Sarah sudah pulang ke rumah lebih cepat dari biasanya. Ia saat ini sedang mengobrol dengan Helen yang menemaninya sarapan. Sedangkan Ben duduk di sofa favoritnya seperti biasa untuk menonton televisi.
"Hari ini aku harus berangkat lebih cepat ke rumah sakit. Hasil test Devon akan keluar hari ini. Dokter mau berbicara empat mata denganku. Ah, aku jadi tidak tenang." Sarah mengunyah sarapannya sambil melamun.
"Aku yakin hasilnya akan baik-baik saja. Devon hanya sedang tertidur pulas." Helen mengusap punggung putrinya.
Dering ponsel terdengar dari ruang tengah.
"Helen siapa yang menelepon ini?" Ben berseru.
"Angkat saja, Ben."
Ben mengangkat panggilan. Awalnya suaranya terdengar pelan. Namun, sesaat kemudian nadanya berubah menjadi panik.
"Apa maksudnya rumah kami dimasuki maling? Kau sedang tidak bercanda, bukan, Sir?"
Sarah dan Helen yang mendengar hal itu buru-buru menghampiri Ben untuk mencari tahu.
"Aku tidak bisa menjelaskan apa-apa saja barang berharga yang ada di rumahku tanpa melihatnya sendiri. Oh, baiklah. Iya, terima kasih atas informasinya."
Ben meletakkan ponsel itu ke atas meja. Tangannya terlihat sedikit gemetar.
"Ada apa, Ben?" Helen bertanya kebingungan.
"Rumah kita dimasuki perampok, maling atau apa pun namanya."
"Oh, God! Bagaimana mungkin? Di lingkungan kita? Aku tidak percaya."
"Aku juga. Tadi polisi yang menelepon. Ada laporan dari tetangga depan rumah kita yang melihat beberapa orang keluar dari halaman. Dia langsung melaporkan pada polisi karena tahu kita sedang tidak ada di rumah."
"Oh, Ben. Bagaimana ini? Apa saja yang hilang." Helen tampak panik. Sarah berusaha menenangkan ibunya dengan mengusap bahu Helen yang gemetar.
"Aku tidak tahu, Helen. Awas saja kalau koleksi perangko milikku yang berharga itu ikut diambil. Takkan kumaafkan para maling itu." Ben terlihat kalut.
Aku tahu dari Sarah kalau Ben adalah kolektor perangko sejak ia masih muda. Aku selalu menganggap kalau hobi seperti itu tidak berguna. Sampai kemudian Sarah memberitahu bahwa ayahnya memiliki beberapa perangko antik yang dihargai seharga sebuah mobil terbaru. Amazing!
"Bagaimana dengan perhiasan warisan ibuku? Padahal itu akan kuwariskan untukmu, Sarah. Perhiasan yang sangat berharga karena sudah turun temurun." Tangisan Helen akhirnya pecah.
"Tenanglah, Mom, Dad. Mungkin tidak seburuk itu. Jadi, apa sebaiknya yang akan kalian lakukan sekarang?"
"Kami harus pulang dan melihatnya sendiri. Maaf Sarah, kau tidak apa-apa kami tinggal sebentar? Mungkin untuk beberapa hari sampai urusan ini selesai." Ben menatap putrinya.
Sarah tersenyum. "Dad, aku bukan anak kecil lagi. Tentu aku akan baik-baik saja. Jangan pikirkan aku."
Helen memeluk putrinya. "Bagaimana kami tidak akan memikirkanmu. Kau sedang menghadapi musibah. Kami tidak mau kau merasa sendirian."
"Aku tak pernah merasa sendirian, Mom. Aku selalu punya kalian. Jangan khawatirkan aku. Aku akan baik-baik saja selama kalian pergi mengurus hal itu." Sarah membalas pelukan ibunya. Matanya tampak berkaca-kaca.
Ben menepuk pahanya kemudian berdiri. "Baiklah, kurasa kita harus bersiap sekarang, Helen. Empat jam perjalanan mengendarai mobil bukan hal yang mudah untuk pria tua sepertiku."
Helen dan Ben masuk ke kamar mereka. Setengah jam kemudian mereka sudah keluar membawa satu tas kecil berisi keperluan yang mereka anggap penting.
"Aku penasaran bagaimana maling itu bisa masuk." Ben terdengar menggerutu.
"Kita seharusnya memang memasang alarm pengaman dan CCTV seperti saran Blake waktu itu."
Aku tidak tahu siapa Blake, tetapi Ben langsung emosional saat mendengar namanya.
"Dia tidak menyarankan, Helen! Dia adalah penjualnya dan memaksa kita untuk membeli!"
"Tidak ada salahnya waktu itu kita beli. Tapi sekarang sudah terlambat, bukan."
Kepala Ben tampak seperti sedang mengeluarkan asap. Aku menunggu ia meledakan amarahnya. Namun, hal itu urung ia lakukan saat melihat Sarah keluar dari dapur dan menyodorkan sebuah kantung makanan pada ibunya.
"Ini makanan dan minuman untuk di perjalanan nanti, Mom."
"Terima kasih, Sayang."
Ben lalu memanaskan mobil. Helen menyempatkan diri untuk berpamitan pada keluarga Red. Sepuluh menit kemudian, mobil itu keluar dari halaman dengan Helen yang melambaikan tangannya.
"Hati-hati di rumah, Sarah." Wanita tua itu berseru.
Sarah hanya mengangguk sambil tersenyum dan membalas lambaian tangan ibunya. Ia terus memandangi mobil itu sampai akhirnya menghilang di sebuah belokan.
"Kalau kau ada keperluan apa-apa, jangan sungkan untuk datang kepada kami, Sarah." Mr. Red dan istrinya ternyata ikut melepas keberangkatan mertuaku dari teras rumahnya. Sepasang suami istri itu memandangi Sarah dengan tatapan prihatin.
"Terima kasih, kalian baik sekali." Sarah berucap tulus.
Aku dan Mozzy yang sedari tadi hanya menjadi penonton, mengiringi Sarah masuk ke rumah. Sarah memandangi sekelilingnya kemudian menarik napas panjang. "Sepi sekali." Ia bergumam.
"Miaw miaw." Tenang saja, Sarah. Masih ada aku.
"Miaw miaw." Aku juga ada di sini.
Aku melirik sebal pada Mozzy yang ikut-ikutan. Kucing berwajah cemong itu pun tertawa mengejek.
Sarah merebahkan dirinya di sofa panjang. Tatapannya terlihat menerawang. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini.
Sarah memang ahli dalam hal menahan perasaan. Ia begitu jarang meluapkan emosi. Selama kami bersama, aku hampir tidak bisa menebak apa yang ada dalam pikirannya.
Berbeda denganku yang cenderung frontal. Aku tidak akan segan mengungkapkan apa yang ada dalam pikiranku, tanpa peduli apakah hal itu akan melukai perasaan seseorang.
Aku jadi bertanya-tanya, sudah seberapa banyak aku melukai perasaan istriku itu sejauh ini?
Bunyi ponsel Sarah terdengar dari dalam kamarnya. Sarah segera berdiri dan setengah berlari menuju kamar. Tak lama ia kembali keluar dengan ponsel menempel di telinganya.
"Aku hari ini berangkat sendiri. Mom dan Dad harus kembali ke Memphis untuk sementara waktu."
Aku tidak tahu dengan siapa Sarah berbicara, mungkin dengan Karen, temannya.
"Oh, tidak usah repot-repot, Paul. Aku bisa pergi sendiri. Nanti aku juga berangkat lebih cepat. Mungkin setelah makan siang."
Oh, Paul ternyata. Sarah kembali berbaring di sofa. Ia seperti sedang melepas rindu dengan seorang kekasih lewat udara dengan posisi menelepon seperti itu. Ck!
Sarah kemudian menceritakan tentang kejadian yang menimpa orang tuanya. Mereka mengobrol cukup lama. 15 menit persis karena aku selalu menghitung setiap detiknya!
Sarah akhirnya mengakhiri panggilan dari Paul dengan senyuman tersungging di wajahnya. Ah, yang benar saja! Hapus senyuman itu dari wajahmu, Sarah! Kau membuat aku khawatir!
Sebuah bisikan terdengar di belakangku. "Sepertinya kau harus mulai waspada dengan si rambut merah, Hitam." Mozzy kemudian melewatiku dan melompat ke atas sofa di dekat Sarah.
Sialan! Kucing putih konyol itu malah membuat perasaanku semakin tak karuan. Aku mondar-mandir dengan gelisah. Tindakanku yang seperti itu tak urung menarik perhatian Sarah.
"Misty, kau lapar?"
"Miaw miaw." Aku tidak lapar. Aku hanya sedang merencanakan pembunuhan terhadap temanku si Paul.
"Kenapa gelisah? Berbaringlah di sini, dekat Mozzy." Sarah menepuk-nepuk tempat kosong di dekat Mozzy yang tampak memicingkan matanya.
Kucing putih licik itu! Matanya selalu tampak terpejam, tapi bisa tahu kejadian yang ada di sekitarnya. Kusebut dia seorang Spy Cat yang ulung.
Aku menolak dan menjauh dari sofa. Aku memilih meringkuk di kasur kecil dekat televisi sambil memantau pergerakan Sarah dari sini.
Sarah tampak menguap berkali-kali. Tak lama kemudian kepalanya mulai terkulai dengan mata terpejam.