Lantai enam puluh enam Sterling Global kembali ke fungsi aslinya sebagai pusat saraf kekuasaan. Cahaya matahari sore yang miring menembus kaca jendela, menyinari debu-debu halus yang menari di atas meja Alaric, namun suasana di dalam ruangan itu tetap terasa steril dan tajam. Alaric duduk dengan punggung tegak, matanya yang berwarna abu-abu baja tidak berkedip menatap sebuah amplop cokelat tebal yang diletakkan Silas di hadapannya.
"Ini adalah laporan fisik pertama, Tuan Sterling," suara Silas terdengar seperti mesin yang diminyaki dengan baik. "Sesuai instruksi Anda, tidak ada jejak digital yang tertinggal. Semua data di dalam sini adalah hasil penyadapan jalur komunikasi pribadi dan pelacakan transaksi luar negeri yang tidak terdaftar di buku besar perusahaan."
Alaric mengambil amplop itu. Beratnya terasa seperti nyawa orang-orang yang akan ia hancurkan. Dengan gerakan perlahan, ia mengeluarkan tumpukan dokumen, grafik aliran dana, dan transkrip percakapan rahasia.
"Sebutkan poin utamanya, Silas," perintah Alaric tanpa mengalihkan pandangan dari kertas di tangannya.
"Ketiganya—Harris, Julian, dan Brandt—memang bekerja dalam satu simpul yang mereka sebut sebagai 'Tiga Pilar'. Selama tiga tahun terakhir, mereka telah mengalihkan dana operasional dari proyek-proyek infrastruktur ke sebuah perusahaan cangkang di Kepulauan Cayman bernama Vesper Holdings," Silas berhenti sejenak untuk membalik halaman laporannya sendiri. "Namun, temuan yang paling mengkhawatirkan adalah keterlibatan Tuan Caspian Thorne. Dia bukan hanya penasihat pasif. Dia adalah arsiteknya."
Alaric mendengus dingin. Nama itu selalu memicu rasa pahit di lidahnya. "Tentu saja. Caspian tidak akan pernah membiarkan tangannya kotor secara langsung jika dia bisa memanipulasi orang lain untuk melakukannya."
"Julian adalah yang paling ceroboh," lanjut Silas. "Dia menggunakan dana perusahaan untuk menutupi hutang judinya di Makau. Harris, di sisi lain, lebih licin. Dia memalsukan kontrak pengadaan material bangunan untuk Proyek Waterfront Liverpool. Dia melebih-lebihkan harga hingga tiga puluh persen, dan selisihnya mengalir langsung ke rekening Vesper Holdings."
Alaric membaca transkrip percakapan antara Julian dan Brandt yang terjadi dua malam lalu di sebuah bar eksklusif di Mayfair.
> Julian: "Alaric mulai bertingkah aneh. Dia membatalkan pertemuan dengan investor Liverpool kemarin."
> Brandt: "Dia hanya sedang mengalami krisis paruh baya awal. Terlalu banyak menghabiskan waktu dengan istrinya yang tidak berguna itu. Biarkan dia bermain rumah-rumahan. Selama tanda tangannya tetap cair di dokumen pendanaan, kita aman."
> Julian: "Caspian bilang kita harus mempercepat proses pemindahan aset. Jika Alaric bangun dari tidurnya, kita semua akan berakhir di Belmarsh."
>
Tangan Alaric meremas pinggiran dokumen itu hingga kertasnya berkerut. Istri yang tidak berguna? Alaric merasakan kemarahan yang dingin menjalar di sumsum tulangnya. Di kehidupan pertama, penghinaan seperti ini adalah makanan sehari-hari yang ia biarkan karena ia terlalu buta oleh ambisinya sendiri. Namun sekarang, mendengar Elara direndahkan oleh tikus-tikus kantor ini membuat darahnya mendidih.
"Mereka menyebut Elara sebagai gangguan," bisik Alaric, suaranya mengandung ancaman yang membuat Silas sedikit menegang. "Mereka pikir cinta adalah kelemahan yang bisa mereka manfaatkan untuk menidurkanku."
"Apakah kita akan bergerak sekarang, Tuan?" tanya Silas.
"Belum semuanya," Alaric membalik halaman terakhir yang berisi rincian transfer dana sebesar dua puluh juta poundsterling yang dijadwalkan akan keluar besok pagi. "Ini adalah umpan mereka. Mereka ingin mengosongkan likuiditas Sterling Global sebelum peluncuran kuartal kedua. Jika dana ini keluar, perusahaan akan mengalami krisis arus kas, dan saat itulah Caspian akan muncul sebagai 'penyelamat' dengan tawaran akuisisi yang menjerat leher."
Alaric berdiri, berjalan menuju dinding kaca yang menghadap ke arah gedung City of London. Ia melihat kerumunan orang di bawah sana, tampak seperti semut yang sibuk. Di antara kerumunan itu, ada pengkhianat, ada pemimpi, dan ada korban.
"Silas, aku ingin kau melakukan satu hal lagi. Masuki sistem internal departemen keuangan malam ini. Jangan ubah datanya, tapi buatlah sebuah 'pintu belakang' yang hanya bisa diakses olehku. Aku ingin melihat transaksi itu terjadi secara real-time besok pagi."
"Bagaimana dengan rapat eksekutif mingguan besok?"
Alaric tersenyum, namun senyum itu tidak mencapai matanya. Itu adalah senyum seorang algojo yang sedang menguji ketajaman kapaknya. "Oh, rapat itu akan menjadi sangat menarik. Aku akan mengumumkan sebuah keputusan yang akan membuat jantung mereka berhenti berdetak sejenak."
"Keputusan apa, Tuan?"
"Aku akan memotong pendanaan Proyek Waterfront Liverpool secara total," jawab Alaric tenang. "Dan aku akan mengalihkan seluruh dana tersebut ke sebuah perusahaan bioteknologi bernama Nexus Labs."
Silas tertegun sejenak. Sebagai mantan intelijen, ia tahu tentang risiko bisnis, namun apa yang dikatakan Alaric terdengar seperti bunuh diri finansial di mata para pemegang saham. "Dewan direksi akan memberontak, Tuan. 'Tiga Pilar' akan menggunakan ini untuk mempertanyakan kewarasan Anda di depan publik."
"Itulah rencananya, Silas," Alaric berbalik, matanya berkilat penuh kemenangan. "Aku ingin mereka memberontak. Aku ingin mereka merasa terpojok dan melakukan kesalahan besar. Saat seekor tikus merasa terjebak, ia akan lari menuju lubang persembunyiannya yang paling dalam. Dan di lubang itulah, aku akan menangkap Caspian Thorne."
Alaric kembali ke mejanya, mengambil ponsel pribadinya. Tidak ada pesan baru dari Elara sejak kunjungannya yang gagal di studio tadi pagi. Ia menghela napas, rasa bersalah kembali menyusup di antara rencana-rencana kejamnya. Ia tahu ia telah bertindak terlalu jauh dengan membawa pengawal ke tempat suci Elara, namun di dunianya saat ini, bahaya mengintai di setiap sudut.
Ia mengetik sebuah pesan singkat, namun menghapusnya kembali. Terlalu cepat, pikirnya. Elara butuh ruang.
"Silas," panggil Alaric saat asistennya itu hendak keluar.
"Ya, Tuan Sterling?"
"Pastikan tim keamanan di sekitar studio Elara tetap berada di sana, tapi katakan pada mereka untuk melepaskan jas hitam mereka. Pakai pakaian kasual. Jangan terlihat seperti polisi rahasia. Aku tidak ingin merusak mood melukisnya lagi."
Silas mengangguk dengan sedikit binar pengertian di matanya. "Akan segera dilaksanakan."
Setelah Silas pergi, Alaric kembali menatap data korupsi di mejanya. Ia mulai memetakan struktur organisasi baru yang akan ia bentuk setelah "pembersihan" besar-besaran nanti. Ia membutuhkan Silas sebagai kepala keamanan global, dan ia membutuhkan orang-orang baru yang tidak terinfeksi oleh racun Caspian.
Ia membuka laptopnya dan mulai mengetik draf agenda rapat mendadak untuk besok pagi pukul sembilan. Judul subjeknya sangat sederhana namun mematikan: Restrukturisasi Aset Strategis dan Audit Internal Tahap I.
Alaric tahu bahwa malam ini, Julian, Harris, dan Brandt akan tidur dengan nyenyak, merasa bahwa mereka telah memenangkan permainan. Mereka mungkin sedang merayakan calon keuntungan besar mereka dengan sampanye mahal di klub-klub mewah. Mereka tidak menyadari bahwa pria yang mereka anggap sedang "bermain rumah-rumahan" telah memegang tali gantungan yang melingkar di leher mereka masing-masing.
"Caspian," gumam Alaric sambil menatap foto masa muda mereka berdua yang masih terpajang di sudut rak buku—sebuah sisa-sisa persahabatan yang kini terasa seperti lelucon. "Kau mengajariku banyak hal tentang pengkhianatan di kehidupan dulu. Sekarang, biarkan aku mengajarimu sesuatu tentang konsekuensi."
Alaric menutup folder dokumen itu dengan bunyi thud yang mantap. Ia tidak akan pulang ke mansion malam ini. Ia akan tidur di sofa kantornya, memantau pergerakan data dari layar monitornya. Ia harus memastikan tidak ada satu sen pun yang lolos dari pengawasannya.
Malam semakin larut di London. Di bawah sana, kota terus berdenyut, tidak menyadari bahwa di lantai enam puluh enam gedung Sterling Global, seorang pria sedang menenun jaring yang akan menjerat para penguasa bayangan kota itu.
Data korupsi itu bukan hanya sekadar kertas; itu adalah surat kematian bagi karier 'Tiga Pilar'. Dan bagi Alaric, itu adalah fondasi pertama dari masa depan yang ingin ia bangun untuk Elara. Sebuah masa depan di mana tidak ada lagi pengkhianatan, tidak ada lagi kemiskinan, dan tidak ada lagi penyesalan yang terlambat.
Layar monitor Alaric memantulkan wajahnya—wajah seorang pria yang telah kehilangan segalanya dan kini siap melakukan apa pun untuk mempertahankannya. Di kehidupan kedua ini, Alaric Sterling tidak hanya akan menjadi seorang CEO. Ia akan menjadi sang predator yang membersihkan hutannya sendiri.