Pagi harinya matahari keluar dari peraduannya. Pamer sinar nan indah melewati kaca jendela balkon kamar hotel. Masih pukul setengah 6 pagi, namun karena kamar hotel berada di lantai 23, matahari di ufuk timur menjadi terlihat lebih awal.
"Hoamzzz." Jihan menguap lebar.
Ia akui masih lelah, tapi ia tidur dengan baik semalam. Meski begitu, ia masih sangat mengantuk. Ingin sekali kembali tidur.
"Selamat pagi, Noah. Kau sudah bangun?"
Jihan melihat Noah sudah bangun. Laki-laki tampan mantan penyandang gelar pangeran kampus ini berdiri tegak dengan perawakan sempurnanya. Tinggi dan atletis.
"Hn." Jawab Noah pelan. Noah mengusap-usap rambutnya dengan handuk.
"Rambutmu basah, sepertinya kau sudah mandi? Cepat sekali. Ini bahkan masih terlalu pagi. Lagipula hari ini juga harusnya kau cuti kerja, kan?"
Jihan merasa cukup heran. Menurutnya, ini masihlah terlalu pagi untuk mandi. Ia sempat melirik ke arah jam dinding, ia juga tak telat bangun. Hari ini seperti keajaiban saja. Dimana ia super kelelahan tapi bisa bangun lebih awal.
"Mandi pagi dapat membuat segar badan. Menghilangkan rasa kantuk dan malas." Kata Noah.
Ada rasa kesal ketika mendengar ucapan dari Noah. Maksudnya apa coba?
"Apa kau sedang menyindirku? Aku tahu aku tidak bisa bangun cepat. Aku juga sering malas mandi. Terlalu sering mandi juga tidak bagus untuk kulit, nanti bisa membuat kulit kering! Aku yang malas mandi saja kulitnya sudah sangat kering, apalagi jika aku rajin mandi? Aku pasti akan menghabiskan banyak lotion." Jihan mencoba membela diri.
"Oh apa kau sedang membuat pengakuan?" Simpul Noah.
"Arghh, Noah kau berisik sekali! Terserah diriku mau berbicara apa!"
Apa tidak ada yang lain selalin berkata pedas seperti itu? Bukankah ini masih terlalu pagi? Kenapa sudah mengajak bertengkar?
Yakin, sepasang pengantin baru, paginya langsung adu argumentasi pasti hanya Jihan dan Noah.
"Dasar Noah menyebalkan!" Jihan kesal sendiri. Entahlah, apapun yang diucapkan Noah pasti selalu menggoda emosinya. Rasanya tensi darahnya naik dan ingin marah-marah tidak jelas.
"Jangan meneriakiku, Jihan Arisa Priatmoko!"
"Jihan Arisa Priatmoko? Ah, benar juga. Aku sudah menjadi istri Noah ya? Aku kan kemarin menikah dengan dirinya. Jadi, margaku pun mengikutinya. Seperti mimpi saja... He, bohong, bohong, bohong, kan? Tidak mungkin! Ini pasti mimpi?" Bantin Jihan sambil menampar-nampar mukanya dengan kedua tangannya.
Hal ini membuat Noah mengernyit keheranan. Ia ingat, semalam Jihan bilang memiliki gaya sedikit agresif saat mau tidur. Lalu apa ini? Ada gaya juga saat bangun tidur? Ritual menampar-nampar pipi?
"Apa itu gayamu saat bangun tidur?" Tanya Noah dengan polosnya.
Selalu saja membuat kesal.
"Noah bodoh!"
Noah melempar handuk yang ia pakai untuk mengeringkan rambutnya pada muka Jihan.
"Jangan berisik, kurangi volume suara cemprengmu itu!"
Jihan kesal mendapatkan perlakuan itu dari Noah. Bagaimana bisa dirinya yang super cantik itu menjadi 'tiang gantungan' handuknya Noah?
"Keringkan rambutku! Itu tugas pertamamu sebagai seorang istri!" Perintah Noah.
"Tch. Baru juga belum ada jam 6 pagi, aku sudah disuruh mengerjakan tugas sebagai seorang istri." Gerutu Jihan.
Noah menatap dingin Jihan. "Tidak mau?"
Suara Noah terdengar seperti ancaman. Jihan menjadi tidak berani untuk berkata balik atau sekedar menentang perintah dari Noah. Akhirnya, ia segera menyambar handuk itu dan bangun dari ranjang. Ia mendekati Noah yang sudah duduk di sisi ranjang. Dengan handuk itu, Jihan pun membantu mengeringkan rambut Noah.
Sebenarnya jelas sangat malas melakukan hal semerepotkan ini. Namun, gerak tubuhnya sungguh menghianatinya. Ada kalanya jika tatapan Noah sangat menakutkan.
Menggosoknya ke kanan dan ke kiri.
"Pelan-pelan, Jihan! Yang lembut sedikit bisa tidak?" Omel Noah karena Jihan asal-asalan saat menggosok rambutnya dengan handuk.
"Ya tidak kering-kering rambutmu itu, Noah! Mau aku ambilkan hair dryer? Di tasku ada satu." Tawar Jihan. Dalam hati ia tertawa terbahak-bahak, ini jelas niat ia lakukan karena masih kesal pada segala ucapan racun yang keluar dari mulut Noah.
"Tidak usah, pakai handuk saja!"
"Baiklah..." Dan Jihan melanjutkannya.
Noah makin kesal. Jihan ini sebenarnya mendengar ucapannya atau tidak? "Yang dikeringkan rambut, bukan mukaku!" Kata Noah.
"Hehe, kali saja wajah tampanmu itu palsu, jadi aku ingin memastikannya!" Cengir Jihan.
Alsan konyol. Noah tahu, Jihan ini hanya ingin cari gara-gara saja kepada dirinya. Berharap hubungan pernikahannya dengan Jihan akan akur sepertinya mustahil.
Noah membalikkan badan, ia lalu mendorong tubuh Jihan ke ranjang. Ia bahkan sampai harus mengunci tubuh Jihan. Kedua tangan Jihan ia tahan dengan kedua tangan kuatnya.
Jihan kaget bukan main dengan perlakuan Noah terhadapnya. Noah menindih dirinya. Apalagi ketika Noah menatapnya dengan sangat intens. Jantungnya berdegup tak karuan. Meletup-letup seperti popcorn.
"N-Noah... K-Kau mau apa? Kau berat, Noah... Menyingkirlah!" Kata Jihan.
Sumpah, ini pose yang kurang nyaman untuk dilihat.
Noah tidak menjawab perkataan dari Jihan. Ia masih intens menatap wanita yang sudah ia nikahi secara resmi ini.
"Kalau ingin memastikan aku tampan asli atau tidak itu seperti ini caranya!" Kata Noah.
Memang seperti apa?
Jihan sibuk berpikir.
Tak lama setelah itu, Noah lalu menyentil jidat Jihan.
"Aw..."
Sentilan yang sangat kuat.
Sakit. Sentilan barusan sangat sakit. Noah memang rajanya membuat kesal.
Usai membuat Jihan semakin kesal, Noah dengan santainya menyuruh Jihan untuk memesan makanan untuk mereka bedua.
.
.
.
"Aku sudah menikahi Jihan, setidaknya Jihan sudah aman di dalam genggamanku... Aku tak sabar menunggu balasan dari apa yang sudah aku korbankan. Keluargaku adalah kumpulan orang dengan segala ambisi dan harga dirinya yang super tinggi. Aku yakin, semua tidak akan mudah untukku dan Jihan kedepannya... Jihan, jika aku harus menjadi orang yang selalu kau benci, aku tak masalah, asal kau selalu bersamaku... Selamat datang di kehidupan Noah Priatmoko, wahai Jihan istriku... Aku sudah memenuhi janji kita sewaktu dulu, kan? Ah, mungkin kau sudah lupa."
Noah yang yang disebut sebagai laki-laki super dingin dan tidak memiliki hati ini, sepertinya lebih hangat dari yang semua orang pikirkan.
.
.
.
Hari baru, status baru.
Jihan sangat sadar akan hal itu. Setelah menjalani begitu banyak 'kegiatan' yang sudah terjadi dalam lika-liku hidupnya, mulai dari putus dengan Noah sekitar 5 tahun yang lalu, pertemuannya dengan Elisa yang meminta menikah dengan Noah, bahkan dalam waktu kurang dari dua minggu, kini ia sudah mendapatkan status baru. Penyandang istri sah dari bungsu pemilik Priatmoko Group.
Dirinya yang dahulu hanyalah seorang wanita biasa, seorang kasir, wanita pas-pasan dari kalangan masyarakat ekonomi menengah ke bawah, sekarang sudah menyandang gelar Priatmoko sebagai marga barunya.
Jihan Arisa Priatmoko.
Marga yang sangat dihormati di kalangan penduduk Indonesia dan Asia. Marga yang menguasai pergerakan pasar saham dunia. Marga yang serba 'sempurna'. Begitulah kata orang-orang yang sesungguhnya tak Jihan pahami.
Memang sekaya apa sampai mendapatkan julukan seperti itu? Kehidupan konglomerat memang sangat rumit. Bukankah yang mudah itu yang penting cukup?
Hei, itu mental orang yang tak ingin kaya! Karena mental orang kaya, akan selalu mengembangkan apa yang ia punya agar bisa menjadi banyak.
"Halo, ya... Sudah itu saja. Tidak ada yang lain... Sama-sama.
Jihan baru saja memesan makanan untuk sarapan lewat panggilan telepon dari dalam kamar hotel.
"Oh, ternyata kau masih ingat jika aku ini tidak menyukai sarapan berat." Kata Noah usai mendengar Jihan yang memesan makanan untuk dirinya.
"Aku memesan makanan kesukaanmu bukan untuk mendapatkan pujian darimu!"
Bukan hal yang mudah bagi Jihan untuk memutuskan menikah muda. Menikah dengan seorang Noah Priatmoko, salah satu calon ahli waris tahta Priatmoko Group. Apa lagi tanpa cinta seperti ini.
Itu berat. Sangat berat. Tak seperti kisah sinetron atau novel yang ia baca.
"Maaf saja, aku sedang tidak memuji dirimu."
Ucapan dari Noah ini lagi-lagi membuat Jihan kesal. Padahal ia mau menikah dengan Noah karena Noah juga bersedia menjadi suami yang hangat, namun nyatanya tetap saja. Dari dulu, Noah selalu dingin kepada dirinya.
Sial, apa yang Jihan harapkan dari Tristan pernikahan dari kisah cinta yang sudah musnah lama ini, sih? Jika bukan karena Maura dan perusahaan ayahnya yang direbut pamannya, yakin, ia tak akan mau menikah dengan laki-laki kejam seperti Noah Priatmoko.
"Mau memuji atau tidak bukan urusanku." Jihan beranjak pergi ke kamar mandi. Ia ingin segera membersihkan diri. Malas juga terlalu berlama-lama berduaan dengan Noah. Bukan apa, meski sudah lama sekali berlalu, tapi kisah itu sedikit demi sedikit mengusik ingatannya.
Sumpah, itu tidak nyaman.
"Mau kemana, kau?" Tanya Noah, ia tidak suka diabaikan saat sedang berbicara.
"Kau tidak melihat arah mana yang aku tuju?" Jihan tanya balik. "Kamar mandi!" Ujarnya ketus.
Noah tidak suka dengan ucapan ketus dari Jihan. Ia segera menarik lengan Jihan dan membuat wanita yang dulu ia kencani selama setahun ini duduk di pangkuannya. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Jihan dan membuat kunci perutnya Jihan.
"Aku tidak suka dengan gaya berbicaramu. Aku ini suamimu, sosok yang harus kau hormati!" Kata Noah.
Jihan mencoba memberontak. Namun, kedua tangannya Noah mengencang di perutnya.
"Kalau kau berontak, aku akan menciummu!" Ancam Noah.
Jihan langsung terdiam, tidak berani gerak-gerak lagi.
"Jihan, kehidupan pernikahan kita baru dimulai, bisakah kau bekerja sama dengan diriku? Menikah denganku tidak semudah yang kau bayangkan!"
"Jika ini terlalu sulit untukku, kenapa kau malah memilihku? Kau memiliki segalanya untuk mendapatkan semua wanita yang jauh lebih berkelas daripada diriku. Kenapa kau tidak menggunakan status sosial dan kuasamu untuk mendapatkan mereka. Kau mau 10 wanita kaya dan berkelas pun, kau bisa dengan mudah mendapatkannya, kan? Kenapa harus berepot-repot main-main dengan diriku?"
Ucapan Jihan ini lumayan menusuk hati. Ternyata kebencian Jihan kepada dirinya lebih dalam dari yang ia pikirkan. Sepertinya, dulu Noah terlalu berlebihan ketika menyakiti perasaan Jihan.
"Aku memilihmu karena kau satu-satunya wanita yang membenciku." Ujar Noah.
Apa-apaan itu? Alasan yang sangat tidak masuk akal.
"Sebaiknya kau tidak perlu sok serius menjalani kehidupan pernikahan kita. Aku sudah tahu akhirnya akan seperti apa. Ini tidak akan jauh-jauh seperti apa yang terjadi pada kita di masa lalu. Jadi, stop, berhenti libatkan soal perasaan di sini."
"..."
Hari pertama pasca pernikahan, telah terucap banyak sekali kata-kata yang begitu menyinggung perasaan. Sangat tidak nyaman untuk didengar oleh telinga dan bahkan sampai hati juga.
Noah tidak mengucapkan apa-apa lagi untuk menanggapi perkataannya dari Jihan. Kuncian tangan yang melingkar di pinggang sampai perutnya Jihan pun melonggar. Ini dimanfaatkan oleh Jihan untuk kabur dari dirinya. Untuk pergi mandi.
"Kau hanya tidak tahu apa yang terjadi sesungguhnya di masa lalu. Apa yang kau percayai selama ini, itu semua sama sekali tidak benar... Jihan, aku tidak mengapa... aku akan menerima semua luka karena perbuatanku dulu. Apapun yang kau ucapkan, kau tetaplah istriku, dan aku, aku sama sekali tidak akan memiliki niatan untuk melepas dirimu."
Sebenarnya, apa yang terjadi antara Jihan dan Noah di masa lalu ketika mereka berdua masih terikat dalam satu hubungan romansa sepasang kekasih? Sepertinya, versi Jihan dan versi Noah sangat berbeda dan jelas bertolak belakang.
Apapun itu, yang jelas, keduanya sama-sama terluka. Sama-sama menanggung lara.
.
.
.
KELANJUTANNYA ADA DI APLIKASI f***o, SILAHKAN DOWNLOAD YA... Gratis no koin koin pokoknya di sana mah
JUDULNYA GANTI:
TERPAKSA MENIKAHI MANTAN by Data Erizawa
Terima kasih sebelumnya