Semalam tidurku tidak nyenyak. Berkali-kali terbangun oleh mimpi buruk, tapi aku tidak ingat mimpi apa persisnya. Sepanjang malam kuhabiskan dengan melamun. Perkataan Ben mengenai diriku masih terngiang-ngiang. Sebrengsek itukah aku? Bisa jadi benar. Namun, mendengarnya langsung dari mulut seseorang ternyata sangat menyakitkan.
Aku berguling kian kemari berganti posisi. Ranjang ini sekarang terasa jauh lebih luas, tetapi kosong dan dingin. Padahal biasanya aku memang terbiasa tidur sendiri. Jam kerjaku dengan Sarah yang bertolak belakang membuat kami jarang tidur bersama. Aku berangkat ke Harley's saat sore hari dan pulang dini hari. Sarah mulai bekerja sebagai guru TK pada pagi hari saat aku masih tidur, lalu siangnya menuju panti jompo untuk merawat para lansia di sana hingga sore hari.
Setelah tiga tahun lamanya, kami seolah menjadi terbiasa dengan rutinitas seperti itu. Sarah tidak pernah komplain atau memintaku mencari pekerjaan lain. Ia tahu aku sangat mencintai pekerjaanku yang mungkin bagi sebagian orang terlihat remeh. Namun, bagiku musik sudah menjadi bagian dari hidupku. Sejak cita-citaku menjadi penyanyi terkenal kandas, aku menurunkan standar hingga menjadi seorang penyanyi di sebuah pub dengan pertunjukan live music-nya.
Pekerjaanku itu juga menjadi salah satu alasan utama Ben tidak menyetujui hubunganku dengan putrinya. Seorang seniman sepertiku bagi Ben adalah manusia b******k yang tidak punya tujuan hidup jelas. Ia ingin putrinya mendapat pasangan yang stabil dalam segala hal. Namun, sekali lagi, Sarah tetap bersikeras dengan pilihannya, yaitu aku.
Sarah walaupun terlihat lemah lembut dari luar, tetapi mempunyai keteguhan hati yang tidak bisa disanggah oleh siapapun. Aku ingat saat aku hampir menyerah karena hubungan kami terus-terusan mendapat tentangan dari Ben, ia berkata sambil menatapku dalam-dalam.
"Aku mencintaimu, Dev. Aku tidak perlu ayahku untuk terus mencintaimu. Cukup hanya kau. Aku hanya butuh kau ...."
Mengingat masa itu, hatiku mendadak terasa nyeri. Segala pengorbanan dan perjuangan yang sudah ia berikan padaku terasa sia-sia karena kubalas dengan pengkhianatan.
Walaupun Sarah tidak begitu cantik, tetapi ia punya aura tersendiri yang membuatnya terlihat menarik di mata pria. Setahuku saat kami menjalin hubungan, ada beberapa pria lain yang mencoba mendekatinya. Namun, entah mengapa setelah kami menikah aku merasakan pesonanya makin berkurang. Terkadang aku membandingkan fisiknya dengan gadis-gadis yang kutemui di luar sana dan sering menyuruhnya untuk berdiet.
"Misty!"
Aku mendengar suara Sarah memanggil dari luar, ternyata ia sudah pulang dari rumah sakit. Aku melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Aku meregangkan tubuh sambil menguap, lalu melompat turun dan keluar dari kamar. Sarah sudah menungguku dengan sesuatu di kedua tangannya. Sampo dan hairdryer. Ohh, tidak!
"Jadwalmu untuk mandi, Misty."
"Miaw miaw." Tidak! Aku tidak mau!
Aku berbalik badan hendak kembali masuk ke kamar, tapi Sarah terlebih dahulu mencengkeram tubuhku dan menggendongnya.
"Mau ke mana, Misty? Biasanya kau paling suka mandi. Lihatlah, bulu-bulumu sudah menggumpal. Seharusnya jadwal mandimu beberapa hari yang lalu. Ya, tapi aku terlalu sibuk. Maafkan aku .... " Ada kesedihan dalam suaranya. Aku pun hanya bisa pasrah sekiranya hal itu bisa membuat ia senang.
Sarah menurunkanku di wastafel yang ada di dapur. Ia mulai mengguyur tubuhku perlahan. Oh, Sarah! Apa tidak ada air hangat untukku? Aku hanya bisa diam membeku. Saat menjadi manusia pun aku malas mandi, apalagi sekarang berwujud kucing.
Sarah menggosok buluku dengan sampo beraroma wangi, lalu membilasnya hingga bersih. Tubuhku terasa menggigil kedinginan. Sudahi cepat penyiksaan ini, Sarah!
"Done!" Ia berseru riang. Membungkus tubuhku dengan handuk dan menggosoknya berkali-kali. Sarah lalu mulai menghidupkan hairdryer dan mengeringkan bulu-buluku. Sungguh tidak nyaman rasanya. Memang beginikah menjadi seekor kucing? Aku pernah melihat video kucing yang dimandikan dan reaksi kucing tersebut menggelepar-gelepar seakan telah dirasuki oleh roh jahat. Setelah mengalami sendiri, kurasa wajar saja kucing itu bereaksi demikian.
"Kau sudah cantik kembali." Sarah berkata sambil menyisir buluku.
"Sudah selesai mandinya?" Ben datang dengan wajah memberengut. "Jangan lupa singkirkan bulu-bulunya yang rontok itu, Sarah. Kalau tidak aku bisa bersin seharian."
"Bulu Misty tidak rontok, Dad." Sarah berkilah. "Oh, ya. Mommy ke mana?
"Helen sedang berkunjung ke rumah Mrs. Red. Mereka mau mempraktikkan resep entah apalah itu." Ben mengibaskan tangan. "Aku mau membicarakan sesuatu denganmu, Sarah." Lelaki itu duduk di kursi meja makan dengan wajah serius.
Sarah yang masih menyisir buluku menoleh ke arah Ben. Ia menyudahi proses penyisiran, menggendongku, lalu duduk di hadapan lelaki itu. Aku melihat ekspresi wajah istriku itu. Sorot matanya tampak penuh tanda tanya.
"Aku sudah lama ingin menanyakan ini padamu. Bagaimana hubunganmu dengan suamimu? Apa kau bahagia menikah dengannya?" Ben bertanya tanpa basa-basi.
Sarah terdiam. Aku pun jadi berdebar-debar menunggu jawabannya. Setelah menghela napas sejenak, akhirnya ia pun menjawab. "Aku bahagia, Dad. Pernikahan kami memang tidak sempurna. Dev juga bukan pria sempurna. Tapi bagiku, selama ini dia sudah berusaha sekeras mungkin untuk membuatku bahagia. Dia pria yang bertanggung jawab."
Aku merasa tersindir. Aku tidak sebaik yang dikatakan Sarah pada ayahnya. Sarah sepertinya sebisa mungkin menyembunyikan kejelekanku pada lelaki itu.
"Lalu kenapa kalian tidak kunjung memiliki anak?"
"Ohh, hmm ... mengenai itu, hmm, mungkin memang belum saatnya kami diberi kepercayaan untuk memiliki anak, Dad." Sarah berdeham. Kegugupannya sangat kentara saat ia mengeratkan pelukannya pada tubuhku.
"Kau yakin? Apa bukan karena lelaki itu belum siap untuk menjadi seorang ayah, sehingga memintamu untuk tidak hamil?"
"Sudahlah, Dad. Dev tidak seburuk itu. Cobalah untuk berpikir sedikit positif tentang dia."
Ben mendengkus keras. "Sarah, seorang ayah punya intuisi tersendiri untuk mengetahui seberapa b******k pasangan hidup putrinya. Aku bisa mengatakan bahwa suamimu itu memiliki kadar kebrengsekan yang sangat tinggi."
"Dev tidak seperti itu, Dad," jawab Sarah lirih.
"Bagaimana kau tahu? Kau tidak sepanjang hari mengikuti dia, bukan? Sarah, mungkin bagimu sekarang bukan waktu yang tepat untuk membicarakan hal ini. Tapi bagiku masalah yang terjadi antara kau dan suamimu tidak bisa dibiarkan berlarut-larut."
Sarah terdengar menghela napas. "Masalah apa yang Daddy maksud? Rasanya aku dan Devon tidak punya masalah apa pun."
Ben mengusap rambutnya yang tinggal separuh, wajahnya terlihat gemas.
"Berhenti membohongi perasaanmu. Kau pasti tahu apa yang aku maksud, Sarah."
"Tidak, Dad. Aku tidak mengerti apa yang Daddy maksud. Aku dan Devon yang menjalani pernikahan ini. Selain kami berdua, tidak ada yang lebih tahu persis apa yang terjadi." Sarah mulai menunjukkan sifat keras kepalanya.
Lelaki tua itu berdecak kesal. Sesaat mulutnya bergerak-gerak seakan hendak mengatakan sesuatu. Namun, ia akhirnya mengangkat bahunya yang berlemak tebal sambil menghela napas panjang. Ben lalu meninggalkan meja makan dan masuk ke kamarnya. Kulihat Sarah mengusap air matanya.
Aku merasa panas dingin dalam pelukan Sarah. Berpikir keras bagaimana Ben bisa menebak dengan benar mengenai menunda kehamilan. Benarkah ia menebak? Atau ada seseorang yang membocorkan hal itu padanya. Siapa? Seingatku aku tidak pernah membahas hal itu dengan orang lain. Apakah Sarah pernah membicarakan hal itu dengan ibunya?
Aku memang meminta Sarah untuk menunda kehamilannya. Aku beralasan kami belum siap secara finansial dan berjanji padanya untuk mencari pekerjaan di tempat lain dengan gaji yang lebih besar. Namun, nyatanya aku masih setia di Harley's.
"Punya anak itu butuh biaya besar, Sarah. Rasanya kita belum sanggup. Untuk membayar hipotek dan tagihan lainnya sudah cukup memusingkan."
Sarah hanya mengangguk. Sejak saat itu kami tidak pernah lagi membahas tentang hal itu. Oh, pernah sekali saat Sarah menjawab ketika aku menyuruhnya berdiet.
"Aku makin gemuk karena efek dari pil KB itu, Dev."
Aku terdiam mendengar jawabannya. Menyuruhnya menghentikan mengkonsumsi pil itu sama saja dengan menyuruhnya untuk hamil.
Aku belum siap untuk menerima seorang bayi dalam kehidupanku. Aku masih ingin bersenang-senang menikmati hidup. Seorang bayi hanya akan menghambatku untuk melakukan hal-hal yang aku sukai. Menjadi seorang ayah adalah hal tersulit di dunia bagiku. Ada ketakutan tersendiri jika nanti aku akan menjadi ayah yang buruk dan membuat anakku membenciku.
Aku punya pengalaman akan hal itu. Ayahku sendiri adalah contohnya. Ia lelaki yang jahat. Sering memukuliku, juga ibuku. Satu kali pun aku tidak pernah merasakan bagaimana kasih sayang seorang ayah. Saat ia meninggal ketika aku berumur 13 tahun, aku sama sekali tidak menangis atau merasa kehilangan. Justru aku merasa lega.
"Sarah, mommy datang!" Suara Helen yang ceria datang dari arah pintu depan. Tak lama ia muncul di dapur sambil membawa piring kertas yang ternyata berisi cake cokelat.
"Rosie tadi mengajariku cara membuat kue cokelat ini. Rasanya sungguh berbeda dengan resepku yang biasanya. Cobalah." Helen meletakkan piring kertas itu di atas meja makan.
Rosie adalah nama gadis Mrs. Red. Umur mereka tidak berbeda jauh, sehingga bukan hal sulit bagi mereka untuk dekat.
Aku melompat dari pangkuan Sarah ke atas meja, lalu mengendus kue cokelat itu. Dari baunya memang kelihatan sangat enak.
"Kenapa Misty sekarang sedikit berbeda, ya, Mom?" Sarah berkata sambil memandangku dengan tatapan menyelidik.
"Miaw." Aku mencoba memasang wajah polos seekor kucing dengan hati was-was.
"Maksudmu? Hmm, dia terlihat sama bagiku. Yah, mungkin sekarang dia jadi sedikit lebih acuh dari biasanya." Helen juga ikutan menatapku dengan seksama.
"Entahlah. Dia tidak lagi mau menyentuh makanannya seperti biasa. Pilihan makanannya jadi berubah."
"Mungkin dia hanya bosan, Sarah. Hal itu wajar saja kurasa." Helen memberiku sepotong kue cokelat yang langsung kusantap dengan lahap.
"Biasanya dia tidak mau kue cokelat. Devon suka kue cokelat." Suara Sarah tampak seperti melamun saat mengucapkan hal itu.
Aku hampir tersedak mendengarnya. Untunglah Helen langsung menanyakan bagaimana perkembangan selama di rumah sakit. Helen selalu memberikan perhatian semacam itu. Aku lega setidaknya Sarah mempunyai seseorang untuk berkeluh kesah. Ben? Seingatku dia tidak pernah sekalipun menanyakan bagaimana keadaanku.
"Kemarin Paul datang berkunjung ke rumah sakit. Ia minta maaf baru bisa menjenguk Devon karena harus bermain musik tanpa patner seperti biasanya. Baru kemarin Harley's mendapatkan anak baru untuk mengisi posisi Devon." Sarah bercerita sambil mencuil kue cokelat itu menggunakan sendok, mengendusnya, lalu meletakkannya kembali.
Jadi sudah ada yang menggantikan posisiku? Ternyata begitu gampangnya mereka melupakanku. Tidak bisakah mereka bersabar barang sebentar, 30 hari misalnya. Yah, begitulah hidup. Kau bisa bersinar hari ini, lalu keesokan harinya cahayamu meredup, bahkan mati.
Sia-sia rasanya bagiku selama beberapa tahun ini bertahan di sana. Aku merasa dikhianati, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah itu semua.
Sarah pamit pada ibunya untuk beristirahat sebentar di kamar sebelum pergi lagi ke rumah sakit. Aku mengikutinya dan ikut masuk ke dalam selimut bersamanya. Badannya terasa lebih hangat dari biasanya. Sarah membelai kepalaku dengan lembut. Ia berbisik, "Misty, aku merindukannya." Tak lama matanya mulai redup, lalu menutup.
"Aku juga merindukanmu, Sarah."
Sarah tidur dengan gelisah. Beberapa kali dia mengerang dalam tidurnya. Aku kira dia bermimpi buruk. Hatiku sedih saat tiba-tiba dia menggigau, "Dev ... kenapa harus seperti ini? Jangan tinggalkan aku."
Aku makin mendekatkan tubuhku padanya. "Sarah, aku di sini. Aku selalu ada di dekatmu. Maafkan aku, Sarah. Maafkan aku ...."