Menjadi Seekor Kucing

1484 Words
Aku menggeliat dengan malas. Meregangkan seluruh otot tubuh yang terasa pegal, lalu menyadari bahwa aku tertidur di atas sofa ruangan tengah. Aku teringat akan mimpi yang mengerikan itu, lalu kembali memejamkan mata mengingat setiap detailnya. Sungguh konyol! Aku tertawa dalam hati. Menjadi seekor kucing? Sungguh tidak masuk akal di belahan dunia manapun. Rumah terasa sepi. Aku melirik jam yang terpasang di dinding. Sudah pukul delapan pagi. Sarah tentu sudah pergi bekerja. Istriku itu adalah seorang guru taman kanak-kanak, juga seorang relawan di sebuah panti jompo. Kenapa dia tidak membangunkan aku sebelum pergi, ya? Ah, perutku lapar. Biasanya sebelum pergi Sarah selalu menyiapkan sarapan untukku. Aku pun melompat turun dari sofa berniat untuk memeriksa meja makan. Hei, kenapa aku harus melompat? Apa aku benar-benar melompat? Aku mengamati sekitar, rasanya perabotan di rumah ini menjadi lebih besar dari biasanya. Sepertinya efek mabuk semalam masih belum menghilang sepenuhnya. Aku merasakan ada yang aneh, kemudian melongok ke bawah. Pandanganku langsung tertuju pada sepasang kaki berbulu berwarna hitam. Aku memejamkan mata, lalu membukanya kembali. Kaki berbulu itu masih ada. Ohh, tidak! Ini tidak mungkin! Aku berlari menuju sebuah cermin yang dipasang Sarah di dekat perapian. Tubuhku terasa melesat ringan saat berlari. Jangan, aku mohon jangan sampai hal itu terjadi! Aku sampai di depan cermin. Melihat pantulan tubuhku di cermin seukuran tinggi manusia itu. Seekor kucing tampak menatapku balik. Misty! Tidak! Itu aku, aku adalah Misty! Aku menjerit panik. Namun, yang kudengar keluar dari mulutku adalah suara kucing mengeong dengan nada tinggi yang aneh. Misty pun tidak pernah kudengar mengeluarkan suara seperti itu. Seakan belum yakin, aku mencoba melompat. Makhluk di dalam kaca juga ikut melompat. Aku lalu menjatuhkan diri pura-pura pingsan. Kucing itu pun menirukan dengan persis semua gerakanku. Jadi ternyata benar ini bukan mimpi. Aku benar-benar menjadi seekor kucing! Bagaimana aku akan menjelaskan hal ini pada Sarah. Bagaimana aku akan pergi bekerja di Harley's. Seekor kucing bernyanyi sambil memainkan piano? Hal yang bahkan belum pernah tercatat di buku Guinness a Records! Aku mondar-mandir kebingungan. Teringat bahwa Misty mengatakan bahwa tubuhku sedang dibawa ke rumah sakit. Apa Sarah sudah mengetahui kecelakaan yang menimpaku? Apa dia sekarang ada di rumah sakit? Bagaimana jika aku ikut menyusul ke sana? Dengan apa? Bukankah mobilku masih terparkir di dekat Harley's. Jika pun ada mobil, bagaimana aku mengendarainya? Kucing mengendarai mobil? Penjaga gerbang Istana Buckingham akan terbahak-bahak saat melihatnya! Segala pertanyaan itu membuatku nyaris meledak. Lelah mondar-mandir, aku pun kembali melompat naik ke sofa. Rasa laparku mendadak lenyap, berganti rasa hampa. Ya, tiba-tiba aku merasa kesepian. Rasanya aku benar-benar sudah tersingkir dari dunia ini. Aku termangu, menumpukan wajah pada salah satu kaki depanku. Tanpa sadar aku kembali tertidur dan tersentak bangun saat mendengar bunyi langkah seseorang memasuki ruang tengah. Sarah melangkah perlahan dengan wajah yang pucat dan kuyu. Ia lalu duduk di salah satu kursi kecil dekat televisi berhadapan dengan sofa tempat aku berbaring. Matanya tampak merah dan sembab. Ia kemudian menangkupkan kedua tangannya di wajah dan mulai menangis tersedu-sedu. Aku diam tak bergerak, tidak tahu harus berbuat apa. Jika dalam keadaan normal, aku bisa langsung menghampiri dan memeluknya. Namun, seingatku Sarah sangat jarang menangis. Selama tiga tahun kami menikah, aku hanya sekali melihatnya menitikkan air mata saat proses pemberkatan pernikahan kami oleh pendeta. "Sarah ...." Aku memanggilnya, tapi yang keluar dari mulutku justru suara miaw yang parau. Aku menggeleng frustrasi, bagaimana caranya aku menghibur istriku ini? Sarah mengangkat wajahnya, menyadari keberadaanku. Ia kemudian bangkit dan menuju sofa tempat aku duduk. Dengan masih terisak, ia mengangkat tubuhku dan memeluknya dalam pangkuan. "Oh, Misty, apa yang harus aku lakukan? Devon terbaring koma dan akan dioperasi siang ini. Kata dokter kemungkinan hidupnya kecil. Aku tidak mau kehilangan dia, Misty. Apa yang harus aku lakukan?" Air mata Sarah membasahi buluku. Dadaku mendadak terasa sesak merasakan kesedihannya. Ia harus menanggung semua ini sendirian. "Miaw ... miaww." Aku berusaha mengucapkan kata-kata penghibur. Mendekatkan wajah, lalu mengendus pipinya dengan hidungku. Sarah menangis semakin keras dan memelukku sangat erat. Seolah tindakanku barusan membuatnya makin bersedih. Aku menjadi serba salah, lalu memutuskan untuk diam saja, duduk di pangkuannya tanpa bergerak-gerak. Bunyi telepon terdengar nyaring. Sarah mendadak berdiri, membuatku yang sedang berada di pangkuannya terpental jatuh ke lantai. Setengah berlari ia menuju meja telepon dan mengangkatnya. "Hallo. Oh, iya, Mom. Aku kira ini telepon dari rumah sakit. Iya, aku baru saja pulang ke rumah mengambil beberapa barang. Iya ... aku baik-baik saja, Mom. Devon akan dioperasi siang ini. Ada penggumpalan darah di otaknya. Hmm, Mom dan Dad mau ke sini? Tidak usah repot-repot, kasihan Dad kalau harus menempuh perjalanan jauh. Besok? Ohh, iya, baiklah, Mom. Aku sangat senang kalian bisa datang. Aku menyayangi kalian." Sarah meletakkan telepon, bersandar ke tembok, lalu kembali menangis. Tak lama ia mengusap wajah, kemudian masuk ke kamar tidur kami. Aku melompat mengikutinya dari belakang. Jadi kedua mertuaku akan datang? Ahh, sial. Ayah Sarah membenciku dari awal kami bertemu dan semakin benci akhir-akhir ini. "Sarah, bagaimana jika kedua orang tuamu tidak usah datang saja? Ingat, ayahmu membenciku. Ia mungkin justru senang melihat aku sedang sekarat. Lelaki tua bangka itu!" Aku melompat ke atas kasur dan mengajukan protes kepada Sarah. "Oh, maafkan aku Misty. Kau tentu kelaparan. Sebentar lagi aku siapkan makananmu setelah aku membereskan ini, ya." Sarah menjawab sambil terus memasukkan beberapa barang untuk keperluannya di rumah sakit. "Aku tidak lapar! Aku tidak mau ayahmu yang cerewet itu datang ke rumah kita!" Aku berteriak kesal. Sarah tertegun mendengar kemarahanku. Ia mengangkat tubuhku, lalu menciumi wajahku yang berbulu lebat dan berkumis panjang bertubi-tubi. "Maafkan aku, Sweetheart. Kau betul-betul lapar, ya. Baiklah, ayo kita ke dapur sekarang. Aku akan menyiapkan makananmu." Aku hanya bisa pasrah berada dalam gendongannya. Sampai kapan pun ia tak akan pernah mengerti semua ucapanku jika yang keluar dari mulutku hanya miaw miaw sialan itu. Sarah menurunkanku di atas meja makan. Membuka salah satu rak lemari dapur, lalu mengambil satu makanan kaleng bergambar kucing yang sedang tersenyum. Ia membuka kaleng tersebut dan memindahkan isinya yang lembek ke sebuah mangkok berwarna pink. No, Sarah! Jangan coba-coba memaksaku memakan sesuatu yang menjijikkan seperti itu. Sarah meletakkan mangkuk itu di lantai, lalu menurunkanku dari atas meja. "Makanlah, Manis. Aku juga akan membuat sarapan untukku sendiri. Aku tidak lapar, tapi aku harus punya tenaga untuk menghadapi segala kemungkinan." Sarah berbicara sambil membuka lemari es. Aku tidak heran ia bisa berbicara begitu banyak pada seekor kucing. Ia sudah begitu sejak pertama kali aku mengenalnya. Awalnya kuanggap itu suatu hal yang aneh, tapi lama-lama aku menjadi terbiasa. Bahkan selama ini, mungkin ia berbincang lebih banyak dengan kucingnya daripada denganku. Sarah mengeluarkan sepotong pizza beku, lalu menghangatkannya sebentar di microwave. Aku masih berdiri di depan mangkukku. Sekali-sekali melirik ke arah makanan yang menjijikkan itu. Aku tidak akan pernah memakannya. Aku bersumpah! Sarah meletakkan pizza yang masih panas di sebuah piring kecil, lalu duduk di kursi makan. Bau sedap dari makanan itu membuat air liurku menetes dalam mulut. Bagaimanapun keadaanku sekarang, aku harus tetap makan untuk bertahan hidup. Well, tidak sembarang makanan tentunya. Aku melompat naik ke atas meja dan mengendus-ngendus. Pepperoni and Mushroom! Itu kesukaanku. Sarah menatapku heran dengan bola matanya yang biru pucat. "Kenapa kau tidak menghabiskan makananmu, Manis? Apa kau sakit?" Ia mengelus kepalaku dan menyentuh hidungku sekilas. "Tapi hidungmu basah, artinya kau baik-baik saja." Sarah menggigit pizzanya sambil termenung. Aku hanya bisa menatap penuh harap. Tak lama, ia kembali meletakkan pizza itu di atas piring. "Aku benar-benar tidak bisa menelan." Ia mendesah. Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan. Langsung mendekati piring kecil itu dan menggerogoti pizza di atasnya. "Kau mau pizza ini, Misty? Tidak biasanya kau mau makanan seperti ini. Baiklah, ini untukmu saja." Sarah menurunkan piring kecil itu dan meletakkannya di sebelah mangkuk berisi makanan lembek. "Aku harus bersiap-siap pergi sekarang." Sarah meninggalkan dapur dan kembali memasuki kamar, sementara aku masih bersusah payah untuk makan. Bagaimana caranya makan tanpa menggunakan tangan? Oh, susah sekali. Dari sudut mana aku mesti menggigit pizza ini terlebih dahulu? Sungguh membuat depresi! Setelah mencoba berbagai posisi, akhirnya aku menggunakan salah satu cakar kaki depanku untuk menekan bagian atas pizza itu dan mulai menggigitnya hati-hati. Berhasil! Secuil pizza bisa masuk ke mulutku. Aku pun makin bersemangat dan mencoba lagi. Berhasil lagi! Akhirnya sepotong pizza berhasil masuk ke perutku. Ahh, kenyang. Di saat yang bersamaan Sarah keluar dari kamar, rambutnya yang pirang sebahu tampak basah sehabis mandi. Ia menenteng sebuah tas berukuran besar di bahunya. Wajahnya terlihat cemas. Mendadak aku pun ikut cemas. Bagaimana jika aku tidak selamat dalam operasi siang nanti? Apa harus secepat ini ajalku datang? "Aku pergi, Misty. Jaga rumah dan habiskan makananmu." Ia berkata sambil mengelus punggungku penuh kasih sayang. "Miaw." Aku menjawab, lalu menggosokkan tubuhku ke kakinya. Sarah lalu beranjak pergi dan mengunci pintu depan. Aku mengikutinya sampai ke depan jendela dan mengintip dari situ. Sebuah mobil sedan keluaran tahun 90'an meluncur dari garasi. Aku berpikir keras tentang bagaimana aku akan melewati hari ini dengan tubuh seekor kucing. Belum lagi segala pemikiran buruk menghantui benakku. Tuhan, aku mohon, selamatkan aku! Izinkan aku tetap hidup. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD