Kantor pribadi Alaric Sterling di lantai enam puluh enam adalah sebuah benteng kaca yang kedap suara. Di balik dinding transparan itu, denyut nadi London terlihat sibuk, namun di dalam ruangan ini, suasananya sedingin es. Alaric berdiri membelakangi pintu, menatap pantulan dirinya di kaca jendela yang mulai memudar tertutup kabut tipis sore hari.
Ketukan pendek di pintu memecah keheningan. Silas Vane melangkah masuk dengan keanggunan seorang predator yang terlatih. Ia menutup pintu dengan satu gerakan halus, lalu berdiri diam menunggu instruksi.
"Duduklah, Silas," ucap Alaric tanpa menoleh.
Silas tidak segera duduk. Sebagai mantan perwira intelijen, ia terbiasa membaca atmosfer. Ia menyadari bahwa Alaric yang berdiri di depannya hari ini bukanlah pria sombong yang ia kawal dua hari lalu. Ada kegelapan yang lebih pekat di mata Alaric, sejenis kewaspadaan yang hanya dimiliki oleh seseorang yang pernah dikhianati hingga mati.
"Tuan Sterling, pengamanan untuk Nyonya Elara sudah diperketat. Dua tim cadangan sudah ditempatkan di radius lima ratus meter dari studionya," lapor Silas.
Alaric berbalik, matanya tajam menatap Silas. "Itu untuk keselamatannya. Sekarang, aku butuh kau melakukan sesuatu untuk keselamatanku—dan masa depan perusahaan ini."
Alaric melangkah menuju meja kerjanya, mengambil sebuah dokumen terenkripsi yang baru saja ia cetak. "Aku ingin kau membangun unit intelijen kecil. Hanya orang-orang yang kau percaya sepenuhnya. Tidak ada satu pun staf dari departemen keamanan Sterling Global yang boleh terlibat. Tidak ada laporan yang masuk ke server perusahaan. Semua laporan harus diserahkan secara fisik kepadaku."
Silas mengerutkan kening, namun loyalitasnya tetap tak tergoyahkan. "Targetnya, Tuan?"
"Harris, Julian, dan Brandt," jawab Alaric dingin. "Aku ingin kau menyadap setiap jalur komunikasi pribadi mereka. Rekam setiap pertemuan di luar jam kantor. Cari tahu siapa yang mereka temui di klub-klub eksklusif Mayfair. Aku ingin tahu merek cerutu yang mereka hisap, hingga ke nomor rekening rahasia yang mungkin mereka sembunyikan di luar negeri."
"Ini adalah operasi pengawasan tingkat tinggi terhadap eksekutif senior Anda sendiri, Tuan Sterling. Jika mereka mengetahuinya, ini bisa memicu tuntutan hukum yang besar," Silas memperingatkan secara profesional.
"Mereka tidak akan mengetahuinya jika kau yang melakukannya, Silas," Alaric mencondongkan tubuh, suaranya merendah menjadi bisikan yang mematikan. "Kehidupan pertama—maksudku, instingku—mengatakan bahwa mereka sedang merencanakan kudeta. Julian sudah mulai memindahkan dana. Harris sedang menyiapkan celah kontrak. Dan Brandt sedang menunggu waktu yang tepat untuk menyabotase operasional kita."
Silas mengangguk pelan. Ia tidak bertanya darimana Alaric mendapatkan informasi sedalam itu. Tugasnya bukan untuk bertanya, tapi untuk mengeksekusi. "Lalu bagaimana dengan Tuan Caspian Thorne?"
Mendengar nama itu, rahang Alaric mengeras. Ingatannya melayang pada momen di kehidupan pertama ketika Caspian berdiri di depan sel penjaranya, tersenyum puas sambil memegang tangan Elara yang tampak ketakutan.
"Caspian adalah prioritas utamamu," ucap Alaric. "Dia lebih licin dari ketiganya gabungan. Dia tidak akan melakukan kesalahan amatir. Cari tahu jadwal rahasianya. Dia sering menghilang setiap hari Kamis pukul tujuh malam. Di kehidupan dulu... aku selalu mengira dia pergi mengunjungi ibunya yang sakit. Sekarang, aku curiga itu adalah pertemuan dengan para investor gelap yang ingin mengambil alih Sterling Global."
Alaric mengambil sebuah kunci elektronik dari lacinya dan memberikannya pada Silas. "Gunakan dana dari rekening pribadiku di Swiss. Jangan gunakan kartu kredit perusahaan. Aku ingin operasi ini menjadi bayangan yang tidak meninggalkan jejak."
"Dimengerti, Tuan Sterling. Laporan pertama akan siap dalam empat puluh delapan jam."
Setelah Silas keluar, Alaric merasa sedikit lega, namun kewaspadaannya tetap di level tertinggi. Ia kembali ke mejanya dan membuka sebuah buku catatan kulit hitam kecil—buku yang akan menjadi kompasnya di kehidupan kedua ini. Di dalamnya, ia mulai menuliskan detail-detail penting dari ingatan masa depannya.
Juli 2021: Proyek Pelabuhan Liverpool disabotase.
September 2021: Krisis likuiditas karena penggelapan dana Julian.
Desember 2021: Caspian Thorne meluncurkan tawaran akuisisi paksa.
Ia menatap tulisan itu dengan mata menyipit. "Aku tidak akan menunggu sampai Juli," gumamnya.
Alaric kemudian mulai meninjau jadwal pribadi Caspian yang ia ingat secara samar. Caspian selalu tampil sebagai pria yang bersahaja, hidup di apartemen yang tidak terlalu mewah, dan sering menghabiskan waktu di perpustakaan atau klub catur. Itu adalah kedok yang sempurna.
Ia mulai mencari di database publik tentang kepemilikan properti atas nama samaran yang pernah Caspian gunakan di kehidupan pertama: Vesper Holdings. Di masa lalu, ia baru mengetahui tentang perusahaan cangkang ini setelah semuanya terlambat.
Tangannya bergerak lincah di atas keyboard. Matanya membelalak saat menemukan satu transaksi kecil yang terdaftar atas nama Vesper dua bulan lalu. Sebuah pembelian unit gudang di daerah Docklands.
"Docklands..." Alaric mengetukkan jarinya ke meja. "Tempat yang sempurna untuk pertemuan rahasia."
Pikiran Alaric kembali terbagi. Di satu sisi, ia adalah panglima perang yang sedang mengatur strategi untuk menghancurkan musuh-musuhnya. Di sisi lain, bayangan Elara yang sedang melukis di studio dengan bunga lili darinya terus muncul.
Ia merasa bersalah. Ia ingin berada di samping Elara, melindunginya secara langsung. Namun, ia tahu bahwa perlindungan terbaik bagi Elara adalah dengan mencabut duri-duri yang ada di sekeliling mereka sebelum duri itu sempat melukai istrinya.
Tiba-tiba, ponsel pribadinya bergetar. Sebuah pesan singkat dari Elara.
Terima kasih untuk bunganya, Alaric. Mereka sangat indah. Tapi tolong, jangan kirim pengawal masuk ke dalam studioku lagi. Itu merusak mood-ku untuk melukis.
Alaric tersenyum tipis tanpa sadar. Ini adalah interaksi pertama yang terasa "normal" di antara mereka. Elara tidak lagi membalas dengan ketakutan murni, melainkan dengan protes kecil yang menunjukkan kepribadiannya yang asli.
Ia segera membalas: Maafkan aku. Silas memang terkadang terlalu bersemangat. Aku akan meminta mereka menjaga jarak di luar. Sampai jumpa di makan malam nanti.
Alaric meletakkan ponselnya dan kembali fokus pada layar komputer. Ia mulai mengunduh semua data pribadi Brandt, Harris, dan Julian. Ia mempelajari kebiasaan mereka, hutang-hutang mereka, dan rahasia keluarga mereka. Di kehidupan sebelumnya, ia terlalu bangga untuk melakukan "permainan kotor" seperti ini. Ia percaya pada meritokrasi dan integritas.
"Integritas adalah kemewahan bagi mereka yang sudah menang," bisik Alaric pada ruangan yang sunyi. "Bagi mereka yang sedang bertahan hidup, integritas adalah beban."
Malam mulai turun menyelimuti London. Lampu-lampu jalan mulai menyala, menciptakan pola cahaya yang rumit di permukaan sungai Thames. Alaric Sterling masih duduk di kursinya, dikelilingi oleh bayangan dan data.
Ia telah memulai pengawasan diam-diam ini bukan karena ia paranoid, tapi karena ia tahu pasti apa yang akan dilakukan oleh bayang-bayang itu jika ia membiarkannya. Caspian Thorne mungkin merasa ia sedang memenangkan permainan catur ini, namun ia tidak menyadari bahwa Alaric sudah melihat akhir permainannya bertahun-tahun yang lalu.
"Caspian," ucap Alaric sambil menatap gedung di seberang jalannya. "Kau adalah saudaraku, tapi kau juga adalah kehancuranku. Di kehidupan ini, aku akan memastikan kau tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk tersenyum di atas makamku."
Alaric menutup laptopnya dengan suara klik yang tajam. Ia berdiri, mengambil jasnya, dan bersiap pulang. Ia harus menjadi Alaric sang suami yang penuh perhatian malam ini, sementara di balik layar, jaring-jaring pengawasannya mulai menjerat musuh-musuhnya satu per satu.
Langkah kaki Alaric bergema di lorong kantor yang mulai sepi. Setiap langkah adalah sebuah janji—janji untuk Elara, dan janji kematian bagi para pengkhianat. Pengawasan ini baru permulaan. Badai yang sesungguhnya sedang ia siapkan di balik ketenangan yang ia tunjukkan.
Begitu ia masuk ke dalam lift, ia melihat bayangannya di cermin lift. Mata itu bukan lagi mata seorang pria berusia dua puluh tujuh tahun yang naif. Itu adalah mata seorang veteran perang yang baru saja kembali ke medan pertempuran pertamanya dengan membawa peta kemenangan musuh.
"Permainan dimulai," gumam Alaric saat pintu lift terbuka di lantai dasar, membawanya menuju malam yang akan mengubah segalanya.