Gedung pusat Sterling Global biasanya merupakan benteng yang tidak bisa ditembus oleh emosi. Di lantai enam puluh enam, udara selalu terasa sepuluh derajat lebih dingin, disaring oleh sistem ventilasi mutakhir dan ketegangan korporat yang konstan. Namun sore itu, kehadiran seorang wanita di lobi utama telah memicu gelombang bisikan yang merambat cepat hingga ke meja sekretaris eksekutif. Elara Vance berdiri di tengah lobi marmer yang luas, merasa seperti orang asing di wilayah yang seharusnya menyandang nama belakangnya. Ia mengenakan mantel parit berwarna zaitun, rambutnya dibiarkan tergerai bebas—kontras dengan para wanita karier di sekelilingnya yang bersanggul rapi dan berjas kaku. Di tangannya, ia mencengkeram tas kulit kecil, tempat ia menyimpan foto fragmen Azure Phoenix yang semal

