Mertua? Mimpi buruk!

1718 Words
Sarah baru pulang ke rumah saat pagi hari. Wajahnya tampak lelah, tapi melihat dari raut mukanya, aku bisa menduga bahwa operasi berjalan dengan lancar. Buktinya aku masih di sini, kan? Belum ada Malaikat Maut yang datang menjemputku dari kemarin. Aku sedang berbaring di sofa saat dia datang. Sarah tidak menyapaku, tapi langsung masuk ke kamar. Mungkin ia benar-benar sangat kelelahan. Aku memutuskan untuk mengikutinya. Sarah melempar tas tangannya ke atas kasur, lalu mulai membuka pakaiannya. Kelihatannya ia bersiap untuk mandi. Aku memandangi tubuhnya yang polos dengan penuh hasrat. Ia lalu masuk ke kamar mandi, kemudian .... "Demi Tuhan! Misty apa-apaan ini!" Aku buru-buru turun dari ranjang, keluar dari kamar, dan memutuskan untuk kembali duduk di sofa sambil memasang muka tidak berdosa. Aku tahu persis penyebab kemarahannya itu. Kemarin sore, setelah bosan tidur seharian, aku merasakan ada panggilan alam yang mendesak. Aku tidak sudi jika harus buang air di kotak pasir yang sudah disediakan Sarah di dalam kamar. Aku akan tetap pada kebiasaanku selama ini. Harus ada batasan yang jelas antara aku dengan tubuh kucing yang hanya kutempati untuk sementara. Aku tetap manusia, walaupun berwujud kucing. Semacam itulah. Aku pun segera masuk ke kamar dan merasa bersyukur saat pintu kamar mandi tidak tertutup rapat. Sesaat aku bingung bagaimana cara membuang hajat layaknya seekor kucing. Aku takut kotoran akan mengenai bulu-bulu halus ini dan entah bagaimana nanti caraku membersihkannya. Menjilatinya? Tidak akan pernah aku lakukan walau kiamat sekalipun! Aku pun mengingat-ngingat cara bagaimana seekor kucing menuntaskan hajatnya secara efektif dan efisien. Oh, iya, pertama-pertama aku hanya perlu duduk bertumpu pada kedua kaki belakangku dan mengangkat p****t sedikit. Aku pun mengambil tempat di sudut kamar mandi, lalu mulai mempraktikkan cara itu. Berhasil! Percobaan pertama sukses. Aku bisa buang air kecil dengan lancar tanpa membasahi bulu di sekitar pantatku. Tiba-tiba keinginan untuk buang air besar juga muncul. Aku melompat ke atas toilet yang dudukannya terbuka lebar. Setelah mengamati, tidak mungkin rasanya aku bisa buang air besar di atasnya. Bagaimana jika nanti aku terpeleset dan satu kakiku terjebak di lobang toilet. Aku tidak akan bisa menelepon 911. Akhirnya aku memutuskan untuk buang air besar di tempat yang tadi. Setelah dua kali mengejan, kotoran itu keluar. Aku memutar tubuh dan mengamati onggokan berwarna kecokelatan itu. Menjijikkan! Aku bergidik ngeri. Baunya sungguh tidak tertahankan. Onggokan itulah yang ditemukan oleh Sarah dan membuatnya histeris. Semoga dia mau mengampuni kesalahan suaminya yang berwujud kucing ini. Sarah keluar dari kamar dengan mengenakan piyama dan handuk membungkus rambutnya. Tatapannya tajam langsung tertuju ke arahku. Aku pura-pura terbaring lemas berharap mendapatkan simpatinya. Sejujurnya tubuhku memang terasa lemah karena menahan lapar. Satu-satunya makanan yang masuk ke perutku hanya sepotong pizza pagi kemarin. Makanan lembek itu sama sekali tidak kusentuh. Aku lebih memilih mati kelaparan daripada harus memakannya. Hueek! "Misty, kenapa kau tidak buang air di kotak pasirmu seperti biasanya?" Sarah menegur sambil berjalan menuju dapur kami yang mungil. "Dan kau juga tidak menghabiskan makananmu. Apa yang terjadi denganmu, Sweetheart?" Suara Sarah terdengar khawatir. Ia kembali ke ruang tengah dan mendatangiku. "Apa kau sakit?" Sarah berjongkok di depan sofa dan mengelus tubuhku. Nada tulus dari suaranya membuatku tiba-tiba terharu. Istriku ini memang sangat penyayang dan baik hati. Misty memang benar, rasanya tidak pantas pria b******k sepertiku mendapatkannya. Sarah memang tidak begitu cantik. Ia juga sedikit kelebihan berat badan. Dulu, memang sifatnya yang baik hati inilah yang telah memikatku hingga memutuskan untuk menikahinya. Kami hanya beberapa bulan berpacaran setelah dikenalkan oleh seorang teman. Walaupun mendapat tentangan dari Ben, ayahnya yang galak, Sarah tidak peduli selama sang ibu berada di pihaknya. Helen, ibu Sarah juga memiliki hati yang baik seperti putrinya. Ia hanya ingin Sarah hidup bahagia. Jika menurutnya Sarah bisa bahagia hidup bersamaku, maka tidak ada alasan untuk menghalanginya. Selama ini Sarah tidak pernah tahu semua perbuatanku di belakangnya. Ia tidak tahu bahwa aku mulai sering berselingkuh setelah satu tahun pernikahan kami berlangsung. Bosan. Itu alasanku yang pertama. Aku merasa tidak ada lagi yang istimewa dalam pernikahan kami. Sarah tetap konsisten menjalankan perannya sebagai istri yang baik dan patuh. Namun, aku merasa semuanya berjalan hambar. Entah hanya aku yang merasakan hal itu. Alasan kedua, aku merasa ia semakin tidak menarik di mataku. Lingkup pekerjaanku yang sehari-hari banyak bertemu dengan gadis-gadis cantik membuatku makin terlena. Mereka menganggapku seorang musisi yang keren, sehingga begitu gampang bagiku memikat hati mereka. Para gadis yang kuajak berkencan bukannya tidak tahu kalau aku telah memiliki istri. Namun, sama sepertiku, mereka juga tidak peduli karena menganggap hubungan kami hanya untuk bersenang-senang. "Misty, ayolah, jangan lesu begitu. Jangan buat aku makin bersedih." Sarah kemudian menggendongku menuju dapur. Aku merebahkan kepalaku di dadanya yang empuk dan wangi. Tiba-tiba aku merasa sangat rindu padanya. "Kau ingin pizza seperti yang kemarin?" Tawaran dari Sarah sontak membuat kepalaku kembali tegak. "Miaw miaw." Sarah menciumiku dengan gemas, lalu menurunkanku di atas meja makan. Ia mengambil pizza beku dari freezer dan memanaskannya. "Kenapa selera makanmu jadi berubah, Misty? Kau juga jadi nakal. Kenapa buang air di kamar mandi? Biasanya kau tidak pernah seperti itu. Ingat, jangan diulangi lagi. Ayah dan ibuku akan datang siang ini. Jangan buat ayahku marah, oke?" Bunyi denting dari microwave menandakan pizza telah siap disantap. Sarah menaruhnya di piring dan meletakkan tepat di hadapanku. Aku mengendus dengan bersemangat. Meletakkan kaki depanku di permukaan pizza bersiap untuk menyantapnya. Aww, panas! "Sabar sedikit, Misty. Masih panas." Sarah duduk di kursi dan membantu memotong pizza itu menjadi bagian-bagian kecil. Perhatian seperti itu lagi-lagi membuatku terharu. Ahh, kenapa saat menjadi seekor kucing aku jadi melankolis begini? "Sarah, apa kau tidak ikut makan?" Aku mencoba memberikan perhatian padanya disela kesibukanku mengunyah pizza yang dalam sekejap hanya tinggal separuh. Sarah tersenyum, lalu mengusap kepalaku. "Kau betul-betul menyukai pizza, ya? Hmm, Dev juga sangat menyukainya." Ia mendesah, lalu mulai melamun. Aku menjadi tidak enak hati dan menghentikan makanku. Perutku tiba-tiba mendadak kenyang. "Miaw." Sarah kembali fokus ke arahku. "Kau sudah selesai makan? Kenapa tidak dihabiskan?" Aku melompat turun dari meja, kembali menuju sofa tempat favoritku. Aku melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Tinggal beberapa jam lagi sebelum mertuaku datang. Aku mendapat firasat kalau kedatangan mereka akan membuat hidupku makin sulit. Sarah mulai mondar-mandir membersihkan rumah. Saat menyapu hingga ke teras, kudengar ia berbincang dengan sepasang suami-istri tetangga sebelah rumah kami. Aku mendengar namaku disebut-sebut. Tak lama kemudian ia kembali masuk, lalu menghubungi rumah sakit untuk menanyakan keadaanku. Tepatnya keadaan tubuhku karena jiwaku ada di sini, di dekatnya. "Terima kasih, Mam. Saya titipkan suami saya pada Anda sebentar. Nanti sore saya akan kembali ke rumah sakit." Sarah lalu meletakkan telepon dan menghela napas panjang. Melihat Sarah sibuk berberes membuat mataku mendadak berat. Aku tidak tahu berapa lama aku tertidur sampai sebuah suara berat dan serak membangunkanku. "Kenapa kucing ini tidur di sofa? Bulunya akan menempel. Hush! Hush! Turun kau dari sana kucing!" Mimpi buruk pun dimulai! Aku melompat turun dari sofa sambil menggerutu. Mengambil tempat di sebelah televisi dan mengamati Ben dari situ. Lelaki tua itu kelihatan semakin gemuk. Perutnya yang buncit seakan hendak meledak dari belitan celananya yang ketat. Raut wajahnya masih sama. Masam. "Sudahlah, Honey. Jangan marah-marah terus." Helen mertuaku yang baik hati muncul dari kamar tamu. Sepertinya ia baru selesai memasukkan koper berisi barang bawaan mereka. Ia menemukanku yang sedang duduk di dekat televisi, lalu berteriak senang. "Misty! Aku rindu padamu, Cantik!" Ia menghampiri dan langsung menggendongku. Bibirnya yang berlipstik merah menyala ia sodorkan ke mukaku. Oh, cukup, Helen! Hubungan kita memang baik-baik saja, tapi tidak harus berlebihan seperti ini. Aku memberontak turun karena merasa risih. Helen tampak terluka dengan penolakanku. "Kenapa Misty tiba-tiba tidak mengenaliku?" ucapnya sedih. "Jangan dipikirkan kucing itu. Tolong hidupkan televisi, Helen. Aku mau menonton berita." Ben merebahkan tubuhnya di sofa setelah sebelumnya mengibas-ngibas permukaan sofa dengan gaya berlebihan. Sarah datang dari arah ruang depan. Sepertinya ia habis berbelanja. Ia menenteng sebuah kantung plastik dari minimarket di dekat tempat kami tinggal. "Mom, Dad, aku akan memasak makan siang." Ia langsung menuju dapur diikuti oleh Helen. Ben hanya mengangguk sambil matanya tidak lepas memandang televisi. Aku yang merasa terkucilkan memutuskan untuk keluar menuju teras. Aha! Jendela tampak terbuka lebar. Aku menyelinap dari sela teralis dan melompat. Hup! Ahh, di luar terasa hangat dan menyegarkan. Cuaca musim panas bulan Juli di tahun ini tidak begitu menyengat seperti tahun-tahun sebelumnya. Aku mengambil tempat di kursi teras dan mengamati sekitar. Rumah yang kutempati bersama Sarah tidak terlalu besar dan terletak paling sudut. Bangunan ini hanya terdiri dari dua kamar yang mungil. Satu ruangan ekstra yang ada di bagian paling belakang telah kusulap menjadi studio mini tempat aku bermain musik sekaligus tempat penyimpanan koleksi piringan hitam dan ratusan kaset milikku. Di depan teras sempit yang hanya bisa diisi sepasang kursi, terdapat sepetak tanah yang ditanami rumput tanpa ada apa-apa lagi di sana. Aku dan Sarah sama-sama tidak menyukai merawat tumbuhan. Jadi, tidak ada bunga-bungaan jenis apa pun di pekarangan rumah kami. Semilir angin membuatku terkantuk-kantuk. Lagipula, apalagi yang bisa dilakukan seekor kucing. Mereka hanya makhluk pemalas yang kerjanya makan, tidur, buang air, bersikap angkuh, dan tidak peka. Hanya itu. Aroma sedap datang dari dalam rumah. Aku mengendus-endus mencoba mengenali aroma itu. Seperti bau daging panggang. Apa Sarah sedang membuat steak? Perutku mendadak lapar. Aku kembali menyelinap masuk dan menuju dapur. Tiga orang itu sedang duduk di meja makan sambil mengobrol serius. Sarah sedang menceritakan kejadian yang menimpaku. "Paul temannya berkata kalau Devon saat itu sudah berpamitan dari Harley's. Ia tertabrak mobil saat hendak menyeberang menuju mobilnya. Pengemudinya mabuk." "Suamimu itu pasti juga mabuk. Aku tidak akan heran jika ia begitu.” Ben menyela. "Oh, Sayang, sudahlah. Jangan menyalahkan Dev seperti itu." Helen berusaha menengahi saat melihat raut muka Sarah menjadi sedih. Wanita tua berwajah bijak itu menoleh pada putrinya. "Nanti momy ikut ke rumah sakit menemanimu. Ben, kau ikut?" "Aku mau istirahat saja. Punggungku luar biasa pegal." Ben menyeka mulutnya dengan serbet, lalu meninggalkan meja makan menuju sofa. Ia kembali menghidupkan televisi. Aku melewati lelaki tua itu sambil melirik sebal. Sarah yang melihat kedatanganku di dapur, langsung menyapa. "Misty, kau mau makan?" "Miaw." Tentu saja aku mau. Sarah meletakkan piring makannya di dekat kursi. Masih ada steak yang telah dipotong kecil-kecil dengan kentang tumbuk dan wortel. Sepertinya Sarah benar-benar kehilangan nafsu makannya. "Nanti kau tinggal di rumah dengan Daddy, ya, Misty. Jangan nakal." Sarah menepuk punggungku lembut. Yah, mau bagaimana lagi? Semoga saja lelaki tua itu tidak punya keinginan untuk membunuhku saat kami hanya tinggal berdua nanti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD