Kantor pusat Sterling Global menjulang tinggi seperti menara gading yang tidak bisa ditembus, namun bagi Alaric Sterling, gedung ini hanyalah sebuah labirin penuh jebakan yang pernah menelan nyawanya. Namun, pagi ini, pikirannya tidak sepenuhnya berada pada laporan audit atau pergerakan saham. Pikirannya tertahan di meja makan hotel, pada wajah bingung Elara yang terus menghantui ingatannya.
Setelah instruksi singkat kepada Silas untuk menjaga Elara, Alaric memutuskan untuk melakukan sesuatu yang tidak pernah ia lakukan dalam lima tahun pernikahan di kehidupan pertamanya: ia ingin memberikan kejutan kecil yang manusiawi.
"Hentikan mobil di depan toko bunga Clerkenwell," perintah Alaric tiba-tiba.
Silas, yang biasanya sediam batu, sedikit melirik melalui spion tengah. "Tuan? Kita sudah terlambat sepuluh menit untuk pengarahan internal dengan bagian hukum."
"Biarkan mereka menunggu. Hukum tidak akan lari ke mana-mana, tapi bunga lili segar bisa habis," jawab Alaric datar.
Silas tidak membantah, namun Alaric bisa melihat otot rahang pengawalnya itu mengeras karena menahan keheranan. Sesampainya di toko bunga, Alaric turun sendiri—sebuah pemandangan langka. Ia memilih buket bunga lili putih yang paling segar, warna yang ia ingat sangat disukai Elara namun selalu ia anggap "terlalu pucat" di masa lalu.
Saat ia kembali ke mobil dengan buket di tangan, Alaric mencoba mempraktikkan sesuatu di depan kaca jendela mobil yang gelap. Ia mencoba tersenyum. Sebuah senyuman yang ia harap terlihat ramah dan menenangkan. Namun, bayangan yang terpantul justru memperlihatkan seorang pria dengan tatapan tajam yang tampak sedang merencanakan pembunuhan sambil memegang bunga.
"Apakah ini terlihat... alami, Silas?" tanya Alaric ragu.
Silas menoleh sejenak, wajahnya tetap datar. "Tuan terlihat seperti sedang mengintimidasi bunga-bunga itu agar tetap mekar, Tuan Sterling."
Alaric menghela napas, menyandarkan punggungnya. "Ternyata menjadi orang baik jauh lebih melelahkan daripada menjadi tiran."
Sementara itu, di apartemen studio miliknya yang terletak di pinggiran kota—tempat yang ia gunakan sebagai pelarian untuk melukis—Elara Vance duduk terpaku di depan kanvas kosong. Kuas di tangannya tidak bergerak sedikit pun.
Pikirannya terus berputar pada kejadian pagi tadi. Alaric yang memeluknya. Alaric yang membatalkan New York. Alaric yang tahu teh favoritnya.
Ini pasti perang saraf, batin Elara. Dia ingin aku menurunkan pertahananku sehingga dia bisa menuntut sesuatu yang lebih besar dari ayahku. Atau mungkin dia ingin bercerai tapi ingin aku yang terlihat bersalah?
Logika Elara menolak untuk percaya pada perubahan mendadak itu. Selama berbulan-bulan mengenal Alaric sebelum pernikahan, pria itu adalah definisi dari kedinginan. Dia adalah es yang berjalan. Bagaimana mungkin es itu tiba-tiba mencair dalam satu malam tanpa ada motif tersembunyi?
Tiba-tiba, suara ketukan di pintu studionya membuyarkan lamunannya. Elara mengerutkan kening. Tidak ada yang tahu alamat studio ini selain ayahnya dan asisten pribadinya.
Ia membuka pintu dan jantungnya hampir melompat keluar.
Alaric Sterling berdiri di sana. Tanpa jas formalnya, hanya dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku, dan sebuah buket besar bunga lili putih di tangannya. Di belakangnya, Silas berdiri seperti patung penjaga.
"Alaric? Bagaimana kau tahu tempat ini?" suara Elara melengking karena terkejut.
Alaric terdiam sejenak. Ia kembali melakukan kesalahan. Di kehidupan ini, Elara belum pernah memberitahunya tentang studio rahasia ini. Di kehidupan lalu, ia baru mengetahui tempat ini setelah Elara meninggal, saat ia menemukan kunci studio ini di dalam kotak perhiasannya.
"Aku... aku meminta departemen keamanan untuk melacak lokasimu. Aku khawatir kau butuh sesuatu," Alaric berkilah cepat, meskipun ia tahu alasan itu terdengar sangat posesif dan menyeramkan bagi wanita normal.
"Kau melacakku?" mata Elara melebar. "Alaric, ini keterlaluan! Kita baru menikah kemarin dan kau sudah memasang pelacak padaku?"
Alaric meringis dalam hati. Bagus, Alaric. Kau ingin terlihat ramah tapi malah terlihat seperti penguntit.
"Bukan pelacak, Elara. Hanya protokol keamanan standar untuk keluarga Sterling," Alaric mencoba melembutkan suaranya, melangkah masuk ke dalam studio tanpa diundang. Ia meletakkan bunga lili itu di atas meja kayu yang penuh dengan noda cat. "Aku hanya ingin mengantarkan ini. Dan... aku ingin melihat apa yang sedang kau lukis."
Alaric mendekati kanvas kosong itu. Ia teringat lukisan-lukisan Elara di masa depan—lukisan yang penuh dengan warna gelap, kesepian, dan keputusasaan. Melihat kanvas yang masih putih bersih ini memberinya harapan. Mungkin kali ini, warna-warna yang akan tertuang di sana akan berbeda.
"Aku belum melukis apa pun," sahut Elara ketus, berdiri di dekat pintu seolah siap melarikan diri kapan saja. "Dan kenapa kau tersenyum seperti itu? Itu menakutkan."
Alaric segera mengendurkan otot wajahnya. "Apakah seburuk itu?"
"Kau terlihat seperti sedang menyembunyikan mayat di bagasi mobilmu," jawab Elara jujur.
Alaric terkekeh pelan. Tawa itu tulus, dan untuk pertama kalinya, Elara melihat kilatan jenaka di mata suaminya. Bukan kilatan dingin yang meremehkan, tapi sesuatu yang hampir terasa... hangat.
"Aku sedang mencoba bersikap ramah, Elara. Sepertinya aku butuh banyak latihan," Alaric mendekati istrinya, berhenti tepat di depannya. Ia mencium aroma cat minyak dan aroma mawar dari tubuh Elara. "Aku tahu kesan pertamaku—dan kesan-kesan sebelumnya—sangat buruk. Aku ingin memperbaikinya."
"Kenapa?" Elara menantang, matanya berkaca-kaca karena frustrasi. "Kenapa sekarang? Kenapa setelah kau memperlakukanku seperti sampah di depan semua orang saat makan malam pertunangan? Kenapa setelah kau bilang pernikahan ini adalah hukuman bagimu?"
Alaric merasa jantungnya diremas. Setiap kata Elara adalah kebenaran yang ia torehkan sendiri. Ia mengulurkan tangan, kali ini benar-benar menyentuh helai rambut Elara yang terjatuh di dahinya.
"Karena aku bodoh," ucap Alaric lirih. "Aku terlalu buta oleh angka dan kekuasaan sampai aku tidak sadar bahwa aku memiliki harta yang paling berharga tepat di depanku. Berikan aku kesempatan, Elara. Bukan sebagai suamimu yang dipaksakan, tapi sebagai pria yang ingin mengenalmu."
Elara terdiam. Napasnya tertahan. Ia ingin berteriak bahwa ini semua bohong, tapi tatapan mata Alaric begitu jujur, begitu penuh dengan kerinduan yang mendalam hingga ia merasa lumpuh.
"Kau aneh," bisik Elara akhirnya, memalingkan wajah. "Sangat aneh."
"Aku tahu," jawab Alaric dengan senyum tipis yang kali ini terasa sedikit lebih alami. "Bunga-bunga itu... aku harap kau suka. Aku akan pergi sekarang, aku punya rapat eksekutif yang tidak bisa ditunda lagi."
Alaric berbalik untuk pergi, namun ia berhenti di ambang pintu. "Oh, satu lagi. Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri dengan kanvas itu. Lukislah apa yang kau rasakan, bukan apa yang kau pikir dunia ingin lihat."
Setelah Alaric dan Silas pergi, studio itu kembali sunyi. Elara menatap buket bunga lili putih di atas mejanya. Ia mendekat dan menghirup aromanya. Segar, manis, dan nyata.
Ia kemudian menatap kanvas kosongnya. Untuk pertama kalinya sejak berbulan-bulan, tangannya tidak lagi gemetar. Ia mengambil palet dan mencampur warna biru cerah dengan sedikit putih.
Di tempat lain, di dalam mobilnya yang melaju kembali ke markas Sterling Global, senyum Alaric menghilang sepenuhnya. Ia mengeluarkan ponselnya dan menelepon Julian.
"Siapkan ruang rapat utama dalam sepuluh menit," perintah Alaric. Suaranya kembali menjadi es yang tajam. "Dan pastikan Harris serta Brandt ada di sana. Aku ingin meninjau kembali laporan audit tahun lalu."
"Tapi Tuan Sterling, kita punya agenda lain—"
"Julian," Alaric memotong dengan nada mengancam. "Agenda hari ini telah berubah. Dan jika kau tidak bisa mengikuti kecepatanku, mungkin posisimu juga perlu diubah."
Alaric mematikan telepon. Ia menyandarkan kepala, menatap jalanan London yang sibuk. Perhatiannya pada Elara adalah misinya untuk menebus jiwa, tapi urusannya dengan Sterling Global adalah misinya untuk bertahan hidup.
Ia tahu, setelah senyuman asing yang ia berikan pada Elara tadi, ia harus kembali menjadi monster bagi musuh-musuhnya. Karena hanya dengan menjadi monster yang lebih besar, ia bisa memastikan bahwa dunia tidak akan pernah menyakiti Elara lagi.
Senyumannya mungkin asing bagi Elara, tapi bagi para pengkhianat di Sterling Global, senyuman Alaric Sterling hari ini akan menjadi pertanda badai yang akan menghancurkan hidup mereka tanpa sisa.