Suasana di dalam ruang kerja pribadi Alaric terasa jauh lebih dingin daripada udara pagi yang membeku di luar Vance Manor. Aroma cerutu mahal yang dibiarkan mati di asbak kristal bercampur dengan bau kertas-kertas kuno dan aroma logam dari perangkat keras komputer yang bekerja tanpa henti. Paket hitam berisi kartu merah darah dan koin emas yang retak masih tergeletak di atas meja kayu ek, seolah-olah menjadi saksi bisu atas kehancuran mental Lord Harrison yang baru saja terjadi. Alaric berdiri membelakangi ruangan, menatap kabut yang mulai menyelimuti taman melalui jendela kaca besar, sementara pikirannya bekerja dengan kecepatan yang melampaui logika manusia biasa. Ia menyadari bahwa ancaman ini bukan sekadar urusan hutang piutang biasa yang bisa diselesaikan dengan selembar cek. Pesan t

