benar merepotkan. Namun, meski merepotkan, entah kenapa Noah tidak tega pada Jihan. "Apa ini yang dimaksud dengan tidur dengan sedikit agresif? Sedikit agresif bagaimana? Ini sungguh keterlaluan! Aishh, mimpi apa aku bisa menikah dengan mantan aneh ini." Gumam Noah setelah membantu mengembalikan posisi tidur Jihan. Baru saja Noah selesai membantu mengembalikan posisi tidur Jihan, tangan Jihan tiba-tiba bergerak dan memukul pipi mulusnya. "Jihan..." Noah geram dan geregetan. Batas kesabaran Noah hampir habis. Emosinya mulai naik ke level paling atas dan bisa meledak kapan saja. Ingin rasanya Noah menendang Jihan agar menjauh darinya, tapi sayangnya ia tak setega itu. Ia sudah berjanji pada Jihan untuk tidak marah pada Jihan. "Sialan, aku harusnya tidak semudah itu mempercayai ucapannya!" Poor Noah! Badan sudah sangat lelah, kakinya pegal-pegal, harusnya ia bisa tidur dengan sangat nyenyak, tapi malah ia tidak bisa tidur sama sekali. Ngenes sekali nasib Noah. Miris. . . . Yang mau baca kelanjutannya ada Adi aplikasi f***o dengan judul: TERPAKSA MENIKAHI MANTAN... Gratis no koin di sana.. thanks sebelumnya
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD