Aku Adalah Kucing

1610 Words
Pagi ini, aku menunggu kedatangan Sarah sambil duduk di teras menikmati matahari musim panas. Kemarin Helen tidak ikut menemani Sarah menginap di rumah sakit. Ia hanya menemani hingga sore hari, lalu pulang ke rumah. Aku maklum, pasti ia merasa letih setelah menempuh perjalanan jauh ke tempat kami. Mereka tinggal di pinggiran kota Memphis, sekitar empat jam lebih perjalanan mengendarai mobil menuju Nashville tempat aku dan Sarah tinggal. Ben, si tua bangka terus-terusan mengeluh pinggangnya sakit. Ia tak hentinya mengomentari tentang kecelakaan yang aku alami. Malam itu mereka sedang duduk berselonjor di karpet depan televisi. Helen sibuk memijat punggung suaminya yang rewel seperti balita. "Sudah kuduga dia hanya akan menimbulkan masalah pada keluarga kita. Lelaki itu b******n tengik, aku sudah tahu itu. Aku tidak pernah setuju dari awal, tapi kau malah menyetujuinya, Helen!" Ia menyalahkan istrinya atas peristiwa tiga tahun yang lalu saat aku dan Sarah menikah. Helen hanya terlihat menghela napas panjang. Merasa di atas angin, Ben makin menjadi-jadi. "Kau pikir aku tidak tahu bagaimana kelakuannya di tempat kerjanya yang bernama Harley's itu. Aku tahu semuanya! Mabuk-mabukan, main perempuan. Musisi berkelas katanya, non sense! Musisi kacangan!" Ben menggebrak lantai. "Sudahlah, Ben. Tak ada gunanya kau marah-marah seperti itu. Semua sudah terjadi. Lagipula, itu semua hanya dugaanmu. Kau tidak menyaksikan langsung, bukan? Sekarang Sarah sedang butuh dukungan kita." Lelaki tua itu langsung terdiam, mulutnya tampak mengerucut seperti bibir ikan pari. Aku yang saat itu sedang tiduran di kasur kecil yang biasa ditempati Misty, menjadi terbakar emosi. Walaupun memang mengakui dalam hati bahwa semua omongan Ben itu benar adanya. Tanpa kusadari aku mengeluarkan semacam geraman yang biasanya terjadi saat seekor kucing sedang marah. Ben langsung menoleh ke arahku. Ia menyipitkan matanya. "Kenapa kucing bodoh ini menatapku seperti itu? Helen ... apa kucing ini punya penyakit rabies? Kenapa dia tiba-tiba menggeram seperti itu? Ekornya juga jadi mekar seperti itu, kenapa?" Helen menatapku dengan heran. "Misty biasanya bersikap manis. Entah kenapa dia menjadi seperti ini. Mungkin karena dia sedang menginjak remaja, Ben. Emosinya sedang labil." Helen membuat diagnosanya sendiri. "Aku tidak pernah menyukai kucing." Ben bangkit dari lantai dengan susah payah karena perutnya yang buncit, lalu masuk ke kamarnya. Helen membuatkanku makan malam daging rebus yang dicincang halus. Mungkin Sarah sudah berpesan sebelumnya. Ketika Helen juga ikut masuk ke kamar untuk tidur, aku sendirian di ruang tengah. Malam itu, rasa sepi membuat dadaku sesak. Aku merindukan tubuhku, merindukan Harley's, suaraku, denting pianoku. Terutama... aku merindukan istriku. Sarah akhirnya pulang ke rumah pukul sembilan pagi dan langsung aku sambut dengan bahagia. Aku melompat dari kursi dan menunggunya turun dari mobil. Sarah menggendongku masuk ke dalam sambil tak lepas-lepas menciumiku. "Kau merindukanku, Misty?" "Miaw." Aku sangat merindukanmu, Sarah. "Bagaimana kondisi, Dev?" Helen bertanya saat melihat putrinya sudah pulang. Sarah menurunkan tubuhku di atas sofa. Sarah menggeleng lesu. "Masih belum sadar, Mom. Kata dokter kondisinya sudah stabil, hanya menunggu kapan dia sadar, tapi sampai sekarang belum juga." Helen memeluk putrinya dan menuntunnya masuk ke kamar. Aku mengikuti mereka hanya sampai di depan pintu. Rasanya sungkan ikut bergabung dengan adanya Helen di situ. Kulihat mereka duduk di atas ranjang sambil berbisik-bisik. Sarah sesekali menyeka air matanya. Aku tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Apakah Sarah sedang bercerita mengenai aku? Tentang apa? Apa ia sudah tahu tentang perselingkuhanku? Oh, jangan sampai! Aku kembali menuju teras, berharap menghirup udara segar akan meredakan kecemasanku. Di luar aku melihat Ben sedang mengobrol dengan tetangga sebelah rumah. Tadi pagi-pagi sekali kudengar ia berpamitan pada Helen untuk berolahraga ringan. Mungkin maksudnya jalan santai keliling perumahan, lalu mengakhirinya dengan bergosip antar tetangga. Mr. Red, tetanggaku itu adalah versi lain dari Ben. Mereka sungguh mirip satu sama lain, yaitu sama-sama pemarah. Kesamaan lainnya, mereka berdua membenci aku dan Misty. Mereka berdua juga sama-sama bertubuh tambun. Bedanya hanya satu, Mr. Red berkepala botak, sedangkan Ben masih mempunyai sisa rambut yang menyebar tak tentu arah membentuk koloni masing-masing. Aku sebenarnya juga tidak menyukai kucing betina berbulu hitam itu, tapi karena Sarah begitu menyayanginya, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Misty pun juga kurasa tidak menyukaiku. Aku sering mendapatinya tengah memandangiku dengan tatapan tajam menusuk. Terkadang aku berpikir bahwa kucing itu bisa menilai sifat manusia, terutama sifat buruk. Apalagi ada mitos tentang kucing hitam yang katanya mempunyai kekuatan mistis. Ben masih terlihat asyik bercerita di antara pagar pembatas rumahku dengan Mr. Red. Sebenarnya bukan pagar dalam artian sebenarnya. Itu hanyalah semacam tumbuhan yang ditanam Mr. Red dengan telaten di sepanjang garis batas rumah kami hingga menyerupai pagar hidup. Mr. Red berbicara berapi-api dengan gunting di tangannya. Sesaat aku berharap gunting itu akan terbang menancap di leher Ben. Aku tertawa terbahak-bahak di dalam hati saat membayangkan hal itu. Seperti tahu apa yang ada dalam pikiranku, kedua lelaki tua itu serempak menoleh ke arahku dan menatap dengan tajam. Aku mundur teratur dari teras dan memilih untuk duduk di rerumputan menjauh dari mereka. Pekarangan rumahku sungguh kontras dengan pekarangan milik Mr. Red. Lelaki tua itu memiliki pekarangan yang ditumbuhi macam-macam bunga. Masa tuanya benar-benar ia dedikasikan untuk merawat halaman rumahnya. Aku ingat pertama kalinya ia mulai membenciku. Saat itu aku berniat untuk mencuri ... hmm, lebih tepatnya ingin mengagumi sekaligus memetik bunga mawarnya yang sedang mekar. Aku yang hendak menuju Harley's, mengambil gunting dari bagasi mobil. Setelah meyakini bahwa Mr. Red tidak ada di sekitar situ, aku meraih tangkai mawar dan bersiap melancarkan aksi. Aku ingin menghadiahi mawar berwarna merah muda itu pada Jane, gadis bartender cantik yang baru bekerja di Harley's. "Apa yang kau lakukan, Dev!" Kepala Mr. Red yang botak mengkilap tiba-tiba muncul dari balik pintu rumahnya. Aku kelabakan dan berusaha menyembunyikan gunting di balik punggungku. "Ti-tidak ada apa-apa, Mr. Red. Bunga mawarmu sangat indah. Aku hanya mengaguminya ... sungguh indah!" Aku berjalan cepat menuju mobilku dan segera tancap gas dari situ. Sejak saat itu Mr. Red selalu menatapku penuh curiga. Jika aku ingin mendekatinya untuk mengobrol, wajahnya seakan ingin mengatakan, pergilah kau b*****h! Jangan dekati bungaku! Mrs. Red tampak keluar dari rumah membawa dua gelas besar es limun. Aku menyukai wanita itu. Wajahnya yang manis dan rambutnya yang keperakan mengingatkanku pada ibuku yang sudah meninggal dunia. Mrs. Red menyodorkan minuman pada dua lelaki tua itu, lalu ikut mengobrol. Sampai akhirnya pandangannya tertuju padaku yang sedang meringkuk di atas rumput. "Misty! Apa yang kau lakukan di sana? Kemarilah, Manis!" Mrs. Red menggilai Misty, walaupun suaminya membenci kucing itu. Ia berbelok melintasi pagar dan akhirnya masuk ke pekarangan rumahku. "Kemarilah, Manis!" Ia melangkah di atas rerumputan, lalu meraih tubuhku. "Ayo kita ke rumahku, aku sudah rindu sekali padamu. Kau sudah beberapa hari ini tidak kelihatan. Sarah mengurungmu di rumah, ya? Kasihan sekali." Mrs. Red tidak mengacuhkan tatapan dua orang pria pembenci Misty saat ia masuk ke rumah sambil menggendongku. Wanita itu membawaku ke dapurnya yang tertata rapi dan sangat-sangat bersih. Ia lalu memberiku sepotong bacon asap. Sekarang aku mengerti kenapa Misty betah berlama-lama di sini. Sarah sampai merasa cemburu saat Misty tidak kunjung pulang dari rumah Mrs. Red. Ternyata Misty sangat dimanja oleh wanita tua ini. Setelah merasa kenyang, aku memutuskan untuk pulang. "Miaw." Terima kasih, Mrs. Red. Mrs. Red menepuk-nepuk mukaku yang gemuk dengan gemas, lalu mengantarku sampai di depan pintu. Ben sudah tidak kelihatan lagi di luar, sementara Mr. Red melanjutkan kegiatan berkebunnya yang tertunda karena bergosip bersama Ben tadi. Aku melewatinya diam-diam tanpa mengeluarkan suara karena takut melihat gunting besar yang ada di tangannya. Aku menyelinap masuk dari jendela karena pintu rumah sudah tertutup rapat. Hari sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Ben sedang duduk di sofa bersama Helen menonton saluran gosip selebritis. Episode kali itu membahas tentang dugaan operasi b****g raksasa yang dilakukan oleh Niki Minaj. Aku tidak melihat Sarah, ke mana dia? Aku menyelipkan tubuhku di celah pintu kamar yang sedikit terbuka. Kamar itu tampak gelap karena gordennya tertutup rapat. Sarah terlihat meringkuk di atas ranjang beralaskan selimut. Aku melompat naik ke atas kasur dan mendekatinya. Istriku itu sedang tertidur lelap. Di pipinya masih ada sisa air mata yang hampir mengering. Gelombang perasaan sedih menimpaku saat melihat keadaannya. Pasti berat sekali untuknya menjalani semua ini. Aku merasa sangat bersalah. Seandainya waktu bisa diputar ulang .... Perlahan aku ikut masuk ke dalam selimut dan berbaring di sampingnya. Dari sini aku bisa melihat profil wajahnya dengan jelas. Pipinya tidak terlihat terlalu chubby seperti biasanya. Aku yakin ia kehilangan berat badannya selama tiga hari terakhir ini. Selain karena kurang nafsu makan, tidurnya juga pasti terganggu. Aku ikut terlelap bersamanya dan terbangun saat mendengar suara air dari dalam kamar mandi. Sarah pasti mau bersiap-siap berangkat ke rumah sakit. Perutku mendadak melilit. Aku melompat turun dari kasur dan berputar-putar panik di depan kamar mandi. "Miaw miaw miaw." Aku berharap Sarah mendengarkan rintihanku dan secepatnya keluar dari kamar mandi. Tak lama kemudian, Sarah pun keluar dengan hanya mengenakan handuk. "Misty, ada apa denganmu? Kenapa kau berteriak-teriak?" Aku hendak menyerobot masuk ke dalam kamar mandi, tapi Sarah menghalangiku dengan kakinya. Sepertinya ia sudah tahu maksud tujuanku. "Stop! Buang air di tempat yang sudah aku sediakan, Misty! Atau aku akan menghukummu!" Sarah mengangkat tubuhku dan membawanya ke pojok kamar dekat jendela di mana kotak pasir itu berada. "Lakukan di situ!" perintahnya. Tidak punya pilihan lain, aku pun melangkah masuk ke kotak pasir itu. Rasanya geli saat butiran pasir itu mengenai keempat kakiku. Apalagi menyadari bahwa Sarah sedang mengamatiku. Malunya tak tertahankan! Aku memejamkan mata dan mensugesti diri bahwa aku memang seekor kucing. Aku adalah kucing, aku tidak punya rasa malu. Aku adalah kucing, buat apa merasa malu. Prott! Ahh, akhirnya keluar juga. Aku merasa lega dan keluar dari kotak segi empat itu. "Timbun kotoranmu, Misty!" Suara Sarah kembali memerintah. Aku langsung menunjukkan ketidakpekaan yang biasanya dimiliki seekor kucing dan melenggang keluar kamar. Aku adalah kucing. Aku adalah kucing nakal yang tidak sudi menimbun kotoranku sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD