Lampu kristal di ruang kerja pribadi Alaric Sterling membiaskan cahaya keemasan yang redup, menciptakan bayangan panjang yang menari-nari di atas lantai marmer hitam. Di luar dinding kaca setinggi plafon, London adalah hamparan cahaya yang tidak pernah tidur, namun di dalam ruangan ini, keheningan terasa begitu berat, hampir mencekik. Alaric duduk di balik meja mahoni besarnya, matanya yang berwarna abu-abu baja terpaku pada layar monitor ultra-lebar yang menampilkan ribuan baris data investasi Sterling Global.
Ini adalah malam ketiga sejak ia terbangun di masa lalu. Tubuhnya yang berusia dua puluh tujuh tahun merasa bugar, namun jiwanya yang telah hancur di usia tiga puluh dua tahun merasa lelah. Ia memijat pangkal hidungnya, merasakan denyut nadi di pelipisnya. Ia harus bergerak cepat. Waktu adalah satu-satunya mata uang yang ia miliki lebih banyak daripada musuh-musuhnya saat ini.
Jarinya mulai menari di atas keyboard, menembus lapisan enkripsi departemen analisis risiko yang ia bangun sendiri di kehidupan pertama. Ia mencari sesuatu yang spesifik. Sesuatu yang dulu ia anggap sebagai sampah, sebuah anomali statistik yang tidak layak mendapatkan perhatiannya yang sombong.
"Tunjukkan padaku..." bisiknya.
Alaric memasuki folder arsip digital tahun 2021. Di sana, tertumpuk ratusan proposal dari perusahaan startup yang memohon kucuran dana dari Sterling Global. Di kehidupan pertamanya, Alaric hanya membaca ringkasan eksekutif satu halaman sebelum melemparkannya ke tempat sampah digital. Ia dulu adalah penganut setia "aset berwujud"—properti, emas, manufaktur berat. Baginya, teknologi adalah spekulasi yang terlalu cair dan tidak pasti.
Namun, ia sekarang tahu lebih baik. Ia tahu bahwa dalam tiga tahun ke depan, krisis ekonomi global akan menghantam sektor properti hingga ke akarnya, sementara perusahaan yang menguasai bioteknologi dan kecerdasan buatan akan menjadi penguasa dunia yang baru.
Matanya berhenti pada sebuah nama yang memicu kilas balik menyakitkan: Nexus Labs.
Alaric menyandarkan punggungnya ke kursi kulit, menarik napas panjang. Di kehidupan pertamanya, setahun sebelum kehancurannya, ia pernah membaca berita utama di The Financial Times tentang sebuah perusahaan bioteknologi yang berhasil menciptakan nanobot penyembuh jaringan saraf. Perusahaan itu, Nexus Labs, kemudian diakuisisi oleh kompetitor utamanya dengan nilai transaksi yang bisa melunasi seluruh hutang Sterling Global saat itu. Dan yang paling menyakitkan adalah fakta bahwa Nexus Labs pernah datang mengetuk pintunya lima tahun sebelumnya, hanya untuk diusir seperti pengemis.
Ia mengklik file tersebut. Laporan penilaian itu tertanggal dua bulan yang lalu. Penulisnya adalah Julian Vane—salah satu dari "Tiga Pilar" eksekutif senior yang kini berada di bawah pengawasan Silas.
> Analisis Investasi: Nexus Labs
> Status: Ditolak.
> Alasan: Proyeksi pengembalian investasi (ROI) tidak realistis. Pendiri, Dr. Aris Thorne, menunjukkan tanda-tanda ketidakstabilan manajerial. Teknologi "Bio-Sync" yang diajukan dianggap sebagai pseudosains oleh konsultan internal. Dana dialokasikan kembali ke Proyek Pengembangan Waterfront Liverpool.
>
Alaric tertawa sinis, suara tawanya bergema hampa di ruangan itu. "Pseudosains?" desisnya. "Julian, kau tidak hanya pengkhianat, kau juga rabun ayam."
Alaric tahu betul mengapa Julian menolak ini. Proyek Waterfront Liverpool adalah skema pencucian uang yang sempurna. Dengan memindahkan dana ke sana, Julian dan Caspian bisa memotong komisi ilegal di setiap tahap pembangunan. Sementara Nexus Labs, dengan audit yang ketat dan riset yang transparan, tidak memberikan celah bagi mereka untuk mencuri.
Ia mulai membedah kondisi keuangan Nexus Labs saat ini. Data yang muncul sangat menyedihkan. Saldo bank mereka hanya tersisa beberapa ribu poundsterling—bahkan tidak cukup untuk membayar tagihan listrik laboratorium selama sebulan ke depan. Dr. Aris Thorne, seorang jenius yang ia ingat akan memenangkan Nobel di masa depan, saat ini sedang terjepit. Ia telah menggadaikan rumahnya, menjual mobilnya, dan ditinggalkan oleh sebagian besar rekan peneliti yang menganggap visinya gila.
Alaric menatap foto profil Dr. Aris Thorne di layar. Pria itu tampak berantakan, dengan lingkaran hitam di bawah mata dan rambut yang tidak terurus. Mata itu... Alaric mengenal mata itu. Itu adalah mata seseorang yang sedang mempertaruhkan segalanya demi sesuatu yang ia yakini, namun dunia terus-menerus meludahinya.
"Aku akan memberimu sayap, Aris," gumam Alaric. "Tapi kali ini, kau akan terbang di bawah benderaku."
Alaric mengambil ponsel pribadinya, bukan ponsel kantor yang mungkin sudah disadap. Ia menghubungi nomor khusus yang hanya diketahui oleh Silas.
"Silas, ini aku."
"Ya, Tuan Sterling. Saya masih terjaga," suara Silas terdengar tenang seolah ia tidak butuh tidur.
"Cari tahu di mana Dr. Aris Thorne berada besok pagi pukul sembilan. Aku tidak ingin pertemuan formal di kantor. Temukan dia di tempat yang paling tidak terduga—tempat dia biasanya meratapi kegagalannya. Dan Silas, pastikan tidak ada catatan perjalanan ini di log sekretarisku."
"Dimengerti, Tuan. Ada hal lain?"
Alaric terdiam sejenak. Pikirannya beralih dari angka-angka dingin ke sebuah studio seni di sudut London yang penuh dengan aroma cat minyak dan bunga lili. "Bagaimana dengan Elara? Apakah dia sudah tidur?"
Ada jeda singkat di seberang telepon. Silas tampaknya sedang memeriksa laporan dari tim pengawas lapangan. "Lampu di studionya baru saja padam sepuluh menit yang lalu, Tuan. Dia tampak kelelahan, tapi aman. Tidak ada aktivitas mencurigakan di sekitar kediaman."
"Bagus. Tetap awasi, tapi jangan sampai dia merasa tercekik. Besok... besok aku akan menemuinya."
Setelah menutup telepon, Alaric kembali menatap layar monitor. Ia mulai menyusun rencana restrukturisasi modal. Ia tidak bisa sekadar menyuntikkan dana ke Nexus Labs menggunakan akun resmi Sterling Global tanpa memicu kecurigaan dari dewan direksi. Julian dan kedua rekannya yang lain akan segera mencium bau perubahan jika ia tiba-tiba membatalkan proyek Liverpool.
Ia harus melakukan ini dengan cara yang terlihat seperti kegagalan atau langkah spekulasi yang bodoh. Ia harus berperan sebagai CEO arogan yang sedang bosan dan ingin "bermain-main" dengan teknologi.
"Biarkan mereka menganggapku gila," pikir Alaric. "Semakin mereka meremehkanku, semakin besar ruang gerakku untuk menghancurkan mereka."
Ia mulai menuliskan catatan di buku kulit hitamnya. Nama-nama perusahaan teknologi lain yang akan meledak dalam waktu dekat mulai ia daftar satu per satu. Quantum Bridge, Solis Energy, Veridia Biotech. Ini bukan sekadar investasi; ini adalah pembangunan benteng pertahanan yang tidak akan bisa ditembus oleh pengkhianatan Caspian.
Ingatannya tentang masa depan adalah senjata paling mematikan di dunia. Ia tahu kapan krisis chip akan dimulai, ia tahu skandal medis mana yang akan menjatuhkan raksasa farmasi, dan ia tahu kapan pasar properti akan meledak menjadi puing-puing. Setiap informasi itu bernilai miliaran, dan ia akan menggunakannya untuk memastikan Sterling Global tidak hanya bertahan, tapi bermutasi menjadi sesuatu yang jauh lebih kuat.
Tiba-tiba, pandangannya tertuju pada kalender di sudut meja. Tanggal yang dilingkari merah: Pameran Seni Kontemporer London - 3 Hari Lagi.
Itu adalah pameran di mana Elara seharusnya memamerkan karya terbesarnya. Di kehidupan pertama, Alaric bahkan tidak datang. Ia terlalu sibuk merayakan penutupan kontrak di Dubai hingga lupa bahwa hari itu adalah hari paling penting bagi karier istrinya. Ia ingat bagaimana Elara pulang malam itu dengan mata sembab, hanya untuk menemukannya tertidur pulas karena mabuk kemenangan bisnis.
Rasa sakit yang tajam menghujam dadanya. Bukan sakit fisik, tapi rasa sesal yang begitu dalam hingga membuatnya sulit bernapas.
"Maafkan aku, Elara," bisiknya pada ruangan yang kosong. "Di kehidupan ini, aku akan menjadi orang pertama yang berdiri di depan lukisanmu."
Alaric bangkit dari kursinya dan berjalan menuju jendela besar. Di bawah sana, sungai Thames mengalir tenang, membelah kota London yang penuh dengan intrik. Ia melihat bayangannya sendiri di kaca—seorang pria muda dengan kekuasaan tak terbatas, namun dengan mata yang telah melihat akhir dari segalanya.
Ia tahu bahwa perjalanannya baru saja dimulai. Jejak kaki teknologi yang ia tanam malam ini di Nexus Labs akan menjadi fondasi bagi kekaisaran baru. Ia tidak akan lagi membangun gedung-gedung tinggi yang bisa runtuh oleh badai ekonomi. Ia akan membangun masa depan yang terintegrasi dalam sel dan kode, sesuatu yang tidak bisa dicuri oleh pengkhianat seperti Caspian.
Alaric Sterling, sang tiran yang terlahir kembali, kini benar-benar memahami arti dari kekuasaan yang sesungguhnya. Itu bukan tentang berapa banyak gedung yang kau miliki, tapi tentang seberapa jauh kau bisa melihat sebelum orang lain menyadarinya.
Ia menutup laptopnya dengan bunyi klik yang mantap. Malam ini, ia telah memenangkan pertempuran pertama tanpa harus menembakkan satu peluru pun. Esok pagi, ia akan menemui Dr. Aris Thorne dan menawarkan sebuah kesepakatan dengan iblis—sebuah kesepakatan yang akan menyelamatkan dunia medis, sekaligus mengunci takdir musuh-musuhnya.
"Nikmatilah kemenangan kecilmu, Caspian," ucapnya pelan sambil menatap gedung kantor pusat Thorne Industries yang samar-samar terlihat di kejauhan. "Karena saat kau menyadarinya, kau sudah tidak lagi berada di papan catur yang sama denganku."
Alaric memutar kunci pintu kantornya dan melangkah keluar. Langkah kakinya yang mantap bergema di lorong yang sunyi, membawa beban masa depan yang berat namun pasti. Ia pulang bukan untuk beristirahat, melainkan untuk menyiapkan diri menghadapi "perjamuan malam" bersama wanita yang hatinya telah ia hancurkan, namun jiwanya sangat ingin ia selamatkan.
Di kehidupan ini, Alaric Sterling tidak akan membiarkan sejarah berulang. Ia akan memperbaiki masa depan, satu langkah, satu investasi, dan satu permintaan maaf pada satu waktu.