BAB 4: BAYANG-BAYANG PENGKHIANAT

1383 Words
Lantai enam puluh enam gedung Sterling Global bukan sekadar kantor pusat bagi Alaric Sterling. Di kehidupan sebelumnya, ini adalah singgasana tempat ia memandang rendah dunia, namun juga menjadi kandang di mana ia perlahan-lahan dikuliti hidup-hidup oleh orang-orang yang ia anggap sebagai saudara. Pintu lift terbuka dengan dentingan halus yang terdengar seperti lonceng kematian di telinga Alaric. Begitu ia melangkah keluar, atmosfer di area eksekutif itu berubah seketika. Para staf yang biasanya bergerak sibuk langsung mematung, menundukkan kepala dengan rasa hormat yang bercampur ketakutan. Mereka semua tahu bahwa sang CEO seharusnya berada di ketinggian tiga puluh ribu kaki menuju New York saat ini. "Tuan Sterling?" Julian, sang Chief Financial Officer, berdiri di ujung lorong dengan raut wajah yang merupakan perpaduan antara keterkejutan dan kecemasan yang tertutup rapi. "Anda... Anda benar-benar di sini. Saya pikir telepon tadi pagi hanyalah..." "Hanyalah apa, Julian? Lelucon?" Alaric memotong, langkah kakinya berdentum mantap di atas lantai granit. Ia tidak berhenti untuk menjabat tangan Julian. Ia terus berjalan menuju ruang rapat utama, membiarkan jubah wol panjangnya berkibar di belakangnya seperti sayap gagak. "Aku tidak punya selera humor untuk urusan dua miliar poundsterling." Julian bergegas mengejarnya, napasnya sedikit memburu. "Tentu tidak, Tuan. Hanya saja, keluarga Miller di New York sangat menantikan kehadiran Anda. Membatalkan secara mendadak bisa merusak reputasi kita di pasar Amerika." Alaric berhenti mendadak tepat di depan pintu ganda ruang rapat. Ia berbalik, menatap Julian dengan mata abu-abu yang begitu dingin hingga Julian merasa seolah-olah suhu di lorong itu turun sepuluh derajat. Di kehidupan pertama, Julian adalah orang yang mengatur aliran dana untuk menyuap dewan direksi agar mereka memberikan mosi tidak percaya pada Alaric. Dia adalah arsitek finansial dari kejatuhannya. "Reputasi Sterling Global dibangun di atas hasil, bukan sekadar kehadiran fisik di jamuan makan malam," ucap Alaric pelan, namun setiap kata terasa seperti mata pisau yang ditekan ke leher Julian. "Masuklah. Aku ingin melihat Harris dan Brandt sudah ada di dalam." Begitu pintu terbuka, Alaric melihat dua pilar lainnya. Harris, sang Chief Legal Officer, pria berambut perak dengan kacamata bingkai emas yang selalu tampak bijaksana. Di balik wajah terhormat itu, Harris adalah orang yang memalsukan dokumen kontrak yang membuat Alaric kehilangan hak asuh atas Sterling Global. Lalu ada Brandt, Head of Operations. Pria bertubuh tegap dengan suara bariton yang selalu meyakinkan. Dia adalah orang yang menyabotase rantai pasok proyek-proyek besar Alaric, menciptakan kerugian buatan yang membuat harga saham perusahaan merosot tajam. Tiga Pilar, batin Alaric. Tiga duri yang kuhidupi dengan tanganku sendiri. "Alaric! Senang melihatmu tidak jadi berangkat," Brandt berdiri, mencoba memberikan senyum ramah yang biasanya berhasil menipu Alaric yang lama. "Kami baru saja mendiskusikan laporan triwulanan. Ada beberapa kendala di proyek pelabuhan Liverpool." Alaric duduk di kursi kebesarannya di ujung meja kayu mahoni yang panjang. Ia tidak membalas senyuman Brandt. Ia justru menyandarkan punggungnya, menautkan jemarinya di depan dagu, dan mengamati mereka satu per satu dengan ketenangan yang mengerikan. "Kendala?" Alaric mengulang kata itu dengan nada meremehkan. "Kendala atau inkompetensi, Brandt?" Ruangan itu mendadak hening. Harris berdehem, menyesuaikan letak kacamatanya. "Tuan Sterling, saya rasa kata 'inkompetensi' terlalu kasar. Ada masalah regulasi lingkungan yang tidak terduga di Liverpool. Saya sedang meninjau aspek hukumnya." "Benarkah, Harris?" Alaric menatap sang pengacara senior itu. "Atau mungkin regulasi itu sengaja dibuat rumit karena firma hukum pihak ketiga yang kita sewa—Thorne & Associates—memiliki agenda tersembunyi?" Nama itu. Thorne. Alaric menangkap kilatan saraf di mata Harris. Nama Caspian Thorne belum menjadi ancaman besar bagi Sterling Global di tahun 2021 ini. Dia masih dianggap sebagai "sahabat dekat" sang CEO dan konsultan luar yang tidak berbahaya. Namun, Alaric melihat bagaimana ketiga orang ini saling bertukar pandang dalam sepersekian detik. Sebuah sinyal rahasia yang dulu tidak pernah ia sadari. "Caspian adalah teman baikmu, Alaric," Brandt mencoba mencairkan suasana. "Dia hanya mencoba membantu kita menembus birokrasi di Liverpool. Bukankah kau sendiri yang merekomendasikannya?" "Itu adalah kesalahanku di masa lalu," jawab Alaric datar. "Dan aku tidak berniat mengulangi kesalahan yang sama dua kali." Alaric membuka map kulit di depannya. Ia mengeluarkan beberapa lembar dokumen yang sebenarnya ia ambil dari brankas rahasianya sendiri tadi malam—dokumen yang seharusnya belum ia miliki jika ia benar-benar Alaric dari tahun 2021. "Julian," Alaric menggeser sebuah dokumen ke arah sang CFO. "Jelaskan padaku mengapa ada transfer sebesar lima ratus ribu poundsterling ke rekening penampung di Virgin Islands minggu lalu. Labelnya adalah 'biaya riset pasar', tapi aku tidak melihat ada laporan riset yang masuk ke mejaku." Wajah Julian memucat, namun ia mencoba mempertahankan ketenangannya. "Itu... itu untuk riset awal proyek teknologi di Asia, Tuan. Prosedurnya sudah sesuai dengan protokol otorisasi darurat." "Otorisasi siapa?" tanya Alaric tajam. "Karena aku tidak pernah menandatanganinya." "Anda sedang sibuk dengan persiapan pernikahan, Tuan Sterling," sahut Harris mencoba membela rekannya. "Kami pikir kami tidak ingin mengganggu Anda dengan detail kecil." Alaric terkekeh. Suaranya kering dan tanpa emosi. "Detail kecil? Lima ratus ribu poundsterling adalah detail kecil bagimu, Harris? Mungkin itu sebabnya kau mengabaikan celah dalam kontrak pengadaan baja kita bulan lalu yang membuat kita merugi hampir sepuluh juta." Ketiganya kini tampak benar-benar tidak nyaman. Mereka biasanya menghadapi Alaric yang arogan, sombong, dan cenderung menyerahkan detail kepada mereka karena ia terlalu fokus pada gambaran besar dan ekspansi global. Alaric yang ada di depan mereka sekarang adalah pria yang berbeda. Dia tampak seperti seorang interogator yang sudah tahu semua jawabannya dan hanya menunggu mereka berbohong. "Dengarkan aku baik-baik," Alaric berdiri, menumpukan kedua tangannya di atas meja, mencondongkan tubuhnya ke arah mereka. Aura dominasinya memenuhi ruangan, mencekik udara di sekitar Tiga Pilar. "Mulai detik ini, tidak ada satu sen pun yang keluar dari Sterling Global tanpa persetujuan pribadiku. Tidak ada kontrak yang ditandatangani tanpa parafku. Dan setiap komunikasi dengan pihak luar—termasuk Caspian Thorne—harus dilaporkan kepadaku dalam waktu dua puluh empat jam." "Alaric, ini berlebihan," protes Brandt. "Kau memperlakukan kami seolah-olah kami adalah pengkhianat. Kami sudah membangun perusahaan ini bersamamu selama bertahun-tahun!" "Justru karena kalian sudah bersamaku begitu lama, aku tahu betapa mahalnya harga kesetiaan kalian," Alaric menatap Brandt tepat di matanya. "Ingat ini, Brandt: aku bisa membangun kerajaan ini kembali dari abu jika aku mau, tapi aku juga bisa menghancurkan karir siapa pun yang berani mencuri dariku lebih cepat daripada kalian bisa mengedipkan mata." Alaric menutup mapnya dengan debuman keras. "Rapat selesai. Julian, aku ingin laporan riset Asia itu ada di mejaku sebelum jam makan siang. Jika tidak ada, siapkan surat pengunduran dirimu." Tanpa menunggu balasan, Alaric berjalan keluar dari ruang rapat. Langkahnya tetap tegak, tapi di dalam hatinya, kemarahan membara. Melihat wajah-wajah mereka tadi membuatnya ingin langsung menjebloskan mereka ke penjara. Namun, ia tahu itu belum cukup. Ia ingin mereka merasakan ketakutan yang ia rasakan. Ia ingin mereka kehilangan segalanya sebelum ia akhirnya menghancurkan mereka. Begitu ia kembali ke kantor pribadinya, Silas sudah menunggu di sana. "Tuan Sterling, Elara Nyonya Sterling sudah kembali ke kediaman," lapor Silas. "Dia tampak sedikit bingung, tapi dia baik-baik saja." Alaric mengangguk, sedikit lega mendengar kabar Elara. Ia duduk di kursi kerjanya, menatap pemandangan kota melalui kaca jendela yang luas. "Silas," panggil Alaric. "Ya, Tuan?" "Pasang pengawasan penuh pada Harris, Julian, dan Brandt. Aku ingin tahu siapa yang mereka hubungi, ke mana mereka pergi setelah kantor tutup, dan dengan siapa mereka makan malam." Silas sedikit terkejut, namun ia segera menyesuaikan ekspresinya. "Termasuk Tuan Caspian Thorne?" "Terutama Caspian," suara Alaric berubah menjadi bisikan dingin. "Dia adalah ular yang memimpin kawanan serigala ini. Pastikan dia tidak menyadari bahwa bayang-bayangnya sedang diawasi." Alaric membuka laci meja kerjanya, mengambil sebuah foto kecil yang ia simpan. Itu adalah foto Elara yang sedang tertawa, diambil dari jarak jauh saat pameran seni pertamanya yang ia abaikan di kehidupan lalu. "Di kehidupan pertama, mereka menggunakanmu sebagai senjataku untuk menghancurkanku, Elara," gumam Alaric pada foto itu. "Mereka menculikmu, menyiksamu, dan membiarkanmu mati untuk merusak mentalku." Ia mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Kali ini, aku akan membakar seluruh London sebelum aku membiarkan satu helai rambutmu tersentuh oleh mereka." Bayang-bayang pengkhianatan mulai bergerak di sudut-sudut Sterling Global, tapi Alaric Sterling bukan lagi pria buta yang berjalan menuju jurang. Dia adalah kegelapan itu sendiri, yang kini sedang menunggu musuh-musuhnya masuk ke dalam jebakan yang ia bangun dengan ingatan dari masa depan. Pintu kantornya tertutup rapat, menyisakan Alaric dalam kesunyian yang penuh dengan rencana balas dendam. Permainan catur baru saja dimulai, dan kali ini, Alaric adalah orang yang memegang semua bidak, termasuk bidak yang paling mematikan: kebenaran tentang apa yang akan terjadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD