Perjodohan

1139 Words
Sejak insiden kemarin, Ben benar-benar mengawasiku dengan ketat. Saat aku menuju teras untuk bersantai, ia akan ikut duduk mendampingi. Jika aku sedikit menjauh dari jangkauan penglihatannya, ia akan segera memanggilku. "Misty, kembali ke sini!" Entahlah, aku tidak tahu apakah harus kesal atau senang dengan bentuk perhatian yang seperti itu. Namun, yang jelas ruang gerakku jadi semakin terbatas. Pukul sembilan pagi, Ben pergi untuk menjemput Sarah. Ia benar-benar memenuhi janji untuk mengantar dan menjemput putrinya itu dari rumah sakit. Sampai sekarang, aku tidak tahu alasan apa yang akhirnya membuat ia membatalkan niat untuk memberitahu Sarah tentang semua kelakuanku. Aku menganggap itu suatu keajaiban. Mengingat betapa marahnya ia hari itu setelah mendengar langsung dari mulut Christopher. Kira-kira pukul sebelas, mereka akhirnya kembali. Aku sudah gelisah menanti sedari tadi. Bolak-balik memeriksa jam di dinding sambil bertanya-tanya apa yang terjadi sampai mereka selama itu pulang ke rumah. Ben keluar dari mobil dan membuka pintu bagian belakang. Sarah keluar menyusul sang ayah dan langsung melangkah memasuki halaman. Ben tampak mengeluarkan sesuatu dari dalam mobil. Sebuah kotak berbahan plastik kokoh berbentuk persegi ia tenteng masuk ke teras. "Halo, Misty." Sarah segera menggendong saat melihatku yang duduk menunggu di kursi teras. "Aku punya kejutan untukmu." Kejutan? Apa itu? Ben yang sudah berdiri di depan Sarah mengacungkan kotak persegi yang dibawanya. "Kau mendapatkan pejantan, kucing kecil." Ia kemudian tersenyum lebar. Apa? Apa aku tidak salah dengar? Jadi mereka serius dengan ucapan mereka kemarin? Oh, sungguh tidak masuk akal! Mereka langsung masuk ke dalam rumah. Heleh menyambut mereka dan segera membuka penutup kotak persegi itu lalu mengeluarkan isinya. "Wahh, kucing ini sangat tampan!" Ia berseru takjub pada seekor kucing yang terlihat memicingkan matanya dengan malas. Kucing itu berbulu putih dengan corak hitam kecokelatan di wajah dan ekornya. "Kucing ini dari jenis Himalaya. Aku meminjamnya dari temanku untuk beberapa hari. Mudah-mudahan mereka cocok. Anak-anak mereka nantinya pasti sangat lucu." Sarah berucap begitu bersemangat. Aku mendadak merasa mual. Sejenak aku beradu pandang dengan kucing putih yang berada dalam gendongan Helen. Kami lalu sama-sama membuang muka. Huh! Coba saja kalau dia mencoba mendekatiku. Akan kucakar habis mukanya. "Siapa nama kucing ini?" Helen bertanya. "Namanya Mozzy." Ben menjawab singkat sambil mengelus leher kucing putih itu. Hmm, pria tua ini mendadak sudah menjadi pecinta kucing dalam waktu singkat. Kucing putih itu hanya diam mendapatkan sambutan yang berlebihan seperti itu. Ia tampak tenang dan tidak banyak tingkah. Hanya saja matanya sibuk mengawasi setiap sudut rumah dengan cuping hidung kembang kempis. Helen sejenak mengamati aku yang masih berada dalam gendongan Sarah. "Bulu-bulu Misty sudah menggumpal, Sarah. Apa tidak sebaiknya kau mandikan dia sekarang?" "Ide bagus, Mom. Aku memang sudah berniat seperti itu. Misty harus tampil cantik untuk menyambut kekasihnya." Oh, sudahlah! Pembicaraan ini sudah terlalu memuakkan. Aku meronta-ronta hendak melepaskan diri dari Sarah. Namun, ia memeluk kian erat dan membawaku ke wastafel yang ada di dapur. "Tenanglah, Misty. Jangan melawan." Helen duduk di kursi meja makan untuk menonton pertunjukan siaran langsung saat aku mandi. Kucing putih itu masih berada dalam pangkuannya. Helen tak henti berceloteh bahwa bulu kucing itu terasa lebih halus dibandingkan aku. Huh! Menyebalkan! Aku akhirnya dimandikan di bawah tatapan kucing putih bernama Mozzy tersebut. Sayup kudengar suara tawa tertahan yang berasal dari kucing itu. Aku segera melotot dan meneriakinya dengan suara bergetar karena kedinginan. Pasti aku terlihat sangat konyol sekarang ini. Buluku basah kuyup dan gemetar hebat. "Apa yang kau tertawakan, kucing bodoh!" "Kau terlihat menyedihkan, Hitam." "Jaga ucapanmu! Jangan cari gara-gara denganku!" Aku masih ingin meneriakkan sumpah serapah, tetapi urung karena Sarah telah membaluti tubuhku dengan sebuah handuk tebal. "Baiklah, baiklah. Misty sekarang sudah cantik kembali." Sarah bergumam bahagia sambil menggosok tubuhku dengan keras. "Kucing ini sama sekali tidak rewel." Helen masih terus saja memuji kucing sialan itu. "Mozzy memang kucing baik, Mom. Makanya aku meminta pada temanku agar dia bisa menginap di sini beberapa hari. Aku yakin dia tidak akan menyusahkan." Sarah berkata sambil mengeringkan buluku menggunakan hairdryer. "Nah, selesai!" Sarah menatapku dengan pandangan puas. "Sekarang kalian boleh berkenalan satu sama lain. Mom, bantu aku meletakkan mereka berdua di kandang." Kandang yang Sarah maksudkan terletak di sudut antara dapur dengan kamar tamu. Kandang berukuran sedang itu biasanya jarang dipakai karena Misty dibiarkan bebas berkeliaran di dalam rumah. Sarah memasukkan aku ke dalam kandang dengan sedikit perlawanan dariku. Aku mengeluarkan suara desisan saat akhirnya Mozzy juga dipaksa untuk masuk. "Kalian berdua jangan bertengkar, ya." Sarah menutup pintu kandang dengan senyuman licik di wajahnya. Seandainya kau tahu siapa yang sedang kau perlakukan seperti ini, Sarah! Sesaat aku dan kucing putih itu hanya saling menatap kemudian sama-sama membuang muka. "Kau bukan tipeku." Kucing itu membuka pembicaraan. "Aku juga jijik padamu." Aku menjawab dengan sengit. Mozzy kemudian sibuk menjilati bulunya dan mengabaikan ucapanku. Aku duduk meringkuk di sudut kandang sejauh mungkin darinya. Coba saja kalau dia berani macam-macam, akan aku hiasi wajahnya dengan cakaran. Lelah menjilati dirinya sendiri, kucing itu kemudian berbaring dengan kepala bertumpu pada salah satu kaki depannya. Matanya tampak memicing. Setelah yakin kalau ia sudah tertidur, aku pun memutuskan untuk ikut memejamkan mata. Rasanya aku hampir melayang ke alam mimpi saat tiba-tiba merasakan embusan napas tepat di wajahku. Aku segera melompat berdiri ketika menyadari kucing putih dengan bercak hitam kecokelatan pada bagian hidungnya itu mengendus-endus tepat di mukaku. "Apa yang kau lakukan kucing m***m! Menjauhlah dariku!" Aku pindah ke sudut lain kandang itu. Tubuhku benar-benar terasa gatal karena jijik. "Kau berbeda." Mozzy menatap tajam ke arahku. "Apa maksudmu?" "Kau berbeda dengan kucing betina lain yang biasa kutemui. Baumu juga tidak biasa. Ada sesuatu yang aneh dari dirimu, tapi aku tidak tahu apa." Aku terdiam. Ternyata kucing ini cukup cerdas dan peka. Apakah aku harus bercerita pada kucing ini? Apa dia akan percaya semua ucapanku. Sementara aku sendiri sampai detik ini sulit untuk mempercayai apa yang telah terjadi. Ah, tidak ada salahnya kucoba. Baiklah, aku mulai mengatur napas. "Aku sebenarnya bukan kucing. Aku adalah pria dewasa yang terjebak dalam tubuh kucing betina ini. Jadi, kita sebenarnya satu gender. Kuharap kau tidak melakukan hal-hal aneh padaku." Mozzy terdiam sambil menatapku tak berkedip. Tak lama, semburan tawa keluar dari moncongnya yang kecokelatan. Ia tertawa sampai berguling-guling memamerkan perutnya yang putih bersih. Darahku mendidih karena merasa ceritaku disepelekan. Namun, setelah kupikir kembali, wajar ia bereaksi seperti itu. Di mana bisa kau temukan manusia yang berwujud kucing atau mungkin sebaliknya. Akhirnya tawanya yang menyebalkan itu berhenti. Ia kembali memasang wajah serius dan kembali fokus padaku. "Kau bercanda, bukan?" Aku berdiri sambil mengibaskan ekor. Bercanda? Seandainya hidupku memang sebercanda itu, tentu akan lebih menyenangkan. "Aku tidak bercanda. Memang itu kenyataannya. Terserah kalau kau tidak mempercayainya. Jujur saja, sampai sekarang pun aku masih sulit menerima kenyataan." Aku kembali duduk meringkuk. Tak lama kemudian Sarah kembali datang. Ia membawa dua mangkok makanan di tangannya. "Saatnya makan!" Ia berseru dengan ceria sambil membuka pintu kandang. Aku memanjangkan leher melihat isi mangkok itu. Cihh! Makanan lembek yang menjijikkan itu lagi! _____
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD