Suara denting jarum jam kakek di sudut ruang makan mansion keluarga Sterling terdengar seperti detak jantung yang gelisah. Meja makan panjang dari kayu ek itu biasanya hanya menjadi saksi bisu kesunyian selama bertahun-tahun, namun malam ini, suasananya terasa berbeda. Aroma coq au vin yang dimasak oleh koki pribadi mereka memenuhi udara, namun bagi Elara Vance, aroma itu terasa menyesakkan.
Elara duduk di ujung meja, jemarinya yang lentik—masih menyisakan sedikit noda cat biru kobalt di sela kuku—mempermainkan serbet linen di pangkuannya. Ia mengenakan gaun sutra sederhana berwarna krem, namun matanya yang lelah mencerminkan kewaspadaan seorang tawanan yang menunggu interogasi.
Pintu ganda ruang makan terbuka. Alaric melangkah masuk.
Ia sudah menanggalkan jas bespoke-nya, menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung hingga siku. Penampilan yang seharusnya terlihat santai itu tetap memancarkan aura otoritas yang membuat pelayan di ruangan itu menunduk dalam. Alaric menarik kursi di sisi kanan Elara, bukan di ujung meja yang jauh seperti biasanya.
Jarak mereka kini hanya terpaut satu meter. Terlalu dekat bagi Elara.
"Kau pulang tepat waktu," suara Elara pelan, nyaris seperti bisikan. Ada nada ketidakpercayaan yang kental di sana. Di kehidupan sebelumnya—atau bagi Elara, dalam kebiasaan Alaric selama dua tahun terakhir—pria ini biasanya baru menginjakkan kaki di rumah saat fajar hampir menyingsing, atau bahkan tidak pulang sama sekali.
Alaric menatap wajah istrinya. Di bawah cahaya lampu gantung kristal yang temaram, Elara tampak begitu rapuh, seolah satu sentuhan kasar saja bisa membuatnya hancur menjadi debu. Hati Alaric berdenyut nyeri. Ia ingat bagaimana wajah ini terlihat di peti mati yang dingin—pucat, tirus, dan dipenuhi jejak penderitaan yang ia sebabkan.
"Aku sudah berjanji akan datang untuk makan malam," jawab Alaric lembut. Ia berusaha mengatur suaranya agar tidak terdengar seperti perintah. "Bagaimana harimu di studio?"
Pertanyaan itu sederhana, namun bagi Elara, itu terdengar seperti jebakan. Ia mendongak, menatap mata abu-abu Alaric, mencari kilatan ejekan atau ketidaksabaran yang biasanya ada di sana. Namun, ia hanya menemukan pantulan dirinya yang tampak bingung.
"Seperti biasa," jawab Elara pendek. Ia mulai memotong daging di piringnya dengan gerakan mekanis. "Melukis. Menghapus. Melukis lagi. Tidak ada yang akan menarik minat seorang CEO Sterling Global."
"Aku tertarik," potong Alaric cepat. "Aku ingin tahu apa yang sedang kau kerjakan. Silas bilang kau menghabiskan sepuluh jam di sana hari ini. Kau harus menjaga kesehatanmu, Elara."
Elara meletakkan pisaunya dengan bunyi denting yang tajam. "Sejak kapan kau peduli berapa lama aku berada di studio? Bukankah dulu kau bilang bahwa hobiku hanya membuang-buang ruang di rumah ini?"
Kalimat itu menghantam Alaric tepat di ulu hati. Ia teringat pernah mengucapkan kata-kata kejam itu tiga tahun lalu, saat ia sedang stres karena persaingan saham dengan Caspian. Ia telah menyebut hasrat hidup Elara sebagai "hobi yang tidak menghasilkan".
Alaric menarik napas panjang, mencoba menahan emosi yang bergejolak. "Aku salah. Kata-kataku dulu... itu adalah ucapan pria bodoh yang tidak tahu cara menghargai keindahan. Aku minta maaf, Elara."
Keheningan menyelimuti ruangan itu kembali. Elara terpaku. Permintaan maaf adalah kosa kata yang tidak pernah ada dalam kamus Alaric Sterling. Baginya, Alaric adalah hukum, dan hukum tidak pernah meminta maaf.
"Apa yang kau inginkan, Alaric?" tanya Elara, suaranya kini bergetar karena emosi yang tertahan. "Bunga lili yang mahal, pulang tepat waktu, permintaan maaf... apa yang sedang kau rencanakan? Apakah keluargaku melakukan kesalahan lagi? Apakah kau ingin aku menandatangani dokumen perceraian atau kesepakatan bisnis baru?"
"Tidak ada dokumen, Elara. Tidak ada kesepakatan," Alaric memajukan duduknya, tangannya bergerak secara impulsif ingin menyentuh tangan Elara, namun ia segera menariknya kembali saat melihat istrinya sedikit berjengit. "Aku hanya ingin memperbaiki apa yang rusak. Aku ingin kita... memulai kembali."
Elara tertawa kecil, sebuah tawa getir yang membuat Alaric merasa lebih buruk daripada dikhianati oleh Caspian. "Memulai kembali? Setelah dua tahun pengabaian? Kau memperlakukanku seperti pajangan di rumah ini, Alaric. Kau lebih mengenal angka-angka di bursa saham daripada warna mataku sendiri. Dan sekarang kau ingin kita bersikap seolah semuanya baik-baik saja karena kau tiba-tiba mendapat pencerahan?"
Alaric tahu ia layak mendapatkan setiap kata tajam itu. Ia adalah arsitek dari kebencian ini. "Aku tahu aku telah menjadi monster bagimu. Aku tidak meminta kau memaafkanku malam ini. Aku hanya meminta satu kesempatan untuk menunjukkan bahwa aku bisa berbeda."
Ia terdiam sejenak, mencoba mencari topik yang bisa mencairkan suasana. "Aku dengar ada pameran seni kontemporer besar di Galeri Royal akhir pekan ini. Banyak kritikus internasional yang akan datang. Aku ingin... aku ingin menemanimu ke sana. Sebagai suamimu."
Elara menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada secercah harapan yang muncul di matanya, namun dengan cepat dipadamkan oleh tembok pertahanan yang telah ia bangun selama bertahun-tahun.
"Tidak perlu," jawab Elara dingin.
"Kenapa? Bukankah itu pameran yang kau nantikan? Kau bilang di sana akan ada karya dari seniman favoritmu, Julian Schnabel."
Elara tertegun. Ia tidak menyangka Alaric mengingat detail kecil itu. Namun, harga dirinya lebih kuat daripada rasa terkejutnya. "Aku sudah mengatur jadwal untuk pergi sendiri. Atau mungkin bersama Beatrix. Kehadiranmu hanya akan membuat pameran itu menjadi ajang negosiasi bisnis. Orang-orang akan mengerumunimu untuk meminta investasi, dan aku... aku hanya akan kembali menjadi bayangan di sampingmu."
"Aku bisa memastikan hal itu tidak terjadi," desak Alaric. "Aku akan mengosongkan jadwal. Tidak ada ponsel, tidak ada sekretaris. Hanya kita."
"Alaric, berhenti," Elara berdiri dari kursinya, membuat pelayan di sudut ruangan tersentak. "Jangan berjanji sesuatu yang tidak bisa kau tepati. Kita berdua tahu bahwa jika Caspian atau dewan direksi meneleponmu tentang krisis satu sen pun, kau akan meninggalkanku di tengah jalan. Aku lebih baik pergi sendiri daripada harus menunggu kapan kau akan mengecewakanku lagi."
Elara memutar tubuhnya, bersiap meninggalkan ruangan. Namun sebelum ia melangkah jauh, ia berhenti sejenak tanpa menoleh.
"Terima kasih untuk makan malamnya. Tapi tolong, jangan paksa aku untuk percaya padamu dalam semalam. Itu menyakitkan."
Langkah kaki Elara menjauh, menggema di lorong luas mansion itu hingga menghilang di balik pintu kamarnya. Alaric tetap duduk di kursinya, menatap piring yang masih penuh di hadapannya. Rasa lapar yang ia rasakan tadi kini berganti dengan rasa hampa yang luar biasa.
Di dunia bisnis, Alaric bisa memprediksi pergerakan pasar. Ia bisa menjatuhkan lawan dengan satu tanda tangan. Ia bisa memanipulasi informasi untuk keuntungannya. Namun di sini, di ruang makan ini, semua senjatanya tidak berguna. Ia tidak bisa menggunakan informasi masa depan untuk memaksa seseorang mencintainya kembali.
Ia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, menatap langit-langit ruang makan yang dihiasi lukisan fresco klasik. Ia teringat kembali pada Bab 6, tentang bagaimana ia merasa begitu berkuasa saat menemukan Nexus Labs. Namun sekarang, ia menyadari sebuah kebenaran pahit: memenangkan kembali dunia adalah tugas yang mudah, namun memenangkan kembali hati Elara adalah tantangan yang sesungguhnya.
"Elara yang terlanjur beku," gumam Alaric, mengulangi kalimat dalam pikirannya.
Ia tidak marah atas penolakan itu. Justru, kemarahan Elara adalah tanda bahwa masih ada perasaan di sana, meskipun itu berupa luka. Jika Elara bersikap acuh tak acuh, barulah Alaric harus benar-benar takut.
Ponsel di sakunya bergetar. Sebuah pesan dari Silas.
Tuan, lokasi Dr. Aris Thorne telah dikonfirmasi. Dia sedang berada di sebuah kedai kopi kumuh di pinggiran Whitechapel. Tampaknya dia sedang mencoba menjual paten terakhirnya kepada broker kecil.
Alaric menatap pesan itu dengan mata menyipit. Dunia bisnis memanggilnya kembali. Serigala-serigala mulai melolong di luar sana, menanti saat yang tepat untuk menerkam Sterling Global.
Ia berdiri, merapikan kemejanya yang sedikit kusut. Matanya kembali berubah menjadi abu-abu baja yang tajam. Ia mungkin gagal memenangkan malam ini, tapi ia tidak akan menyerah. Jika Elara tidak ingin ia menemaninya ke pameran seni, maka ia harus menemukan cara lain untuk menunjukkan dukungannya—sesuatu yang lebih besar daripada sekadar kehadiran fisik.
"Jika dunia ini yang membuatmu menderita di masa lalu, Elara," bisik Alaric sambil melangkah keluar dari ruang makan, "maka aku akan mengubah dunia ini sampai kau tidak punya alasan lagi untuk merasa takut."
Alaric melangkah menuju perpustakaannya, tempat ia menyimpan buku catatan hitamnya. Ia membuka lembaran baru. Di bawah catatan tentang Nexus Labs dan Tiga Pilar, ia menuliskan satu baris kalimat dengan tulisan tangan yang tegas:
Pameran Seni Royal - Pastikan galeri itu menjadi tempat yang paling aman dan paling membanggakan bagi Elara Vance. Cari tahu siapa pemilik galerinya.
Malam itu, di tengah kesunyian mansion yang dingin, Alaric Sterling kembali menyusun strategi. Bukan untuk menghancurkan musuh, melainkan untuk meruntuhkan tembok es yang melindungi hati istrinya. Ia tahu perjalanan ini akan panjang dan penuh penolakan, namun bagi seorang pria yang telah diberikan kesempatan kedua oleh maut, kata "menyerah" sudah lama dihapus dari kamusnya.
Di lantai atas, Elara berdiri di balik pintu kamarnya yang terkunci, menyentuh dadanya yang berdegup kencang. Ia benci betapa mudahnya ia merasa goyah hanya karena satu permintaan maaf. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tetap kuat, namun di dalam hatinya yang paling dalam, sebuah pertanyaan kecil mulai muncul: Apakah Alaric benar-benar telah berubah?
Jawaban dari pertanyaan itu adalah satu-satunya hal yang tidak bisa diprediksi oleh Alaric, dan itulah yang membuat kehidupan kedua ini terasa lebih nyata daripada yang pernah ia bayangkan.