Kedatangan Paul

1745 Words
Sarah jatuh sakit. Badannya panas sekaligus menggigil. Kurang istirahat dan banyak pikiran bisa jadi adalah pemicunya. Helen akhirnya menggantikan Sarah menjagaku di rumah sakit. Berhubung ia tidak bisa mengendarai mobil, Helen terpaksa memesan taksi untuk pergi ke rumah sakit. Ben? Ia terlihat tidak peduli untuk sekadar menawarkan mengantar istrinya. Benar-benar dendam kesumat terhadapku telah menutup pintu hatinya. Sampai saat ini, masih terasa aneh rasanya saat mereka harus rutin mengunjungiku di rumah sakit, sementara aku berada tepat di dekat mereka, di rumah ini. Paginya, Sarah masih bergelung di dalam selimut saat aku memutuskan keluar dari kamar untuk menghirup udara segar, sekaligus menanti kedatangan Helen. Ben kulihat bolak-balik ke kamar memantau keadaan putrinya. Pukul sembilan pagi akhirnya Sarah keluar dari kamarnya. Wajahnya masih tampak pucat dengan cuping hidung memerah. Sepertinya ia juga terkena flu. Terdengar ia bersin berkali-kali. "Habiskan sarapanmu, Sarah. Lalu minum obat ini. Jangan lupakan vitamin C." Ben tampak telaten saat menyiapkan keperluan Sarah. Jiwa kebapakan lelaki itu terpancar begitu jelas. Kentara sekali ia khawatir dengan keadaan putrinya. Sarah hanya mengangguk lesu. Aku mendekatinya yang sedang duduk di kursi meja makan dan bolak-balik menggosokkan tubuhku di kakinya. "Miaw." Sarah melongok ke bawah. Ia mengangkat tubuhku dalam pangkuannya. "Kau lapar, Misty?" Ia mengelus punggung dan menggelitik leherku. "Dad, bisa bantu aku menyiapkan makanan Misty? Oh, tidak, Dad. Misty sekarang tidak suka makanan kaleng, entah kenapa. Kata Mommy mungkin dia bosan." Ben tampak mendengkus lalu menaruh kembali makanan kaleng yang sudah terlanjur diambilnya ke dalam rak. Lelaki itu melirikku sekilas, tampak kesal. "Jadi apa sekarang makanan kesukaan kucing ini? Salmon Sushi atau Beef Wellington?" Sarah mengabaikan sindiran ayahnya. "Tolong gorengkan saja beberapa nugget dan sosis, Dad. Misty lebih suka makanan seperti itu sekarang." Ben tampak menggerutu walau akhirnya melakukan juga permintaan putrinya. Terdengar ia berdecak kesal dengan wajah merengut. "Kucing aneh." "Lepaskan kucing itu, Sarah! Bulunya yang beterbangan akan membuatmu makin sakit." Ben memperingati putrinya. Aku mendelik pada pria tua itu. Sebenarnya ada masalah apa ia dengan bulu kucing. Toh, hal itu tidak akan membunuhnya. Terdengar suara mobil berhenti di depan rumah. Suara deru mesin mobil itu sangat khas, rasanya aku mengenalinya. Aku segera melompat dari pangkuan Sarah dan berlari keluar rumah. Helen tampak keluar dari mobil jeep berwarna hijau tua. Itu mobilku! Bagaimana caranya bisa sampai ada di sini? Pertanyaanku terjawab saat sesosok lelaki bertubuh tinggi kurus dan berambut merah keluar dari sisi pengemudi. Oh, Paul rupanya! Helen dan Paul berjalan beriringan memasuki rumah. Aku mengekor di belakang mereka. Aneh rasanya melihat temanku itu dalam kondisiku sekarang ini. Kami berteman cukup dekat, walau belum bisa dibilang sahabat. Paul sesekali ke rumah mengunjungi studio kecilku jika ingin meminjam beberapa koleksi kaset dan CD untuk referensi ia bermain musik. Lelaki yang berusia dua tahun di bawahku itu berwatak pendiam. Ia cenderung bicara dalam kalimat-kalimat pendek. Berbeda denganku yang banyak bicara, hmm mungkin terlalu banyak. Ibuku pernah berkata, "Kau terlalu banyak berbicara dibandingkan para pria lainnya, Dev. Sesekali berhentilah mengemukakan apa yang terlintas dalam pikiranmu." Lanjut tentang Paul, terkadang aku seperti kehabisan topik pembicaraan saat kami hanya mengobrol berdua saja. Saat itulah suasana akan berubah menjadi canggung dan aku tidak menyukai hal itu. Come on, Man! Pria punya begitu banyak hal untuk diperbincangkan. Tentang wanita misalnya. Namun, hal itu tidak berlaku untuk Paul. Selama dua tahun terakhir kami bekerja sama, belum pernah kulihat ia menggandeng atau mendekati seorang gadis. Terkadang aku curiga kalau ia sama sekali tidak menyukai perempuan. "Oh, hai, Paul! Bagaimana kabarmu?" Ben muncul dari ruang tengah untuk menyambut Paul. Wajahnya yang biasanya kecut tampak menyunggingkan senyum. Ia lalu mengisyaratkan Paul untuk duduk. Aku sedikit heran. Dari gerak-geriknya, sepertinya Ben sudah kenal dengan Paul. Di mana mereka bertemu sebelumnya? "Paul tadi berkunjung ke rumah sakit. Tadinya dia ingin menjenguk sekaligus mengembalikan mobil Devon." Helen menjatuhkan dirinya di kursi lalu meregangkan kakinya. Wajahnya tampak lelah. "Oh, semalaman aku tidak bisa tidur. Sofa rumah sakit itu sangat keras. Pantas saja Sarah jatuh sakit jika kondisi yang dihadapinya seperti itu selama beberapa hari ini." Helen menguap lebar. "Bagaimana keadaan Sarah? Sudah baikan?" Paul bertanya pada Ben. Belum sempat lelaki tua itu menjawab, Sarah muncul dari ruang tengah. Ia telah mengganti piamanya dengan baju yang lebih sopan. "Hallo, Paul." Sarah menyapa lalu duduk di kursi di sebelah ayahnya. "Paul mengembalikan mobil Devon." Helen kembali mengulangi informasi, seakan kalimat itu telah terprogram di otaknya. Setelah berbincang basa-basi sejenak, Helen pamit untuk beristirahat, diikuti oleh Ben. Mereka meninggalkan Sarah dan Paul berdua di ruang tamu. Aku segera melompat ke pangkuan Sarah, hendak menyimak perbincangannya dengan Paul. Sarah mengelus punggungku dengan tatapan melamun. Sesaat suasana hening, membuat Paul yang biasanya ahli dalam menciptakan kesunyian menjadi salah tingkah. "Terima kasih sudah repot-repot mengantarkan mobil milik Devon, Paul." Sarah memecahkan keheningan. Paul mengangguk, kedua telapak tangannya tampak menepuk-nepuk paha dengan gelisah. "Tidak masalah, Sarah. Aku senang bisa membantu. Devon adalah temanku. Dia juga sudah cukup lama menjadi patnerku dalam bermusik. Aku senang bisa membantunya. Bagaimana keadaan Devon sekarang? Ada perkembangan?" Aku terkesima. Seorang Paul yang biasanya hemat berbicara bisa mengucapkan kalimat-kalimat panjang seperti itu. "Entahlah, terakhir kemarin saat aku menjaganya ia masih terlihat sama. Kurasa hari ini begitu juga. Mommy tidak menceritakan sesuatu yang istimewa tadi, bukan?" Paul mengangguk-angguk dengan irama tak teratur. Gerakan kepalanya mengingatkanku akan hiasan boneka anjing yang terpasang di dashboard mobilku. Kepala anjing itu akan mengangguk-angguk liar tak terkendali saat mobil terkena goncangan. "Menurut dokter, apa ada kemungkinan dia untuk sadar kembali?" Paul kembali membuka mulut. Hei! Pertanyaan macam apa itu, Sobat? "Kemungkinan itu masih ada. Kata dokter, terlalu dini untuk menyimpulkan sekarang. Devon masih harus terus menjalani beberapa test lagi." Paul menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. "Aku harap dia cepat sadar kembali. Aku tidak ingin melihatmu sedih terus-terusan, Sarah. Sekarang ceritakan bagaimana keadaanmu?" Telingaku tegak seketika mendengar nada suara temanku itu. Apakah aku menangkap ada semacam unsur perhatian yang berlebihan di situ? Seorang Paul? Oh, ayolah! "Aku baik-baik saja, Paul. Hari ini aku akan kembali berjaga di rumah sakit. Kurasa tubuhku hanya perlu membiasakan diri. Aku yakin aku akan kuat. Untuk Devon." Sarah menegakkan bahunya. Mereka berbincang selama beberapa menit. Paul akhirnya pamit setelah taksi yang telah ia pesan sebelumnya datang. Sarah melepas kepergian lelaki itu hingga ambang pintu. Sesaat setelah melambaikan tangan, Paul tiba-tiba membalikkan tubuhnya. "Kau bisa menghubungi aku kapan saja, Sarah. Kalau kau butuh bantuan, tinggal telpon aku, jangan sungkan. Oh, ya, tetap jaga kesehatanmu." Paul menatap Sarah cukup lama. Pipinya kemudian terlihat memerah hampir menyamai warna rambutnya. Ia kemudian bergegas menghampiri taksi yang sudah menunggu di depan rumah. Aku yang berdiri di samping Sarah mengamati reaksi istriku itu. Ia tampak biasa saja. Pandangannya justru terlihat tidak fokus dengan posisi wajah sedikit mendongak. Sesaat kemudian ia menggosok-gosok hidungnya berulang kali. Tak lama sesudah itu .... Huaachimm! Sebuah bersin raksasa yang berasal dari Sarah membuatku melompat tinggi menggunakan keempat kakiku. "Ohh, syukurlah Paul akhirnya pulang. Aku sudah lama menahan bersin ini sedari tadi. Kau kaget, Misty? Maafkan aku. Ayo kita ke dapur. Makananmu mungkin sudah dingin sekarang." Sarah lalu menggendongku menuju dapur. Setelah sarapan dan meminum obatnya, Sarah kembali beristirahat di kamar. Aku ikut menemaninya. Seandainya bisa berbicara dengan normal, aku akan melarang Sarah untuk kembali ke rumah sakit. Namun, apa daya, aku hanya bisa meratapi nasib. Sampai kapan aku akan seperti ini? Apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkan tubuhku kembali? Ayolah, Devon. Berpikirlah dengan keras! Sarah bangun menjelang sore dan langsung bersiap menuju rumah sakit walaupun kedua orang tuanya melarang. Sarah beralasan ia sudah sembuh dan dengan keras kepala tetap pergi. "Aku tidak akan bisa tenang di rumah tanpa tahu bagaimana keadaan Devon dan melihatnya secara langsung. Tenang saja, Mom, Dad. Aku akan baik-baik saja." Kedua mertuaku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Mereka tahu, jika Sarah sudah berkata seperti itu, maka tidak ada seorang pun yang bisa mengubah keputusannya. Sarah berangkat ke rumah sakit menggunakan jeep hijau kebanggaanku. Jeep itu kubeli dengan susah payah setelah menabung bertahun-tahun. Aku merasa begitu tampan dan maskulin saat mengendarainya. Saat turun dari kendaraan itu, tidak sedikit kudapatkan pandangan kagum dari para gadis. Ahh, begitu menyenangkan masa-masa itu. "Kenapa kau tidak menggunakan mobilmu seperti biasanya, Sarah?" Ben mengajukan protes saat putrinya hendak masuk ke dalam jeep. "Aku nanti akan bercerita pada Devon bahwa mobil kesayangannya sudah kembali dan aku mengendarai mobil itu untuknya. Dia pasti senang, Dad." Sarah menutup pintu pengemudi lalu melemparkan ciuman jauh pada ayahnya. Aku yang berdiri di samping Ben mencelos mendengar ucapannya. Ah, Sarah, kenapa kau begitu manis? Kau selalu memikirkan perasaanku. Sementara barusan tadi aku sempat-sempatnya mengenang masa-masa saat aku menjadi lelaki b******k yang haus perhatian wanita. Ben mengawasi sampai akhirnya mobil yang dikendarai Sarah lenyap dari pandangan. Lelaki tua itu masih berdiri di tempatnya. Ia terlihat melamun. Sesaat kemudian ia menarik napas panjang lalu mengembuskannya dengan keras. "Ahh, putriku. Sungguh malang nasibmu harus bersuamikan pria b******k!" Ia berucap sambil mengepalkan jemari tangannya. Apa maksudmu, Ben? Aku mendongak menatap lelaki itu dengan perasaan tidak senang. Ben yang berdiri di sampingku juga tiba-tiba melihat ke arahku. Wajahnya langsung berubah menjadi kesal. "Apa yang kau lakukan di sini kucing sialan! Pergi dari sini! Hush hush!" Ben menepuk kedua tangannya dengan keras sebagai tanda untuk mengusirku. Aku pun lari tunggang langgang menuju rerumputan menjauh darinya. Pria tua k*****t! Aku memaki dalam hati. Aku kemudian jadi bertanya-tanya, apa saja yang sudah diketahui oleh Ben tentang diriku. Kenapa di saat aku tertimpa musibah ia tidak sedikit pun menunjukkan rasa simpatinya. Ah, buat apa kupikirkan hal itu. Sarah tetap mencintaiku saja, itu lebih penting dari segalanya. Aku berbaring di bagian rerumputan yang teduh dan mulai terkantuk-kantuk oleh angin yang bertiup sepoi-sepoi. Tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang mengawasiku. Mungkin ini adalah insting hewani dari Misty yang masih tetap melekat walau tubuhnya telah kutempati. Aku menegakkan wajah dan mengawasi sekitar. Sebuah kepala berbulu berwarna oranye muncul dari balik tembok pagar. Sepertinya makhluk itu telah lama mengawasiku dari situ. "Hallo, Manis! Boleh aku berkenalan denganmu?" Sebuah suara serak menyapa. Makhluk itu akhirnya menampakkan wujudnya secara keseluruhan. Ternyata ia adalah kucing berbulu oranye dan bertubuh besar, terutama bagian kepalanya. Matanya yang berwarna kuning terang tampak mengedip-ngedip dengan genit. What the hell! Aku langsung berdiri dan berlari kocar-kacir masuk ke dalam rumah melewati teralis jendela. Jantungku serasa hendak lepas. Aku kemudian mengintip dari balik gorden dengan detak jantung yang belum normal sepenuhnya. Kucing besar itu masih ada di tempatnya. Ia tampak mengendus-endus di sekitar tempat aku berbaring tadi. Tanpa diduga ia tiba-tiba mengangkat sebelah kaki belakangnya dan menyemprotkan air seninya ke permukaan rumput, kemudian beranjak pergi dengan wajah tanpa dosa. Sialan! Dari mana kucing jantan itu berasal!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD