Cahaya matahari London yang pucat menembus celah gorden beludru abu-abu di kamar penthouse Sterling Suite, membelah kegelapan yang sempat menyelimuti pikiran Alaric Sterling sepanjang malam. Ia tidak benar-benar tidur. Bagaimana mungkin seorang pria yang baru saja merasuki mayatnya sendiri lima tahun yang lalu bisa memejamkan mata dengan tenang?
Setiap kali Alaric mencoba tertidur, ia melihat kilas balik lantai marmer yang bersimbah darah dan tawa dingin Caspian Thorne. Namun, setiap kali ia membuka mata, ia melihat punggung ramping Elara Vance yang tertidur membelakanginya di sisi lain ranjang king-size itu.
Alaric bangkit perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara sekecil apa pun. Ia duduk di tepi ranjang, menyandarkan sikunya di lutut, dan menatap wanita yang kini menjadi pusat semestanya.
Di kehidupan pertama, pagi setelah pernikahan mereka adalah bencana. Alaric sudah berangkat ke bandara pukul empat subuh tanpa sepatah kata pun, meninggalkan catatan sekretaris yang dingin tentang jadwal pertemuan mereka berikutnya. Ia ingat betapa ia membenci pernikahan ini—sebuah aliansi paksa untuk menyelamatkan aset keluarga Vance yang merosot. Ia menganggap Elara sebagai beban, sebuah pengingat akan kelemahan ayahnya sendiri dalam bernegosiasi.
Namun sekarang, melihat Elara yang terlelap dengan rambut pirang pucatnya yang tersebar di atas bantal sutra, Alaric merasakan sesak yang berbeda. Penyesalan itu datang seperti gelombang pasang, menenggelamkan logika dingin yang selama ini ia agungkan.
Bagaimana bisa aku menyebutnya beban? pikir Alaric. Dia adalah satu-satunya orang yang menangisi nisan kosongku saat semua orang merayakan kejatuhanku.
Elara bergerak sedikit, mengerang pelan dalam tidurnya. Alaric membeku. Ia mengamati bulu mata lentik istrinya, kulitnya yang sewarna gading, dan garis bibirnya yang sedikit melengkung ke bawah—sebuah tanda bahwa bahkan dalam tidurnya pun, wanita ini membawa beban kesedihan.
Alaric mengulurkan tangan, jemarinya menggantung hanya beberapa inci dari pipi Elara. Ia ingin menyentuhnya, memastikan sekali lagi bahwa ini bukan sekadar halusinasi pasca-kematian. Namun, ia menarik tangannya kembali. Ia tahu, sentuhan tiba-tiba darinya hanya akan memicu ketakutan, bukan kenyamanan.
"Maafkan aku," bisik Alaric, nyaris tak terdengar. Suaranya pecah oleh emosi yang tertahan selama bertahun-tahun. "Aku akan memperbaiki semuanya, Elara. Bahkan jika aku harus menghancurkan diriku sendiri untuk memastikan kau tetap utuh."
Alaric berdiri dan melangkah menuju jendela besar yang menghadap ke arah City of London. Gedung-gedung pencakar langit berdiri tegak di kejauhan, termasuk menara Sterling Global yang megah. Di sana, di dalam kantor-kantor mewah itu, para pengkhianat sedang menyesap kopi pagi mereka, tidak menyadari bahwa bos mereka telah kembali dari neraka.
Ia menoleh saat mendengar suara gesekan seprai. Elara terbangun.
Wanita itu mengerjapkan mata, tampak bingung sejenak sebelum kesadaran menghantamnya. Ia segera duduk tegak, menarik selimut hingga ke dadanya dengan gerakan defensif yang membuat hati Alaric mencelos. Matanya yang cokelat madu segera mencari sosok Alaric, dan saat menemukannya berdiri di dekat jendela, ketakutan yang murni terpancar di sana.
"Kau... kau masih di sini?" suara Elara parau, khas orang yang baru bangun tidur, tapi nadanya penuh kecurigaan.
Alaric memaksakan sebuah senyuman kecil—sesuatu yang sangat jarang ia lakukan di kehidupan sebelumnya. "Selamat pagi, Elara."
Elara tertegun. Ia melirik jam dinding digital di atas nakas. Pukul 07.30. "Bukankah jadwal penerbanganmu pukul lima subuh? Julian bilang kau harus ada di New York untuk pertemuan darurat dengan keluarga Miller."
"Aku membatalkannya, ingat?" Alaric melangkah mendekat, namun ia berhenti cukup jauh agar Elara tidak merasa terancam. "Aku memutuskan bahwa memulai hari pertama pernikahan kita dengan benar jauh lebih penting daripada beberapa hektar tanah di Manhattan."
Elara tertawa kecil, namun tawa itu getir. Ia menyisir rambutnya dengan jari-jari yang gemetar. "Alaric, berhenti bercanda. Ini tidak lucu. Apa ini semacam hukuman baru? Kau ingin menunjukkan padaku bahwa kau bisa membuang-buang uang sebanyak itu hanya untuk mengejekku?"
"Kenapa kau berpikir begitu?" tanya Alaric, suaranya melembut.
"Karena kau adalah Alaric Sterling!" Elara berseru, suaranya mulai naik. "Pria yang mengatakan bahwa cinta adalah distorsi statistik dalam laporan keuangan. Pria yang memandang pernikahan kita seperti akuisisi perusahaan yang merugi. Jadi, katakan padaku, permainan apa yang sedang kau mainkan pagi ini?"
Alaric menatapnya dalam-diam. Ia merasa seolah sedang melihat bayangan dirinya yang lama melalui mata Elara. Begitulah cara ia membangun citranya selama ini—seorang mesin tanpa perasaan. Mengubah persepsi itu akan lebih sulit daripada memenangkan perang saham.
"Tidak ada permainan, Elara," ucap Alaric tenang. "Aku hanya menyadari bahwa aku hampir melakukan kesalahan besar. Aku hampir mengabaikan sesuatu yang paling berharga demi angka-angka yang tidak bisa memelukku saat aku mati."
Elara terdiam, menatap Alaric seolah suaminya itu baru saja berbicara dalam bahasa asing. Ia mencari jejak sarkasme atau ejekan di wajah Alaric, tapi ia hanya menemukan ketulusan yang menakutkan. Tatapan Alaric padanya pagi ini... itu bukan tatapan dingin seorang bos kepada bawahannya. Itu adalah tatapan seorang pria yang baru saja menemukan harta karun yang hilang.
"Aku akan mandi," Elara bergumam, tidak sanggup menanggung intensitas tatapan itu lebih lama lagi. Ia segera menyambar jubah mandinya dan lari ke kamar mandi seolah-olah singa sedang mengejarnya.
Alaric hanya bisa menghela napas panjang saat mendengar suara kunci pintu kamar mandi yang diputar. Ia tahu ini akan membutuhkan waktu.
Sambil menunggu, Alaric berjalan ke meja kerja kecil di sudut kamar dan membuka laptopnya. Ia masuk ke sistem internal Sterling Global. Tangannya bergerak lincah di atas keyboard. Ia tidak sedang memeriksa laporan keuangan New York. Ia sedang mencari jejak digital.
Ingatannya tentang "Tiga Pilar"—Harris, Julian, dan Brandt—masih sangat tajam. Di kehidupan pertama, Julian adalah orang yang mengatur logistik, Harris mengurus celah hukum, dan Brandt mengelola aliran dana gelap. Mereka adalah trio yang sempurna untuk menjatuhkannya dari dalam.
Alaric membuka folder terenkripsi yang berisi rencana ekspansi "Sterling West". Di sana, ia melihat nama Caspian Thorne sebagai konsultan luar.
Di sini kau rupanya, batin Alaric. Matanya berkilat dingin. Kau sudah mulai menanam benih pengkhianatanmu bahkan sejak hari pernikahanku.
Caspian adalah teman masa kecil Alaric. Satu-satunya orang yang Alaric anggap saudara. Namun, Caspian-lah yang paling dalam menghujamkan pisau ke punggungnya. Alaric melihat detail transaksi kecil yang Julian setujui pagi ini—sebuah pembayaran komisi yang tidak biasa untuk firma hukum milik Harris. Di kehidupan pertama, Alaric menganggap ini hanya biaya administrasi rutin. Sekarang, ia tahu itu adalah suap pertama untuk mengamankan loyalitas Harris.
Tiba-tiba, suara pintu kamar mandi terbuka. Alaric segera menutup laptopnya. Ia tidak ingin Elara melihat sisi "predator" miliknya pagi ini.
Elara keluar dengan rambut basah yang dibalut handuk, wajahnya tampak lebih segar namun tetap waspada. Ia melihat Alaric masih berdiri di sana, menunggunya.
"Aku sudah memesan sarapan," kata Alaric. "Sereal dengan buah beri segar dan teh Earl Grey tanpa gula. Itu kesukaanmu, bukan?"
Elara mematung di tempatnya. Langkah kakinya terhenti. "Bagaimana... bagaimana kau tahu? Aku tidak pernah mengatakannya padamu."
Alaric tertegun sejenak. Ia lupa. Di kehidupan ini, mereka baru saling mengenal secara formal selama beberapa bulan melalui pertemuan keluarga. Pengetahuannya tentang kebiasaan kecil Elara adalah hasil dari pengamatan diam-diam selama bertahun-tahun pernikahan mereka yang dingin di masa depan.
"Aku... aku hanya menebak. Kau terlihat seperti tipe wanita yang menyukai sesuatu yang klasik," Alaric berkilah, berusaha menutupi kesalahannya.
Elara menyipitkan mata. "Kau tidak pernah menebak, Alaric. Kau selalu melakukan riset."
"Kalau begitu, anggap saja aku melakukan riset yang baik tentang istriku sendiri," jawab Alaric dengan nada yang sedikit lebih santai, mencoba mencairkan suasana.
Ketukan di pintu menyelamatkan Alaric dari interogasi lebih lanjut. Seorang pelayan masuk membawa meja dorong berisi sarapan mewah. Bau roti panggang dan aroma teh yang menenangkan memenuhi ruangan.
Alaric menarik kursi untuk Elara, sebuah gestur sopan santan yang membuat wanita itu kembali merasa asing. Elara duduk dengan ragu, sementara Alaric duduk di seberangnya.
Selama sarapan, keheningan menyelimuti mereka. Alaric memperhatikan bagaimana Elara mengoleskan selai ke rotinya dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah-olah ia sedang memulihkan artefak kuno yang rapuh. Setiap kali Elara mendongak dan mendapati Alaric sedang memperhatikannya, ia akan segera memalingkan wajah.
Penyesalan Alaric semakin dalam. Ia menyadari betapa banyak waktu yang ia buang untuk menjadi dingin. Ia menyadari bahwa di balik kecantikan Elara, ada kecerdasan dan kepekaan yang selama ini ia injak-injak dengan arogansinya.
"Elara," panggil Alaric lembut.
Elara meletakkan pisau rotinya. "Ya?"
"Aku tahu kau merasa aneh dengan semua ini. Aku tahu kau tidak mempercayaiku," Alaric berhenti sejenak, mencari kata-kata yang tepat. "Tapi aku ingin kau tahu satu hal. Mulai hari ini, kau tidak perlu lagi merasa sendirian di rumah ini. Kau bukan lagi 'istri dalam kontrak' bagiku. Kau adalah Elara Sterling. Dan siapa pun yang berani merendahkanmu, termasuk ayahmu atau rekan bisnisku... mereka harus berhadapan denganku lebih dulu."
Gelas teh di tangan Elara bergetar kecil. Ia menatap Alaric dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Bukan karena terharu, tapi karena kebingungan yang luar biasa. "Kenapa, Alaric? Kenapa tiba-tiba?"
Alaric menatap lurus ke dalam mata Elara, membiarkan wanita itu melihat tekad baja di sana. "Karena aku baru menyadari bahwa kemenangan yang paling berharga dalam hidupku bukanlah saat aku menguasai pasar dunia, tapi saat aku bisa memastikan kau tersenyum saat bangun di pagi hari."
Elara tidak menjawab. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Namun, di dalam hatinya, sebuah firasat kecil mulai tumbuh. Sesuatu telah berubah dalam diri suaminya. Pria di depannya ini memiliki mata yang sama dengan Alaric Sterling yang ia kenal, tapi jiwanya... jiwanya terasa seperti seseorang yang telah melalui badai besar dan kembali dengan satu tujuan: perlindungan.
Alaric menyelesaikan kopinya dan berdiri. "Aku harus ke kantor sebentar untuk membereskan beberapa 'hama'. Tapi aku akan pulang untuk makan malam. Jangan menungguku dengan cemas."
Saat Alaric berjalan keluar dari kamar, ia berhenti di ambang pintu dan menoleh. "Dan Elara? Pakai baju yang nyaman hari ini. Aku meminta Silas untuk menjagamu. Dia orang yang bisa kau percayai sepenuhnya."
Pintu tertutup. Elara duduk sendirian di meja makan yang luas itu, menatap tehnya yang mulai dingin. Ia merasa seperti sedang berada di dalam mimpi yang aneh. Suaminya, si Iblis Sterling yang dingin, baru saja menyatakan perang pada dunia demi dirinya?
Firasat pagi ini bukan lagi tentang ketakutan akan diabaikan. Ini adalah firasat tentang perubahan besar yang akan mengguncang hidupnya selamanya.
Di luar hotel, Alaric Sterling masuk ke dalam mobil Rolls-Royce miliknya. Ekspresi lembut yang ia berikan pada Elara menghilang seketika, digantikan oleh aura dingin yang mematikan.
"Silas," ucap Alaric pada pria tegap di kursi kemudi.
"Ya, Tuan Sterling?"
"Awasi Elara dengan nyawamu. Jangan biarkan mata-mata Julian atau Caspian mendekatinya satu inci pun."
"Dimengerti, Tuan."
Alaric menyandarkan punggungnya di kursi kulit yang mewah, menatap lurus ke jalanan London. "Sekarang, bawa aku ke kantor. Saatnya memberi tahu 'Tiga Pilar' bahwa singa yang mereka kira sedang tidur... sebenarnya sedang mengasah taringnya."