Distrik Shoreditch di London Timur selalu memiliki aroma yang khas—perpaduan antara kopi artisan, cat semprot dari grafiti di dinding bata tua, dan ambisi kreatif yang meledak-ledak. Di salah satu sudut jalan yang sempit, terdapat sebuah bangunan bekas pabrik tekstil yang telah disulap menjadi studio kolektif. Di sinilah Elara Vance menghabiskan sebagian besar waktunya, jauh dari kemewahan mansion Sterling yang terasa seperti penjara berlapis emas.
Pukul sebelas pagi, suasana di dalam studio biasanya tenang. Hanya ada suara gesekan kuas dan gumaman rendah dari para seniman yang fokus pada kanvas mereka. Namun, ketenangan itu hancur berantakan saat sebuah iring-iringan mobil hitam mengkilap—tiga Range Rover Sentinel yang tampak seperti tank sipil—berhenti tepat di depan pintu masuk yang dipenuhi coretan artistik.
Silas Vane keluar dari mobil pertama, menyesuaikan posisi earpiece-nya dengan gerakan sigap. Ia memberikan isyarat kepada dua pria berbadan tegap lainnya untuk menjaga pintu masuk, sementara ia sendiri membukakan pintu penumpang belakang untuk Alaric Sterling.
Alaric melangkah keluar. Ia mengenakan setelan jas abu-abu arang yang dipotong sempurna, memegang sebuah buket bunga lili putih yang dibungkus kertas krep hitam elegan. Kehadirannya di Shoreditch seperti seekor hiu yang tiba-tiba muncul di kolam ikan koi; terlalu tajam, terlalu mahal, dan terlalu mengintimidasi.
"Tuan, studionya ada di lantai tiga. Tidak ada lift yang layak, hanya lift barang tua," lapor Silas dengan nada datar.
"Aku akan naik tangga," jawab Alaric singkat. Ia tidak peduli dengan debu yang mungkin menempel di sepatunya yang seharga ribuan poundsterling. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal: menebus kesalahannya di malam sebelumnya.
Di lantai tiga, suasana menjadi gempar. Staf administrasi studio, seorang pemuda bernama Toby yang memiliki banyak tindikan di telinga, hampir menjatuhkan cangkir kopinya saat melihat rombongan pria berjas hitam memasuki ruangan.
"Maaf... ada yang bisa saya bantu?" tanya Toby gagap, matanya beralih dari Silas yang tampak mematikan ke arah Alaric yang tampak seperti dewa Yunani yang sedang murka.
"Aku mencari istriku. Elara Vance," ucap Alaric. Suaranya berat dan berwibawa, membuat seluruh ruangan yang tadinya bising oleh suara radio kecil seketika hening.
"Oh, Elara! Dia... dia ada di studio nomor 4. Di ujung lorong," Toby menunjuk dengan tangan gemetar.
Alaric berjalan melewati meja-meja kerja seniman lain. Ia bisa merasakan mata semua orang tertuju padanya. Beberapa seniman muda berbisik-bisik, mengenali wajahnya dari sampul majalah bisnis. Ia menyadari kehadirannya menciptakan ketegangan yang tidak perlu, namun ego dan rasa tidak sabarnya untuk melihat Elara mengalahkan akal sehatnya.
Ia berhenti di depan pintu kayu tua dengan papan nama kecil bertuliskan E. Vance. Tanpa mengetuk, Alaric memutar knop pintu dan melangkah masuk.
Di dalam, Elara sedang berdiri di depan kanvas raksasa. Rambutnya diikat asal-asalan ke atas, dan ia mengenakan apron yang penuh dengan noda cat. Ia sedang menggoreskan palet dengan gerakan emosional saat suara pintu terbuka mengagetkannya.
"Alaric?" Elara berbalik, matanya membelalak tak percaya. Palet di tangannya hampir terjatuh. "Apa yang... kenapa kau ada di sini?"
Alaric menghentikan langkahnya, tiba-tiba merasa sedikit konyol dengan buket bunga besar di tangannya. "Aku ingin menemuimu. Aku membawa ini." Ia mengulurkan bunga lili itu.
Elara tidak segera mengambilnya. Ia justru melihat ke arah pintu yang terbuka, di mana Silas berdiri tegak seperti patung di koridor, dan ia bisa melihat Toby serta rekan-rekan senimannya mengintip dari balik bahu Silas dengan wajah pucat.
"Kau membawa pengawal ke studioku?" tanya Elara, suaranya naik satu oktav karena rasa malu. "Alaric, ini tempat kerja, bukan zona perang!"
"Mereka hanya untuk memastikan keamananmu, Elara. Setelah kejadian di kehidupan—maksudku, setelah aku mempertimbangkan risiko keamanan akhir-akhir ini, aku tidak ingin mengambil risiko," Alaric mencoba membela diri, namun ia menyadari bahwa penjelasannya terdengar tidak masuk akal bagi Elara.
Elara meletakkan paletnya di meja kerja dengan kasar. Ia melangkah mendekati Alaric, merebut bunga itu dengan gerakan cepat, lalu meletakkannya di atas meja yang penuh dengan kaleng pengencer cat.
"Keluar," desis Elara.
"Elara, aku hanya ingin—"
"Kau ingin apa? Menandai wilayahmu? Menunjukkan pada semua orang bahwa Elara si pelukis adalah milik Alaric Sterling yang agung?" Mata Elara berkaca-kaca karena amarah dan rasa tidak nyaman. "Kau tahu apa yang akan mereka katakan setelah kau pergi? Mereka tidak akan melihatku sebagai rekan seniman lagi. Mereka akan melihatku sebagai 'proyek' atau 'istri simpanan' dari seorang miliarder yang bisa membeli galeri ini kapan saja dia mau."
Alaric tertegun. Di kehidupan pertamanya, ia selalu berpikir bahwa kemewahan dan perlindungan adalah bentuk kasih sayang tertinggi. Ia tidak pernah mempertimbangkan bahwa bagi seseorang seperti Elara, integritas dan kemandirian jauh lebih berharga daripada Range Rover Sentinel di depan pintu.
"Aku tidak bermaksud mempermalukanmu," ucap Alaric pelan, suaranya tulus. "Aku benar-benar hanya ingin memberikan ini secara langsung karena kau menolakku semalam."
"Maka berikan dan pergilah," Elara menunjuk pintu. "Kau menghancurkan mood-ku. Kau menghancurkan atmosfer tempat ini. Aku tidak bisa melukis jika aku merasa sedang diawasi oleh kamera pengintai berjalan di luar sana."
Alaric menatap Elara sejenak. Ia melihat noda cat di pipi istrinya, kelelahan di matanya, dan ketakutan yang terselubung oleh amarah. Ia menyadari bahwa pendekatannya terlalu agresif. Ia membawa mentalitas "predator bisnis" ke dalam ruang suci istrinya.
"Baiklah," Alaric mengangguk pelan. "Aku akan pergi. Silas!"
Silas segera muncul di ambang pintu.
"Tarik semua orang ke luar gedung. Tunggu di ujung jalan. Jangan ada yang terlihat dari jendela studio ini," perintah Alaric.
Silas mengangguk dan segera memberikan instruksi melalui radio. Dalam hitungan detik, lorong itu kembali sepi.
Alaric kembali menatap Elara. "Aku akan meninggalkan bunga itu di sini. Aku minta maaf jika kehadiranku membuatmu tidak nyaman. Aku hanya... aku hanya berusaha melakukan hal yang benar, meskipun sepertinya aku selalu salah dalam melakukannya."
Ia berbalik untuk pergi, namun langkahnya terhenti saat matanya menangkap lukisan yang sedang dikerjakan Elara. Itu adalah sebuah komposisi abstrak yang didominasi warna gelap, namun di tengahnya ada setitik cahaya keemasan yang tampak seperti sedang berjuang untuk tidak padam.
"Lukisan itu bagus," ucap Alaric tulus. "Cahaya di tengahnya... itu mengingatkanku pada sesuatu."
"Pada apa?" tanya Elara ketus, meskipun ia sedikit terkejut Alaric memperhatikan detail itu.
"Pada kesempatan kedua," bisik Alaric, lebih kepada dirinya sendiri.
Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Alaric keluar dari studio. Ia berjalan menuruni tangga dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, ia senang bisa melihat Elara yang sehat dan hidup. Di sisi lain, ia menyadari bahwa jarak di antara mereka bukan hanya sekadar jarak fisik, melainkan jurang kepercayaan yang sangat dalam.
Saat ia sampai di mobil, Silas membukakan pintu. "Ke kantor sekarang, Tuan?"
"Ya," Alaric bersandar di kursi kulitnya yang empuk. Wajahnya kembali mengeras. "Ke kantor. Aku punya beberapa orang yang harus segera disingkirkan sebelum mereka sempat menyakiti Elara lebih jauh."
Mobil itu meluncur pergi, meninggalkan Shoreditch yang penuh warna. Alaric menatap tangannya yang tadi sempat memegang bunga. Ia telah menunjukkan usahanya, meskipun gagal. Tapi bagi Alaric, kegagalan adalah data. Ia belajar satu hal hari ini: Elara tidak bisa dibeli dengan bunga atau dilindungi dengan senjata. Ia harus memenangkan hatinya dengan cara yang jauh lebih halus.
Sementara itu, di lantai tiga studio, Elara berdiri diam di depan jendela, melihat iring-iringan mobil hitam itu menghilang dari pandangan. Ia kembali ke mejanya dan menatap buket lili putih yang harum.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia tidak membuang bunga pemberian Alaric ke tempat sampah. Ia mengambil sebuah vas tua, mengisinya dengan air, dan meletakkan bunga itu di sudut studionya.
"Apa yang sebenarnya terjadi padamu, Alaric?" gumam Elara sambil menyentuh kelopak bunga yang lembut.
Pertemuan itu singkat, canggung, dan tidak efektif menurut standar bisnis mana pun. Namun bagi Elara, itu adalah pertama kalinya Alaric Sterling terlihat seperti manusia biasa yang bisa melakukan kesalahan bodoh karena rasa cemas—dan itu, entah bagaimana, jauh lebih menakutkan daripada Alaric yang dingin dan sempurna.
Alaric, di dalam mobilnya, mulai membuka laptop. Waktunya untuk perasaan telah habis untuk hari ini. Sekarang, waktunya untuk perang.
"Silas, siapkan laporan awal tentang 'Tiga Pilar'. Aku ingin melihat data korupsi mereka di layar mejaku begitu aku sampai," perintah Alaric.
"Dimengerti, Tuan. Segalanya sedang bergerak."
Badai di dunia bisnis sedang bersiap untuk menerjang, dan Alaric Sterling adalah pusat dari badai tersebut. Ia akan memastikan bahwa saat badai itu reda, dunia yang tersisa adalah dunia yang cukup aman bagi Elara untuk terus melukis cahayanya.