Musim semi di London seolah merayakan gencatan senjata yang tidak terucapkan di dalam kediaman Sterling. Matahari pagi yang hangat menembus jendela kaca patri di ruang makan, menciptakan pola warna-warni di atas meja marmer. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, suasana sarapan tidak lagi terasa seperti rapat dewan direksi yang mencekam. Elara duduk di sana, menyesap teh melatinya sambil membolak-balik sketsa kecil yang ia buat semalam. Di seberangnya, Alaric tidak sedang menatap layar tabletnya. Pria itu justru sedang memperhatikan Elara dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara pemujaan dan ketenangan yang dalam. "Apa ada yang salah dengan wajahku?" tanya Elara, menyadari tatapan suaminya. Ia meletakkan pensil sketsanya dan menatap Alaric balik. "Tidak," jawab

