Hari ini suasana hati Ben tidak juga membaik. Pagi hari ia sudah membuat keributan dengan mengomeli istrinya soal sarapan.
"Kenapa hari ini sarapannya ayam lagi, Helen! Aku butuh variasi. Kemarin juga ayam, sekarang ayam. Lama-lama aku juga bisa berkotek seperti ayam!" Ben menolak piring yang disodorkan oleh Helen.
Helen tampak mengelus d**a melihat tingkah suaminya yang seperti anak kecil. "Jadi, kau mau dibikinkan sarapan apa, Sayang?"
Ben bangkit dari kursinya. "Sudahlah! Aku tidak lapar." Lelaki itu melangkah cepat menuju pintu depan.
Helen hanya termangu menatap kepergian suaminya. Ia kemudian terlihat hendak membereskan sarapan yang ditolak mentah-mentah oleh Ben.
"Miaw miaw. " Helen, bagaimana kalau kau berikan saja makanan itu kepadaku. Aku juga lapar.
Wanita bertubuh langsing itu menoleh ke arahku. "Misty, ini buatmu saja. Ayo, sini. Puss, puss." Helen meletakkan piring itu di dekat kursi.
Aku menyantap dengan lahap. Walau bagaimanapun, aku perlu tenaga untuk tetap hidup sambil mencari cara bagaimana caranya untuk kembali ke tubuhku semula. Aku menghitung dalam hati. Waktuku tinggal 20 hari lagi dan aku benar-benar tidak punya ide apa pun tentang bagaimana cara untuk kembali.
Setelah menghabiskan sarapan, aku duduk termangu. Ketulusan cinta ... entah sudah berapa ratus kali aku mengulangi kata-kata itu dalam hati. Bagaimana caranya aku membuktikan ketulusan cintaku? Oh, Misty! Tolonglah beri aku petunjuk!
Aku masih mencintai Sarah. Aku menyadari bahwa rasa cintaku padanya masih utuh. Bahkan, rasa cinta itu semakin besar sejak hari aku berubah wujud menjadi seekor kucing. Namun, bagaimana cara aku menjelaskannya?
Huh! Rasanya suasana hatiku pun ikutan memburuk saat memikirkan hal itu. Lebih baik aku keluar saja mencari hiburan. Aku menyelinap dari teralis dan melompat ke teras. Ternyata Ben juga sedang duduk di situ. Ia terlihat melamun. Matanya memandang kosong ke arah rerumputan.
"Miaw miaw."
Aku mencoba menyapanya. Aku merasa hubungan kami sudah membaik walaupun tidak sepenuhnya benar. Ben hanya berubah jadi menyukai Misty, bukan menyukaiku.
Ben sontak menoleh. Sorot matanya tampak sendu dan penuh kesedihan. "Hei, ke sini kau kucing kecil. Naiklah ke sini." Ben menepuk-nepuk pahanya.
Aku menolak dan lebih memilih duduk di kursi sebelahnya. Ben tidak patah arang, ia bangkit dan meraih tubuhku kemudian meletakkan dalam pangkuannya.
Ia kembali melamun sambil mengelus kepala dan leherku. Sejujurnya aku merasa geli dan canggung. Namun, aku juga tidak tega melihat kondisinya yang terlihat benar-benar sedih.
"Hai, Ben! Kau sedang apa?"
Suara serak terdengar dari rumah sebelah. Aku dan Ben menoleh secara bersamaan. Terlihat Mr. Red sedang berusaha duduk di sebuah kursi dibantu oleh istrinya.
"Kau sudah membaik, Harry?"
"Well, aku baik-baik saja. Terima kasih sudah menanyakan, Ben."
Di mataku Mr. Red masih tampak sedikit pucat. Namun, sepertinya lelaki itu berusaha untuk meyakinkan orang-orang bahwa tak ada sesuatu yang salah dengan dirinya.
"Kemarilah, Ben. Temani aku berjemur. Rosie sebenarnya melarang aku keluar, tapi rasanya aku akan makin sakit jika hanya tiduran terus." Mr. Red berkata sambil tertawa kecil.
Ben berdiri sambil menggendong tubuhku. Dengan langkah cepat ia melintasi pagar menuju teras rumah Mr. Red. Ia kemudian mengambil tempat di sebelah lelaki itu.
"Well, inikah pahlawan kecil kita itu, Ben? Aku menyesal dulu sering memarahinya." Mr. Red menatapku dengan mata berbinar.
"Iya, kucing ini juga telah merubah pandanganku. Mungkin mereka bukan makhluk yang buruk seperti prasangkaku sebelumnya."
Kemudian lagi-lagi mereka membahas tentang tindakanku waktu itu. Huh, lama-lama aku jadi bosan mendengarnya.
"Seandainya kau melihat saat kucing ini menggigit celanaku untuk memberitahu tentang keadaanmu, Harry. Untung aku cukup pintar untuk mengerti isyarat darinya." Ben juga sekaligus membanggakan dirinya.
Mr. Red mengangguk-angguk. Wajahnya penuh kekaguman saat melihatku yang ada dalam pangkuan Ben.
"Biasanya aku melihat kisah penyelamatan oleh binatang hanya dari sebuah film. Tidak menyangka jika ada dalam kehidupan nyata dan aku mengalaminya sendiri."
Hmm, jika yang ada dalam tubuh ini masih Misty yang asli, aku jamin dia tidak akan berbuat seperti yang aku lakukan. Kucing itu tidak pernah peka dengan apa pun yang ada di sekelilingnya.
"Kemarin aku berbicara dengan Christopher." Ben mengubah topik pembicaraan.
Mr. Red tampak antusias mendengarnya. "Oh, benarkah? Lalu bagaimana menurutmu, Ben?"
Ben menggeleng. "Entahlah. Jika menuruti kata hatiku, aku ingin langsung menceritakan hal itu pada Sarah. Tapi aku juga menimbang perasaannya yang masih berduka. Aku belum bisa memutuskan bagaimana baiknya."
"Lebih cepat lebih baik. Aku selalu menganut prinsip itu dalam hal apa pun." Mr. Red memberi dorongan pada Ben.
Oh, tahan dulu, Ben! Jangan dengarkan lelaki tua botak itu. Setidaknya tunggu sampai aku sadar kembali agar aku bisa menjelaskan semuanya pada kalian. Aku melompat dari pangkuan Ben. Rasanya aku sudah tidak sanggup mengikuti pembicaraan mereka.
Aku kembali ke rumah lalu duduk meringkuk di kursi teras. Membosankan sekali menjalankan hari-hari seperti ini. Biasanya aku adalah orang yang aktif. Namun, sekarang ruang gerakku menjadi benar-benar terbatas.
Mobil Sarah berhenti di depan rumah. Ia keluar dari pintu pengemudi dengan wajah ditekuk. Ia terlihat menoleh sepintas pada Ben dan Mr. Red yang masih asyik mengobrol.
"Hai, Mr. Red. Anda sudah baikan?" Ia menyapa dengan senyuman dipaksakan.
"Aku baik-baik saja, Sarah. Terima kasih."
Sarah hanya mengangguk lalu kembali melangkah tanpa menyapa ayahnya.
Oh, sepertinya suasana hatinya juga sedang tidak baik-baik saja.
"Hai, Misty." Ia menyapaku setelah sampai di teras kemudian berlalu masuk ke rumah.
Hei! Tidak adakah pelukan dan ciuman untukku seperti biasanya, Sarah? Aku mengejarnya masuk ke dalam. Jangan acuhkan aku seperti ini, Sarah. Kau hanya akan membuat hariku makin memburuk.
"Miaw miaw miaw."
Aku berusaha menarik perhatian istriku itu. Namun, Sarah hanya melirik sejenak lalu melangkah masuk ke kamarnya.
"Sarah, kau sudah pulang?" Helen menyusul Sarah masuk ke kamar. Aku menyamai langkah wanita tua itu.
Sarah tampak sedang duduk di pinggir ranjang. Tas yang ia kenakan masih tersampir di bahunya.
"Kau baik-baik saja, Nak?" Helen menyentuh pundak putrinya. Sarah menoleh ke arah Helen dengan mata berkaca-kaca.
"Entahlah, Mom. Rasanya hatiku kacau. Beberapa hari lagi para dokter akan mengadakan berbagai macam test untuk memastikan kondisi Devon. Aku takut hasilnya di luar harapanku."
Helen memeluk putrinya sambil membisikkan kalimat-kalimat untuk menguatkan Sarah. Sarah tersedu dalam dekapan sang ibu. Aku melompat ke atas ranjang dan naik ke pangkuan istriku itu.
"Miaw miaw." Sudahlah, Sarah. Jangan bersedih. Semoga saja hasil test itu tidak begitu buruk.
Sarah mengelus leherku dengan lembut. "Kau sudah sarapan, Misty?"
Bahkan, di sela kesedihannya ia masih saja memberikan perhatian yang tulus. Oh, istriku. Aku pria yang sangat beruntung, tapi jarang merasa bersyukur.
"Tadi dia sudah makan. Sekarang giliranmu untuk sarapan. Ayo, kau harus tetap sehat dan kuat." Helen menarik tangan putrinya menuju meja makan. Ia memanaskan sarapan sambil terus mengajak Sarah mengobrol.
"Bagaimana dengan Daddy, Mom? Apa suasana hatinya sudah membaik?"
Helen menceritakan kejadian pagi tadi kepada Sarah. "Nanti dia juga akan biasa kembali. Aku sudah mengerti dengan watak ayahmu. Dia memang begitu jika sedang banyak pikiran. Jadi, tidak usah terlalu diambil hati."
Ben masuk ke dapur tak lama kemudian. Ia segera mengambil tempat duduk di hadapan putrinya.
"Helen, siapkan aku sarapan. Aku lapar."
Helen tersenyum lalu memeluk dan mengecup sekilas pipi suaminya. Ia lalu dengan cekatan menyiapkan sarapan yang tadinya sempat ditolak Ben.
"Sarah ...."
Ben menumpukan kedua tangannya di dagu sambil menatap putrinya dengan tajam. Sarah yang hendak menyuap langsung meletakkan sendoknya.
"Iya, Dad?" Matanya menatap Ben dengan pandangan bertanya-tanya. Oh, apakah sekarang ini saatnya Ben untuk bercerita? Tubuhku tiba-tiba terasa panas dingin.
"Aku minta maaf telah bertindak egois padamu belakangan ini. Aku mungkin bukan ayah yang baik, tapi percayalah, aku punya alasan untuk hal itu. Sekarang mungkin belum saatnya untuk kau mengetahui alasanku bersikap seperti itu. Mungkin nanti jika waktunya sudah tepat." Ben berucap sambil memandang lurus pada Sarah.
Sarah menyeka sudut matanya yang basah. Ia kemudian bangkit dari kursinya, memutari meja makan lalu memeluk erat ayahnya. Helen juga terlihat mengusap air mata. Aku sendiri ikut terharu melihat pemandangan itu. Sekaligus lega karena Ben akhirnya tidak sampai hati membuka semua kelakuanku pada Sarah. Setidaknya untuk sekarang ini.
"Nanti aku akan mengantarmu ke rumah sakit. Selanjutnya aku juga yang akan menjemputmu. Setidaknya, cuma itu yang bisa kulakukan untuk menebus kesalahanku."
Tangis Sarah pun pecah. "Oh, Daddy, terima kasih. Aku sungguh mencintaimu."
Ben menepuk-nepuk bahu putrinya dengan gerakan canggung. Namun, senyumnya tampak semringah. Wajah yang biasanya terlihat kecut itu mendadak cerah, seakan semua beban pikirannya terangkat begitu saja.
Akhirnya suasana menjadi normal kembali. Mereka bertiga asyik berbincang mengenai banyak hal. Aku lalu memilih untuk kembali duduk di teras rumah untuk bersantai.
Baru saja aku membaringkan tubuh di lantai teras, sebuah suara serak terdengar menyapa.
"Hallo, Manis. Masih ingat padaku?"
Ck! Kucing sialan itu lagi rupanya! Kali ini aku memutuskan untuk menghadapinya dengan jantan. Yah, walaupun aku terjebak dalam tubuh kucing betina, tapi tetap saja aku berjiwa jantan, bukan?
"Jangan ganggu aku lagi! Menjauhlah atau kau akan menyesal nantinya!" Aku memelototi kucing berbulu oranye itu.
"Ow ow ow. Kau terlihat cantik saat sedang marah-marah begitu." Mata kucing sialan itu tampak mengedip-ngedip dengan genit.
Amarahku sungguh tidak tertahankan lagi. Aku segera menyerang kucing itu, tidak peduli dengan ukuran tubuhnya yang jauh lebih besar dariku.
Aku melayangkan cakaran dengan membabi-buta. Bisa kusaksikan gumpalan bulu yang lepas akibat perkelahian itu. Mungkin sebagian besar adalah buluku sendiri. Kucing itu dengan santainya menepis semua seranganku. Tiba-tiba dengan satu gerakan cepat, kucing oranye itu sudah berada di atas punggungku.
Aku menjerit-jerit dengan panik. Berusaha melepaskan diri dari tindihan kucing itu. Namun, kucing itu berusaha menahanku dengan bobot tubuhnya.
Oh, tidak! Seseorang, tolong selamatkan aku!
Di saat genting, tiba-tiba sebuah sepatu melayang telak mengenai tubuh kucing jantan yang sedang bersiap-siap untuk menodaiku.
"Pergilah kau kucing b******k! Damn! Dari mana kucing ini berasal!"
Ben kemudian mengejar hingga kucing itu tunggang-langgang menjauhi rumah. Tubuhnya yang gemuk tidak menghalangi lelaki itu berlari dengan kencang.
Sarah dan Helen yang juga ikut keluar dari rumah, menghampiri aku yang sedang meringkuk dengan tubuh gemetar. Peristiwa barusan betul-betul membuat aku shock.
"Oh, Misty! Kemarilah, kasihan sekali dirimu." Sarah segera menggendong dan memeriksa sekujur tubuhku.
Ben yang sudah kembali dari pengejarannya juga ikut memeriksaku dengan cermat. Baru kali ini aku merasa betul-betul dicintai oleh semua orang di rumah ini. Ah, aku merasa sungguh terharu.
"Mulai sekarang Misty harus benar-benar diawasi dengan ketat. Kelihatannya sekarang sudah mulai musim kawin bagi para kucing. Aku tidak mau Misty kawin dengan kucing sembarangan." Ben berkata layaknya seorang ayah yang sedang menjaga kesucian putrinya.
"Iya, Dad. Misty juga sudah memasuki usia yang cukup untuk punya keturunan. Sepertinya aku harus segera mencari pejantan yang cocok untuknya."
Aku mendadak merasa tercekik saat mendengar perkataan Sarah. Oh, apa lagi ini! Bagaimana mungkin kalian mencari pejantan untukku sementara aku juga seorang JANTAN!
Tuhan! Ironi apa lagikah ini! Masih belum cukupkah drama yang kualami belakangan ini? Belum cukup lucukah hidupku saat tiba-tiba harus terjebak dalam tubuh seekor kucing betina? Kumohon, sudahlah. Akhiri semua ini, Tuhan!