BAB 1: BANGUN KEMBALI
Kematian, ternyata, tidak memiliki suara.
Alaric Sterling terengah-engah di atas lantai marmer dingin kantornya yang dulu megah, namun kini terasa seperti sarkofagus yang menyesakkan. Cairan hangat—darahnya sendiri—merembes melalui kemeja sutra yang harganya lebih mahal daripada nyawa rata-rata orang di London. Pengkhianatan Caspian Thorne adalah pisau yang menghujam tepat di jantung kerajaan bisnisnya, tapi penyesalan terhadap seorang wanita adalah racun yang benar-benar membunuhnya.
Elara...
Nama itu bergema di rongga dadanya yang hancur. Bayangan wajah istrinya yang pucat, layu, dan meninggal dalam kemiskinan setahun lalu di sebuah apartemen sewaan yang kumuh karena pengabaiannya, menjadi memori terakhir yang membakar matanya. Alaric telah memenangkan dunia, tetapi ia kehilangan satu-satunya jiwa yang pernah mencintainya tanpa syarat.
Lalu, kegelapan menelannya bulat-bulat.
"Alaric? Kau mendengarku?"
Suara itu lembut, namun bergetar karena ketakutan yang tertahan.
Alaric tersentak. Paru-parunya tiba-tiba terisi oksigen dengan kasar, seolah ia baru saja ditarik dari dasar samudra yang dalam. Rasa sakit yang tajam di dadanya menghilang, digantikan oleh rasa pening yang luar biasa. Ia merasakan permukaan empuk di bawah tubuhnya—bukan lantai marmer yang keras, melainkan seprai satin yang halus.
Ia membuka mata. Penglihatannya kabur sejenak sebelum fokus pada langit-langit kamar yang dihiasi lampu kristal mewah. Bau parfum mawar yang samar menyapa indra penciumannya. Bau yang sangat ia kenali. Bau yang seharusnya sudah terkubur bersama tanah di pemakaman Highgate.
"Alaric... jika kau sangat membenciku, kau tidak perlu menatapku seperti itu. Aku akan... aku akan keluar."
Alaric menolehkan kepalanya dengan kaku. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat melihat sosok di samping ranjang.
Elara Vance.
Dia berdiri di sana, mengenakan gaun pengantin putih yang luar biasa indah namun tampak menyesakkan. Wajahnya masih semulus porselen, tanpa jejak penyakit atau kemiskinan yang merenggut nyawanya di masa depan yang Alaric ingat. Matanya yang berwarna cokelat madu berkaca-kaca, memancarkan luka yang begitu dalam hingga Alaric merasa napasnya tercekat.
"Elara?" bisik Alaric. Suaranya serak, asing di telinganya sendiri. Ia menyentuh lehernya, tidak ada lubang peluru. Ia melihat tangannya, tidak ada darah. Jam tangan Patek Philippe di pergelangan tangannya menunjukkan tanggal yang mustahil: 26 Maret 2021.
Malam pernikahannya.
Ini adalah malam di mana ia meninggalkan Elara sendirian di kamar pengantin untuk terbang ke New York demi pertemuan akuisisi yang sebenarnya bisa ditunda. Malam di mana ia secara resmi membangun tembok es yang menghancurkan pernikahan mereka selama lima tahun ke depan.
"Kenapa kau menyebut namaku seolah-olah aku orang asing?" Elara mundur selangkah, jari-jarinya meremas buket bunga lili yang sudah mulai layu. "Aku tahu pernikahan ini hanya transaksi untuk menyelamatkan ayahku. Aku tahu kau tidak menginginkanku di sini. Kau sudah mengatakannya berulang kali tadi siang."
Alaric tidak menjawab. Ia bangkit dari ranjang dengan gerakan cepat yang membuat Elara tersentak mundur karena terkejut. Alaric melangkah mendekat, mengabaikan rasa peningnya, dan tanpa peringatan, ia menarik Elara ke dalam pelukannya.
Tubuh Elara membeku. Ia tidak membalas, tangannya menggantung kaku di sisi tubuhnya. Ia bisa merasakan detak jantung Alaric yang berdegup kencang melawan dadanya. "Alaric... apa yang kau lakukan? Apakah kau mabuk?"
"Diamlah sejenak," gumam Alaric, membenamkan wajahnya di ceruk leher Elara. Hangat. Dia benar-benar hangat. Dia hidup. Ini bukan mimpi halusinasi sebelum ajal. Takdir, entah dengan lelucon apa, telah melemparkannya kembali ke titik nol.
Penyesalan bertahun-tahun tumpah dalam satu pelukan itu. Alaric memejamkan mata, bersumpah dalam hati. Kali ini, aku tidak akan membiarkanmu layu. Kali ini, aku akan menjadi pedangmu, bukan durimu.
Tiba-tiba, ponsel di atas meja nakas bergetar hebat. Alaric melepaskan pelukannya, meski dengan berat hati. Ia melihat layar ponselnya. Nama yang muncul membuat rahangnya mengeras hingga otot-ototnya menegang.
Julian – Sterling Global.
Julian, salah satu dari "Tiga Pilar" yang nantinya akan membukakan pintu bagi Caspian Thorne untuk menghancurkannya. Di kehidupan pertama, telepon inilah yang membuat Alaric pergi meninggalkan Elara malam ini.
Alaric mengangkat telepon itu.
"Tuan Sterling," suara Julian terdengar mendesak di seberang sana. "Jet pribadi sudah siap di Heathrow. Pertemuan dengan para pemegang saham di New York dijadwalkan sepuluh jam lagi. Jika kita tidak berangkat sekarang, kita akan kehilangan momentum untuk mengambil alih sektor properti Manhattan."
Alaric melirik Elara. Wanita itu menunduk, matanya menatap lantai, bahunya merosot seolah ia sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Dia sudah bersiap untuk ditinggalkan. Dia sudah terbiasa dianggap sebagai gangguan bagi ambisi Alaric.
"Batalkan," ucap Alaric dingin.
Hening sejenak di seberang sana. "Maaf, Tuan? Batalkan? Tapi kontrak ini bernilai dua miliar pound—"
"Aku tidak suka mengulang perintahku, Julian," potong Alaric, suaranya mengandung otoritas yang jauh lebih tajam daripada Alaric yang berusia 27 tahun yang asli. Ini adalah suara seorang pria yang telah melihat kerajaannya runtuh dan bangkit dari kematian. "Batalkan perjalanan bisnis ke New York. Katakan pada mereka aku punya urusan yang jauh lebih mendesak. Jika ada yang keberatan, katakan pada mereka untuk mengirimkan keluhannya langsung ke meja kantorku hari Senin pagi."
"Tapi, Tuan... urusan apa yang lebih penting dari akuisisi Manhattan?"
Alaric menatap Elara yang kini mengangkat kepalanya dengan ekspresi tidak percaya. "Istriku. Urusanku adalah menemani istriku di malam pernikahan kami. Apakah itu cukup jelas bagi otakmu?"
Tanpa menunggu jawaban, Alaric mematikan ponselnya dan melempar benda itu ke sofa seolah benda itu adalah sampah beracun.
Kamar kembali hening. Elara menatapnya seolah Alaric baru saja menumbuhkan kepala kedua. "Kau... kau membatalkan perjalanan ke New York? Alaric, kau terobsesi dengan proyek itu sejak enam bulan lalu. Apa kau benar-benar sakit?"
Alaric melangkah mendekati istrinya lagi. Kali ini, ia menyentuh pipi Elara dengan ibu jarinya, gerakan yang sangat lembut hingga membuat Elara menahan napas.
"Aku tidak sakit, Elara. Aku hanya baru saja terbangun dari mimpi buruk yang sangat panjang," kata Alaric dengan nada yang dalam dan tulus.
"Aku tidak mengerti," bisik Elara. "Tadi pagi kau bahkan tidak mau menatap mataku saat kita mengucapkan janji. Sekarang kau membatalkan pekerjaanmu?"
Alaric merasakan tusukan rasa bersalah di hatinya. Benar, di kehidupan lalu, ia memperlakukan hari ini seperti pemakaman, bukan pernikahan. "Aku melakukan banyak kesalahan hari ini, Elara. Dan membiarkanmu sendirian malam ini adalah kesalahan yang tidak akan pernah kulakukan lagi. Tidak malam ini, tidak selamanya."
Elara mencoba mencari kebohongan di mata abu-abu Alaric, namun ia tidak menemukannya. Yang ada hanyalah kejujuran yang menakutkan dan sejenis kerinduan yang sangat hebat, seolah Alaric sudah tidak melihatnya selama berabad-abad.
"Aku akan mandi sejenak," ucap Alaric, berusaha meredakan ketegangan. "Lalu, jika kau belum terlalu lelah, mungkin kita bisa memesan layanan kamar dan bicara? Hanya bicara."
Elara hanya mampu mengangguk pelan, masih merasa seolah-olah dunia di sekitarnya telah bergeser dari porosnya.
Alaric berjalan menuju kamar mandi mewah di kamar penthouse itu. Saat pintu tertutup, ia bersandar di balik pintu dan mengembuskan napas panjang. Tangannya sedikit gemetar.
Ia berjalan menuju cermin besar di atas wastafel marmer. Ia menatap bayangannya sendiri—seorang pria muda yang belum hancur oleh beban pengkhianatan. Alaric menyiram wajahnya dengan air dingin, membiarkan sensasi segar itu meyakinkannya bahwa ini adalah kenyataan.
Ia menatap matanya sendiri di cermin. Tatapan yang kini penuh dengan kalkulasi mematikan.
Caspian Thorne. Harris. Julian. Brandt.
Nama-nama itu terpatri di otaknya dengan tinta merah. Mereka pikir mereka sedang bermain dengan seorang pemuda sombong yang bisa mereka manipulasi. Mereka tidak tahu bahwa mereka sedang berhadapan dengan hantu yang membawa dendam dari masa depan.
Di kehidupan pertama, Alaric Sterling adalah mangsa yang disembelih dengan perlahan. Di kehidupan ini, Alaric akan menjadi pemangsa yang menghuni mimpi buruk mereka.
Ia akan menghancurkan mereka satu per satu. Ia akan mengamankan Sterling Global hingga tidak ada satu celah pun yang bisa ditembus. Dan yang paling penting, ia akan membangun benteng di sekeliling Elara Vance agar tidak ada satu pun tetes air mata yang jatuh dari mata wanita itu karena ulahnya.
"Malam ini adalah awal dari akhir kalian," gumam Alaric pada bayangannya sendiri.
Kesadaran akan kehidupan kedua ini bukan hanya sebuah keajaiban bagi Alaric. Itu adalah vonis mati bagi musuh-musuhnya.
Alaric menegakkan bahunya, merapikan rambutnya, dan memasang kembali topeng ketenangannya. Ia melangkah keluar dari kamar mandi, siap menghadapi malam pertamanya di masa lalu. Malam pertama untuk menulis ulang takdir yang seharusnya sudah berakhir di lantai marmer yang dingin.