Pembalasan dan Hukuman

1038 Words
Aku pun ikut tertidur pulas sebelum akhirnya terbangun oleh bunyi bel yang terdengar berisik. Sarah bangkit dengan terhuyung-huyung dan membuka pintu depan. "Paul! Kenapa kau datang ke sini?" Aku langsung melompat bangun dan menyongsong Sarah yang masih berdiri di depan pintu. Paul tampak berada di hadapannya sambil tersenyum simpul. "Aku ingin mengantarmu ke rumah sakit, tapi sebelumnya aku ingin mengajakmu makan siang di luar. Plis, kali ini jangan menolak." Sarah mengisyaratkan Paul untuk masuk. Mereka kemudian duduk saling berhadapan di kursi ruang tamu. "Paul, biar kuperjelas. Aku tidak mau kita menjadi terlalu dekat. Kau tentu paham posisiku di sini. Aku tidak mau kedekatan kita menjadi omongan orang-orang. Aku juga tidak mau ketika Devon sadarkan diri, dia mendengar hal tentang kedekatan kita ini dari orang lain." Sarah berkata dengan tegas. Paul mengangguk. "Aku mengerti, Sarah. Aku juga tidak akan melampaui batas. Devon adalah temanku, otomatis kau sebagai istrinya adalah temanku juga. Kita hanya teman." Bullshit! Aku memaki dalam hati. Simpan bualanmu itu, Kawan. Aku bisa melihat kalau kau benar-benar sedang mengincar istriku! "Kau tidak ke toko hari ini? Jangan terlalu banyak membuang waktu untukku." Paul mendadak membusungkan d**a. "Semua sudah diurus karyawanku. Aku tinggal tahu beres. Itulah gunanya membayar mereka, bukan?" Gayanya yang sombong membuat aku naik pitam. Aku lalu melompat tiba-tiba ke pangkuan lelaki tengik itu dan memutuskan untuk meninggalkan jejak cakaran di lengannya. Rasakan itu, Sobat! Aku sudah begitu lama menahan diri. Paul tampak terkejut dan menjerit kecil. Ia segera berdiri sambil memelototi lengannya yang berdarah. Sarah langsung menyambar tubuhku menjauhi Paul. "Misty! Apa yang kau lakukan! Maafkan aku, Paul. Misty tidak pernah seperti ini sebelumnya." Sarah terlihat begitu terkejut sekaligus panik. Paul memaksakan sebuah tawa. "Tidak apa-apa, Sarah. Tidak terlalu parah, hanya sedikit ... berdarah." "Tunggu di sini. Aku segera kembali." Sarah segera melesat menuju ruang tengah sambil masih menggendongku. Ia kemudian menuju kandang dan membuka pintunya. Jangan lakukan itu, Sarah. Aku suamimu! "Renungkan perbuatan nakalmu di sini, Misty! Ini hukuman untukmu!" Sarah menjejalkan dengan paksa tubuhku ke dalam kandang. Aku membuat keributan dengan mengeong keras. Aku juga melompat-lompat dengan liar dan menabrakkan diriku ke jeruji kandang hingga menimbulkan suara gaduh. Sarah tampak tak peduli. Ia mencari-cari dalam kotak P3K yang menempel di dekat kulkas dan mengambil sesuatu di dalamnya. Sarah kemudian kembali bergegas ke ruang tamu. "Keributan macam apa ini? Apa aku ketinggalan sesuatu?" Suara Mozzy yang terdengar mengantuk membuatku girang bukan kepalang. "Hei, Sobat! Tolong bukakan pintu kandang ini. Ayo, cepat. Aku butuh bantuanmu." Mozzy menghampiri lalu duduk dengan bertumpu pada kaki belakangnya di depan kandang. Ia menatapku dengan malas. "Kau tahu kalau aku hanya seekor kucing, bukan? Dengan apa aku harus membuka pintu kandang ini? Dengan ini?" Mozzy mengangkat satu kaki depannya yang gemuk dan memiliki bantalan merah muda yang empuk. "Ayolah, coba saja dulu, Sobat! Aku pernah menyaksikan di televisi seekor anjing membebaskan anak-anak yang disekap dari penjara seperti aku sekarang ini." Mozzy menatapku lama seolah aku adalah makhluk langka yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. "Kau sepertinya bercanda." Ia kemudian berlalu dan meninggalkanku tanpa mau mencoba sedikit pun. "Mozzy, ayolah! Kau belum mencobanya, bukan?" Aku berteriak-teriak memanggilnya, tapi kucing putih itu tampak tak peduli. Aku melihat Mozzy menuju ruang tamu. Aku pun meneriakkan sesuatu padanya. "Apa yang kau lihat di situ, Mozzy?" Mozzy kemudian berhenti di perbatasan antara ruang tengah dan ruang tamu. Ia terlihat mengawasi sesuatu dari sana. "Aku melihat istrimu sedang mencium lelaki lain ... ah, tidak, aku cuma bercanda, Sobat. Aku melihat istrimu sedang membersihkan luka di lengan si rambut merah. Nah, sekarang dia sedang menempelkan plester." Ck! "Apa mereka duduk saling berdekatan?" Aku kembali berseru. "Ya, mereka hampir menempel satu sama lain." "Kau tidak serius, bukan?" "Aku cuma bercanda." Aku memutuskan percuma bertanya pada Mozzy yang hanya akan semakin memancing emosiku. Ternyata dia tidak bisa diandalkan di semua situasi. Aku kembali berusaha menarik perhatian Sarah dengan mengeong sekeras mungkin dan melompat-lompat seperti kucing kerasukan. Sarah kembali ke dapur dan mengembalikan perban, plester dan benda lainnya yang tadi ia bawa. Ia hanya melirik sekilas ke arahku dengan tatapan dingin. "Miaw miaw." Sarah, keluarkan aku! Sarah kemudian mendatangiku dan berjongkok di depan kandang. "Aku akan bersiap-siap untuk pergi. Kalau kudengar kau sudah mulai tenang, aku akan mengeluarkanmu. Tapi kalau kau masih nakal seperti ini, kau tidak akan kukeluarkan sampai besok!" Aku langsung terdiam. Baiklah, aku akan kembali tenang agar dia mau melepaskanku kembali. Aku duduk meringkuk di depan pintu kandang. Rasanya aku begitu tak berdaya saat ini. Aku mengerti bahwa Sarah benar-benar tidak mengetahui bahwa akulah yang ada di dalam tubuh kucing berbulu hitam ini. Mungkin hal seperti itu tidak akan pernah terpikirkan olehnya. Hal itu justru yang membuatku semakin frustrasi. Aku ingin Sarah tahu, bahwa suaminya lah yang ada di tubuh Misty, tapi aku tidak tahu bagaimana caranya supaya ia tahu. Ah, sudahlah. Semuanya terlalu membingungkan. Sarah keluar dari kamarnya beberapa saat kemudian. Ia tampak sudah rapi mengenakan celana santai selutut dipadukan dengan t-shirt bermotif bunga-bunga. Aku sedikit lega ia tidak berusaha tampil cantik saat pergi dengan Paul. Ia tampak menyiapkan sesuatu di dapur. Menaruhnya ke dalam mangkok lalu meletakkan di lantai dapur. Aku bisa menebak kalau itu adalah makanan untukku, juga Mozzy. Sarah kembali mendatangi kandang dan membuka pintunya. Ia lalu meraih tubuhku dan memeluknya erat. "Maafkan aku, Misty. Aku sudah terlalu keras menghukummu. Aku merasa bersalah. Maafkan aku." Sarah menciumiku bertubi-tubi. Ia kemudian merangkum wajahku dengan kedua telapak tangannya dan menatap dalam-dalam. "Tapi aku tetap tidak mengerti kenapa kau melakukan itu pada Paul. Kenapa kau begitu tidak suka pada lelaki itu?" "Miaw miaw." Dia mau merebutmu dariku. Aku menjawab lemah sambil memicingkan kedua mataku. Entahlah, rasanya aku benar-benar merasa lelah kali ini. Sarah menepuk-nepuk pipiku yang gemuk dan berkumis lebat. "Aku pergi dulu, ya. Jaga rumah baik-baik. Makanan untukmu dan Mozzy sudah aku siapkan. Kalian jangan bertengkar." Sarah kemudian berlalu menuju ruang tamu di mana Paul mungkin sudah menunggunya dengan senyum penuh kemenangan. Ya, kali ini kau menang, Sobat dan aku kalah.... Aku melangkah dengan lesu kembali ke kasur kecil tempat aku tadi tertidur. Aku tidak berniat untuk melepas kepergian Sarah sampai ke teras seperti biasanya. Rasanya terlalu menyakitkan melihat mereka berdua pergi bersama-sama. "Mereka sudah pergi sambil bergandengan tangan dengan mesra." Mozzy tiba-tiba muncul dari ruang depan. Ia berkata sambil menggerakkan sungutnya berkali-kali. Kucing sialan!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD