Kekhawatiran yang Tidak Beralasan

1053 Words
Bunyi ponsel Helen yang disetel dengan volume maksimal memecah keheningan pagi ini. Helen yang sedang menikmati sarapannya bersama Ben, bergegas bangkit meraih ponsel yang tergeletak di sofa ruang tengah. Aku dan Mozzy juga tengah melahap sarapan kami masing-masing. Satu mangkok makanan lembek untuknya dan sepotong daging asap untukku. "Ya, halo. Oh, Sarah, ada apa?" Helen sejenak memusatkan perhatian pada apa yang diucapkan putrinya di ujung telpon. "Oke, nanti aku sampaikan pada ayahmu. Bye." Helen memutus panggilan dan kembali menaruh hapenya. Wanita itu kembali ke kursinya. "Ben, kau tidak perlu menjemput Sarah pagi ini. Dia akan diantar pulang oleh Paul." Telingaku langsung tegak saat mendengar nama Paul disebut-sebut. Kenapa Sarah harus diantar oleh lelaki itu? Ben juga terlihat mengerutkan keningnya. "Apa si Paul itu tidak punya pekerjaan lain hingga harus mengambil tanggung jawabku." Ia mengomel. "Sudahlah, jangan cemburu begitu. Paul, kan teman Devon. Jadi wajar kalau dia membantu Sarah." Helen membelai pipi suaminya yang cemberut. Aku mendadak kehilangan nafsu makan. Segera kutinggalkan mangkuk berisi potongan daging yang tinggal separuh dan menuju pintu depan. "Hei, kenapa tidak kau habiskan makananmu, Hitam?" Mozzy terdengar memanggil, tapi tidak aku acuhkan. Aku keluar menuju teras dan duduk termenung di rerumputan. Kejutan apa yang akan menanti setelah kepulangan Sarah nanti? Rasa cemburu, takut, khawatir, dan gabungan perasaan lainnya terasa begitu menerorku. Mozzy kulihat melompat dari jendela tak lama kemudian. Ia tidak berkata apa-apa, hanya duduk di dekatku sambil menjilati dirinya. "Perasaanku tidak enak." Aku membuka pembicaraan. Mozzy mengangkat wajahnya. Sungutnya tampak bergerak-gerak. "Kenapa?" "Aku takut istriku terpikat pada Paul. Mereka makin dekat sekarang. Sedangkan aku, seperti makhluk bodoh yang hanya bisa menyaksikan tanpa bisa mencegah. Aku juga takut Paul akan menceritakan semua kelakuanku di belakang Sarah. Aku tidak tahu sampai kapan ia akan bisa menahan mulutnya." "Kurasa istrimu tidak akan semudah itu jatuh cinta pada pria rambut merah itu. Percaya saja. Mengenai rahasiamu, aku tidak tahu. Bisa jadi suatu saat ia akan membocorkan, tapi bisa juga tidak." "Entahlah." Mozzy meregangkan tubuhnya lalu menguap. "Begitu rumit jadi manusia. Aku merasa bersyukur terlahir sebagai kucing." Ia pun beranjak dari teras dan kembali masuk ke rumah. Aku termenung sendirian, bertekad akan menunggu Sarah dan menyaksikan sendiri bagaimana sikapnya nanti. Bosan menunggu, akhirnya mereka berdua datang. Aku langsung duduk tegak dan mengawasi keduanya. Paul keluar dari mobil dan setengah berlari membukakan pintu untuk Sarah. Ekspresi Sarah tampak biasa saja, bahkan cenderung datar. Hmm, gentleman sekali! Kau sungguh pandai memperlakukan wanita, Paul. Aku heran dengan keahlian seperti itu kau belum pernah terlihat dengan seorang wanita satu kali pun. Mereka tampak berbasa-basi sejenak, sebelum akhirnya Paul kembali masuk ke mobilnya dan berlalu. Sarah masuk ke halaman dan menemukanku yang setia menunggu. "Hai, Misty. Kemarilah sayangku." Aku lega saat menemukan tidak ada sesuatu yang mengganjal dari sikap Sarah. Namun, tetap saja aku masih cemburu melihatnya berduaan dengan Paul. "Ayo masuk." Sarah menggendongku dan masuk ke rumah. Ia langsung menuju kamar setelah menyapa Ben dan Helen yang sedang duduk di sofa. Aku menunggui ia mandi dan berganti pakaian. Setelah itu Sarah keluar kamar dan menuju dapur untuk sarapan. "Tadi sebenarnya Paul menawari untuk sarapan di kafe, tapi aku menolak. Rasanya lebih nyaman sarapan di rumah saja." Sarah bercerita pada Helen yang sedang menyiapkan sarapan untuknya. Ben menimpali dari tempat ia duduk. "Kenapa dia rajin sekali dari kemarin mengantar dan menjemputmu? Apa dia tidak bekerja?" Sarah mengambil piring berisi roti isi dan membawanya ke ruang tengah. Ia bergabung di sofa yang sama dengan ayahnya. "Paul bilang sudah berhenti dari Harley's. Ia memutuskan untuk membuka toko alat musik di sekitar Downtown. Dia bilang sudah saatnya mulai serius memikirkan masa depannya." Sarah bercerita sambil mengunyah roti isinya. "Wah, itu bagus. Cuma setahuku daerah itu biaya sewa tokonya cukup mahal, belum lagi modal untuk membuka toko peralatan musik, biayanya tentu tidak sedikit." Ben tampak sedikit meragukan. "Well, Paul ternyata adalah anak tunggal. Orang tuanya cukup sukses dalam bisnisnya. Sepertinya dia tidak mengalami kesulitan dalam masalah itu." Wow! Hanya dalam waktu singkat Sarah telah mengetahui sejarah kehidupan Paul. Sementara aku yang berteman dengan lelaki itu selama bertahun-tahun, tidak pernah sedikit pun mengetahui tentang kehidupannya. Aku tidak pernah tahu kalau ia berasal dari keluarga kaya. Gaya dan penampilannya sama sekali tidak pernah mencerminkan hal tersebut sama sekali. Ternyata benar, jangan pernah menilai sebuah buku dari sampulnya. Jangan pernah menilai seseorang dari penampilannya. Ungkapan itu sangat cocok dengan fakta tentang Paul sekarang ini. "Begitu lebih baik. Daripada dia bekerja tidak tentu arah seperti di tempat bernama Harley's itu. Tidak ada masa depan di sana." Ben menukas. Aku melirik kesal ke arahnya. Pekerjaan tidak tentu arah yang dia maksud adalah pekerjaan yang sangat aku cintai. Ia mungkin tidak akan memahami bagaimana rasanya mengerjakan sesuatu yang sesuai dengan keinginan dan kata hati. "Sebaiknya kau tidak usah terlalu dekat dengan Paul, Sarah. Orang-orang nanti akan salah sangka dan menduga yang tidak-tidak." Helen yang sedari tadi hanya menyimak obrolan itu, mencoba menasihati putrinya. Sarah mengangguk. "Iya, Mom. Aku sudah mengatakan langsung pada Paul supaya tetap menjaga jarak yang aman. Aku juga merasa tidak enak hati pada Devon. Rasanya ... seperti berkhianat saat pergi dengan pria lain, padahal tidak sama sekali." Ben mendengkus tiba-tiba. Mukanya tampak berkerut dengan bibir yang ditarik sebelah. Helen dan Sarah tidak mengacuhkan sikap lelaki itu. Mereka tetap meneruskan mengobrol. "Apa Paul sudah punya kekasih? Sepertinya usianya sudah cukup untuk berkeluarga, bukan begitu?" Helen tampak penasaran. "Entahlah, aku tidak pernah bertanya sampai sejauh itu padanya, Mom. Hal itu ... umm cukup privasi." Helen mengangguk menyetujui ucapan putrinya. Matanya lalu tertuju pada Mozzy yang tiba-tiba muncul dari bawah meja kecil di dekat televisi. "Ternyata di situ kau bersembunyi, Mozzy. Aku kira kau bersama Misty dari tadi." Helen mengelus punggung Mozzy yang mendekat ke arahnya. Sarah mengamati Mozzy sejenak. Pandangannya lalu beralih padaku yang sedang meringkuk di dekat kakinya. "Mereka tidak pernah terlihat melakukan apa pun, ya, Mom." Helen menggeleng. "Misty tetap tidur di kamarmu di malam hari. Sementara Mozzy tidur di sofa ini. Mereka tidak menunjukkan gejala saling tertarik satu sama lain." Aku bisa mendengar suara tawa Mozzy yang tertahan. Aku segera melotot ke arahnya. Ini sama sekali tidak lucu! "Waktu kalian hanya tinggal beberapa hari lagi. Ayolah lakukan sesuatu sebelum aku mengembalikanmu, Mozzy. Aku juga ingin anak-anak yang lucu darimu, Misty." Sarah mengangkat tubuhku lalu menciumi dengan gemas. Aku memutar bola mata malas. Hal itu tak akan pernah terjadi, Sarah. Bahkan dalam mimpi sekali pun!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD