Aku tidak tahu berapa lama tertidur saat menyadari Sarah sudah tidak ada lagi di sebelahku. Ia juga tidak lagi berada di kamar ini. Dengan panik aku keluar dan menemukannya sedang mengobrol dengan Ben dan Helen.
Mereka bertiga duduk di sofa ruang tengah. Kulihat Mozzy berada dalam pangkuan Helen. Mata kucing putih itu tampak terpejam menikmati belaian Helen di leher dan punggungnya.
Sarah terlihat sudah bersiap-siap untuk ke rumah sakit. Ia mengenakan dress selutut berwarna biru muda. Warna kesukaanku. Kenapa ia harus tampil begitu cantik hari ini. Apa karena Paul akan datang berkunjung? Rasa cemburu lagi-lagi datang menyerangku.
Bunyi bel terdengar tak lama kemudian. Sarah segera bangkit dan bergegas menuju ruang depan dan membuka pintu. Paul terlihat berdiri dengan wajah salah tingkahnya yang memuakkan.
"Masuklah, Paul. Aku sudah menunggumu dari tadi." Sarah lalu mengambil tempat di salah satu kursi.
"Maaf kalau aku terlambat. Umm ... kau tampak cantik hari ini, Sarah." Wajah Paul langsung memerah saga saat ia mengucapkan kalimat terakhir itu.
Brengsek! Berani-beraninya dia merayu istriku!
Aku segera melompat ke pangkuan Sarah dan menggeram ke arahnya. Paul berusaha untuk tetap tenang seolah tak terpengaruh. Sepertinya kali ini ia bertekad untuk menjaga imej di depan Sarah.
"Terima kasih, Paul. Maaf aku tidak bisa berlama-lama mengobrol, sebentar lagi Daddy akan mengantarku ke rumah sakit. Jadi, ceritakan padaku tentang Deborah. Siapa gadis itu?"
Paul menepuk-nepuk pahanya lalu menyandarkan punggung ke sandaran kursi. "Deborah adalah salah satu pengunjung setia Harley's. Ia dan teman-temannya rutin berkunjung untuk bersenang-senang kurasa."
"Apa hubungannya dengan Devon cukup dekat? Bagaimana mereka saling mengenal?"
"Well, Devon adalah orang yang supel dalam bergaul dengan para pengunjung. Mungkin itu yang menyebabkan dia banyak dikenal. Salah satunya Deborah. Devon sering mengunjungi meja pengunjung untuk mengobrol sejenak dan biasanya mereka akan memesan sebuah lagu untuk Devon mainkan."
"Apa hanya sebatas itu? Mereka tidak ada hubungan di luar itu?" Sarah terus memberondong Paul dengan pertanyaan demi pertanyaan. Baru kali ini aku melihat Sarah begitu tidak bisa menguasai dirinya.
Paul menjadi sedikit gugup. Oh, ayolah, Paul! Bantu aku, jangan ceritakan yang sebenarnya pada Sarah. Sejujurnya aku merasa ketakutan jika Paul akhirnya menceritakan tentang hubunganku dengan Deborah.
"Kurasa hanya itu ... entahlah, Sarah. Aku tidak begitu akrab dengan Devon. Kami mengobrol hanya untuk hal-hal penting saja. Ia tidak pernah bercerita tentang sesuatu yang khusus padaku." Paul mengusap wajahnya dengan gelisah.
Sarah tercenung. "Ada sesuatu yang mengganggu pikiranku sejak kedatangan gadis itu. Aku tidak tahu apa itu. Tapi kuanggap itu sebagai, umm... insting seorang istri mungkin."
Paul memusatkan perhatiannya pada Sarah. Mulutnya tampak bergerak-bergerak seakan ingin mengungkapkan sesuatu. Namun, sepertinya ia membatalkan niatnya itu.
"Bagaimana kalau hari ini aku yang mengantarmu ke rumah sakit?"
"Tidak usah repot-repot, Paul. Daddy akan mengantarku. Sudah beberapa hari ini dia yang mengantar dan menjemput aku ke rumah sakit."
"Ayolah, untuk kali ini saja. Kita nanti bisa mengobrol lebih banyak lagi di mobil. Mungkin kau ingin mendengar lagi cerita tentang Devon."
Dasar licik! Aku memaki dalam hati.
Sarah terlihat ragu. Namun, kemudian ia menyetujui ajakan Paul. "Baiklah, aku beritahu ayahku dulu."
Sarah berdiri dan menuju ruang tengah untuk berpamitan pada kedua orang tuanya. Aku masih berada di tempatku semula, tak hentinya memelototi Paul. Lelaki itu balik menatapku dengan wajah heran.
"Ada masalah apa kucing ini sebenarnya." Kudengar ia bergumam.
Masalahku adalah KAU, Paul! Jika kau tidak terang-terangan berusaha mendekati istriku, maka aku tidak akan merasa terganggu. Ingin rasanya aku berteriak di telinganya yang bebal itu.
Sarah keluar dengan Ben di belakangnya. Kening lelaki tua itu tampak sedikit berkerut. Sepertinya ia juga kurang menyetujui rencana Paul untuk mengantar Sarah.
"Seharusnya kau tidak perlu repot-repot, Paul. Sekarang adalah tugasku untuk mengantar-jemput Sarah."
"Aku sama sekali tidak merasa direpotkan." Paul menjawab dengan enteng tanpa mempedulikan ekspresi wajah Ben yang masam.
Ben hanya mengangkat bahunya lalu membalikkan tubuh kembali ke ruang tengah.
"Kita berangkat sekarang?" Paul berkata dengan antusias.
Sarah mengangguk lalu berjalan duluan menuju pintu keluar. Aku menjejeri langkahnya dengan perasaan tidak rela sekaligus tidak berdaya. Aku tidak tahu apa yang akan dikatakan oleh Paul nantinya saat mereka hanya berdua saja di mobil.
Keduanya masuk ke dalam mobil lalu segera lenyap dari pandangan. Aku masih berdiri termangu di depan pintu. Pikiranku terasa kacau balau membayangkan segala hal buruk yang bisa terjadi.
"Siapa lelaki berambut merah itu?"
Suara yang terdengar begitu dekat membuat aku terlompat kaget. Mozzy! Kucing itu rupanya sudah berada di belakangku sedari tadi.
"Dia rekan kerjaku." Aku menjawab singkat.
"Kau cemburu padanya? Tenang saja, kau jauh lebih tampan daripada lelaki itu."
Tampan? Tahu darimana kucing ini? Aku memandang kebingungan ke arahnya.
"Hei, fotomu dan Sarah terpajang di kamar dan di sepanjang tembok rumah ini. Aku masih punya mata, kau ingat itu?" Mozzy lalu berbalik dan melompat duduk di kursi tamu.
"Persetan dengan ketampanan jika aku masih saja terjebak di tubuh kucing hitam ini! Aku tidak bisa berbuat apa pun saat istriku berusaha didekati lelaki lain." Aku ikut melompat mengambil tempat di kursi yang ada di depannya.
"Sepertinya kau marah sekali. Ceritakan padaku bagaimana awal mulanya, Sobat." Mozzy menatapku dengan pandangan prihatin.
Aku lalu menceritakan semuanya. Juga tentang Deborah yang tiba-tiba datang mengusik ketenangan Sarah.
"Aku tidak bisa berkomentar apa-apa atau memberi solusi. Jujur saja, ini terlalu rumit untukku. Kami bangsa kucing biasanya b******a tanpa melibatkan perasaan."
Aku hanya menundukkan wajah dengan pasrah. Ya, pasrah. Hanya itu yang bisa aku lakukan. Namun, membayangkan istriku berduaan dengan lelaki lain begitu dekat, membuat darahku mendidih.
Aku tidak tahu apa yang akan dilakukan Paul di dalam mobil. Apa dia akan menceritakan semuanya pada Sarah? Lalu, Sarah akan merasa hancur dan menangis sedih. Paul kemudian akan memeluknya untuk menenangkan. Sarah akan merasa nyaman dalam pelukan Paul dan memutuskan untuk menjadikan lelaki itu kekasihnya setelah mencampakanku yang terbaring koma.
Aarrgghh! Semua pemikiran itu benar-benar membuatku frustrasi.
"Hei, sudahlah, Sobat! Bagaimana kalau kita berjalan-jalan di luar sejenak menikmati sore hari yang indah ini?" Mozzy masih berusaha menghiburku.
Aku menggeleng. "Tidak, aku tidak bernafsu untuk melakukan apa pun saat ini. Aku hanya ingin sendirian."
"Baiklah. Kalau begitu aku mau keluar."
Mozzy melompat turun lalu menyelipkan tubuhnya yang besar ke teralis jendela. Hanya beberapa menit kemudian, kulihat ia kembali melompat masuk dengan napas tersengal-sengal. Wajahnya tampak ketakutan.
"Hei, ada apa?"
"A-ada kucing bertubuh dan berkepala besar di luar halaman. D-dia meneriaki dan mengancamku. Mengerikan."
"Kucing itu berwarna oranye?"
"Iya, darimana kau tahu?"
Aku menggeram. Kucing k*****t itu lagi. Tidak jera dia rupanya datang ke sini!