Ben baru kembali dari jalan pagi saat melihat aku dan Mozzy sedang duduk di bangku teras. Kami meringkuk menempati masing-masing kursi. Ben berdiri di hadapan kami sambil menyeka keringat yang membasahi keningnya yang mengkilap.
"Helen!" Ia berseru memanggil istrinya. "Pinjamkan aku kamera ponselmu sebentar!" Ben terus mengamati kami berdua dengan penuh minat.
Tak lama Helen muncul di teras. Ia menyerahkan ponselnya pada sang suami.
"Mereka berdua terlihat sangat manis, bukan?" Helen tersenyum saat Ben mulai mengambil beberapa foto.
Aku dan Mozzy saling tatap kemudian memutar bola mata. Dasar manusia zaman sekarang!
"Aku tidak menyangka kalau mereka langsung bisa akur. Biasanya kucing yang baru bertemu akan memerlukan waktu untuk beradaptasi." Helen terus berceloteh.
Ia kemudian mengalihkan pandangan pada Ben yang sedang memeriksa hasil jepretannya. "Ayo sarapan, Sayang. Aku menunggumu dari tadi."
Ben kemudian mengekori istrinya masuk ke dalam. Aku dan Mozzy sudah menyelesaikan sarapan kami masing-masing. Kami duduk dengan perut kenyang dan mata mulai mengantuk.
"Ceritakan tentang dirimu, Sobat. Dari mana asalmu?" Aku bertanya memecah keheningan. Ya, rasanya pagi ini sepi sekali. Biasanya Mr. Red dan istrinya selalu ada di halaman mereka dan tak hentinya berdebat. Semoga lelaki tua malang itu cepat pulih seperti biasa.
"Tidak ada yang menarik dari diriku. Hanya kucing yang didapatkan majikanku dari sebuah petshop. Aku mesti terpisah dengan induk dan tiga saudaraku yang lain. Saat itu aku masih kecil sekali, jadi, ya, aku tidak terlalu ingat."
Aku manggut-manggut. Tidak terbayang rasanya jika harus hidup seperti itu. Kelangsungan hidupmu ada di tangan orang lain dan kau tidak punya hak untuk menentukan keinginanmu sendiri.
"Tapi aku beruntung mendapatkan majikan seperti Karen. Terkadang ada kucing yang tidak seberuntung aku. Mereka dibiarkan tidak terurus hingga akhirnya memilih kabur dan hidup menggelandang di jalanan."
"Kau memang beruntung." Aku bergumam.
Ben kembali keluar setelah sarapan. Ia kemudian memanaskan mobil untuk bersiap menjemput Sarah. "Kalian mau ikut? Tapi kalian janji harus duduk dengan manis di dalam mobil."
Aku dan Mozzy saling berpandangan kemudian menjawab serempak, "Miaw!"
Jadilah kami berdua duduk berhimpitan di kursi penumpang bagian depan. Aku betul-betul menikmati perjalanan menuju ke rumah sakit. Ini kedua kalinya aku menghirup udara luar selama perubahan wujudku.
Perjalanan ke rumah sakit hanya memakan waktu kira-kira 20 menit. Rumah sakit Saint Thomas adalah salah satu yang terbesar dan terlengkap di Nashville. Bangunan yang terdiri dari beberapa lantai itu tampak berdiri kokoh dan megah.
Ben mengambil tempat di parkiran tanpa mematikan mesin mobil. Tak lama kemudian, Sarah muncul sambil berlari-lari kecil. Ia membuka pintu depan dan tampak takjub saat melihat aku dan Mozzy sebagai penumpang.
"Dad!" Sarah berseru sambil tertawa lepas. "Kenapa mereka berdua mengambil tempatku." Ia kemudian memeluk kami berdua sebelum akhirnya mengalah dan duduk di kursi belakang.
Aku memutuskan untuk pindah ke belakang menemani istriku. Sarah terlihat sangat senang. Ia segera meraih tubuhku dan menciuminya dengan gemas.
"Bagaimana dengan test kemarin?" Ben bertanya dengan mata tetap fokus ke depan.
"Berjalan lancar, tinggal menunggu hasilnya beberapa hari lagi, Dad."
Ben hanya mengangguk menanggapi. Setelah itu tidak ada pembicaraan lagi sampai akhirnya kami kembali ke rumah.
Sarah langsung menghalau aku dan Mozzy masuk ke dalam rumah. Sementara Ben terlihat membuka kap mobil sepertinya untuk memeriksa sesuatu. Entah apa.
Aku mengikuti Sarah masuk ke kamarnya,. Saat Mozzy kulihat juga mengekor di belakang, aku menghentikan langkah kucing itu.
"Kau mau apa?"
"Mengikutimu."
"Tidak perlu. Sarah akan mandi dan berganti pakaian. Kau tidak perlu melihatnya."
"Aku tidak bernafsu pada istrimu jika itu yang kau maksud."
"Aku tidak peduli. Jauhi kamarku."
"Aku hanya seekor kucing, asal kau tahu." Ia bergumam.
Mozzy membalikkan tubuhnya dengan muka cemberut. Aku tidak peduli. Tidak akan kubiarkan seorang manusia atau seekor kucing jantan pun yang bisa melihat tubuh istriku.
Aku berbaring di atas ranjang menunggu Sarah menyelesaikan mandinya. Setelah keluar dari kamar mandi, Sarah langsung mengenakan pakaian yang kuamati tanpa berkedip. Damn! Aku sangat merindukannya!
Suara Ben yang memanggil Sarah dari luar membuat istriku itu bergegas menyelesaikan aktivitasnya dan segera keluar kamar.
"Ada yang ingin menemuimu." Ben memberi isyarat ke arah ruang tamu.
"Siapa, Dad?"
Ben hanya mengangkat bahu lalu menuju sofa dan memencet remote televisi.
Aku mengikuti Sarah ke ruang tamu. Saat melihat siapa sosok yang sedang duduk dengan anggun di sebuah kursi panjang, mendadak aku seperti terkena serangan jantung.
Deborah!
Apa yang dilakukan gadis itu di sini, di rumahku?
Deborah segera berdiri saat melihat Sarah. Ia mengulurkan tangannya yang disambut oleh Sarah walau dengan wajah bingung.
"Apa kita pernah bertemu?" Sarah langsung bertanya setelah mempersilakan Deborah untuk kembali duduk.
Deborah mengibaskan rambutnya yang panjang kecokelatan dengan gaya menawan. Seperti biasa ia tampak luar biasa. Hari ini ia mengenakan jeans ketat yang menunjukkan kakinya yang panjang. Ia memadukan dengan atasan berkerah sabrina yang menonjolkan bahu indahnya.
"Belum pernah sekali pun, Sarah. Tapi aku cukup sering mendengar tentangmu. Aku ... teman Devon."
Sarah mengamati gadis itu dengan tatapan ragu. "Maaf, tapi sepertinya kau terlalu muda untuk menjadi teman Dev."
Deborah tertawa gugup. Aku juga tak kalah gugupnya. Kuharap gadis itu tidak bicara sembarangan.
"Ohh, iyaa. Well, lebih tepatnya, aku mengenal Devon saat di Harley's. Aku dan teman-temanku sering berkunjung ke situ. Kami sering meminta lagu khusus pada Devon untuk dia nyanyikan. Suara dan permainan pianonya sungguh luar biasa." Ekspresi memuja tidak terhindarkan dari wajah Deborah. Kuharap Sarah tidak akan bisa melihatnya.
"Oh, iya. Aku mengerti. Lalu apa yang membawamu ke rumah ini."
"Aku tadinya berkunjung ke rumah sakit, tapi perawat yang ada di sana bilang kalau kau baru saja pulang. Jadi, aku memutuskan untuk menyusul ke sini."
Deborah mencondongkan tubuhnya dengan rasa ingin tahu. "Bagaimana keadaan Devon? Apa dia akan baik-baik saja? Maaf aku baru berkunjung sekarang. Sungguh aku bukan teman yang baik, bukan?" Gadis itu memasang wajah sedih dengan dramatis.
Sarah menghela napas sejenak. Aku bisa mengenali gesturnya saat ia tidak menyukai seseorang dan inilah yang terjadi sekarang.
"Dev belum sadarkan diri sejak hari kecelakaan itu. Dia sudah dioperasi dan juga sudah menjalani test untuk memastikan keadaannya."
Deborah menggigiti kukunya. "Tentang dia dioperasi dan jatuh koma aku sudah mendengar dari Paul. Tentang test, aku baru mengetahuinya hari ini."
"Oh, syukurlah kalau kau sudah tahu itu." Sarah menjawab dengan sedikit sarkastis.
"Jadi bagaimana hasil testnya?"
"Baru keluar dalam beberapa hari ke depan. Oh, ya. Seberapa akrab kau dengan Dev?"
Aku mendengar ada kecurigaan dalam nada suara istriku. Deborah terlihat berusaha menguasai dirinya sebelum menjawab.
"Yah, seperti kubilang tadi. Aku dan teman-temanku adalah pengagum suamimu. Hanya itu."
Aku merutuk dalam hati. Untuk apa gadis ini harus mengunjungi rumahku dan menemui Sarah. Seharusnya bertanya tentang kondisiku dengan Paul sudah cukup. Aku harap Deborah tidak akan bercerita bahwa kami baru saja berkencan di hari terjadinya kecelakaan itu.
Sarah kembali mengamati Deborah, seakan untuk meyakinkan atau mungkin untuk menepis kecurigaannya. Saat akhirnya mengalihkan pandangan, matanya langsung tertuju padaku yang masih terpaku di dekat dinding pembatas ruang tamu.
"Misty, kemarilah!" Sarah menepuk-nepuk kursi memintaku untuk menghampiri.
"Kucing yang lucu. Warnanya bagus sekali, ya!" Deborah berseru saat menyadari kehadiranku.
Sungguh aneh rasanya. Walaupun kedua wanita itu takkan mengetahui siapa yang ada sebenarnya dalam wujud kucing ini, tetap saja aku merasa ditelanjangi.
Aku mendekati Sarah dan melompat ke atas pangkuannya. Sarah memusatkan seluruh perhatiannya dengan membelai punggung dan leherku. Suasana seketika menjadi hening. Sarah tampaknya tidak tertarik untuk membuka topik obrolan baru. Deborah pun begitu, gadis itu terlihat salah tingkah dan mungkin bisa merasakan kalau kehadirannya tidak diharapkan.
"Hmm, well ... sepertinya aku harus pergi sekarang. Sampaikan salamku pada Devon kalau dia sudah sadar kembali. Kuharap dia bisa kembali ke Harley's secepatnya. Banyak yang merindukan kehadirannya."
Sarah mengangkat alisnya sejenak saat mendengar kalimat terakhir Deborah. Namun, akhirnya ia hanya mengangguk lalu berdiri untuk melepas kepergian gadis itu sampai di pintu depan.
"Siapa gadis itu?" Ben langsung menodong pertanyaan saat Sarah hendak memasuki kamarnya. Mozzy kulihat tengah tertidur pulas di dekat kaki Ben.
"Teman Dev." Sarah menjawab singkat. Bisa kulihat ekspresi ketidakpuasan dari Ben atas jawaban putrinya. Namun, ia terlihat hanya menghela napas lalu kembali memusatkan perhatian ke acara yang ia tonton.
Sarah menutup pintu kamarnya rapat sesaat setelah aku ikut menyelinap masuk. Ia segera mengambil ponselnya yang tergeletak di atas kasur. Memusatkan perhatian ke benda itu dengan mengusap layarnya beberapa kali. Sarah lalu mendekatkan ponsel itu ke telinganya. Ia mau menelepon siapa?
"Halo, Paul."
Paul? Buat apa ia menelepon lelaki itu?
"Maaf kalau aku mengganggu. Umm, ada yang ingin aku tanyakan padamu. Kau mengenal seorang gadis yang bernama Deborah?"
Aku melompat ke atas ranjang dan mendekat. Berusaha mendengar apa jawaban dari Paul dari ujung sana. Sayangnya, telinga kucingku ini tidak bisa menangkap suara apa pun.
"Kau mau ke sini? Baiklah kalau begitu. Aku pergi ke rumah sakit nanti sore. Datanglah sebelum itu. Bye."
Hah! Buat apa Paul mesti datang ke rumah ini. Aku benar-benar jadi membenci temanku yang satu ini. Sepertinya ia selalu berusaha mencari celah untuk mendekati Sarah.
Sarah lalu melempar ponselnya dan membanting tubuhnya ke kasur. Matanya menerawang ke arah langit-langit kamar.
"Miaww."
Aku meringkuk di dekat lengan istriku itu. Ia terlihat masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Tak lama, ia memiringkan tubuhnya dan memejamkan mata. Kulihat napasnya mulai teratur menandakan ia sudah terlelap.
Aku merasa tidak diacuhkan. Sepertinya kedatangan Deborah tadi benar-benar menganggu pikiran Sarah. Aku benar-benar tidak tahu apa yang direncanakan oleh gadis itu hingga nekad datang ke rumah ini.
Aku juga penasaran dengan penjelasan Paul nantinya tentang Deborah. Apa ia akan memanfaatkan situasi dengan membuka semua rahasia tentang aku? Kepalaku mendadak terasa pusing luar biasa. Sungguh semua permasalahan ini rasanya membuat aku ingin menyerah.