Ruang rapat utama Sterling Global yang terletak di lantai enam puluh lima adalah sebuah arena gladiator modern. Meja oval panjang dari kaca antigores dikelilingi oleh kursi kulit ergonomis yang diduduki oleh para pemegang saham dan jajaran direksi paling berpengaruh di London. Di ruangan ini, nasib pelabuhan, jaringan hotel, dan ribuan karyawan diputuskan hanya dengan satu anggukan kepala.
Pagi itu, atmosfer di dalam ruangan terasa berat, seolah-olah oksigen telah disedot keluar. Alaric Sterling duduk di kepala meja, wajahnya setenang permukaan danau di musim dingin, sementara di sisi kiri dan kanannya, "Tiga Pilar"—Julian, Harris, dan Brandt—saling bertukar pandang dengan gelisah.
"Aku tidak mengerti, Alaric," Julian Vane memecah keheningan, suaranya mengandung nada keberatan yang dibungkus dengan kepura-puraan peduli. "Kau memanggil rapat mendadak ini hanya untuk mengumumkan bahwa kita akan menghentikan pendanaan Proyek Waterfront Liverpool? Itu adalah proyek mercusuar kita tahun ini. Kontrak sudah ditandatangani, alat berat sudah bergerak. Membatalkannya sekarang berarti bunuh diri reputasi."
Harris, pria berwajah kemerahan yang mengepalai divisi konstruksi, menimpali dengan nada lebih keras. "Kita akan menghadapi gugatan penalti sebesar lima puluh juta poundsterling, Alaric! Belum lagi kerugian dari material yang sudah dipesan. Ini tidak masuk akal secara bisnis."
Alaric menyesap kopi hitamnya perlahan, membiarkan keheningan menyelimuti ruangan itu selama beberapa detik lagi sebelum meletakkan cangkirnya dengan bunyi denting yang tajam.
"Proyek Liverpool adalah lubang tanpa dasar," ucap Alaric dingin. Matanya menatap tajam ke arah Harris. "Laporan audit internal terbaru—yang aku lakukan secara pribadi—menunjukkan adanya penggelembangan biaya material sebesar tiga puluh persen. Aku tidak akan membiarkan Sterling Global mendanai inefisiensi, apalagi... kebocoran dana."
Julian sedikit tersentak mendengar kata 'kebocoran', namun ia segera menguasai diri. "Jika ada masalah audit, kita bisa memperbaikinya tanpa menghentikan proyek. Tapi mengalihkan dana itu ke... apa tadi namanya? Nexus Labs? Sebuah laboratorium bioteknologi yang bahkan tidak punya produk di pasar? Itu murni spekulasi yang ceroboh."
"Bukan spekulasi, Julian. Ini adalah visi," Alaric berdiri, berjalan menuju layar proyektor besar di ujung ruangan. Ia menampilkan grafik struktur molekul dan paten teknologi Bio-Sync milik Nexus Labs. "Dunia sedang berubah. Properti bisa hancur oleh krisis, tapi kesehatan adalah komoditas abadi. Nexus Labs memiliki kunci untuk pengobatan kanker masa depan. Jika kita masuk sekarang, kita akan memiliki monopoli global dalam lima tahun."
"Lima tahun!" Brandt, direktur operasional yang biasanya pendiam, akhirnya bersuara. "Kita butuh likuiditas sekarang, bukan lima tahun lagi. Para pemegang saham akan menuntut kepalamu jika saham kita anjlok karena keputusan gila ini."
Alaric berbalik, menatap satu per satu anggota dewan direksi. Ia bisa melihat ketakutan di mata Julian dan kemarahan di mata Harris. Mereka takut karena rencana mereka untuk mencuci uang melalui proyek Liverpool terancam gagal total.
"Aku tidak butuh persetujuan dewan untuk menggunakan dana taktis CEO," suara Alaric merendah, namun setiap kata yang keluar terdengar seperti vonis. "Namun, aku tahu kalian semua khawatir tentang risiko. Oleh karena itu, aku akan melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan oleh CEO Sterling sebelumnya."
Ia mengambil sebuah dokumen bermaterai dari asistennya dan meletakkannya di tengah meja.
"Ini adalah jaminan pribadi," kata Alaric. "Jika investasi Nexus Labs tidak memberikan hasil positif dalam dua belas bulan ke depan, aku secara pribadi menjamin kerugian tersebut dengan seluruh aset pribadi dan saham pribadiku di Sterling Global. Aku mempertaruhkan kursi dan kekayaanku untuk keputusan ini."
Seluruh ruangan seketika senyap. Jaminan pribadi adalah langkah ekstrem. Itu berarti Alaric benar-benar yakin, atau dia benar-benar sudah gila. Bagi Julian dan kawan-kawannya, ini adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, mereka senang karena jika Alaric gagal, mereka bisa mendepaknya dengan mudah. Di sisi lain, mereka kehilangan akses ke dana segar dari proyek Liverpool yang mereka dambakan.
"Kau mempertaruhkan segalanya demi sebuah laboratorium kumuh di Whitechapel?" tanya Julian dengan nada sinis yang mulai kembali muncul.
"Aku mempertaruhkan segalanya demi masa depan yang tidak bisa kalian lihat," jawab Alaric. "Rapat selesai. Dana akan ditransfer ke Nexus Labs sore ini. Julian, pastikan semua dokumen administrasi selesai sebelum jam lima. Jika ada keterlambatan sesaat pun, aku akan menganggapnya sebagai pembangkangan tugas."
Tanpa menunggu tanggapan, Alaric melangkah keluar dari ruang rapat. Silas sudah menunggunya di luar pintu, wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang jarang ia perlihatkan.
"Itu adalah langkah yang sangat berani, Tuan," bisik Silas saat mereka berjalan menuju lift pribadi. "Menyertakan jaminan pribadi... Anda benar-benar membakar jembatan di belakang Anda."
"Aku tidak butuh jembatan itu lagi, Silas," Alaric masuk ke dalam lift dan menekan tombol lantai dasar. "Aku tahu apa yang akan terjadi dengan Nexus Labs. Dalam enam bulan, mereka akan mengumumkan terobosan pertama mereka, dan saat itu terjadi, nilai saham kita akan melonjak hingga tiga kali lipat. Tapi yang lebih penting, aku baru saja membuat 'Tiga Pilar' panik."
"Benar, Tuan. Julian baru saja mengirim pesan terenkripsi segera setelah Anda keluar."
Alaric tersenyum tipis. "Bagus. Biarkan mereka saling menghubungi. Biarkan mereka menghubungi Caspian. Dalam keadaan panik, tikus akan membuat kesalahan. Mereka akan mencoba mempercepat pemindahan dana sisa, dan saat itulah kita akan menangkap tangan mereka di dalam brankas."
Begitu lift mencapai lantai dasar, Alaric tidak langsung menuju mobilnya. Ia keluar melalui pintu samping dan berjalan menuju sebuah kedai kopi kecil yang tidak mencolok di seberang gedung kantornya. Ia butuh waktu sejenak untuk melepaskan topeng "predator bisnis"-nya.
Ia mengeluarkan ponsel pribadinya dan melihat foto Elara yang ia ambil secara diam-diam beberapa bulan lalu—saat Elara sedang tertidur di sofa dengan buku seni di dadanya. Rasa lelah yang luar biasa menghinggapinya. Pertarungan di ruang rapat tadi menguras energinya lebih banyak daripada lari maraton.
Namun, ia tahu ia tidak boleh berhenti. Investasi ke Nexus Labs bukan hanya soal uang. Ia ingat di kehidupan pertama, Elara jatuh sakit parah di tahun keempat pernikahan mereka. Sebuah penyakit langka yang saat itu belum ada obatnya karena riset bioteknologi kekurangan dana. Alaric yang dulu terlalu sibuk mencari uang untuk membiayai pengobatan yang sia-sia di luar negeri.
Kali ini, Alaric tidak akan menunggu penyakit itu datang. Ia akan mendanai obatnya sekarang.
"Aku akan menyelamatkanmu, Elara," gumamnya pelan. "Meskipun kau belum tahu bahwa kau sedang terancam."
Ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi dari bank pribadinya menunjukkan bahwa transfer dana sebesar seratus juta poundsterling telah disetujui untuk Nexus Labs. Alaric merasa sebuah beban besar terangkat dari bahunya, namun beban baru yang lebih berat segera menyusul: reaksi dari Caspian Thorne.
Ia tahu Caspian tidak akan tinggal diam melihat sumber uangnya dipotong begitu saja. Caspian akan melakukan serangan balik, dan serangan itu kemungkinan besar tidak akan terjadi di ruang rapat, melainkan melalui jalur-jalur gelap yang bisa membahayakan nyawa.
Alaric kembali ke mobilnya, di mana Silas sudah menunggu di kursi pengemudi.
"Silas, hubungi Dr. Aris Thorne di Nexus Labs. Katakan padanya bahwa dananya sudah masuk. Katakan juga padanya bahwa aku ingin tim keamanannya diganti dengan orang-orang kita mulai malam ini. Dia tidak boleh disentuh oleh siapapun."
"Baik, Tuan. Dan agenda selanjutnya?"
Alaric menatap keluar jendela, ke arah jalanan London yang sibuk. "Langkah selanjutnya adalah membersihkan rumah kita sendiri. Siapkan berkas-berkas pemecatan untuk Julian, Harris, dan Brandt. Aku ingin audit forensik selesai dalam tiga hari. Kita tidak akan membiarkan tikus-tikus itu menggerogoti kapal ini lebih lama lagi."
"Bagaimana dengan Tuan Caspian?"
Mata Alaric berkilat tajam. "Caspian adalah hidangan penutup. Kita akan membiarkan dia merasa menang sejenak saat melihat temannya dipecat, berpikir bahwa dia bisa menggantikan posisi mereka. Kita akan memancingnya masuk ke dalam sarang, dan saat dia sudah di dalam... kita akan menutup pintunya selamanya."
Mobil itu meluncur membelah kemacetan London. Di dalam kabin yang sunyi, Alaric Sterling kembali menyusun kepingan-kepingan masa depan. Keputusan mendesak hari ini adalah awal dari akhir bagi musuh-musuhnya. Ia telah mempertaruhkan hartanya, posisinya, dan reputasinya. Namun bagi Alaric, semua itu tidak ada artinya dibandingkan dengan kesempatan untuk melihat Elara tersenyum tanpa rasa takut di masa depan yang baru.
Ia tahu bahwa malam ini, Julian dan kawan-kawannya akan mengadakan pertemuan darurat dengan Caspian. Mereka akan merencanakan sabotase. Tapi mereka tidak menyadari bahwa Alaric sudah berada di sana, di masa depan mereka, menunggu untuk menghancurkan setiap rencana yang mereka buat.
"Permainan ini semakin menarik, bukan begitu, Caspian?" bisik Alaric pada bayangannya sendiri di kaca jendela mobil.
Keputusan telah diambil. Dadu telah dilemparkan. Dan di kehidupan kedua ini, Alaric Sterling tidak berencana untuk kalah. Ia akan membakar dunia bisnis jika perlu, hanya untuk memastikan satu hal: bahwa masa depan yang ia perbaiki adalah masa depan di mana ia dan Elara bisa hidup dalam kedamaian yang sesungguhnya.